Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Widya Herliliawati_1402408208_BAB VII Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:24 pm

Nama : Widya Herliliawati

NIM : 1402408208


BAB 7

TATARAN LINGUISTIK (4):

SEMANTIK

Status tataran semantikdengan tataran fonologi, morfologi,dan sintaksis adalah tidak sama, sebab secara hierarkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat; satuan kalimat dibangun oleh klausa; satuan klausa dibangun oleh frase; satuan frase dibangun oleh kata; satuan kata dibangun oleh morfem; satuan morfem dibangun oleh fonem; satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.

Para linguistik strukturalis mengabaikan masalah semantik karena dianggap tidak termasuk atau menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun. Semantik tidak lagi menjadi objek poriferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya. Menurut teori Bapak Linguistik modern, Ferdinand de Saussure, tanda linguistic (signe linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie, maka sesungguhnya studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya, sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahhwa makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistic. Kalau tanda linguistic itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem; kalau tanda linguistic itu disamakan dengan morfeem, maka berarti makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks.

Makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Kita dapat menentukan makna setelah dalam bentuk kalimat. Contohnya: Sudah hampir pukul dua belas!

Bila diucapkan oleh seorang ibu asrama putri kepada seorang pemuda maka bermaksud mengusir, sedangkan jika yang mengatakan adalah seorang karyawan kantor berarti menunjukkan waktu makan siang.

7.2 JENIS MAKNA

7.2.1 Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

a) Makna leksikal

Makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Contoh: Kuda

Berarrti ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

b) Makna gramatikal

Makna ini baru muncul setelah terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, kamposisi atau kalimatisasi.

Contoh: dengan dasar kuda menghasilkan arti ‘mengendarai kuda’.

Sintaksis kata-kata adik, menulis, dan surat menghasilkan makna gramatikal: adik bermakna ‘pelaku’, menulis bermakna ‘aktif’ dan surat bermakna ‘hasil’.

c) Makna kontekstual

Makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh:

Rambut di kepala nenek belum ada yang putus.

Nomor teleponnya ada pada kepala surat.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa terebut.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-Referensial

Kata atau leksem.disebut bermkna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, gambar bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Kata-kata dan, atau, karena itu sebaliknya.kata-kata deiktik, acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kemaujud yang lain.

Kata deiktik ini adalah yang termasuk pronomia, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan di situ; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata penunjuk, seperti ini dan itu.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Makna ini sejenis dengan makna leksikal. Umpamanya kata kurus, bermakna denotatif ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’.

Makna konotatif adalah makna lain yang ‘ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contohnya kata bini, tewas, bunting, dan lain sebagainya.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Menurut Leech, makna konseptual adalah makna yang dimiliki sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi, makna konseptual sesungguhnya sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian. Ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut dengan makna konotatif, makna stilistika, makna efektif,dan makna kolokatif. Makna stilistika berkenaan dengan perbedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Umpamanya kata membedakan penggunaan kata rumah, pondok, istana, vila, dan wisma yang semuanya memberi asosiasi yang berbeda terhadap penghuninya. Makna efektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Makna efektif lebih nyata terasa dalam bahas lisan. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata yang bersinonim sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu. Misalnya kata tampan yang bersinonoim dengan kata cantik dan indah hanya cocok berkolokasi dengan kata yang memiliki ciri ‘pria’.

7.2.5 MaknaKata dan Makna Istilah

Makna kata berawal dari makna leksikal, makna denotatif, dan makna konseptual, namun dalam penggunaannya menjadi jelas setelah sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya. Makna kata bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan, maknanya lazim dianggap sama.namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda setelah dimasukkan dalam sebuah kalimat. Istilah mempunyai makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan dan kegiatan tertentu. Umpamanya kata lengan dan tangan. Kedua kata tersebut dalam bidang kedokteran memilki makna berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai jari tangan; sedangkan lengan bagian dari pergelangan sampai kepaangkal bahu.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ‘diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contohnya bentuk membanting tulang bermakna bekerja keras. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya menjual gigi, meja hijau, dan membanting tulang. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

Peribahasa adalah idiom yang maknanya tidak dapat “diramalkan” secara leksikal maupun gramatikal namun maknanya masih bisa ditelusuri dari makna unsurnya karena adanya ‘asosiasi’ antar makna asli dengan makna sebagai peribahasa. Contohnya peribahasa seperti anjing dan kucing yang bermakna ‘dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’

7.3 RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa ini dapat berupa kata, frase, kalimat, dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan atau kelebihan makna.

7.3.1 Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna dan bersifat dua arah. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dengan frase duduk perut. Ketidaksamaan makna yang bersinonim disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

I. Faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang yang bersifat klasik dengan kata komandan yang tidak cocok untuk koteks klasik.

II. Factor tempat atau wilayah. Misalnya kata saya yang bisa digunakan di mana saja, sedngkan beta hanya cocok digunakan untuk wilayah Indonesia bagian timur.

III. Factor keformalan. Misalya kata uang yang dapat digunakan dalam rangka formal dan tidak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

IV. Faktor sosial. Umpamanya kata saya yang dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.

V. Factor bidang kegiatan. Misalnya, kata matahari yang biasa digunakan dalam kegiatan apa saja, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus terutama sastra.

VI. Factor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau yang masing-masing memiliki makna yang tidak sama.

7.3.2 Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua ujaran yang menyatakan kebalikan. Misalnya kata hidup berlawanan dengan kata mati. Dilihat dari sifat hubungannya, antonim dibagi menjadi:

i. Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya, kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati.

ii. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonim secara relatif.

iii. Antonim yang bersifat rasional. Umpamanya kata membeli dan menjual, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

iv. Antonim yang bersifat hierarkial. Umpamanya kata tamtama dan bintara berantonim berantonim secara hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang.

Antonim majemuk adalah satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu. Umpamanya dengan kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, tidur, tiarap, jongkok, dan bersila.

7.3.3 Polisemi

Polisemi adalah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia, sesuai dalam kalimat kepalanya luka kena pecahan kaca, (2) ketua atau pimpinan, seperti dalam kalimat kepala kantor itu bukan paman saya.

7.3.4 Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’.

Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan. Contoh yang ada hanyalah kata bank ‘lembaga ‘keuangan’ dengan kata bang yang bermakna ‘kakak laki-laki’. Homografi adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contohnya kata teras yang maknanya ‘inti’ dan kata teras yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.

Perbedaan polisemi dan homonimi adalah kalau polisemi merupakan bentuk ujaran yang maknanya lebih dari satu, sedangkan homonimi bentuk ujaran yang “kebetulan” bentuknya sama, namun maknanya berbeda.

7.3.5 Hiponimi

Hiponim adalah kata khusus sedangkan hipernim adalah kata umum. Contohnya kata burung merupakan hipernim, sedangkan hiponimnya adalah merpati, tekukur, perkutut, balam, dan kepodang.

7.3.6 Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

7.3.7 Redundansi

Redundansi adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan.

7.4 PERUBAHAN MAKNA

Perubahan makna dapat terjadi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Perkembangan bidang ilmu dan teknologi.

Misalnya kata berlayar dahulu mengandung makna ‘melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan tenaga layar’, tetapi untuk sekarang pun masih digunakan untuk menyebut perjalanan di air itu.

2. Perkembangan sosial budaya.

Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini kata sarjana itu hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.

3. Perkembangan pemakaian kata.

Umpamanya, kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini digunakan juga dalam bidang pendidikan dengan makna ;bidang studi, vak’.

4. Pertukaran tanggapan indra.

Misalnya, rasa pedas seharusnya ditanggapi dengan indra perasa lidah menjadi ditanggapi oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.

5. Adanya asosiasii.

Maksudnya adalah adanya hubungan antar sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop. Makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat supaya urusan cepat beres, beri saja amplop, amplop itu bermakna ‘uang sogok’.

Perubahan makna kata ada beberapa macam, yaitu:

ü Perubahan makna kata meluas. Umpamanya, kata baju pada mulanya hanya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’ seperti pada kata baju batik; namun baju juga dapat bermakna berbeda bila yang dimaksud baju seragam yang meliputi celana, sepatu, dasi, dan topi.

ü Perubahan makna kata menyempit. Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.

ü Perubahan makna secara total. Umpamanya, kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet, banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

7.5.1 Medan Makna

Medan makna atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta. Misalnya, nama-nama warna dan nama-nama alat-alat rumah tangga. Medan makna dibagi menjadi dua, yaitu:

v Medan Kolokasi

Menunjukkan hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata atau unsur leksikal itu. Misalnya, kata-kata cabe, bawang, terasi, garam, merica, dan lada berada dalm satu kolokasi, yaitu yang berkenaan dengan bumbu dapur.

v Medan Set

Menunjukkan hubungan paradigmatik karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bisa didistribusikan. Misalnya, kata remaja yang merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

7.5.2 Komponen Makna

Setiap makna atau butir leksikal mempunyai makna, dan setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen. Misalnya, kata ayah mempunyai komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

7.5.3 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Misalnya:

Nenek membaca komik

+nomina +verba +nomina

+manusia +manusia +bacaan

+bacaan

Iklan
 

VERA RAHMA FAULATA_1402408302_BAB IV

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:21 pm

NAMA : VERA RAHMA FAULATA

NIM : 1402408302

TATARAN ILMU LINGUASTIK (1) :

FONOLOGI

Runtutan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat dalam runtutan bunyi itu.

Silabel merupakan satuan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain didepan, belakang, atau sekaligus di depan dan dibelakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi. Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.

  1. FONETIK

Adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fumgsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Menurut urutan proses terjadinya dibagi menjadi tiga jenis fonetik yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

  1. Alat Ucap

Alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

§ Paru-paru

§ Batang tenggorok

§ Pangkal tenggorok

§ Pita suara

§ Krikoid

§ Tiroid

§ Aritenoid

§ Dinding rongga kerongkongan

§ Epiglotis

§ Akar lidah

§ Pangkal lidah

§ Tenggah lidah

§ Daun lidah

§ Ujung lidah

§ Anak tekak

§ Langit-langit lunak

§ Langit-langit keras

§ Gusi, lengkung kaki gigi

§ Gigi atas

§ Gigi bawawh

§ Bibir atas

§ Bibir bawah

§ Mulut

§ Rongga mulut

§ Rongga hidung

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat ucap itu diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu.

  1. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan uadara keluar dari paru-paru melalui pangakal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara diteruskan ke udara bebas. Jika udara yang keluar tidak mendapat hambatan apa-apa, maka kita tidak akan mendengar bunyi apa-apa.

Ada empat macam posisi pita suara yaitu pita suara terbuka lebar, pita suara terbuka agak lebar, pita suara terbuka sedikit dan pita suara tertutup rapat-rapat.

Tempat bunyi bahasa dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya disebut proses rstikulasi dan alat-alat yang digunakan disebut alat artikulasi (artikulator).

  1. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik tiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisa fonetik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunyi mempunyai lambang sendiri.

  1. Klasifikasi bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsona. Beda bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyu vokal setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa. Sedangkan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan.

    1. Klasifikasi vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarka posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah dapat berposisi vertikal atau horisontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, vokal tengah, dan vokal rendah. Secara horisontal ada vokal depan, vokal pusat, dan vokal belakang. Menurut bentuk mulut ada vokal bundar dan tak bundar.

    1. Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pad abagian awal dan akhrnya tidak sama.

Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, ada diftong naik dan diftong turun.

    1. Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

Berdasarkan tempat artikulasi kita mengenal, antara lain, konsonan:

§ Bilabial

§ Labiodental

§ Laminoalveolar

§ Dorsovelar

` Berdasarkan cara artikulasi dapat dibedakan adanya konsonan :

§ Hambat

§ Geseran

§ Paduan

§ Sengauan atau nasal

§ Getaran atau trill

§ Sampingan atau lateral

§ Hampiran atau aproksiman

§

  1. Unsur Suprasegmental

Arus ujaran merupakan suatu runtutan bunyi yang sambung bersambung terus menerus diselang-seling oleh jeda singkat atau agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dsb. Dalam arus bunyi tersebut ada yang dapat disegmentasikan dan ada yang tidak,bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.

    1. Tekanan atau stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

    1. Nada atau pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada dalam bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis.

Dala bahasa tonal dikenal lima macam nada, yaitu :

§ Nada naik

§ Nada turun

§ Nada turun naik

§ Nada naik turun

    1. Jeda atau persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Dibedakan menjadi sendi dalam (internal juncture) dan sendi luar (open juncture)

  1. Silabel

Adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran.

  1. FONEMIK

Objek penelitian fonetik adalah fon, dan objek penelitian fonemik adalah fonem.

  1. Identifikasi fonem

Untuk mengetahui suatu bunyi merupakan fonem atau bukan harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya kata kemudian dibandingkan dengan satuan bahasa lain yang mirip.

  1. Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya.

  1. Klasifikasi fonem

Fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Fonem yang sebaliknya yang berupa unsur supra segmental disebut fonem suprasegmental atau fonem non segmental.

  1. Khasanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa

  1. Perubahan Fonem
    1. Asimilasi dan disimilasi
    2. Netralisasi dan arkifonem
    3. Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal.
    4. Kontraksi
    5. Metatesis dan epentesis
  1. Fonem dan Grafem

Fonem adalah suatu bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

 

UMI CHOLIFAH 1402408020 BAB 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:18 pm

Nama : Umi Cholifah

NIM : 1402408020

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK FONOLOGI

A. Pengertian Fonologi

Bagian linguistik yang mempelajari, manganalisa dan membicarkan runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Secara Etimologi

Fon: bunyi dan Logi: ilmu

Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, Fonologi dibedakan menjadi dua yaitu: Fonetik dan Fonemik.

B. Bagian-bagin dari Fonologi.

  1. Fonetik:

Bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Menurut urutan proes terjadinya bunyi bahasa dibedakan 3 jenis Fonetik:

a) Artikulasi :Bagaimana mekanisme alat-alat bicara.

b) Akustik :Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.

c) Auditoris :Penerimaan bunyi bahasa oleh telinga.

* Alat Ucap

Alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa ini, mempunyai fungsi utama lain yang bersifat biologis.(1)Paru-paru: bernafas ; (2)Lidah: mengecap : (3)Gigi: mengunyah.

* Proses Fonasi.

Jika terjadi hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat yang paling di dalam, yaitu pita suara, sampai pada tempat yang paling luar yaitu bibir atas dan bawah, maka akan timbul suara. Jika tidak, maka tidak akan mendengar bunyi apa-apa selain mungkin bunyi nafas.

* Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik untuk studi fonetik (berdasarkan hu ruf-huruf latin)

Tulisan Fonemis untuk ejaan fonemis

Tulisan Ortografis untuk ejaan yang disempurnakan..

* Klasifikasi Bunyi

Vokal: Arus udara setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa.

Konsonan: Arus udara seelah melewati pita suara mendapat hambatan/ gangguan.

1. Klasifikasi Vokal :Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

2. Diftong/Vokal Rangkap :Posisi lidah ketika memproduksi bunyi, bagian awal dan akhir tidak sama.

3. Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan (a)Posisi pita suara (b) tempat artikulasi (c) cara artikulasi.

* Unsur Suprasegmental

  1. Tekanan/ stress keras lunaknya bunyi.
  2. Nada/ pitch tinggi rendahnya suatu bunyi.
  3. Jeda/ Persendian hentian bunyi.

* Silabel/ suku kata.

Satuan ritmis terkecil daalm suatu arus ujaran/ runtutan bunyi ujaran.

1 silabel : (1 vokal) atau (1 vokal dan 1 konsonan atau lebih)

  1. Fonemik

Objek penelitian adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat/ berfungsi membedakan makna kata .

a). Identifikasi Fonem.

Dikatakan sebuah fonem apabila dia berfungsi membedakan makna.

b). alofon.

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem alofon berlaku pada satu bahasa tertentu.

c). Klasifikasi Fonem

Fonem Segmental

Fonem Suprasegmental, terdapat unsure prosodi(tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional).

Bahasa Mandarin WEI nada datar berarti kayu kutu.

nada naik berarti bahaya.

d). Khazanah Fonem

Banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

e). Perubahan Fonem.

Tergantung pada lingkungan/ fonem-fonem lain yang berada disekitarnya.

Macam-macam perubahan fonem

* 1). Assimilasi dan Dissimilasi.

Assimilasi : berubahnya suatu bunyi menjadi bunyi lain (sabtu*saptu).

Dissimilasi: perubahan yang menyebbkan 2 buah fonem yang sama menjdi berbeda.

Citta(tt) : cipta (pt) cinta(nt)

* 2). Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi Oposisi bunyi antara bersuara dan tidak bersuara. (hard,hart)

Arkifonem Perlambangan suatu bunyi dari sebuah fonem (d~berwujud t/d)

* 3). Umlaut, Ublaut, Harmoni Vokal.

Umlaut Perubahan vocal menjadi lebih tinggi(handje(a) lebih tinggi dari pada (a) bahasa Belanda.

Ablaut Perubahan vokal dalam bahasa dengan cara pemanjangan, pemendekan/ penghilangan vokal. Sing(sang , sung)

Harmoni vokal Perubahan bunyi (dari tunggal ke jamak).

* 4). Kontraksi : Perubahan bentuk dari formal menjadi infofmal atau penyingkatan suatu fonem.

Contoh: tidak tahu~ndak tahu

Itu tadi~tu tadi

* 5). Metafisis dan Epentesis.

Metafisis : Mengubah urutan fonem yang terdapat disebuah kata (variasi).

Contoh: sapu, usap, apus ~ lajur, jalur.

Epentesis : sebuah fonem yang disisipkan pada sebuah kata.

Contoh: kampak, kapak.

* 6). Fonem dan Grafem

Fonem : Suatu bunyi terkecil yang dapat mrmbedakan makna kata.

 

Triana Puspitasari_1402408245__BAB VII

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:15 pm

TRIANA PUSPITASARI

ROMBEL 3

1402408245

TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Hockett (1954) seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Bahasa terdiri dari lima subsistem, yaitu subsistem gramatika, fonologi, morfofonemik, semantik, dan fonetik. Kedudukan kelima subsistem itu tidak sederajat. Subsistem gramatika, fonologi, dan morfofonemik bersifat sentral, sedangkan subsistem semantik dan fonetik bersifat preiferal.

Chomsky dalam buku keduanya (1965) menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik. Sejak saat itu semantik tidak lagi menjadi objek periferal, melainkan setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya.

A. HAKIKAT MAKNA

Menurut Ferdinand de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua komponen, signifikan atau ‘yang mengartikan’ yang wujudnya berupa rentetan bunyi, dan komponen signifie atau ‘yang diartikan’ yang wujudnya berupa pengertian atau konsep. Dengan demikian, makna adalah pengertian/konsep yang dimiliki/terdapat pada sebuah tanda linguistik. Memang ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada referen yang diacu oleh kata, tetapi tidak semua kata memiliki acuan konkret di dunia nyata. Dalam penggunaannya, makna kata sedingkali terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Oleh karena itu, banyak pakar mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila sudah berada dalam konteks kalimat, terlebih apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacana dan situasinya.

B. JENIS MAKNA

Makna bahasa jika dilihat dari berbagai segi menjadi bermacam-macam. Hal ini disebabkan bahasa itu digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat.

1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki/ada pada leksem tanpa konteks apapun. Dapat dikatakan makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, sesuai dengan hasil observasi indra apa adanya. Banyak orang menyatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus. Namun, kamus-kamus yang bukan dasar biasanya memuat makna bukan leksikal, misalnya makna kias dan makna-makna yang terbentuk secara metaforis.

Contoh: kata kuda bermakna ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

Makna gramatikal adalah makna yang terbentuk akibat adanya proses gramatikal proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi.

Contoh: ber- + baju melahirkan makna mengenakan/memakai baju.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem/kata yang berada dalam suatu konteks.

Contoh:

· Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.

· Sebagai kepala kantor dia harus menegur karyawan itu.

Kata kepala memiliki makna yang berbeda pada dua kalimat di atas.

2. Makna Referensial dan Non-Referensial

Sebuah kata dikatakan bermakna referensial kalau ada referensnya atau acuannya.

Contoh: kuda, merah, dan gambar dikatakan bermakna referensial karena memiliki acuan dalam dunia nyata.

Kata-kata deiktik dikatakan bermakna non-referensial karena tidak memiliki acuan yang tetap, melainkan dapat pindah ke acuan lainnya.

Contoh: kata pronomina, misalnya dia, saya, dan kamu.

kata yang menyatakan ruang, misalnya di sini, di sana, di situ.

kata yang menyatakan waktu, misalnya sekarang, besok, dan nanti.

kata penunjuk, misalnya ini dan itu.

3. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli/sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Dapat dikatakan makna ini sama dengan makna leksikal.

Contoh: kata kurus bermakna ‘ keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’.

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakannya.

Contoh: kurus, ramping, dan kerempeng secara denotatif bersinonim, tetapi secara konotatif berbeda, kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi positif, kerempeng berkonotasi negatif.

4. Makna Konseptual dan Asosiatif

Menurut Leech (1976) makna konseptual adalah kata yang terlepas dari konteks/asosiasi apapun. Makna ini dapat disejajarkan dengan makna leksikal, denotatif

5. Makna Kata dan Istilah

Setiap kata pada awalnya memiliki makna leksikal, denotatif, atau konseptual. Namun makna kata akan terasa lebih jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda dengan makna suatu istilah yang jelas, pasti dan tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Biasanya sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

Contoh: kata tangan yang dikatakan bersinonim dengan kata lengan, akan memiliki makna berbeda jika digunakan dalam bidang kedokteran. Tangan bermakna ‘bagian dari pergelangan sampai jari tangan’, sedangkan lengan bermakna ‘bagian dari pergelangan sampai pangkal bahu’.

6. Makna idiom dan peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun gramatikal.

Contoh: menjual gigi memiliki makna ‘tertawa keras-keras’.

a. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan.

Contoh: membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau.

b. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri.

Contoh: daftar hitam

Peribahasa adalah satuan ujaran yang maknanya masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

Contoh: seperti anjing dengan kucing yang bermakna ‘dua orang yang tidak pernah akur’.

C. RELASI MAKNA

Adalah hubungan secara semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa dapat berupa kata, frasa, maupun kalimat. Relasi semantik dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan, atau kelebihan makna.

1. Sinonimi

Adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya. Relasi sinonimi bersifat bersifat dua arah, dimana jika ujaran A bersinonim dengan ujaran B, maka berlaku pula dan sebaliknya. Digambarkan dengan bagan berikut.

benar

betul

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama karena adanya berbagai faktor, yaitu:

a. Faktor waktu

Contoh: kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan, tetapi hulubalang hanya cocok digunakan pada konteks yang bersifat klasik.

b. Faktor tempat atau wilayah

Contoh: kata saya dan beta bersinonim, tetapi kata beta hanya cocok jika digunakan di wilayah Indonesia bagian Timur.

c. Faktor keformalan

Contoh: kata uang dan duit bersinonim, tetapi kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

d. Faktor sosial

Contoh: kata saya dan aku, kata aku hanya dapat digunakan terhadap orang yang sebaya, akrab, atau kepada orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.

e. Faltor bidang kegiatan

Contoh: kata matahari dan kata surya, dimana kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus.

f. Faktor nuansa makna

Contoh: melirik, menonton, meninjau dan mengintip yang bersinonim, tetapi tidak dapat ditukarkan penggunaannya karena masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda.

2. Antonimi

Adalah hubungan semantikatau antonimi antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Sama seperti sinonimi, hubungan antara dua satuan ujaran yang berantonim bersifat dua arah. Dilihat dari sifat hubungannya, antonimi dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:

a. Antonim yang bersifat mutlak

Contoh: kata mati berantonim dengan hidup

b. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi karena batas yang tidak jelas

Contoh: kata besar berantonim dengan kecil, jauh dengan dekat.

c. Antonim yang bersifat rasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

Contoh: kata membeli berantonim dengan menjual, suami dengan istri.

d. Antonim yang bersifat hierarkial karena dua satuan ujaran yang berantonim berada dalam satu garis jenjang.

Contoh: kata gram dan kata kilogram

e. Antonimi yang bersifat majemuk yaitu kata yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu.

Contoh: kata diam berantonim dengan kata berbicara, bergerak, dan bekerja.

3. Polisemi

Adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu, dan masih berkaitan antara makna yang satu dengan makna yang lain.

Contoh: kata kepala dapat diartikan bagian tubuh manusia, ketua atau pimpinan, sesuatu yang berada di atas, sesuatu yang mempunyai bentuk bulat, sesuatu yang sangat penting.

4. Homonimi

Adalah dua buah kata atau ujaran yang memiliki bentuk tulisan dan cara baca yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Relasi dua buah ujaran yang homonim juga bersifat dua arah.

Contoh: bisa yang berarti ‘racun’ dan yang berarti ‘sanggup’.

Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) pada suatu ujaran tanpa memperhatikan ejaan sama ataukah tidak.

Contoh: kata bank yang berarti ‘lembaga keuangan’ dan bang yang berarti ‘kakak laki-laki’.

Homografi adalah adanya kesamaan ortografi atau ejaan, tetapi memiliki makna dan ucapan yang berbeda.

Contoh: memerah yang berarti ‘melakukan perah’ dan memerah yang berarti ‘menjadi merah’.

Perlu diperhatikan bahwa perbedaan antara homonimi dan polisemi adalah bahwa makna pada homonimi jelas berbeda dan tidak berhubungan, sedangkan makna polisemi masih memiliki hubungan secara etimologi dan semantik.

5. Hiponimi

Adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Relasi hiponimi bersifat searah, seperti tergambar dalam bagan berikut:

Burung

Merpati

Perkutut

Hiponim

Hipernim

Hiponim

Hipernim

Kohiponim

6. Ambiguiti atau Ketaksaan

Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda yang umumnya terjadi pada bahasa tulis karena unsru suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat.

Contoh: bentuk ujaran ‘anak dosen yang nakal’ memiliki dua kemungkinan makna, mungkin ‘anak itu yang nakal’ atau ‘dosen itu yang nakal’.

Ketaksaan juga dapat terjadi dalam bahasa lisan, meskipun intonasinya tepat. Biasanya hal ini terjadi karena ketidakcermatan dalam menyusun kalimat konstruksi beranaforis.

7. Redundansi

Diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

Contoh: kalimat ‘Nita mengenakan baju berwarna merah’ tidak akan bermakna beda jika dikatakan ‘Nita berbaju merah’.

D. PERUBAHAN MAKNA

Secara diakronis (dalam waktu yang relatif lama) lama ada kemungkinan makna kata akan berubah. Hal ini biasanya hanya terjadi pada sejumlah kata saja yang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

1) Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.

Contoh: kata sastra pada awalnya bermakna ‘tulisan huruf’ lalu berubah menjadi ‘bacaan’ , ‘buku yang baik isi dan bahasanya’, selanjutnya berubah menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginatif dan kreatif’.

2) Perkembangan sosial budaya

Contoh: kata saudara awalnya berarti ‘seperut’. Tetapi kini, kata saudara digunakan untuk menyebut orang lain, sebagai kata sapaan, yang sederajat baik usia maupun kedudukan sosialnya.

3) Perkembangan pemakaian kata

Contoh: kata membajak dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna ‘mencari keuntungan yang besar secara tidak benar’, misalnya membajak buku.

4) Pertukaran tanggapan indra

Contoh: rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditangkap oleh alat pendengar telinga. Seperti pada ujaran ‘kata-katanya sangat pedas’.

5) Adanya asosiasi

Yaitu hubungan antara sebuah ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut, sehingga menangkap makna yang sama.

Contoh: kata amplop makna sebenarnya adalah “sampul surat”. Tetapi dapat bermakna ‘uang sogok’ yang diberikan kepada pejabat.

Macam-macam perubahan makna kata:

1) Makna meluas: perubahan makna dari yang tadinya khusus kini maknanya menjadi umum.

Contoh: kata baju awalnya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’, sekarang bermakna ‘celana, pakaian, dan perlengkapannya’..

2) Makna menyempit: perubahan makna dari yang tadinya umum kini maknanya menjadi khusus.

Contoh: kata pendeta tadinya bermakna ‘orang yang berilmu’, sekarang ‘guru agama Kristen’.

3) Perubahan makna secara total: makna yang sekarang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya.

Contoh: kata pena awalnya bermakna ‘bulu angsa’, kini bermakna ‘alat tulis bertinta’.

4) Perubahan makna menghalus/eufinisme

Contoh: kata korupsi diganti dengan ungkapan ‘menyalahgunakan jabatan’.

5) Perubahan makna mengkasar dan menegaskan (disfemia).

Contoh: kata mengambil diganti menjadi mencaplok.

E. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim disebut kata-kata yang berada dalam satu medan makna. Usaha untuk menganalisis kata atas unsur-unsur maknanya disebut analisis komponen makna.

1. Medan Makna

Biasanya dikatakan sebagai medan leksikal, yaitu seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Kata-kata dalam satu medan makna berdasarkan sifat hubungan semantisnya dibedakan menjadi:

a. Medan kolokasi yaitu menunjuk pada hubungan sintagmantik.

Contoh: kata-kata cabe, bawang, terasi, garam, dan merica berada dalam kolokasi yang berkenaan dengan bumbu dapur.

b. Medan set yaitu menunjuk pada hubungan paradigmatik karena dapat saling didistribusikan. Setiap kata dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota lain dalam set itu.

Contoh: kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

2. Komponen Makna

Makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen yang membentuk keseluruhan makna kata itu yang disebut komponen makna.

Contoh: kata ayah memiliki komponen makna /+ manusia/, /+ dewasa/, /+ jantan/, /+ kawin/, dan /+ punya anak/.

Fungsi analisis komponen makna ini adalah untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk sinonim serta membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia.

Analisis makna dengan mempertentangkan ada (+) atau tidaknya (-) komponen makna disebut analisis biner atau analisis dua-dua, yang berasal dari studi fonologi oleh Roman Jakobson dan Morris Halle.

3. Kesesuaian Semantik dan Sintaksis

Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat ada pada predikat atau verba. Dalam teorinya, verbalah yang menentukan kehadiran konstituen lain dalam sebuah kalimat. Analisis kesesuaian semantik dan sintaksis tentu harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci. Selain itu, diperlukan pula keterperincian analisis masalah metafora.

 

Titin Indrawati _1402408194_TATARAN LINGUISTIK BAB 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:13 pm

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari arus ujaran disebut fonem. Sedangkan satuan yang lebih tinggi dari fonem disebut silabel. Namun silabel berbeda dengan fonem karena tidak bersifat fungsional. Di atas satuan silabel terdapat satuan yang fungsional disebut morfem (satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna)

5.1. MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke 20.

5.1.1. Identifikasi Morfem

Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. Bila bentuk tersebut dapat hadir secara beruang dan punya makna sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal. Misalnya kata ketiga menjadi: {ke} + {tiga}

5.1.2. Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk yang sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama)

Melihat ð Me Menyanyi ð Meny-

Membawa ð Mem- Menggoda ð Meng-

5.1.3. Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, maknanya dsb.

5.1.3.1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

5.1.3.2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh.

Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari 2 bagian yang terpisah.

Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi :

1) Semua afiks disebut konfiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan konfiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.

2) Ada afiks yang disebut infiks yaitu afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar.

5.1.3.3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, dan durasi.

5.1.3.4. Morfem Beralomorf Zero

Adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung dengan morgem yang lain dalam suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. Akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2. KATA

Dalam tata bahasa tradiusional, satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah kata.

5.2.1. Hakikat Kata

Tata bahasawan tradisional memberi arti bahwa kata deretan huruf yang diapit 2 spasi, memiliki 1 arti. Menurut tata bahasawan struktural (Bloomfield) kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu sudah bersifat final.

5.2.2. Klasifikasi Kata

Tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, ajektiva, sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina. Tata bahasawan struturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lain menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memang perlu dengan mengenal sebuah kata, kita dapat memprediksi penggunaan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3. Pembentukan Kata

Pembentukan kata bersifat inflektif dan derivatif.

5.2.3.1. Inflektif

Kata-kata dalam bahasa berfleksi mengalami penyesuaian bentuk dengan kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Penyesuaian tersebut berupa afiks, infiks dan sufiks. Penyesuaian pada verba disebut konjugasi. Penyesuaian pada nomina dan ajektiva disebut deklinasi.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma infleksional.

5.2.3.2. Derivatif

Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru/kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasar. Pembentukan kata secara derivatif/ derivasional membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi mknanya tidak sama.

5.3. PROSES MORFEMIS

5.3.1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/bentuk dasar.

Unsur-unsur dalam proses ini : (1) dasar/bentuk dasar, (2) afiks, (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Proses ini bisa bersifat inflektif dan derivatif tapi tidak berlaku untuk semua bahasa. Bentuk dasar/dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar (bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi) misalnya : meja, beli, dst. Berupa bentuk kompleks, seperti aturan pada kata beraturan. Dapat juga berupa frase, seperti ikut serta dalam keikutsertaan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.

Jenis afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a) Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif/paradigma infleksional.

b) Afiks derivatif adalah afiks yang digunakan dalam membentuk kata baru (kata leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya).

Berdasarkan posisi melekatnya pada bentuk dasar :

1) Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar

2) Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar

3) Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar

4) Konfiks : Afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar, sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus.

Struktur ð untuk menyebut gabungan afiks yang bukan konfiks

Kridalaksana (1989) yang menggunakan untuk “Afik Nasal” contoh: ngopi, nembak.

Interfiks adalah sejenis infiks/elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan 2 buah unsur.

Transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar ð bahasa-bahasa semit, dasar biasanya berupa konsonan.

Dalam kepustakaan linguistik ada istilah untuk bentuk-bentuk derivasi yang diturunkan dari kelas berbeda.

Misalnya : denominal : asal nominal

Verba : hasil proses afiksasi

5.3.2. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas leksikal tetapi hanya memberi makna gramatikal. Yang bersifat derivasional membentuk kata baru/kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

5.3.3. Komposisi

Adalah hasil dan proses pengabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda/yang baru.

Ÿ Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif karena dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya/istilahnya dalam bahasa Indonesia.

Ÿ Sutan Takdir Alisjahbana (1953) yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya.

Ÿ Kelompok linguis yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau diantara unsur-unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa-apa tanpa merusak komposisi itu. Bisa juga suatu komposisi disebut kata majemuk kalau unsur-unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.

Ÿ Linguis kelompok lain ada yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur-unsurnya.

Ÿ Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis.

Ÿ Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemuk harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis sedangkan idiom adalah konsep semantis.

5.3.4. Konversi, Modifikasi internal dan Suplesi

Ÿ Konversi, derivasi zero, transmutasi, dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Ÿ Modifikasi internal, penambahan internal, dan perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Ada sejenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi. Dalam suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi. Boleh dikatakan bentuk dasar itu berubah total.

5.3.5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

Pemendekan merupakan proses yang cukup produktif dan terdapat hampir pada semua bahasa. Produktifnya proses pemendekan ini karena keinginan untuk menghemat tempat (tulisan) dan tentu juga ucapan. Dalam bahasa Indonesia pemendekan ini menjadi sangat produktif adalah karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata untuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik/sangat pelik.

5.3.6. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Proses inflektif/paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya,tidak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup. Proses derivasi bersifat terbuka artinya penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut sehingga boleh dikatakan produktif.

Bloking adalah tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada (karena menurut kaidah dibenarkan) (Aronoff, 1976 : 43, Bauer, 1983 : 87). Fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya bentuk yang dianggap seharusnya ada. Dalam bahasa Indonesia yang ada tampaknya bukan bloking tapi “persaingan” antara kata derivatif dengan bentuk/konstruksi frase yang menyatakan bentuk dasar dengan maknanya.

5.4. Morfofonemik

Morfofonemik, morfonemik, morfofonologi/morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem 3. Peluluhan fonem 5. Pergeseran fonem

2. Pelepasan fonem 4. Perubahan fonem, dan

Proses pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

Masalah morfofonemik ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

Nama : Titin Indrawati

NIM : 1402408194

 

SINGGIH WIJAYANTO_1402408104_BAB2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:11 pm

Nama : Singgih Wijayanto

NIM : 1402408104

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam tugas sehari-hari, khususnya yang berkenaan dengan bahasa, tentu kita akan berhadapan dengan masalah-masalah linguistik ini, kita akan sulit dalam menyelesaikan tugas itu. Oleh karena itu, patutnya kiranya jika kita paham terhadap linguistic karena ini akan menjelaskan kepada kita hakikat bahasa sebagai satu-satunya alat komunikasi terbaik manusia.

Linguistik sering dinyatakan sebagai ilmu tentang bahasa. Sedangkan orang yang ahli dalam ilmu linguistik disebut linguis. Ilmu linguistik sering juga disebut linguistik umum, artinya ilmu ini tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, tetapi seluk bahasa pada umumnya yang menjadi alat interaksi manusia.

Selain linguistik, dalam dunia keilmuan ternyata ada ilmu lain yang ”mengambil” bahasa sebagai objeknya, misalnya ilmu susastra, psikologi, fisika, dan ilmu sosial. Akan tetapi, tiap ilmu memiliki perbedaan dalam menangani objek kajiannya itu. Misalnya saja ilmu susastra memandang bahasa sebagai bahasa.

Sebagai pemula dalam linguistik, kita cukup mempelajari struktur internal bahasa itu saja yang meliputi subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hal ini kita lakukan karena dewasa ini penelitian tentang bahasa sangatlah intensif, sehingga linguistik berkembang dengan pesat dan mendalam.

Nama : Singgih Wijayanto

NIM : 1402408104

BAB II

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

2.1 KEILMIAHAN LINGUSTIK

Ilmu linguistik yang telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu;

i. Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan tentang sesuatu dan pengambilan kesimpulan dilakukan dengan spekulatif, artinya; kesimpulan itu dibuat tanpa didukung bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur yang jelas.

Contoh:

Ø Dahulu, orang berpendapat bahwa bumi berbentuk datar.

Ø Jika kita duduk dalam mobil yang berjalan, pohon-pohon yang diluar akan tampak berjalan.

ii. Tahap kedua adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini, para ahli bahasa mengumpulkan dan mengelompokkan fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

iii. Tahap ketiga adalah perumusan teori. Pada tahap ini, tiap disiplin ilmu, memahami masalah, mengajukan pertanyaan dan merumuskan hipotesis.

Disiplin linguistik saat ini telah melalui ketiga tahap di atas, sehingga dapat dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah ini, berarti harus didasarkan pada data empiris. Sedangkan kegiatan empiris biasanya bekerja secara deduktif dan induktif.

Sebagai ilmu empiris, linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Oleh karena itu, ilmu ini disebut sebagai ilmu homotetik.

Telah disebutkan bahwa linguistik memandang bahasa sebagai bahasa, hal ini sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa;

Ø Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi, artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis adalah sekunder.

Ø Kedua, karena bahasa bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk bahasa lain.

Ø Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik memandang bahasa sebagai kumpulan unsur yang terhubung. Hal ini disebut pendekatan struktural.

Ø Keempat, karena bahasa berubah sewaktu-waktu, maka linguistik meperlakukan bahasa sebagai suatu dinamis.

Ø Kelima, karena bersifat empiris, maka linguistik mendekati secara deskritif dan tidak secara preskriptif.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Berdasarkan objek kajiannya,

Ø Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

Ø Linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah yang berlaku pada bahasa tertentu.

Ø Linguistik sinkronik (deskriptif) mengkaji bahasa pada masa yang terbatas.

Ø Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang terbatas.

Ø Linuistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal bahasa tertentu atau pada umumnya.

Ø Linguistik makro berusaha menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor luar bahasa. Biasanya terbagi dalam berbagai subdisiplin ilmu, yaitu; sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, stilistika, filologi, dialektologi, dan filsafat bahasa.

Berdasarkan tujuannya,

Ø Linguistik teoretis kegiatannya untuk keprntingan teori.

Ø Linguistik terapan untuk memecahkan masalah praktis dalam masyarakat.

2.3 ANALISIS LINGUISTIK

2.3.1 Struktur, sistem, dan distribusi

Menurut bapak linguistik modern, Ferdinand d Saussure, yang dimaksud relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa dlam kalimat konkret. Sedangkan relasi asosiatif adalah bahasa, tetapi tidak tampak dalam kalimat

” Dia mengikut ibunya”

Hubungan yang terjadi antarsatuan bahasa dalam kalimat di atas disebut sintagmatik. Jika kata mengikut diganti dengan terikut, mengikuti, atau diikuti, maka hubungan ini disebut asosiatif. Louis Hjelmslev mengganti istilah asosiatif dengan paradigmatik serta memberinya pengertian yang lebih luas. Menurutnya, kata ” mengikat” dalam kalimat ”Dia mengikat kudanya” memiliki hubungan paradigmatik dengan kata ” mengikat”

Selain itu Firth menyebut hubungan sintagmatik itu dengan istilah struktur dan paradigmatik dengan istilah sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi menurut Leonard Bloomfield adalah menyangkut tepat tidaknya penggantian suatu konstituen dalam kalimat.

2.3.2 Analisis bawahan langsung

Sering juga disebut analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat ( Immediate Constituent Analysis ) adalah tehnik dalam menganalisis unsure-unsur yang membangun suatu satuan bahasa ( kata, frase, klausa, atau kalimat ). Setiap satuan bahasa terdiri dari dua buah kontituen (unsur) yang langsung membangun satuan itu.

Misalnya;

Ø Guru baru datang

Ø Guru baru datang

Dari contoh c dan d terdapat ambiguitas. Kita dapat memahami dan menentukan apakah unsur ” baru” bergabung dengan ” guru” atau ” datang” hana dengan memahami konteks wacananya dalam paragraf.

2.3.3 Analisis rangkaian unsur dan analisis proses unsur

Analisis rangkaian unsure menjelaskan bahwa satuan bahasa dibentuk dari unsure-unsur lain. Misalnya; terlepas terdiri dari ter + lepas, kepanasan terdiri dari panas + ke-/-an. Jadi, dalam analisis rangkaian unsure ini tiap satuan bahasa “terdiri dari…” bukan “ dibentuk dari..” sebagai hasil proses pembentukan.

Analisis proses unsur menganggap satuan bahasa sebagai hasil suatu pembentukan hasil prefiksasi ter- dengan dasar lepas.

2.3.4 Manfaat linguistik

Ø Bagi Linguis; membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya.

Ø Bagi guru bahasa; membantu melatih ketrampilan berbahasa/ linguistik yang kelak akan diberikan kepada muridnya.

Ø Bagi negarawan; dengan memahami linguistik dan sosiolinguistik, khususnya tentang kemasyarakatan, tentu dapat meredam konflik yang timbul akibat perbedaan dan pertentangan bahasa.

Nama : Singgih Wijayanto

NIM : 1402408104

Rombel : 4

 

SHELFI SEKAR AYU H_1402408028_BAB 5_ROMBEL 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:10 pm

Nama : Shelfy Sekar Ayu H

NIM : 1402408028

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari arus ujaran disebut fonem sedangkan satuan yang lebih tinggi dari fonem disebut silabel. Namun silabel berbeda dengan fonem karena tidak bersifat fungsional. Di atas satuan silabel terdapat satuan yang fungsional disebut morfem (satuan gramatikal yang memiliki makna).

5.1 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem. Sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke-20.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. Bila satuan bentuk tersebut dapat hadir secara berulang dan punya makna sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk yang merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal ({ }) kata kedua menjadi {ke} + {dua}.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Sedangkan Alomorf nama untuk bentuk bila sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama) .

Melihat → me-

Membawa → mem-

Menyanyi → meny-

Menggoda → meng-

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, maknanya dan sebagainya.

5.1.3.1 Morfem bebas dan Morfem terikat

Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Sedangkan yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Pertama bentuk-bentuk seperti : juang, henti, gaul, dan , baur termasuk morfem terikat. Sebab meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi. Bentuk lazim tersebut disebut prakategorial. Kedua, bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk tersebut merupakan pangkal kata, sehingga baru muncul dalam petuturan sesudah mengalami proses morfologi. Ketiga bentuk seperti : tua (tua renta), kerontang (kering kerontang), hanya dapat muncul dalam pasangan tertentu juga, termasuk morfem terikat. Keempat, bentuk seperti ke, daripada, dan kalau secara morfologis termasuk morfem bebas. Tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. Kelima disebut klitika. Klitka adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi tidak dipisahkan .

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian terpisah. Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi.

Pertama, semua afiks disebut koufiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan koufiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.

Kedua, ada afiks yang disebut sufiks yakni yang disisipkan di tengah morfem dasar

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi.

5.1.3.4 Morfem beralomorf zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5 Morfem bermakna Leksikal dan Morfem tidak bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikaladalah morfem yang secara inheren memilikimakna pada dirinya sendiritanpa perlu berproses dengan morfem lain. Sedangkan morfem yang tidak bermakna leksikal adalah tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal(stem), dan Akar(root)

Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi bisa diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung denganmorfem lain dalam suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. Agar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2 KATA

Dalam tata bahasa tradisional, satuan yang lingual yang selalu dibicarakan adalah kata.

5.2.1 Hakikat kata

Tata bahasawan tradisional memberi arti bahasa kata deretan huruf yang diapit 2 spasi memiliki 1 arti. Menurut tata bahasawan struktural (bloowfield) kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu bersifat final.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Tata bahasawa tradisional menggunakafikan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas Verba, nomina, ajektif sedangkan kriteria fugsi digunakan untuk mengidentifiaksi preposisi, konjunksi, adverbia, pronoumia . tata bahasawan struktruralis membuat klasaifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lalu menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memeng perlu , dengan mengenal sebuah kata , kita dapat memprediksi penggunakan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3 Pembentukan kata

Pembentukan kata nersifat Inflentif dan Derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Kata – kata dalam bahasa berfleksi mengalami penyesuaian bentuk dengan kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Penyesuaian tersebut berupa afiks,Infiks, dan sufiks. Penyesuaian pada verba disebut konjugasi . Penyesuaian pada uomsua dan asektifa disebut deklinasi.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma Infleksional.

5.2.3.2 Deriatif

Pembentukan kata secara deriatif membentuk kata baru , yang identitas lesikalnya tidak sama dengan kata dasarnya . Perbedaan identitas lesikal berkenaan dengan makna meskipun kelasnya sama , tetapi waktunya tidak sama.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada kata dasar.

Unsur –unsur dalam proses ini : 1. Bentuk dasar

2. Afiks

3. Makna gramatikal yang dihasilkan

Proses ini dapat bersifat infletif dan derifatif . Afiks aalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat , yang di imbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata .

Jenis Afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a. Afiks inflektif : Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata – kata inflektif .

b. Afiks Derivatif: Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata baru (kata leksikal tidak sama dengan bentuk dasarnya)

Afiks Berdasarkan melekatnya pada bentuk dasar :

a. Prefiks : Afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar .

b. Lufiks : afiks yang diinbuhkan ditengah bentuk dasar .

c. Sufiks : Afiks yang diimbukan pada posisi akhir bentuk dasar.

d. Koufiks : afiks yang berupa moffem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian kedua berposisi pada akhir bentuk daar sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus .

Sirkumfiks : untuk menyebutkan gabungan afiks yang bukan koufiks .

Luterfiks : sejenis sufiks / elemen penyambung yang muncul dalam proses pengganbungan dua buah unsur .

Tranfiks : afiks yang berwujud vokal – vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar (bahasa – bahasa semit, dasar biasanya berupa konsonan )

5.3.2 Reduplikasi

Adalah proses morfenis yang mengulang bentuk dasar , baik secara keseluruhan , secara sebagian (parsial) walaupun dengan perubahan bunyi .

Istilah sehubungan dengan reduplikasi :

a. Dwi Lingga : Pengulangan morfem dasar

b. Dwi Lingga Salin Suara : Pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lain.

c. Dwi Purwa : Pengulangan silabel Pertama

d. Dwi Sasana : Pengulangan pada akhir kata

e. Tri Lingga : Pengulangan morfem dasar sampai 2 kali

Proses reduplikasi dapat bersifat infleksional maupun derifasional. Reduplikasi infleksional tidak mengubah identitas flesikal tetapi memberi ,makna gramatikal . bersifat derifasional membentuk kata yang identitas lesikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya .

Catatan khusus mengenai reduplikasi :

1. Bentuk dasar Reduplikasi dalam bahasa indonesia dapat berupa morfem dasar .

2. Bentuk Reduplikasi yang disertai afiks bisa bersamaan / proses afiksasi dulu baru reduplikasi .

3. Pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin berupa reduplikasi penuh tetapi munkin berupa reduplikasi parsial .

4. Reduplikasi dalam bahasa indonesia bersifat paradikmatis, memberi makna jamak / kevariasian juga bersifat derivasional.

5. Adanya reduplikasi semantis : dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal .

6. bentuk reduplikasi atau bukan pada komponen yang berupa morfem beben dan terikat.

5.3.3 Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang maupun terikat sehingga membentuk sebuah kontruksi yang memiliki identitas lesikal yang berbeda.

Sutan takdir AlisJahbana (1953), berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan nakna unsur – unsurnya .

Kelompok linguis tata bahasa struktural menyatakan komposisi disebut kata majemuk, kalau diantara unsur – unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa – apa tanpa merusak komposisi itu.

Linguis kelompok lalu menyatakan komposisi adalah kata majemuk jika identitas lesikal komposisi itu sudah berubah dari identitas lesikal unsur – unsurnya.

Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua ubsurnya tidak bersifat sintaksius.

Kridalaksana(1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemuk harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sitaksius , sedangkan idiom adalah konsep semantis.

5.3.5 Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian – bagian leksen / gabungan leksen sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama denan makna bentuk utuhnya.

Kependekan adalah proses pemendekan , dibedakan menjadi 3 :

a. penggalan : Kependekan berupa pengekalan satu / dua suku pertama dari bentuk yang dipendekan itu.

b. Singkatan : hasil prosess pemendekan yang berupa:

Pengekalan huruf awal dari sebuah leksen / huruf – huruf awal dari gabungan leksem.

Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem .

Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama .

Pengekalan dua , tiga , atau empat huruf perrtama dari sebuah leksem .

c. Akronim : hasil pemendekan yang berupa kata / dapat dilafalkan sebagai kata . Wujudnya berupa pengekalan huruf – huruf pertama, berupa pengekalan suku – suku kata dari gabungan leksem / bisa juga secara tak beraturan .

5.3.6 Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu , terutama afiksasi , reduplikaai dan komposisi, digunakan berulang – ulang yang secara lrelatif tidak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Bloking adalah tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada (karena menurut kaiadah dibenarkan)(arronoff 1976 43.bauer 1983: 87 ) fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya bentuk yang dianggap seharusnya ada .

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik , morfonemik, morfofonologi / morfologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfenis dalan suatu proses morfologis, baik afiksasi , reduplikasi mauoun komposisi.

Perubahan fonem adalah proses morfofonemik ini dapat berwujud :

a. Pemunculan fonem

b. Pelepasan fonem

c. Peluluhan fonem

d. Perubahan fonem

e. Pergeseran fonem

Proses Pergeseran fonem adalah perubahan sebuah fonem dari silabel yang satu kesilabel yang lain biasanya kesilabel berikutnya.