Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Novianto Eko Dias Saputro;1402408029 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 12:52 pm

Nama : Novianto Eko Dias Saputro.

NIM : 1402408029

OBJEK LINGUISTIK = BAHASA

Objek kajian linguistik yaitu bahasa

3. 1. Pengertian Bahasa

Objek kajian linguistik secara langsung adalah parole karena parole berwujud konkret, yang nyata yang dapat dinikmati/diobservasi.

Perbedaan dua tuturan/bahasa berdasarkan 2 buah patokan yaitu linguistik dan patokan politis. Secara linguistik, bahasa Indonesia dan Malaysia adalah sebenarnya hanya dua buah dialek dari bahasa yang sama yaitu bahasa Melayu. Tetapi secara politis, dewasa ini bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia itu berbeda, bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional bangsa Indonesia dan bahasa Malaysia merupakan bahasa nasional bangsa Malaysia.

3. 2. Hakikat Bahasa

a. Bahasa sebagai sistem

Dalam kaitan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna/berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur/komponen yang satu dengan lainnya berhubungan secara fungsional.

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis yaitu bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Dan secara sistemis yaitu bahasa bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem atau sistem bawahan.

Kajian linguistik dibagi menjadi beberapa tataran yaitu tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik dan tataran leksikon. Tataran morfologi sering digabung dengan tataran sintaksis menjadi yang disebut tataran gramatika atau tataran bahasa

b. Bahasa sebagai lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol. Lambang dengan pelbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiatika/semiologi yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa.

Beberapa jenis tanda yaitu tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.

Tanda, selain dipakai sebagai istilah generik dari semua yang termasuk kajian semiotika juga sebagai salah satu dari unsur spesifik kajian. Semiotika itu suatu atau sesuatu yang dapat menandai atau mewakili ide, pikiran, perasaan, benda dan tindakan secara langsung dan alamiah.

Berbeda dengan tanda, lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional tidak secara alamiah dan langsung. Yang penting yang harus anda pahami bahwa bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi bahasa, bukan dalam wujud yang lain.

c. Bahasa adalah bunyi

Bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Bunyi bahasa/bunyi ajaran (speech sound) adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”.

Hakikat bahasa adalah bunyi atau bahasa lisan, dapat kita saksikan sampai kini banyak sekali bahasa di dunia ini, termasuk di Indonesia, yang hanya punya bahasa lisan, tidak punya bahasa tulisan, karena bahasa-bahasa tersebut tidak atau belum mengenal sistem aksara.

d. Bahasa itu bermakna

Dari pasal-pasal terdahulu sudah dibicarakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, atau bunyi ujar. Sebagai lambang tentu ada yang dilambangkan, maka yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.

e. Bahasa itu arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

f. Bahasa itu konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa ini mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

Berbeda dengan kata yang merupakan lambang “siap pakai”, artinya sudah ada tanpa harus diciptakan dulu, makna istilah merupakan lambang “yang dibuat” untuk menampung konsep yang ada tetapi belum ada lambangnya, seperti pada contoh curat dan gasar di atas. Sebuah istilah yang dibuat, tentu dimaksudkan untuk melambangkan suatu konsep, bisa digunakan atau tidak digunakan dalam pertuturan tergantung dari keperluan penggunaannya, bukan dari kepatuhan atau tidak terhadap konvensinya.

g. Bahasa itu produktif

Kata produktif adalah bentuk afektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “banyak hasilnya” atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan”. Lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuansatuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keproduktifan bahasa memang ada batasnya. Dalam hal ini dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Katerbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidaklaziman atau kebelumlaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan.

Selain itu keproduktifan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dengan afiks-afiks tertentu tampaknya juga dibatasi oleh ciri-ciri inheren bentuk dasarnya, yang sejauh ini belum dikaji orang.

h. Bahasa itu unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu, kalau bahasa dikatakan berifat unik, maka artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis melainkan sintaksis. Maksudnya kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap, yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.

i. Bahasa itu universal

Selain bersifat unik yakni mempunyai sifat atau ciri masing-masing, bahasa juga bersifat universa. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain.

Karena bahasa itu bersifat ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa, bukanlah persoalan keuniversalan.

j. Bahasa itu dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai dengan bahasa. Malah dalam bermimpipun manusia menggunakan bahasa.

Krrena keterikatan dan keterkaitan manusia itu dengan bahasa, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

Perubahan dalam bahasa, dapat juga bukan terjadi berupa pengembangnan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya atau tidak lagi menggunakan bahasanya lalu menggunakan bahasa lain. Di Indonesia, kabarnya telah banyak bahasa daerah yang ditinggalkan para penuturnya terutama dengan alasan sosial. Jika ini terjadi terus-menerus, maka pada suatu saat kelak banyak bahasa daerah yang hanya ada dalam dokumentasi belaka, karena tidak ada lagi penuturnya.

k. Bahasa itu bervariasi

Mengenai variasi bahasa ini, ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idialek, dialek, dan ragam.

Idialek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang tentu mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing.

Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.

Ragam adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar.

l. Bahasa itu manusiawi

Kalau kita menyimak kembali ciri-ciri bahasa, bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif, maka dapat dikatakan bahwa binatang tidak mempunyai bahasa. Bahwa binatang dapat berkomunikasi dengan sesama jenisnya, bahkan juga dengan manusia adalah memang suatu kenyataan.

Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

3. 3. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

a. Masyarakat Bahasa

Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang banyaknya relatif), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama.

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Masyarakat bahasa bisa melewati batas, propinsi, batas negara bahkan batas benua.

Orang Indonesia pada umumnya bilingual yaitu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua dan bahasa daerah sebagai bahasa pertama.

Tetapi ada juga yang multilingual, selain menguasai bahasa daerahnya sendiri dan bahasa Indonesia juga menguasai bahasa daerah lain atau bahasa asing.

b. Variasi dan Status Sosial Bahasa

Bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam pula. Berdasarkan penuturnya kita mengenal adanya dialek-dialek baik dialek regional maupun dialek sosial.

Ada dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi (variasi bahasa T). variasi T digunakan dalam situasi-situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah dan lain-lain. Variasi T perlu dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah. Yang kedua adalah variasi bahasa rendah (variasi bahasa R). variasi R digunakan dalam situasi yang tidak formal seperti di rumah, warung, catatan sendiri, dll. Variasi R langsung dipelajari dari masyarakat umum, dan tidak pernah dalam pendidikan formal.

c. Penggunaan Bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni:

1. Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan,

2. Paticipants, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan,

3. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan

4. Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan,

5. Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan,

6. Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan,

7. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan,

8. Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

d. Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain. Dan akan terjadi kontak bahasa. Kasus-kasus yang terjadi karena adanya kontak bahasa misalnya interferensi, integrasi, alih kode (code switching) dan campur kode (code-mixing).

Interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang sedang digunakan itu.

Alih kode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode (entah bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa atau ragam bahasa lain) karena alasan tertentu.

Campur kode pengertiannya sama dengan alih kode, namun dalam campur kode tidak ada alasan yang mendasari.

e. Bahasa dan Budaya

Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan ini. Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua pakar yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir – Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

3. 4. Klasifikasi Bahasa

Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukkan dalam satu kelompok.

Suatu klasifikasi yangbaik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekshautik, dan unik. Nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya, hanya harus ada satu kriteria. Tidak boleh ada kriteria lainnya. Dengan kriteria yang satu ini, yang nonarbitrer, maka hasilnya akan ekshautik. Artinya setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya, semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Selain itu hasil klasifikasi juga harus bersifat unik. M

 

Muhammad Zam Zam R.S.A ;1402408148

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 12:42 pm

Nama : Muhammad Zam Zam R.S.A

NIM : 1402408148

Bab II

Linguistik Sebagai Ilmu

A. Keilmiahan Linguistik

Keilmiahan linguistic dapat dibuktikan melalui 3 tahap , yaitu :

1. tahap spekulasi ( dalam tahap ini , pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif). contoh : dalam studi bahasa , dulu orang menganggap semua bahasa di dunia diturunkan dari bahasa Ibrani . Semua itu hanya spekulasi dan pada zaman sekarang sulit diterima .

2. tahap observasi dan klasifikasi (dalam tahap ini para ahli bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori dan kesimpulan ).

3. tahap perumusan teori ( dalam tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah dasar dan mengajukan pertanyaan . Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ).

Disiplin linguistik dewasa ini telah mengalami ketiga tahap tersebut , sehingga sudah bisa dikatakan sebagai kegiatan ilmiah . Sebagai ilmu , linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya . Karena itu linguistik juga disebut ilmu nomotetik . Linguistik tidak berhenti pada satu kesimpulan saja , tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan itu berdasarkan data empiris selanjutnya .

B. Sub Disiplin Linguistik

Setiap ilmu biasanya dibagi menjadi bidang-bidang bawahan atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah lain . Demikian pula dengan linguistik , karena mengingat objek linguistik adalah bahasa yang merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia . Maka sub disiplin linguistik juga sangat banyak . Antara lain :

1. Berdasarkan objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu , dibagi menjadi 2 , yaitu :

a. linguistik umum : linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum . Pernyataan-pernyataan yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya .

b. linguistik khusus : linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa tertentu

2. Berdasarkan objek kajiannya bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa . dibedakan menjadi 2 , yaitu :

a. linguistik sinkronik : linguistik yang mengkaji bahasa pada masa yang terbatas . Contoh : mengkaji kaidah bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan .

b. linguistik diakronik : linguistik yang mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas . Bisa sejak awal lahirnya bahasa sampai punahnya bahasa tersebut . ( linguistik historis komparatif )

3. Berdasarkan objek kajiannya apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor diluar bahasa . Dibedakan menjadi :

a. linguistik mikro : linguistik yang mengarahkan kajiannya pada struktur internal bahasa pada umumnya . Linguistik mikro dibagi lagi menjadi sub disiplin linguistik fonologi ( mempelajari ciri-ciri bunyi bahasa ) , linguistik morfologi ( mempelajari struktur kata , bagian , serta cara pembentukannya ), linguistik sintaksis ( mempelajari satuan kata , satuan lain diatas kata , hubungan satu dengan yang lain , dan cara penyusunannya sehingga menjadi sebuah ujaran ), linguistik semantik ( mempelajari makna yang bersifat leksikal , gramatikal , dan kontekstual ), linguistik leksikologi ( mempelajari kosa kata suatu bahasa ) .

b. linguistik makro : linguistik yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor diluar bahasa . Linguistik makro dibagi lagi menjadi subdisiplin sosiolinguistik , psikolinguistik , antropolinguistik , etnolinguistik , stilistika , filologi , dialektologi , filsafat bahasa , dan neurolonguistik ) .

4. Berdasarkan tujuannya apakah penyelidikan linguistik untuk merumuskan teori atau untuk diterapkan , dibagi menjadi :

a. linguistik teoretis: linguistik yang berusaha mengadakan penelitian atau penyelidikan terhadap bahasa yang tujuannya hanya untuk kepentingan teori belaka .

b. linguistik terapan : linguistik yang berusaha mengadakan penyelidikan dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat .

5. Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa , dapat dibagi menjadi :

a. linguistik tradisional

b. linguistik structural

c. linguistik transformasional

d. linguistik generatif

e. linguistik semantik

f. linguistik relasional

g. linguistik sistemik

C. Analisis Linguistik

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa atau lebih tepat terhadap semua tatanan tingkat bahasa yaitu fonetik , fonemik , morfologi , sintaksis dan semantik .

D. Struktur , Sistem , dan Distribusi

1. Struktur : susunan bagian-bagian kalimat atau konsistuen kalimat secara linear .

2. Sistem : hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya .

3. Distribusi : menyangkut masalah dapat atau tidaknya penggantian suatu konstituen dalam suatu kalimat tertentu dengan konstituen lain .

E. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen yang membangun suatu satuan bahasa entah satuan kata , frase , klausa , maupun kalimat . Analisis bawahan langsung berfungsi untuk menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat dapat dipahami dengan analisis tersebut .

F. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur lain . misal : satuan tertimbun terdiri dari ter -+ timbun .

Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa merupakan hasil dari suatu proses pembentukan . misal : bentuk tertimbun merupakan hasil dari proses prefiksasi ter dengan dasar timbun .

G. Manfaat Linguistik

1. Bagi linguis : membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya .

2. Bagi peneliti,kritikus,dan penikmat sastra : membantu memahami karya sastra dengan lebih baik

3. Bagi guru : membantu merumuskan kaidah preskriptif dan deskriptif sehingga pengajaran berjalan dengan baik

4. Bagi penyusun dan penerjemah : membantu menyelesaikan tugasnya

5. Bagi penyusun buku pelajaran : memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat serta memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca

6. Bagi negarawan dan politikus : membantu menyalurkan pemikiran baik secara lisan dan tulisan , Karena politikus haruslah mengerti soal bahasa .

 

Jayanti Werdi Nastiti; 1402408082

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 12:40 pm


Nama : Jayanti Werdi Nastiti

NIM : 1402408082

Bab 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi Linguistik mengalami 3 tahap perkembangan yaitu spekulasi (tidak ada data empiris), observasi dan klasifikasi (pengamatan dan penggolongan) dan perumusan teori

1. Lingusitik Tradisional

Terjadi pertentangan istilah Tradisional (bahasa berasar filsafat dan sistematik) dan struktural (bahasa berdasar struktural dan ciri – ciri formal)

a. Linguistik pada zaman Yunani ( 55 M – 2 M) / + 600 TH

Ada 2 masalah pokok yang menjadi pertentangan :

1. Pertentangan antara fisis / alami / mempunyai asal – usul, sumber, dan tidak dapat diganti . aliran ini dianut kaum naturalis dengan nomos / konvensu / makna – makna kata itu diperoleh dari hasil tradisi yang bisa dirubah yang dianut oleh kaum konvesional

2. Pertentangan analogi / bahasa itu teratur (Aristoteles dan Plato) dan Anomali / bahasa itu tidak teratur

Dapat disimpulkan bahwa kaum Anomali sejalan dengan Naturalis dan kaum Analogi sejalan dengan Konvesional

Tokoh – tokoh yang berperan besar pada zaman Yunani :

1. Kaum Soptus (abad ke – 5 SM) terjadi pembagian kalimat

2. Plato (429 – 347 SM)

3. Aristoteles (384 – 322 SM)

4. Kaum Stoik (permulaan abad ke – 4 SM)

5. Kaum Alexandrian, berpaham Analogi diciptakan buku

Dionysius Thrax yaitu asal usul tata bahasa traditional

b. Zaman Romawi

Kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh yang terkenal ialah Varro (116-27 SM) dengan karya De Lingua Latina dan Priscia dengan karya Institutiones Grammaticae / Tata bahasa Priscia

1. Varro dan De Lingua Latina

Terdiri dari 25 jilid dibagi dalam bidang atimologi, marfologi, dan sintaksis. Buku ini memperdekatkan masalah analogi dan aromali. Dalam bidang monfologi Varro membagi romali. Dalam bidang manfologi Varro membagi 4 kelas kata latin yaitu kata benda termasuk kata sifat, kata kerja, partisipel / kata yang menghubungkan dalam sintaksis kata benda dan kata kerja, Adverblum / kata yang mendukung (anggota bawahan dari kata kerja) yang tidak berinfleksi. Kategori kata kerja dibedakan atas tense, time, dan aspect, serta genetivus (kepunyaan), dativus (menerima), akusativus (objek), vokativus (sapaan) dan Ablativus (asal)

2. Institutiones Grammaticae

Terdiri 18 jilid (16 jilid Morfologi dan 2 jilid sintaksis. Buku ini dianggap penting karena merupakan buku bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembaca aslinya dengan tata bahasanya adalah tonggak utama pembicaraan secara tradisional. Sehingga menjadi model dalam penulisan buku tata bahasa lain di Eropa dan bagian dunia lain. Beberapa segi mengenai buku ini forologi, marfologi, sintaksis

c. Zaman Pertengahan

Mendapat perhatian penuh oleh filsuf skolastik dan bahasa latin menjadi Linguafranca. Ya patut dibicarakan pada zaman pertengah ialah peranan kaum Modistae, Tata Bahasa spekkulativa, dan petrus hispanus

d. Zaman Renaisans

Merupakan zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. 2 hal yang menonjol pada zaman Renaisans :

1. Selain menguasai bahasa latin, sarjana-sarjana waktu itu juga menguasai bahasa yunani, ibrani, dan arab

2. Selain bahasa yunani, latin, ibrani dan arab bahasa eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan, tata bahasa dan malah juga perbandingan

e. Menjelang lahirnya Linguistik Modern

Pada masa antara lahirnya Lingusitik modern dengan masa berakhirnya zaman renaisans dinyatakan adanya hubungan kekerabatan antara bahasa sansekerta dengan bahasa – bahasa yunani, latin, dan bahasa – bahasa jerman lainnya oleh Sir William Jones dari East India company dihadapan The Royal Asiatic Society dikalkuta (1786) sehingga membuka babak baru sejarah linguistik yakni dengan berkembangnya studi terlepas dari masalah filsafat yunanu kuno.

2. Linguistik Strukturalis

Tokoh – tokoh Linguistik strukturalis

a. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913)

Dianggap bapak linguistik modern berdasar pandangan yang dimuat dalam bukunya course de linguistique generale (1915) pandangan – pandangan yang dimuat mengenai konsep :

1. Tejaah sinkronik dan diakronik / waktu pembelajaran

2. Perbedaan langue dan parale / sistem tanda komunikasi dan pemakain langue

3. Perbedaan signifiant dan signifie / kesan psikologis bunyi dan kesan makna yang ada dalam pikiran kita

4. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik / hubungan antara unsur – unsur dalam tuturan dan hubungan antara unsur – unsur dalam tuturan dengan unsur – unsur sejenis.

b. Aliran Praha (1926)

Tokoh : Vilem Mathesius

Membedakan fonctik dan fonologi fonetik mempelajari bunyi dan fonologi memelajari fungsi bunyi tersebut

c. Aliran Glosematik

Lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemlslev (1899 – 1965) membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri bahasa mengandung 2 segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi masing – masing mengandung forma dan subs tansi ekspresi, forma isi dan sustansi isi

d. Aliran Firthuan

Tokoh : John R. Firth (1890 – 1960) terkenal karenal teorinya mengenal fonologi prosedi (aliran prosodi / aran firth / firthian / london). Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Fonologi prosodi terdiri dari satuan – satuan fonetis (unsur – unsur segmental) dan satuan prosodi ( ciri – ciri / sifat struktur) ada 3 macam pokok prosodi yaitu prosodi yang menyangkut gabungan fonem, prosodi yang terbentuk oleh sendi / jeda dan prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem – fonem prasegmental

e. Linguistik Sistemik

Tokoh : M. A. K Halliday mengembangkan teori firth dalam segi kemasyarakatan bahasa dikenal dengan nama Neo – Firthian Linguistics / scale dan category Linguistics yang kemudian diberi nama baru systemic linguistics

f. Leonard Bloomfield & Struktur Amerika (1877 – 1949)

Dengan bukunya “Language” tahun 1933 yang selalu dikaitkan dengan aliran struktural american. Ciri aliran strukturalis adalah cara kerja mereka yang sangat menekankan pentingnya data objektif untuk memerikan suatu bahasa. sering juga disebut kaum distribusionalis

g. Aliran Tagmemik

Dipelopori Kenncth L. Pike tokoh dari Summer Institule of Linguistics. Menurut Aliran satuan dasar sintaksis adalah tagmem (yunani : susunan) yaitu dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Satuan dasar sintaksis diungkapkan bersamaan dalam rentetan rumus:

S: FN + P : FV + O : FM

Satuan dasar sintaksis yaitu tagmem (sel – empat – kisi)

Fungsi

Kategori

Peran

Kohesi

Contoh Analisis secara Tagmemik

: Saya menulis dengan pensil “

S KS P KKT O KB K FD

Pel ak tug al

Saya menulis surat dengan pensil

3. Lingusitik Transformasional dan aliran – aliran sesudahnya

Model – model Linguistik Transformasional :

a. Tata Bahasa Transformasi

Latur dengan terbitnya buku Noam Chomsky dengan judul Syntactic structure (1957) dan Aspect of the Theory of Syntax (1965) nama yang dikembangkan Transformational Generative Grammar. Tata bahasa harus memenuhi 2 syarat : kalimat hasil harus dapat diterima oleh pemakai bahasa sebagai kalimat yang wajar, kalimat harus berbentuk sedemikian rupa sehingga satuan yang digunakan tidak berdasar pada gejala bahasa tertentu saja dan harus sejajar dengan teori linguistik tertentu

b. Sematik Generatif

Dikenal dengan kaum semantik genet\ratif. Menurut teori generatif semantik, struktur sintaksis bersifat homogen dan untuk menghubungkan ke 2 struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Strukutur semantik seruipa dengan struktur logika, suatu ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi. Struktur logika :

Proposisi

Predikat Argumen1……… Argumen

c. Tata Bahasa Kasus

Diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya “The case for case” (1968) yang dimuat dalam buku Bach, E. dan R. Harms Universal in Linguistik Theory. Kalimat dibagi atas Modalitas yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia, Proposisi, yang tidur dari sebi\uah verba disertai dengan sejumlah kasus

Kalimat

Modalitas Proposis

Negasi

Kala verba kasus1 kasus2 kasusn

Aspek

Adverbia

Persamaan antara teori semantik generativ dengan teori kasus yaitu sama – sama menumpukkan teorinya pada predikat / verba

d. Tata Bahasa Relasional (1970 – an)

Tokoh : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal

Karangan : Lectures on Relational Grammar (1974), Relation Grammar dalam syntaxand and semantics vol. 13 (1980), dan status in relational grammar 1 (1983)

Menurut teori tata bahasa relational setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relational yang melibatkab 3 macam maujud :

a. Seperangkat simpal (nodes) yang menampilkan elemen – elemen di dalam suatu struktur

b. Seperangkat tanda relasional (relational sign ) yaitu nama relasi gramatikal

c. Seperangkat “Coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang manakah elemen – elemen itu menyandang ralasi gramtikal tertentu

4. Tentang Linguistik di Indonesia

Awalnya peneltian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli belanda dan eropa lainnya, untuk kepentingan kolonial di Indonesia dan penyebaran agama Nasrani. Penelitian tersebut kebanyakan hanya bersifat observasi dan klasifikasi. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu masih berlanjut sampai th 70 dan 80 an. Konsep – konsep linguistik modern baru tiba di Indonesia pada akhir sekali tahun lima puluhan. Pendidikan formal linguistik di Indonesia sampai akhir 50 an masih terpaku pada konsep-konsep tasta bahasa traditional sejak kepulangan sejumlah linguis indonesia dari amerika baru dikenalkan konsep fonem, morfem, frase dan klausa. Namun pengenalan konsep linguistik modern mengalami pertentangan karena konsep linguistik tradisional tidak begitu saja dapat digantikan. Akhirnya perkembangan waktu jualah yang menyebabkan konsep – konsep linguistik modern dapat diterima dengan diterbitkannya buku tata bahasa indonesia karangan Gorys keraf. Selain itu sejumlah buku Ramlan menjadikan kedudukan Linguistik modern dalam pendidikan Formal semakin kuat. Datangnya Prof. Verhaar guru besar lingustik semakin semakin marak sehingga berbagai aliran dan paham sudah bukan hal yang asing bagi kebanyakan pakar linguistik Indonesia. Maka dirasa perlu suatu wadah untuk berdiskusi, bertukar pengalaman dan publikasi hingga pada tanggal 15 Nov 1975 berdirilah organisasi masyarakat linguistik Indonesia (MLI). Penyelidikan terhadap bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia banyak pula dilakukan oleh orang diluar Indonesia sesuai dengan funfsinya sebagai bahasa Nasional, bahasa persatuan, dan negara maka Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini baik dalam negri / luar.

 

Galuh Arumingtyas;1402408087

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 12:35 pm

Nama : Galuh Arumingtyas

NIM : 1402408087

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK : SINTAKSIS

Morfosintaksis merupakan gabungan dari morfologi dan sintaksis. Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Kedua bidang tataran itu memang berbeda, namun seringkali batas antar keduanya menjadi kabur karena pembicaraan bidang yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain.

Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah:

A. Struktur sintaksis:

1. Fungsi, kategori, peran.

2. Alat yang digunakan seperti:

a. Urutan kata

b. Bentuk kata

c. Intonasi

d. Konektor

B. Satuan sistaksis seperti;

1. Kata

2. Frase

3. Klausa

4. Kalimat

5. Wacana

C. Hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis seperti:

1. Modus

2. Aspek

A. Struktur sintaksis

1. Fungsi, katagori, peran.

* Fungsi sintaksis : subjek, predikat, objek, keterangan.

* Kategori sintaksis : nomina, verba, adjektiva, numeralia.

* Peran sintaksis : pelaku, penderita, penerima.

Contoh :

Kalimat aktif : Nenek melirik kakek tadi pagi.

Nenek

melirik

kakek

tadi pagi.

fungsi

S

P

O

K

kategori

nomina

verbal

nomina

peran

pelaku

aktif

sasaran

waktu

Kalimat pasif : Kakek dilirik nenek tadi pagi.

Kakek

dilirik

Nenek

tadi pagi.

fungsi

S

P

O

K

kategori

nomina

verbal

nomina

peran

sasaran

pasif

Pelaku

waktu

Struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek, fungsi predikat. Objek dan keterangan boleh tidak memiliki, apalagi mengingat kemunculan objek ditentukan oleh transitif. Menurut Chafe (1970) menyatakan bahwa yang paling penting dari struktur sintaksis adalah predikat. Predikat harus berupa verba atau kategori lain yang diverbakan. Munculnya fungsi-fungsi lain tergantung pada jenis atau tipe verba itu. Verba yang transitif akan memunculkan fungsi objek dan yang intransitive tidak memunculkan fungsi objek.

Contoh:

· Dia tinggal di Jakarta.

· Matahari terbit di sebelah timur.

Verba tinggal dan terbit adalah verba intransitive yang menyatakan lokasi, maka perlu fungsi keterangan yang berperan lokatif. Tanpa keterangan lokatif, maka kalimat tersebut tidak diterima.

· Rambut nenek belum memutih.

Verba memutih adalah verba intransitif. Jadi tidak memerlukan objek.

· Nenek membersihkan kamarnya.

Verba membersihkan adalah verba transitif. Jadi membutuhkan objek.

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu ada atau keberadaannya ditanggalkan. Verba transitif yang objeknya tidak perlu ada atau menyatakan kebiasaan.

Contoh:

· Sekretaris itu sedang mengetik. (surat)

· Dari pagi kakek belum makan. (nasi)

· Nenek mau minum. (air)

2. Alat-alat sintaksis

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, intonasi, bisa juga di tambah konektor yang berupa konjugasi. Peranan ketiga alat sintaksis (bentuk kata, intonasi, dan urutan kata) tampaknya tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.

a. Urutan kata

Dalam bahasa Indonesia urutan kata itu tampaknya sangat penting. Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna

Contoh:

Kontruksi tiga jam tidak sama dengan jam tiga. Tiga jam menyatakan masa waktu yang lamanya 3´60 menit. Sedangkan jam 3 menyatakan waktu.

Dalam bahasa latin yang memegang peranan penting dalan sintaksis bukanlah urutan kata melainkan bentuk kata. Meskipun letaknya dimana saja, tapi makna gramatikalnya tidak akan berubah dan tidak akan terjadi kesalah pahaman.

Contoh: Paul melihat Maria.

Paulus vidit Mariam.

Mariam vidit Paulus.

Vidit Mariam Paulus.

Mariam Paulus vidit.

b. Bentuk kata

Kata dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Latin memang tidak sama. Dalam bahasa Latin bentuk kata itu tampaknya berperan mutlak sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Hal ini terjadi karena dalam bahasa Latin urutan kata hampir tak mempunyai peran, sedangkan dalam bahasa Indonesia urutan kata mempunyai peran.

c. Intonasi

Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi nada naik dan tekanan.

Contoh: Kucing/makan tikus mati.

Kucing makan tikus/mati.

Kucing/makan//tikus/mati.

Kalau susunan kalimat-kalimat diatas diberi tekanan sebagai batas subjek dan predikat pada tempat yang berbeda, maka kalimat tersebut akan memiliki makna gramatikal yang berbeda.

d. Konektor

Konektor bertugas menghubungkan satu konstituen dengan yang lain, baik yang berada dalam kalimat maupun yang berada diluar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan adanya 2 konektor yaitu konektor koordinatif dan subordinatif.

· Konektor koordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang sama kedudukannya atau sederajat. Kojungsinya berupa dan, atau, dan tetapi.

· Konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan. Konjungsinya berupa kalau, meskipun, dan karena.

B. Satuan-satuan sintaksis

1. Kata

Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem). Tetapi dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya 2 macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas.

o Kata penuh adalah kata yang secara lesikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai satuan tuturan. Yang merupakan kata penuh adalah kata yang termasuk kategori nomina, verba, ajektiva, adverbial, dan numeralia.

Contoh: kucing, masjid

o Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan ia tidak dapat sendiri. Yang merupakan kata tugas adalah kata-kata yang berkategori preporsisi dan konjungsi.

Contoh: dan, meskipun

2. Frase

Frase lazim didenfinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam suatu kalimat.

Contoh:

o Belum makan dan tanah tinggi adalah frase.

o Tata boga dan interlokal bukan frase, karena boga dan inter adalah morfem terikat.

Ini berarti, hubungan antara kedua unsure yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-objek. Oleh karena itu, konstruksi seperti adik mandi dan menjual sepeda bukan frase, akan tetapi kamar mandi dan bukan sepeda adalah frase. Satu hal yang perlu diingat, karena frase itu mengisi salah satu fungsi sintaksis maka salah satu unsure frase itu tidak dapat dipindahkan “sendirian”. Jika ingin dipindahkan, maka harus dipindahkan secara keseluruhan sebagai satu kesatuan.

Contoh:

o Nenek membaca komik di kamar tidur.

o Tidur nenek membaca komik di kamar. (salah)

o Di kamar tidur nenek membaca komik.

Jenis frase:

a) Frase eksosentrik

Dibagi menjadi 2 yaitu frase eksosentris yang direktif dan frase eksosentris yang non direktif. Frase eksosentris yang direktif seperti di, ke, dari. Contoh: di pasar, ke sekolah, dari rumah. Frase eksosentris yang non direktif seperti si, sang, yang, para, dan kaum.

b) Frase endosentrik

Adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan kesseluruhannya. Artinya salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

Contoh :

o Harga buku itu mahal sekali.

Dapat diganti dengan:

o Harga buku itu mahal.

c) Frase koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secarapotensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif. Baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik….baik, makin….makin, dan baik….maupun….

Contoh: Makin terang makin baik, sehat atau sakit, majikan dan buruh

d) Frase apositif

Adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

Contoh:

o Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.

o Guru saya, pak ahmad, rajin sekali.

Salah satu cirri frase adalah bahwa frase dapat diperluas. Maksudnya dapat diberi tambahan komponen baru. Seperti kamar tidur dapat diperluas menjadi kamar tidur saya. Untuk memperluar frase dapat dinyatakan dari yang konsep khusus, sangat khusus, khusus sekali.

Contoh:

kereta

kereta api

kereta api ekspres

kereta api ekspres malam

3. Klausa

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi prediktif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat.

a. Klausa bebas

Yang dimaksud dengan klausa bebas adalah kalusa yang mempunyai unsure-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat, dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

b. Klausa terikat

Sedangkan klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Unsur yang mungkin ada hanya objek atau keterangan saja, dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor.

4. Kalimat

Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisis pikiran yang lengkap. Akan tetapi yang paling penting menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final. Konstituen dasar itu biasanya berupa klausa. Jadi, kalau pada sebuah klausa diberi intonasi final, maka terbentuklah kalimat. Intonasi final yang ada yang member cirri kalimat ada 3 buah, yaitu ;

o Intonasi deklaratif : Dalam bahasa tulis dilambangkan tanda titik.

o Intonasi interogatif : Dalam bahasa tulis dilambangkan tanda tanya.

o Intonasi seru : Dalam bahasa tulis dilambangkan tanda seru.

Jenis kalimat:

a. Kalimat inti dan kalimat non-inti

Kalimat inti biasa juga disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, netral, dan afirmatif.

Contoh:

Ø FN + FV : Nenek datang.

Ø FN + FV + FN : Nenek membaca komik.

Ø FN + FNum : Uangnya dua juta.

Kalimat inti dapat diubah menjadi non-inti dengan berbagai proses tranformasi, seperti tranformasi pemasifan, transformasi pengingkaran, transformasi penanyaan, transformasi pemerintahan, tranformasi penginversian, tranformasi penambahan, dan transformasi pelepasan.

Contoh:

Ø Nenek membaca komik.

Mengalami transformasi pasif menjadi:

Ø Komik dibaca nenek.

Kalimat inti + proses transformasi = kalimat non-inti

Contoh:

Ø Nenek si Udin tidak akan datang karena sedang sakit gigi.

Ø Apakah nenekmu yang datang ke sini tadi pagi?

Di dalam praktek berbahasa boleh dikatakan lebih banyak digunakan kalimat non-inti daripada kalimat ini, sebab informasi yang harus disampaikan melalui bahasa biasanya sangat luas.

b. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Kalimat tunggal hanya terdiri dari satu klausa.

Contoh:

Ø Nenekku masih cantik.

Ø Burung-burung itu bernyanyi sepanjang hari.

Ø Siapa nama dosen linguistic yang cantik itu?

Kalau klausa di dalam sebuah kalimat terdapat lebih dari satu, maka kalimat itu disebut kalimat majemuk. Menurut sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat dibedakan menjadi menjadi kalimat majemuk koordinatif (kalimat majemuk setara), kalimat majemuk subordinatif (kalimat majemuk bertingkat) dan klaimat majemuk kompleks.

o Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausa memiliki status yang sama, setara, atau sederajat. Konjungsinya dan, atau, tetapi, lalu.

Contoh:

Ø Nenek melirik, kakek tersenyum, dan adik tertawa.

Ø Dia membuka pintu, lalu mempersilahkan kita masu.

Ø Dia datang dan duduk disebalah saya.

o Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak setara. Konjungsinya kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Contoh:

Ø Kalau nenek pergi, kakek pun akan pergi.

Ø Nenek membaca komik ketika kakek tidak ada dirumah.

Ø Meskipun dilarang oleh kakek, nenek pergi juga ke salon.

o Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri dari tiga klausa atau lebih, dapat dihubungkan secara koordinatif atau subordinatif.jadi, kalimat majemuk ini merupakan campuran dari kalimat majemuk koordinatif dan kalimat majemuk subordinatif.

Contoh:

Ø Nenek membaca komik dirumah karena kakek tidak ada di rumah dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

c. Kalimat mayor dan kalimat minor

Pembedaan kalimat mayor dan minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu. Kalau klausanya lengkap, sekurang-kurangnya memiliki unsure subjek dan predikat, maka kalimat itu disebut kalimat mayor.

Contoh:

Ø Nenek berlari pagi.

Ø Kakenya petani kaya di sana.

Ø Bu dosen itu cantik sekali.

Kalimat minor adalah kalimat yang klausanya tidak lengkap. Walaupun tidak lengkap, kalimat tersebut dapat dipahami karena konteksnya diketahui oleh pendengar maupun pembaca.

Contoh:

Ø Sedang makan!

Ø Pergi!

Ø Halo!

d. Kalimat verbal dan kalimat non-verbal

o Kalimat verbal dapat dibedakan menjadi kalimat transitif, kalimat intransitive, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat dinamis, kalimat statis, kalimat reflektif, kalimat resiprokal, kalimat ekuatif.

v Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif, yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek.

Contoh: Dika menendang bola

v Kalimat intransitive adalah kalimat yang predikatnya verba intransitive, yaitu verba yang tidak memiliki objek.

Contoh: Kakek berlari ke kamar mandi.

v Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya kata kerja aktif.

Contoh: Kakek menulis surat.

v Kalimat pasif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba pasif.

Contoh: Surat ditulis oleh kakek.

v Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.

Contoh: Mahasiswa itu pulang.

Dia pergi begitu saja.

v Kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantic tidak menyatakan tindakan atau kegiatan.

Contoh: Anaknya sakit keras.

Kambing itu sudah mati.

o Kalimat non-verb adalah kalimat yang predikatnya bukan verba, bisa nomina atau frase nomina, bisa ajektiva atau frase ajektiva, bisa kelas numeral, dan juga berupa frase preposisional.

Contoh: Mereka bukan penduduk desa sini.

Mereka rajin sekali.

Penduduk Indonesia 185 juta jiwa.

Mereka ke pengadilan.

e. Kalimt bebas dan kalimat terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap.

Contoh:

Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun sangat sukar diperoleh(2). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung selangit(3). Makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah(4).

Kalimat (1) pada teks adalah kalimat bebas. Sedangkan kalimat (2),(3), dan (4) adalah kalimat terikat.

5. Wacana

Adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesa. Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsure-unsur yang ada dalam wacana tersebut. Bila wacana itu kohesif, akan tercipta kekoherensian, yaitu isi wacana yang apik dan benar.

Untuk membuat wacana yang kohesif dan koherens itu dapat digunakan berbagai alat wacana, baik yang berupa aspek gramatikal maupunyang berupa aspek semantic. Atau gabungan antara keduanya.

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain:

o Konjungsi adalah alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat, atau menghubungkan antar paragraf.

o Kata ganti dia, nya, mereka, ini, itu sebagai rujukan anaforis. Sehingga tidak terjadi penggulangan bagian kalimat.

o Menggunakan ellipsis yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat lain sehingga menjadi efektif.

Selain dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohensif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan aspek semantic. Caranya, antara lain dengan:

o Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat.

Contoh: Kemarin hujan turun lebat sekali. Hari ini cerahnya bukan main.

o Menggunakan hubungan generic-spesifik atau sebaliknya.

Contoh: Kuda itu jangan kau pacu terus. Binatang juga perlu istirahat.

o Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat.

Contoh: Lahap benar makannya. Seperti orang yang sudah satu minggu tidak makan.

o Menggunakan hubungan sebab-akibat.

Contoh: Dia malas, dan sering kali bolos sekolah. Wajaralah kalua tidak naik kelas

o Menggunakan hubungan tujuan.

Contoh: Semua anaknya disekolahkan. Agar kelak tidak seperti dirinya.

o Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat.

Contoh: Becak sudah tidak ada lagi di Jakarta. Kendaraan roda tiga itu sering dituduh mememacetkan lalu lintas.

C. Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

a. Modus adalah penggungkapan atau penggambaran suasana psikologi perbuatan menurut tafsiran si pembaca tentang apa yang diucapkannya.

b. Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses.

c. Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan didalam predikat.

d. Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa, atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

e. Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.

f. Diatesis adalah gambaran hubungan antar pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukaan dalam kalimat itu.

 

Ari Kuncoro B;1402408001

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 12:29 pm

Nama : Ari Kuncoro B

NIM : 1402408001

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) :

MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari aru ujaran fonem diatas satuan fonem yang fungsional silabel.Silabel hanyalah satuan ritmis yang ditandai dengan adanya satuan sonoritas atau puncak kenyaringan.Diatas satuan silabel itu secara kualitas ada satuan lain yang fungsional yang disebut morfem.

5.1. morfem

Morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis,dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

5.1.1 Identifikasi morfem

Bisa badir secara berulang-ulang dengan bentuk lain.Morfem sebagai contoh ambil bentuk kedua,ternyata benyuk kedua dapat banding-bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai berikut :

1. kedua

2. ketiga

3. kelima

Semua bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama,menyatukan tingkat atau derajat.Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama,bisa disebut sebagai sebuah morfem.Sekarang perhatian bentuk ke :

1. kepasar

2. kekampus

3. kemesjid

Bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebaagai satuan tersendiri,dan juga mempunyai arti yang sama menyatakan arah dan tujuan.Makna bentuk ke pada kedua dan kepasar tidak sama,maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama.Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda,meskipun bentuknya sama.Jadi kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem.

Sekarang perhatikan bentuk meninggalkan,lalu bandingkan dengan bentuk-bentuk lain :

1. meninggalkan

2. ditinggal

3. tertinggal

4. peninggalan

Dari daftar tersebut ternyata ada bentuk yang sama,bagian yang sama itu adalah bentuk tinggal atau ninggal.Maka bentuk tinggal adalah sebuah morfem,karena bentuknya sama dan maknanya juga sama.

Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bujan,kita memang harus mengetahui atau mengenal maknanya.Pehatikan contoh berikut :

1. menelantarkan

2. telantar

3. lantaran

Meskipun bentuk lantar terdapat berulang-ulang pada daftar tersebut, tetapi bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya.Lalu bentuk menelantarkan memang punya hubungan dangan terlantar,tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran.

Dalam studi morfologi suatu satuan bentuk yang bersatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morfem adalah bentuk yang sama,yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain. :

1. melihat

2. merasa

3. membawa

4. membantu

Kita lihat ada bentu-bentuk yang mirip atau hampir sama maknanya juga sama.Bentuk-bentuk itu adalah me pada melihat dan merasa, mem- pada membawa dan membantu.apakah me-, mem-, itu sebuah morfem atau bukan,sebab meskipun maknanya sama tetapi bentukanya tidak persis sama.Bentuk itu adalah sebuah morfem, sebab ,meskipun bentuknya tidak persis sama,tetapi berbedaannya dapat dijelaskan secara fonologis.Bentuk me- berdistrbusi,antara lain,pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan/1/dan/r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/dan juga/p/;

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama itu di sebut alomorf. Dengan perkataan lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai alomorf,bisa juga dikatakan morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya,alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

Dalam tata bahasa tradisional nama yang digunakan adalah awalan me-, dengan penjelasan,awalan me- ini akan mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dipilih almorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya,dalam studi linguistik lebih umum disebut morfem meN-.

5.1.3 klasifikasi morfem

morfem-moerfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasannya,keutuhannya,maknanya,dan sebagai.berikut ini akan dibacakan secara singkat.

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah : morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam ertuturan. Misalnya,bentuk pulang,makan,rumah,dan bagus. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada berapa hal yang perlu dikemukakan. Yaitu :

1) Bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, danbaur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk-bentuk tersebut,meskipun bukan afiks,tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti aflikasi, reduplikasi, dan kompesisi. Bentubentuk lazim disebut bentuk prakate gorial.

2) Bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tending juga termasuk bentuk prakategorial, sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.

3) Bentuk-bentuk seperti renta, kerontang, bugar juga termasuk morfem terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik.

4) Bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, dan, kalau, dan atau secara morfelogis termasuk morfem bebas, tetapi secara sinteksis merupakan bentuk trikat.

5) Yang disebut klitika mereupakan morfem yang agak sukar ditentukan setatusnya. Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara vonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan slalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Umpamanya klitika, lah, ku. Menurut posisinya klitika klitika biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti : Ku dan kau, kubawa dan kuambil. Enklitika klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati , seperti –lah,-nya,-dan –ku dialah duduk nya, dan nasibku.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Terbagi

Semua morfem dasar bebas yang dibicarakan termasuk morfem utuh, seperti {meja}, {kursi}, {kecil], {laut}, dan {pensil}. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terbagi dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya kesatuan terdapat satu. Morfem ituh, yaitu satu morfem terbagi, yakni (ke-/-an). Dalam bahasa Arab, dan juga bahasa Ibrani, semua morfem akar untuk verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsunan yang dipisahkan oleh tiga buah vocal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula.

Sehubungan dengan morfem terbagi ini, untuk bahasa Indonesia , ada catatan yang perlu diperhatikan, yaitu;

Pertama, semua afiks yang disebut konfiks seperti (ke-/-an),(ber-/-an),(per-/-an), dan (per-/-an) adalah termasuk morfem terbagi.

Kedua , dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks yakni afiks yang disisikan ditengah morfem dasar. Misalnya (-er-) pada kata gerigi, infiks (-er-) pada kata pelatuk. Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem utuh (gigi) menjadi morfem terbagi (g-/-igi-) morfem utuh (patuk) menjadi morfem terbagi(p-/-atuk),dalam bahasa Indonesia infiks ini tidak produktif, bisa dikenakan pada kata benda apa saja.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang di bentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem(lihat), (lah), (sikat), dan (ber). Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalh morfem segmental . Sedangkan morfem suprasegmental, seperti tekanan,nada, durasi dan sebagainya.Dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak ada suprasegmental ini. Morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosudi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan). Morfem bermakna leksikal adalah morfem –morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu proses dulu dengan morfem lain, misalnya dalam bahasa Indonesia ,morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari) , dan (merah) . Oleh karena itu dengan sendirinya sudah dapat di gunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang atonom didalam pertuturan.

Morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. M orfem lain dalam suatu proses morfologi.Yang biasa dimaksud denganmorfem tak bermakna leksikal ini adalah morfemorfem afiks, seperti (ber-), (me-), dan (ter-).

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem, dan Akar (Root)

orfem adalah dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan mporfem afikls. Jadi , bentuk-bentuk seperti(juang), (kucing) dan (sikat) adalah morfem dasar. Morfem dasar ini ada yang termasuk morfem terikat, seperti(juang),(henti), dan (abai);tetapi ada juga yang termasuk morfem bebas seperti (beli), (lari),dan (kucing), sedangkan morfem afiks, seperti( ber-), dan (-kan ) jelas semuanya termasuk morfem terikat.

Bentuk dasar atau dasr(base) saja biasanya di gunakan untuk menyebut sebuah yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfen. Istilah pangkal (stem) di gunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks infleksi. Dalam bahasa Indonesia kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi; dalam morfem me- adalah sebuah afiks inflektif. Mengakhiri subbab ibi perlu di ketengahkan adanya tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia dilihat dari status atau potensinya dalam proses gramatika yang dapat terjadi pada morfem dasar itu. Pertyama adalah morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat di gunakan dalam ujaran.Kedua , morfem dasar yang kebebasannya di persoalkan yang ternasuk ini adalah sejumlah morfem berakar verba, yang dalam kalimat imperatif atau kalimat sisipan, tidak perlu di beri imbuhan; dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan. Ketiga , morfem dasar terikat , yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

5.2 KATA

tilah dan konsep morfem ini tidak dikenal oleh para tata bahasawan tradisional yang ada dalam tata bahasa bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah satuan yang disebut kata.

5.2.1 Hakikat Kata

Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata bardasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian ; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.

Bahasa kata yang kita jumpai dalam berbagai buku linguistic Eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang, ke dalammempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berupa , dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat .Batasan tersebut menyiratan dua hal . Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah , sertai tidak dapat diseliputi atau diselang oleh fonem lain. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat di isi atau di gunakan oleh kata lain; atau juga dapat di pisahkan dari kata lainnya.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Klasifikasi kata ini dalam sejarah linguistik selalu menjadi salah satu topic yang tidak pernah terlewatkan. Hal ini terjadi , karena pertama setiap bahasa mempunyai cirinya masing-masing ;dan kedua karena kreteria yang di gunakan untuk membuat klasifikasi kata itu bisa bermacam-macam.

Para tata bahasawan tradisional menggunakan kreteria makna dan kreteria fungsi kreteria makna di gunakan untuk mengidenfikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa, sdedangkan kreteria fungsi di gunakan untuk mengindenfikasikan preposi, konjongsi, adverbial, pronomia, dan lain-lainnya .

Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan , nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang di bendakan, konjungsi adalah kata yang berfungsi atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata,atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi misalnya, nomona adalah kata yang dapat berditribusi di belakang kata bukan ; atau dapat mengisi konstruksi bukan…… jadi adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak , atau dapat mengisi konstruksi tidak …., ajektifa adalah kata yang dapat mengisi konstruksi sangay….

Ada juga kelompok linguis yang menggunakan krieria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata . Secara umum fungsi subyek diisi oleh kelas nomina; fungsi predikat diisi oleh verba atau ajektifa; fungsi objek oleh nomona; dan fungsi keterangan oleh adverbial.

5.2.3 Pembetukan Kata

Untuk dapat di gunakan didalam kalimat pertuturan tertentu maka setiap bentuk dasar, terutama bahasa fleksi dan aglutunasi, harus di bentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatika, baik melaui proses afiksasi, proses reduplikasi,maupun proses komposisi.

Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat , yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivative.

5.2.3.1 Inflektif

Kata- kata dalam bahasa-bahasa berfleksi, untuk dapat di gunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalan bahasa itu. Alat yang di gunakan untuk menyesuaikan bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin internal, yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasr itu.

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba di sebut konyungsi , perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa di sebut deklinasi. Konyugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus , diatesis, persona, jumlah, jenis, dan kasus .

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah konyugasi dan deklinasi dalam bahasa Indonesia. Membaca, dibaca, terbaca, dan bacalah, bentuk-bentuk merupakan kata yang sama, yang berate juaga mempunyai identitas leksikal yang sam. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya . Dengan demikian prefiks me -,di-,ter-,ku-,dan kau- adalah infleksional.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara infletif, tidak membentuk kata baru, atau lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivative atau derivasional. Pembentukan kata secara derivative membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnyatidak sama dengan kata dasarnya.

Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna sebab meskipun kelasnya sama tetapi maknanya tidak sama.

5.3 Proses Morfemis

Bertikut ini akan di bicarakan proses-proses morfolis yang berkenan dengan afiksasi, reduplikasi, kompesisi, dan juga sedikit tentang konversi dan modifikasi intem. Kiranya perlu juga di bicarakan produktifitas proses-proses morfemis itu.

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar,(2) afiks,dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Bentuk-bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi. Dapat juga berupa bentuk kompleks, dapat juga berupa frase.

Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya. Dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivative. Denagn afiks inflektf adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau para digma infleksional. Dalam bahasa Indonesia dibedakan adanya prefiks me- yang inflektif dan prefiks me- yang derivative. Sebagai afiks inflektif prefiks me- menandai bentuk kalimat indikatif aktif, sebagai kebalikan dari prefiks di- yang menandai bentuk indikatif. Sebagai afiks derivative, prefiks me- membentuk kata baru, yaitu kata identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya dibedakan adanya prefiks,infliks, sufiks, konfiks, intrfiks, dan transfiks.

Yang dimaksud dengan infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

Yang dimaksud dengan sufiks adalah yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk, dan bagian yang kedua berposisi akhir bentuk dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagaian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatic (infleksional) dan dapat pula bersifat derifasional. Reduplikasi yang paradigmatic tidak mengubah identitas leksikal. Melainkan hanya memberi makna gramatikal. Yang bersit derivasionl membentuk baru atau kuang identitas leksikalnya berbeda deng bentuk dasarnya.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penghubung morfem dasar dengnmorfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat , sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda , atau yang baru. Misalnya, lalu lintas daya juang, dan rumah sakit. Sutan Takdir Alisjahban (1953), yang berpendapat bahwa kata mejemuk adalah sebuah kata memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya. Verhar (1978) menyatakan suatu komposisi di sebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaktis.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal,dan Suplesi

Konversi, sering juga di sebut derivasi zero.,transmutasi, dan transpotasi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental.

Modifikasi internal (sering di sebut juga penambahan interrnalatau perubahan internal) adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsure-unsur ( yang biasanya berupa vocal) kedalam morfem yang berkerangka tetap(yang biasanya berupa konsunan).

Ada jenis modifikasi internal lain yang di sebut suplesi..Dalam proses suplesi perubahannya sangan ekstrim cirri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagia leksimatau gabungan leksim sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya . Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan. Misalnya, bentuk lab(utuhnya Laboratorium).

Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya di bedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim . Penggalan adalah kependekan berupa pengekatan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang di pendekan.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik, di sebut juga morfonemik , morfofonologi, atau morfonologi, tau peristiwa perubahannya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi,reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud: (1) pemunculan fonem, (2) pelepasan fonem, (3) peluluhan fonem, (4) perubahan fonem, dan (5) pergeseran fonem. Pemunculan fonem dapat kita lihat dalam proses penghimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca; dimana terlihat muncul konsonan sengau /m/. Pelesapan fonem dapat kita lihat dalam proses penghimbuhan akhiran wan pada kata sejarah di mana /h/ padakata sejarah itu menjadi hilang, peluluhan fonem dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat di mana fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/dari prefiks tersebut.

Pergeseran perubahan fonem adalah pindahnya sebuah fonrm dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

 

Windy Reviyanti Sukarta;1402408115

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 12:28 pm

Nama : Windy Reviyanti Sukarta

NIM : 1402408115

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Jadi fonologi adalah cabang dari linguistic yang menyelidiki ciri-ciri bahasa, cara terjadinya dan fungsinya dalam system kebahasaan secara keseluruhan. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibagi menjadi Fonetik dan Fonemik.

4.1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi 3 jenis yaitu Fonetik artikulatoris, Fonetik akustik, dan Fonetik auditoris. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris karena fonetik ini berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.

4.1.1. Alat Ucap

Sebenarnya alat ucap itu juga memiliki fungsi utama lain yang bersifat biologis. Namun, secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga untuk berbicara. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan alat ucap itu namun disesuaikan dengan nama latinnya.

4.1.2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahsa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara.Ketika pita suara terbuka, udara bias keluar. Setelah itu entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara keluar tanpa hambatan, maka kita tidak dapat mendengar bunyi apa-apa kecuali bunyi nafas. Sesudah melewati pita suara, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut atau rongga hidung, dimana bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan. Tempat bunyi bahasa ini terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan yang dibuat untuk studi fonetik biasanya berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin dengan menambahkan tanda diakritik dan modifikasi pada huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1. Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi (I dan u), vokal tengah (e dan o) dan vokal rendah (a). Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan (i dan e), vokal pusat (ә), dan vokal belakang (u dan o).

4.1.4.2. Diftong dan Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun.

4.1.4.3. Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan tak bersuara. Berdasarkan tempat artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1. Bilabial

2. Labiodental

3. Laminoalveolar

4. Dorsovelar

Berdasarkan cara artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1.Lambat (letupan, plosif, stop)

2.Geseran atau frikatif

3.Paduan atau frikatif

4.Sengaran atau nasal

5.Getaran atau trill

6.Sampingan atau lateral

7.Hampiran atau aproksiman

4.1.5. Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi tidak disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi atau unsur suprasegmental atau prosodi.

4.1.5.1. Tekanan atau Stes

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras dan sebaliknya.

4.1.5.2. Nada dan Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada, yaitu:

1. Nada naik atau meninggi, tandanya / . . . /

2. Nada datar, tandanya / . . . /

3. Nada turun atau merendah, tandanya / . . . /

4. Nada turun naik, tandanya / . . . /

5. Nada naik turun, tandanya / . . . /

4.1.5.3. Jeda atau Persendian

Jeda berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Biasanya dibedakan atas sendi dalam atau internal juncture dan sendi luar atau open juncture. Dibedakan menjadi jeda antar kata dalam frase (/), jeda antar frase dalam klausa (//), jeda antar kalimat (#).

4.1.6. Silabel

Silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi adalah bunyi vokal. Karena itulah disebut bunyi silabis atau puncak silabis.

4.2. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna.

4.2.1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, bisanya sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama dan mencari pasangan minimalnya. Kalau ternyata satuan bahasa tersebut berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem.

4.2.2. Alofon

Alofon adalah bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapan atau kalau kita lihat dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan.

4.2.3. Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi bunyi fonem sama dengan cara klasifikasi bunyi dan unsure suprasegmental, hanya dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonan. Ini agak terbatas sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional.

4.2.4. Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4.2.5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau ada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

4.2.5.1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Biasanya dibedakan adanya asimilasi profresif, asimilasi regresif, dan asimilasi resiprokal. Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4.2.5.2. Netralisasi dan Arkifonem

Misal dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja hard “keras” dan dilafalkan /hart/ dan hart “jantung” dan diucapkan /hart/. Jadi pelafalan kedua kata yang dieja berbeda itu adalah sama. Dalam bahasa Belanda, konsonan lambat bersuara seperti (d) itu adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara yakni (t). Jadi, adanya bunyi (t) pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi itu. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam pengistilahan linguistik disebut arkifonem. Dalam hal ini biasanya dilambangkan dengan huruf besar /D/

4.2.5.3. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut yaitu perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya tinggi. Ablaut adalah perubahan vokal yang kita ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4.2.5.4. Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang terdapat dalam satu kata. Bukan mengubah bentuk fonem menjadi bentuk fonem lain. Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgen dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

4.2.6. Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon yang bunyinya jelas tidak sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut system ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem adalah huruf yang digunakan dari aksara latin.

 

santi widi astuti;1402408014

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 10:28 am

TATANAN LINGUISTIK (2)

MARFOLOGI

  • Satuan terkecil dari arus ujaran disebut fonem.

  • Silabel adalah satuan ritmis yang ditandai dengan adnya satu sonaritas atau punjak berada lebih tinggi dari fonem yang fungsional.

  • Morfem adalah merupakan satuan gratikal terkecil yang mempunyai makna berada diatas satuan silabel.

  • Morfem bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain.contoh : kepasar,kekampus,kedapur “memiliki arti arah atau tujuan maka disebut morfem.

  • Ciri-ciri morfem :

    1. kesamaan arti.

    2. kesamaan bentuk.

  • Satu satuan bentuk yang bersetatus sebagai biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.Misal : kedua ; {ke}+{dua},books : {book}+{s}.

  • Alomorf : Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama yang merupakan perwujudan konkret (dadalam pertuturan)dari sebuah morfem.sudah diketahui setatusnya.

  • Morf : nama untuk bentuk yang belum diketahui setatusnya.

  • Contoh alomorf : meng ->me N ( menasal ) :Indonesia.

(-s) cats .

(-z) dogs,cows.

  • Klasifikasi Morfem.

    1. Berdasarkan Kebebasanya.

      1. Morfem Bebas .

Morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.contoh : pulang,makan,rumah dan bagus.

        1. Morfem Terikat.

Morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem yang lain tidak dapat manual dalam pertuturan.Contoh : semua afiks dalam bahasa Indonesia,morfem penanda jamak dalam b.Inggris.

          1. Bedasarkan Keutuhanya.

    1. Morfem Utuh.

Morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh.Contoh : semua morfem dasar bebas .(meja,kursi,kecil,laut,pensil),sebagian morfem terikat (ter-,ber-).

    1. Morfem Terbagi.

Morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.Contoh : satu (morfom utuh ),ke/-an (morfem yang terbagi).

        1. Berdasarkan maknanya.

  1. Morfen Segmental.

Morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.Contoh : lihat,lah,sikat,dan ber ->morfem yang berwujud bunyi.

  1. Morfem Suprasegmental.

Morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasekmental.

Unsur-unsurnya : tekanan,nadas,durasi

        1. Morfem Neralomort Zero (Nd)

lambang (Q) yaitu alomorfnya tidak tidak berwujud bunyi sekmental

maupun berupaprosodi (unsur supra sekmental) tetapi berupa “kekosongan”.

Contoh : books -> morfem (book),morfem (-s) -> jamak.

        1. Morfem bermakna laksikal dan morfem tidak bermaka laksikal.

          1. Bermakna Laksikal

Adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna sendiri tanpa perlu proses dulu dengan morfem lain.

Contoh : kuda,pergi,lari dan merah.

          1. Tidak bermakna laksikal

Adalah morfem-morfem yang tidak bermakna sendiri,perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Contoh : afkis : (ber-),(mer-),dan (ter-).

  • Morfen Dasar,Bentuk Dasar,Pangkal (stem) dan Akar (root)

  1. Bentuk Dasar (base): digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang

menjadi dasar dalam satu proses marfologi berupa morfem tunggal

dan gabungan morfem.Contoh : berbicara = ber + bicara ( bentuk

dasar).

  1. Pangakal (stem) = digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam

Proses infleksi atau proses pembubuhan inflektif.Contoh: menagisi =

me – (afiks inflektif)+menagisi.

  1. Akar (rood) ; digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat

dianalisis lebih jauh lagi,bentuk yang tersisi setelah semua

afiksnya.Contoh untouchables =un+toucht+able+s.

Macam-macam morfem dasar:

  1. Morfem dasar bebas ; morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata sehingga dapat langsung dapat digunakan dalam ujaran.Contoh : meja,kursi,pergi,kuning.

  2. Morfem dasar yang kebebesanya dipersoalkan : sejumlah morfem yang berakar verba yang dalam kalimat impertif atau kalimat sispan yang perlu diberi imbuan dan dalam kalimat deklaratif imbuanya dapat ditingalkan.Contoh : (-ajaran),(-tulisan),(-lihat),(-beli).

  3. Morfem dasar mterikat :morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata lebih dahulu mendapat proses morfologi. Contoh : juang,hentyi,gaul,dan abai.

    • Kata

Pengertian Kata

Kata adalah deretan kata yang dihimpit oleh dua sepasi dan mempunyai 1 arti.

Kata (dalam bahasa arab) biasanya terdiri dari 3 huruf

Batasan kata dalam berbagai buku linguistik diEropa menyiratkan 2 hal :

  1. Setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya teta dan tidak berubah.

  2. setiap kata mempumyai kebebasan berpindah tempat dari kalimat atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain atau juga dapat dipisahkan dengan kata lainnya.

Para tata bangsawan tradisional mengunakan 2 kriteria :

  1. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas Verba,nomina danajektifa.

    • Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan.

    • Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau dibendakan.

    • Ajektifa adalah kata-kata yang berdisbusi dibelakang kata sangat,atau dapat mengisi kontruksi sangat.

      1. Kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi,konjungsi,adverbia,pronomia.

Konjungsi adalah kata yang bertugas atau atau berfungsi menhubungkan kata dengan kata atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

        • Penbentukan kata mempunyai dua sifat yaitu:

          1. Inflektiktif

` Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk biasanya berrupa afiks yang mungkin berupa prefiks,infiks, dan sufiks atau juga berupa modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuik dasar itu.

Konyugasi adalah perubahan atau penyesuaian bentuk pada

verba.Deklinasi adalah perubahan ataui penyesuaian pada nomina dan ajektifa.

Paradigma infleksional adalah sebuah kata yang sama, tapi bentuknya berbeda yang disesuaikan dengan kategori gramatikalnya.

          1. Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membe ntuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

Contoh: dalam bahasa Inggris sing “menyanyi” terbentuk kata singer “penyanyi”

Kata untouchable; touch dibubuhkan sufiks derivasional able menjadi touchable dan dibubuhkan prefiks derivasional un menjadi untouchable.

        • Proses Morfemis

          1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Unsurnya adalah sebagai berikut:

      1. dasar atau bentuk dasar dapat berupa akar yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi, misalnya: meja, beli, makan, sikat.

      2. Afiks adalah berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.

Macam-macam afiks :

  1. afiks inflektif: digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

  2. afiks derivatif: membentuk kata baru yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

    • Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasarnya biasanya dibedakan :

  1. prefiks adalah afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar

contoh: me- pada menghibur

  1. infiks adalah afiks yang diimbuhkan ditengah bentuk dasar.

contoh:-el- pada telunjuk

  1. sufiks adalah afiks yang diimbuhkan di akhir bentuk dasar

contoh:-an pada bagian

  1. konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertananya berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian keduanya pada posisui akhir.

Contoh: pe-/-an pada pertemuan

  1. interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyaambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

  2. transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan pada keseluruhan dasar.

    • Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik keseluruhan secara sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Macam-macam reduplikasi:

  1. reduplikasi sebagian(parsial), misalnya: lelaki

  2. reduplikasi penuh, misalnya: meja-meja

  3. reduplikasi dengan perubahan bunyi, misalnya: bolak-balik.

    • Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.

  • Konversi(derivasi zero,transmutasi, dan transposisi)

Adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmentalnya.

  • Modifikasi internal(penambahan internal/ perubahan internal)

Adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (vokal) kedalam morfem yang berkerangka tetap (konsonan).

  • Modifikasi internal suplesi

Perubahan sangat ekstrem karena ciriu-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

  • Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna utuhnya.

Contoh: lab (labolatorium), hlm (halaman)

Macam-macam pemendekan:

  1. singkatan adalah hasil proses pemendekan, misalnya:

    1. pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, misalnya R (Radius)

    2. pengeklalan beberapa huruf dari sebuah leksem, misalnya hlm (halaman), rhs (rahasia)

    3. pengekalan huruf awal dikombinasi dengan angka untuk pengganti huruf yang sama, misalnya P3 (Partai Persatuan Pembangunan)

    4. pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem, misalnya As (Asisten), Ny (Nyonya)

    5. pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem, misanya Ir (Insinyur), Fa (Firma)

  2. akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata.contoh : ABRI (ankatan bersenjata republik Indonesia),Inpres ( instruksi inseden ),wagub (wakil gubernur ).

      • Produktivitas proses morfermis

Adalah dapat tidakny proses pembentukan kata itu,terutama afiksasi,reduplkasi dan komposisi,digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas;artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

  • Morfofonemik (morfonemik,morfofonologi,morfonologi)

Adalah peristiwa berubahnya wujud morfenis dalam suatu proses morfologis,baik akfiksasi,redukplikasi maupun komposisi.

Macam-macam proses morfofonenik :

  1. Peluruhan fonem

Terlihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me-

Contoh : me-+sikat =menyikat

  1. Perubahan fonem

Terlihat dalam proses pengimbuan prefiks ber-

Contoh : ber-+ajar=belajar

  1. Pergeseran fonem

Pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu kesilabel yang lain,biasanya kesilabel berikutnya,terlihat dalam proses pengimbuan sefik/an/dan(i),(t).

Contoh : ja.wab+-an = ja.wa.ban

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.