Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Shelvianita_1402408253 Oktober 28, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 9:09 pm

BAB 6.

TATARAN LINGUISTIK (3) SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa dan gramatikal. Karena perbedaan keduanya tidak terlihat jelas maka muncul morfosintaksis. Morfosintaksis adalah gabungan dari morfologi dan sintaksis, untuk menyebut keduanya sebagai bidang satu pembahasan. Morfologi membicarakan struktur internal kata, sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain sebagai suatu satuan ujaran.

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani yaitu “Sun” = dengan, “Tattein” = menempatkan. Sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata/kalimat.

Pembahasan dalam sintaksis :

1) Struktur sintaksis, mencakup masalah fungsi, kategori, dan pesan sintaksis serta alat-alat yang digunakan dalam membangun struktur itu.

2) Satuan-satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kaliman dan wacana.

3) Hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek, dsb.

6.1. STRUKTUR SINTAKSIS

Ada beberapa kelompok dalam sintaksis

Ÿ Kelompok pertama yaitu subyek, predikat, obyek dan keterangan adalah kelompok fungsi sintaksis.

Ÿ Kelompok kedua yaitu nomina, verba, ajektiva dan numeralia adalah peristilahan dengan kategori sintaksis.

Ÿ Kelompok ketiga yaitu pelaku, penderita dan penerima adalah peristilahan yang berkenaan dengan peran sintaksis.

Menurut Verhaar (1978) fungsi sintaksis terdiri dari S, P, O, K merupakan kotak-kotak kosong atau tempat kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya.

Contoh:

Nenek melirik kakek tadi pagi

S P O K

Nomina verba nomina nomina

Kata nenek memiliki peran “pelaku” atau agentif, melirik mempunyai peran “aktif”, kakek memiliki peran “sasaran”, tadi padi memiliki peran “waktu”.

Fungsi sintaksis tidak harus selalu berurutan S, P, O, dan K.

Urutannya harus selalu tidak adalah fungsi P dan O. Keempat fungsi itu tidak harus selalu ada pada setiap fungsi sintaksis. fungsi-fungsi mana yang bisa tidak muncul dan fungsi-fungsi mana yang harus selalu muncul, sehingga konstruksi tersebut bisa disebut sebagai sebuah struktur sintaksis.

Ÿ Chafe (1970) menyatakan bahwa yang paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat. Bagi Chafe predikat harus berupa verba, atau kategori lain yang diverbakan. Verba yang transitif memunculkan fungsi obyek dan verba yang menyatakan lokasi dan akan pula memunculkan fungsi keterangan yang berperan lokatif.

Ÿ Akibat dari pandangan ini, kalimat tanpa predikat = salah. Kata adalah merupakan verba kopula yang sepadan dengan to be dalam bahasa Inggris. Secara deskriptif dalam bahasa Inggris kata kerja to be memang harus selalu digunakan tetapi dalam bahasa Indonesia kata adalah bisa dilepaskan dalam konstruksi kalimat. begitu pula dengan kata menjadi.

Ÿ Akibat lain dari konsep bahwa subyek harus selalu diisi oleh nomina, maka kata berenang pada kalimat adik berenang, dianggap sebagai kategori nomina atau verba yang berfungsi sebagai nomina.

Dalam bahasa Indonesia urutan kata sangat penting tapi dalam bahasa Latin urutan kata tidak diperlukan karena yang memegang peranan penting dalam sintaksis bukan urutan tapi bentuk katanya.

Ÿ Alat sintaksis 3 dalam bahasa tulis tidak dapat digambarkan secara akurat dan teliti sehingga timbul salah paham dalam intonasi. Intonasi dalam bahasa Indonesia itu penting untuk memahami dari suatu kalimat.

Contoh: Kucing / makan tikus mati. Akan berbeda arti dari :

Kucing makan tikus / mati

Kesalahanpahaman terhadap suatu konstruksi sebagai akibat dari kesalahan dalam pemberian tekanan. Konstruksi ambigu/ganda adalah konstruksi yang bisa bermakna ganda sebagai akibat dari tafsiran gramatikal yang berbeda.

Ÿ Alat taksis ke 4 adalah konektor, yang biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup.

Menurut sifat hubungannya morfem dibedakan menjadi 2 : konektor koordinatif dan konektor subkoordinatif. Konektor koordinatif yaitu konektor yang menghubungkan 2 klausa yang sederajat. Konjungsi yang dipakai : dan, atau, tetapi. Konektor subkoordinatif yaitu konektor yang menggabungkan 2 klausa yang tidak sederajat. Konjungsi yang dipakai: meskipun, karena, kalau.

6.2. Kata Sebagai Satuan Sintaksis

Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil yang menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Ada 2 macam kata : kata penuh (full word) dan kata tugas (function word). Kata penuh adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup dan tidak dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan.

Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup dan tidak dapat bersendiri.

Kata penuh : nomina, verba, adverbia, dan numeralia, ajektifa.

Kata tugas : kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi

Kata tugas selalu terikat kata yang ada di belakangnya.

Kata-kata yang termasuk kata penuh dapat mengisi salah satu fungsi sintaksis dapat pula berdiri sendiri sebagai jawaban, atau kalimat perintah atau kalimat minor lainnya.

6.3. FRASE

6.3.1. Pengertian Frase

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif atau lazim disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. karena frasa adalah satuan gramatikal bebas terkecil, maka frase berupa morfem bebas, bukan morfem terikat. Frase tidak terdiri dari subyek – predikat atau predikat – objek. Karena frase merupakan salah satu fungsi sintaksis maka frase tidak dapat dipindah sendirian harus digunakan secara keseluruhan.

Contoh: kamar mandai, tidak boleh dipisah kamar dan mandi.

Perbedaan frase dan kata majemuk yaitu :

Ÿ Kata majemuk: komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna, merupakan morfem terikat.

Ÿ Frase : tidak memiliki makna baru melainkan merupakan fungsi sintaksis dan makna gramatikal, merupakan morfem bebas yang benar-benar berstatus kata.

Contoh: Meja hijau : pengadilan (kata majemuk)

Meja saya : saya punya meja (frase)

6.3.2. Jenis Frase

Jenis frase yaitu:

1. Eksontrik

2. Endosentrik (subordinatif)

3. Koordinatif

4. Apositif

6.3.2.1. Frase Eksontrik

Adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengankeseluruhannya. Frase ini dapat mengisi fungsi keterangan.

Contoh: Ayah berdagang di pasar

Komponen di- maupun komponen pasar tidak dapat berdiri sendiri mengisi kata keterangan.

Frase Eksosentrik dibedakan menjadi 2:

1. Frase eksosentrik yang direktif ð komponen pertamanya berupa preposisi seperti di, ke, dan dari, komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina. Karena komponen pertama berupa preposisi maka disebut juga frase preposisional.

Contoh: di pasar, dari kertas

2. Frase eksosentrik nondirektif: komponen pertamanya artikulus (sebutan) komponen ke 2 berupa kata/kelompok kata kategori nomina, ajektifa, atau verba. Misal: si miskin, sang mertua.

6.3.2.2. Frase Endosentrik (Modifikatif) adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya (satu komponen dapat menggantikan keseluruhannya)

Contoh: Harga buku itu murah sekali

Harga buku itu murah

Frase modifikatif karena komponen keduanya yaitu bukan komponen yang bukan inti atau hulu.

Kata lain dari frase endosentrik (modifikatif) yaitu frase subordinatif karena salah satu komponennya yaitu yang merupakan inti frase berlaku sebagai komponen atasan, komponen lainnya : komponen yang membatasi (komponen bawahan)

Contoh: sedang membaca teh celup

Frase dilihat dari kategori intinya yaitu :

Ÿ Frase nominal : frase endosentrik yang intinya berupa nomina atau pronomina. Contoh: sepeda motor.

Ÿ Frase verbal : frase yang intinya berupa kata verba.

Contoh: sudah mandi, sedang makan.

Ÿ Frase ajektiva : frase endosentrik yang intinya berupa kata ajektiva

Contoh: sangat cantik, merah jambu, dll.

Ÿ Frase numeralia : frase endosentrik yang intinya berupa kata numeral

Contoh: tiga belas, dua puluh, dll.

6.3.2.3. Frase koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama atau sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif baik yang tunggal seperti: dan, atau, maupun konjungsi terbagi seperti baik . . . baik, makin . . . makin, dan baik . . . maupun.

Contoh: sehat dan kuat, makin terang makin baik, dll.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh: hilir mudik, sawah ladang, dll.

6.3.2.4. Frase Apositif

Adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya dan oleh karena itu urutan komponen dapat dipertukarkan.

Contoh: Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali

Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali.

6.3.3. Perluasan Frase

Frase dapat diperluas artinya frase dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.

Contoh: Kereta api

Kereta api ekspres

Kereta api ekspres malam

Faktor yang menyebabkan perluasan frase :

1. Harus disesuaikan dengan konsep atau pengetahuan yang ditampilkan

2. Karena pengungkapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dalam afiks seperti bahasa fleksi melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.

3. Keperluan untuk memberi deskripsi terperinci terhadap suatu konsep.

6.4. KLAUSA

6.4.1. Pengertian Klausa

Klausa adalah runtunan kata-kata yang berkonsentrasi predikatif. Artinya di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat dan lain sebagai subyek, sebagai objek dan sebagai keterangan.

Ÿ Klausa Verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori verba. Berdasarkan tipe verba. Klausa verbal dibagi yaitu:

1) Klausa transitif : klausa yang predikatnya berupa verba transitif.

Contoh: nenek menulis surat.

2) Klausa intransitif : klausa yang predikatnya berupa verba intransitif

Contoh: adik menangis.

3) Klausa refleksif : klausa yang predikatnya berupa verba refleksi

Contoh: kakek sedang mandi

4) Klausa resiprokal : klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal

Contoh: keduanya bersalaman.

Ÿ Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berupa nominal/frase nominal. Contoh: dia dulu dosen di UNNES. Tapi kalimat yang menggunakan kata adalah / ialah bukan merupakan klausa nominal tetapi verba kopula.

Ÿ Klausa ajektiva adalah klausa yang predikatnya berupa ajektiva.

Ÿ Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia. Contoh: bandelnya teramat sangat.

Ÿ Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase preposisi.

Ÿ Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata/frase numeralia.

Klausa berpusat adalah klausa yang subyeknya terikat pada predikatnya

6.5. KALIMAT

6.5.1. Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi, serta disertai intonasi final.

6.5.2. Jenis Kalimat

1. Kalimat Inti dan Kalimat Non Inti

Kalimat inti (kalimat dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif.

Kalimat inti + proses transformasi = kalimat non inti

Kalimat noninti terjadi karena kalimat inti ditambah proses transformasi.

2. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari 2 klausa atau lebih.

Kalimat majemuk dibagi menjadi 3 :

a. Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama atau sederajat.

b. Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status tidak sederajat. Konjungsinya: kalau, ketika, meskipun, karena, namun.

c. Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri dari 3 klausa atau lebih, mengandung kalimat majemuk koordinatif dan subordinatif.

S P O K (sebab)

Klausa 1 Klausa 2 + Klausa 3

3. Kalimat mayor dan kalimat minor (berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat)

Kalimat mayor adalah kalimat yang klausanya sekurang-kurangnya memiliki memiliki unsur subyek dan predikat.

Kalimat minor adalah kalimat yang klausanya hanya terdiri subyek saja, predikat, obyek atau keterangan saja. biasanya merupakan jawaban suatu pertanyaan.

4. Kalimat verbal dan kalimat non verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata/frase yang berkategori verba.

Kalimat nonverba adalah kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori nonverba yaitu meliputi nominal, adjektival, adverbial, dan numeralial.

Kalimat verbal ada bermacam-macam jenis antara lain:

Ÿ Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang biasanya diikuti oleh sebuah obyek kalau verba tersebut bersifat monotransitif dan diikuti oleh 2 obyek kalau verba tersebut bersifat bitransitif.

Ÿ Kalimat intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang tidak memiliki objek.

Ÿ Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja aktif, ditandai dengan prefiks me- dan memper-

Ÿ Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja pasif, ditandai dengan prefiks di- dan diper-

Ÿ Kalimat aktif anti pasif dan kalimat pasif anti aktif karena adanya kalimat aktif yang tidak bisa dipasifkan dan kalimat pasif yang tidak bisa diaktifkan.

Ÿ Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.

Ÿ Kalimat nonverba adalah kalimat yang predikatnya bukan verba.

5. Kalimat bebas dan kalimat terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konfeks lain yang menjelaskannya.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks konjungsi yang digunakan maknanya, oleh karena itu dan jadi.

6.5.3. Intonasi Kalimat

Tekanan, nada, atau tempo bersifat fonemis pada bahasa tertentu. Artinya : ketiga unsur suprasegmental dapat membedakan makna kata karena berlaku sebagai fonem. Dalam bahasa Indonesia intonasi hanya berlaku pada tataran sintaksis.

Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan sebuah kalimat dari sebuah klausa sebab bisa dikatakan kalimat minus intonasi sama dengan klausa, jadi jika sebuah kalimat ditanggalkan bisa menjadi klausa.

Contoh intonasi.

Bacalah buku itu !

2 – 32 t / 21 lt #

n = naik

t = turun

/ = tekanan

Tekanan berbeda menyebabkan intonasi yang berbeda sehingga menimbulkan arti yang berbeda pula.

6.5.4. Modus, Aspek, Kala, Modalitas dan Diatesis

6.5.4.1. Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembaca atau sikap si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Macam-macam modus, antara lain:

1. Modus indikatif atau modus deklaratif yaitu modus yang menunjuk-kan sifat obyektif atau netral.

2. Modus optatif yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan.

3. Modus imperaktif yaitu modus yang menyatakan perintah, larangan atau tegahan.

4. Modus introgatif yaitu modus yang menyatakan pertanyaan.

5. Modus obligatif yaitu modus yang menyatakan keharusan.

6. Modus desideratif yaitu modus yang menyatakan keinginan/kemauan

7. Modus kondisional yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

6.5.4.2. Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian atau proses.

Macam-macam aspek, antara lain:

1. Aspek kontinuatif yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung

2. Aspek insentif yaitu yang menyatakan peristiwa/kejadian yang baru dimulai.

3. Aspek progresif yaitu yang menyatakan perbuatan yang sedang berlangsung.

4. Aspek repetitif yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang.

5. Aspek prefektif yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai.

6. Aspek imprefektif yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.

7. Aspek sesatif yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir

6.5.4.3. Kala

Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat. Biasanya menyatakan waktu kini, sekarang dan yang akan datang.

6.5.4.4. Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicaraan terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, keadaan dan peristiwa atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

Macam-macam modalitas:

1. Modalitas intensional : modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan atau juga ajakan.

2. Modalitas epistemik : modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian dan keharusan.

3. Modalitas deontik : modalitas yang menyatakan kerajinan/ keperkenaan.

4. Modalitas dinamik : modalitas yang menyatakan kemampuan.

6.5.4.5. Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.

Cara memfokuskan diri pada kalimat:

1. Memberi tekanan pada kalimat yang difokuskan.

2. Mengedepankan bagian kaliman yang difokuskan.

3. Memakai partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan.

4. Mengontraskan dua bagian kalimat.

5. Menggunakan konstruksi posesif anarforis gerateseden.

6.5.4.6. Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dilakukan dalam kalimat itu.

Macam-macam diatesis antara lain:

1. Diatesis aktif yakni jika subyek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan.

2. Diatesis pasif jika subyek menjadi sasaran perbuatan.

3. Diatesis reflektif : jika suatu subyek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.

4. Diatesis resiprokal : jika subyek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan.

5. Diatesis kausatif : jika subyek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu.

6.6. WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

Kekoherensian yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut.

Kekoherensian wacana dilakukan dengan :

1. Mengulang kata kunci

2. Menggunakan konjungsi

3. Menggunakan kata ganti

6.6.2. Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang digunakan untuk membuat wacana menjadi kohesif, antara lain:

1. Konjungsi : menghubungkan antar kalimat, antar paragraf.

2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis.

3. Menggunakan elipsis : penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain.

Sebuah wacana kohesif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan pelbagai aspek semantif. Caranya:

1. Menggunakan hubungan pertentangan

2. Menggunakan hubungan generik-spesifik/sebaliknya

3. Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat

4. Menggunakan hubungan sebab akibat diantara isi kedua bagian kalimat

5. Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana

6. Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada 2 kalimat pada satu wacana.

6.6.3. Jenis Wacana

Jenis wacana berkenaan sarananya:

1. Wacana lisan

2. Wacana tulisan

Jenis wacana dilihat dari penggunaan bahasa

1. Wacana prosa

2. Wacana puisi

Wacana puisi ini dilihat dari penyampaian isinya dibedakan menjadi:

1. Wacana narasi bersifat menceritakan sesuatu topik atau hal.

2. Wacana eksposisi bersifat memaparkan topik atau fakta.

3. Wacana persuasi bersifat mengajak, menganjurkan atau melarang.

4. Wacana argumentasi bersifat memberi argumen atau alasan terhadap sesuatu hal.

6.6.4. Subsatuan Wacana

Subsatuan wacana meliputi:

1. Bab

2. Subbab

3. Paragraf

4. Subparagraf

6.7. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Urutan hierarki adalah urutan normal teoritis. faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan.

1. Pelompatan tingkat

2. Pelapisan tingkat

3. Penurunan tingkat

Bagian urutan hierarki satuan

Wacana

Kalimat

Klausa

Frase

Kata

Morfem

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s