Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Rina Eka Wati_1402408136_bab 7 Oktober 28, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 9:08 pm

BAB 7

TATARAN LINGUISTIK (4): SEMANTIK

Semantik dengan objeknya yakni makna merupakan unsur yang berada di semua tataran yang bangun-membangun, yaitu di dalam tataran Fonologi, Morfologi dan Sintaksis. Chomsky, bapak Linguistik transformasi, dalam bukunya yang kedua (1965) menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah Sintaksis dan Fonologi), dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen ini.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda linguistik terdiri dari komponen signifian atau “yang mengartikan” yang berwujud runtutan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan” berupa pengertian atau konsep.Umpamanya tanda linguistik berupa meja dapat dilihat dalam bagan berikut:

/m/, /e/, /j/, /a/

(signifian)

meja

‘sejenis perabot rumah tangga’

(signifie)

dalam bahasa luar bahasa

Bagan tersebut juga dapat ditampilkan dalam bentuk segitiga, disebut juga segitiga Richard dan Odgent.

(b)konsep

(a)tanda linguistik (c)referen

<m-e-j-a> <bentuk meja>

(a) dan (c) mempunyai hubungan tak langsung, sebab (a) adalah masalah dalam bahasa dan (c) masalah luar bahasa yang hubungannya bersifat arbitrer. Sedangkan (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa;(c) adalah acuan dari (b). Sehingga (a) dan (b), serta (b) dan (c) mempunyai hubungan langsung.

Makna sebuah kata dapat ditentukan apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Selanjutnya makna kalimat dapat ditentukan bila kalimat tersebut sudah berada dalam konteks wacananya atau situasinya.

7.2 JENIS MAKNA

Bahasa digunakan untuk berbagai keperluan dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam-macam bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda.

7.2.1 Makna Lesikal, Gramatikal, dan Kontekstual

* Makna Lesikal adalah makna yang ada pada lekse atau kata meski tanpa konteks apapun (makna sebenarnya sesuai hasil observasi indra manusia).

* Makna Gramatikal adalah makna yang terbentuk dari proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi.

Contoh: 1. ber+baju mempunyai makna ’mengenakan baju’

2. sate+lontong melahirkan makna ’bercampur’

* Makna Kontekstual adalah makna kata yang berada di dalam satu konteks. Misalnya, makna kata kepala pada kalimat-kalimat berikut:

1. Rambut di kepala nenek telah berwarna putih.

2. Nomor telepon ada pada kepala surat itu.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata disebut bermakna referensial bila mempunyai acuan. Kata-kata seperti kuda, gambar, dan merah bermakna referensial karena mempunyai acuan di dunia nyata. Sedangkan kata seperti dan, atau, karena tidak mempunyai acuan sehingga bermakna non-referensial.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna Denotatif adalah makna asli atau sebenarnya yang dimiliki sebuah kata, sehingga makna denotatif sama dengan makna leksikal. Sedangkan makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa. Umpamanya kata kurus, ramping, dan kerempeng sebenarnya mempunyai makna yang sama, tetapi ketiganya mempunyai konotasi yang berbeda.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Leech (1976) menyatakan bahwa makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah kata terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Jadi makna konseptual sama dengan makna denotatif, leksikal, maupun referensial. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu di luar bahasa. Misalnya kata merah berasosiasi dengan ’berani’.

7.2.5 Makna Kata dan Makna Istilah

Pada awalnya makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna denotatif, leksikal, atau konseptual. Namun dalam penggunaannya makna kata baru menjadi jelas bila sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya. Berbeda dengan kata, istilah mempunyai makna yang sudah pasti walaupun tidak berada dalam konteks kalimat.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya. Idiom dibedakan menjadi dua, yaitu:

* Idiom penuh yaitu bila unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, misalnya, ’membanting tulang’ dan ’meja hijau’.

* Idiom sebagian yaitu idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya ’buku putih’ yang berarti ’buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

Peribahasa mempunyai makna yang masih dapat diketahui dari makna unsur-unsurnya karena ada asosiasi antara makna asli dengan maknanya dalam peribahasa. Umpamanya peribahasa ’seperti kucing dengan anjing’ yang bermakna ’dua orang yang tak pernah akur’.

7.3 Relasi Makna

Adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.

7.3.1 Sinonim

Adalah hubungan yang bersifat dua arah yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu kata dengan kata yang lain.

7.3.2 Antonim

Adalah hubungan yang bersifat dua arah yang menyatakan pertentangan makna antara kata satu dengan yang lain. Antonim dibedakan menjadi:

· Antonim yang bersifat mutlak, misalnya hidup >< mati.

· Antonim yang bersifat relatif, misalnya besar >< kecil.

· Antonim yang bersifat relasional, misalnya suami >< istri.

· Antonim yang bersifat hirearkial, misalnya gram >< kilogram.

· Antonim Majemuk, misalnya berdiri mempunyai lawan kata; duduk, tidur, tiarap, jongkok.

7.3.3 Polisemi

Yaitu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia; (2) ketua/pemimpin; (3) bagian penting.

7.3.4 Homonimi

Yaitu dua buah kata yang mempunyai bentuk yang sama tetapi maknanya berbeda. Misalnya kata ‘bisa’ yang berarti ‘racun ular’ dengan kata ‘bisa’ yang berarti ‘sanggup’.

7.3.5 Hiponimi

Adalah hubungan antara sebuah kata yang maknanya tercakup dalam makna kata yang lain. Misalnya:

burung

merpati tekukur perkutut balam elang

7.3.6 Ambigu atau Ketaksaan

Adalah gejala terjadinya kegandaan makna karena tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, ’buku sejarah baru’ dapat berarti ’buku sejarah yang baru’ atau ’buku yang memuat sejarah baru’.

7.3.7 Redundansi

Yaitu berlebih-lebihan dalam menggunakan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya, ’bola itu ditendang oleh Dika’ menggunakan kata oleh yang dianggap redundans.

7.4 PERUBAHAN MAKNA

Secara diakronis makna kata dapat berubah dalam waktu relatif lama. Hal ini disebabkan oleh faktor perkembangan bidang ilmu dan teknologi, sosial budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indra dan adanya asosiasi. Kata dapat mengalami penyempitan makna, misalnya kata ’sarjana’. Kata juga dapat mengalami perluasan makna, misalnya kata ’ibu’ atau kata ’bapak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok disebut kata-kata yang berada dalam satu medan makna. Sedankan usaha untuk menganalisis unsur-unsur yang dimilikinya disebut analisis komponen makna.

7.5.1 Medan Makna

adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari realitas di alam semesta tertentu, misalnya, nama-nama warna.

7.5.2 Komponen Makna

Setiap kata mempunyai komponen yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Contoh analisis komponen makna yaitu:

Komponen makna

Ayah

Ibu

1. manusia

+

+

2. dewasa

+

+

3. jantan

+

4. kawin

+

+

7.5.3 Kesesuaian Semantik dengan Sintatik

Masalah gramatikal dan semantik dapat mempengaruhi berterima tidaknya sebuah kalimat. Misalnya kalimat ’Kambing yang Pak Udin terlepas lagi’ bisa diterima bila dikatakan ’Kambing Pak Udin terlepas lagi’.

Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat adalah predikat atau kata kerjanya. Perhatikan bagan berikut:

Subjek Predikat Objek

/+nomina/ membaca /+nomina/

/+manusia/ /+manusia/ /+bacaan/

/+bacaan/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s