Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Wahyu Hidayat_1402408267_bab 8 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 12:16 pm

Nama : Wahyu Hidayat

NIM : 1402408267

8. SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Pada bab 2 disebutkan bahwa studi linguistik mengalami 3 tahap pengembangan yaitu tahap spekulasi, tahap observasi dan klasifikasi dan yang terakhir disebut tahap perumusan masalah.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional bertentangan dengan istilah struktural, sebagai akibat pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa.

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang kurang lebih sekitar 600 tahun, kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguistik yaitu (1) antara fisis dan nomos, dan (2) antara analogi dan anomali.

Sifat fisis atau alami maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, tapi kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya makna-makna itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomali mengenai bahasa itu sesuatu teratur atau tidak teratur. Kaum analogi, antara lain Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur.

8.1.1.1. Kaum Sophis

Kaum ini muncul pada abad ke-5 SM dan dikenal dalam studi bahasa, karena:

a) Mereka melakukan kerja secara empiris

b) Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu

c) Mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa

d) Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

8.1.1.2. Plato (429 – 347 SM)

Dalam studi bahasa dikenal karena :

a) Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog. Juga masalah bahasa alamiah dan konvensional.

b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara anomata dan rhemata.

c) Dialah orang pertama kali membedakan kata dalam anoma dan rhema.

8.1.1.3. Aristoteles (384 – 322 SM)

Dia salah satu murid Plato yang terkenal, karena:

a) Ia menambahkan satu kelas kata yaitu dengan Syndemoi dengan pengertian adalah kata yang berhubungan dengan/bertugas dalam hubungan sintaksis.

b) Membedakan jenis kelamin kata menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutron.

8.1.1.4. Kaum Stoik

Kaum ini berkembang pada abad ke 4 SM, dan terkenal karena :

a. Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa.

b. Menciptakan istilah-istilah khusus.

c. Membedakan tiga komponen utama.

d. Membedakan legin.

e. Membagi jenis kata menjadi 4.

f. Mereka membedakan kata kerja komplet dan tak komplet.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Dengan paham analoginya mereka mewariskan buku yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

Sezaman dengan sarjana Yunani, Panini dari India tahun 400 SM sarjana hindu menyusun kurang lebih 4000 pemerian struktur bahasa Sanskerta, sehingga Leonard Boomfield (1887 – 1949) tokoh Amerika menyebutnya sebagai one of the greatest monuments of human intelligence dengan bukunya yang bernama Astdhyasi.

8.1.2. Zaman Romawi

Studi bahasa zaman romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh zaman Romawi yang terkenal adalah Varro (116 – s75 SM) dan Priscia.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latin”

Dalam buku ini Varro memperdebatkan analogi dan anomali dalam tiga bidang antara lain bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

a) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

c) Sintaksis yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.2.2. Tata Bahasa Priscia

Dalam sejarah studi bahasa, buku tata bahasa ini yang terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi, dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting, karena:

a) Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

b) Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaaan bahasa secara tradisional.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh filsuf skolastik dan bahasa Latin menjadi Lingua Franca, di zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah peranan kaum modistae, tata bahasa spekulativa, Petrus Hispanus.

8.1.4. Zaman Renaisans

Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman Renaisans yang menonjol yang perlu dicatat, yaitu: 1) selain menguasai bahasa Latin sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani, dan bahasa Arab. 2) selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab bahasa-bahasa Eropa lain juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusulan tata bahasa dan malah juga perbandingan.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya zaman renaisans, ada tonggak yang penting yaitu adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta dan Yunani, Latin dan Jerman lainnya yang ditemukan oleh sir William Jones dari East India Company di hadapan The Royal Asiatic di Kalkuta pada tahun 1786.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Hal ini merupakan kaibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak Linguistik Modern.

8.2.1. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913)

Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Schehay tahun 1915 (jadi dua tahun setelah Saussure meninggal)

Buku tersebut memuat mengenai konsep:

1) Telaah sinkronik dan diakronik

2) Perbedaan langue dan parole

3) Perbedaan signifiant dan signifie

4) Hubungan sintagmatik dan paradikmatik

Telaah sinkran adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu. Telaah diakronik yaitu jauh lebih sukar dari pada telaah secara sinkron.

La langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak.

La parole adalah pemakaian atau releasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. Sifatnya konkret karena parole tidak lain dari realitas fisis.

Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita.

Signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita

Signifie (makna)

Signie linguistique ………………….

(kata) Signifiant (bentuk)

Hubungan sintagmatik dan padikmatik. Yang disebut dengan hubungan sintagmatik adalah antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.

Hubungan paradigmatik adalah hubungan antar unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

8.2.2. Aliran Praha

Terbentuk pada tahun 1926 yang diprakarsai oleh Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikoli S. Trubetskoy, Roman Jacobson dan Morris Halle.

Dalam bidang fonologi aliran ini yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Aliran Praha juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang mempelajari/meneliti struktur fonologis morfem.

8.2.3. Aliran Glosematik

Lahir di Denmark, tokohnya antara lain, Louis Hjemslev (1899 – 1965) yang meneruskan ajaran Saussure, dia terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain dengan peralatan, metodologis dan terminologis, sejalan dengan pendapat Saussure. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut de Saussure signifiant) dan segi isi (menurut de Saussure signifie). Masing-masing segi mengandung forma dan substansi sehingga diperoleh:

1) Forma ekspensi

2) Substansi ekspesi

3) Forma isi

4) Substansi isi

8.2.4. Aliran Firthain

Nama John F. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Aliran ini disamping dikenal aliran prosodi juga dikenal pula dengan nama aliran Firth, atau juga aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara menentukan arti pada tataran fonetis.

Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :

1) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, struktur suku katam gabungan konsonan dan gabungan vokal.

2) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda.

3) Prosodi yang realisasi fenotisnya melampaui satuan yang lebih besar dari fenom-fenom suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan bukunya The Tongues of Man and Speech (1934) dan Paper in Linguistics (1951).

8.2.5. Linguistik Sistemik Dengan Tokoh M.A.K Halliday sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Cathegories of The Theory of Grammar. Maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistic atau Scale and Category Linguistics, namun kemudian diganti dengan nama Systemic linguistic dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik Sistematik. Pokok-pokok pandangan Systemics Linguistics (SL)

1) SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.

2) SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”. SL mengakui pentingnya perbedaan langue dari prole (seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure) Prole merupakan perilaku kebangsaan yang sebenarnya, sedangkan langue adalah jajaran pikiran yang dapat dipilih oleh seorang penutur bahasa.

3) SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu berserta variasinya

4) SL mengenal adanya gradasi dan kontinum. Batasan butir-butir bahasa seing kali tidak jelas.

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa yaitu substansi, forma, situasi.

Substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita bicara, dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis. Substansi bahasa lisan disebut substansi fonis, sedangkan substansi bahasa tulisan disebut substansi grafis. Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna. Forma dibagi menjadi dua, (1) leksis yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pada tempat butir-butir itu terletak, (2) gramatikal yakni yang menyangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut. Situasi meliputi tesis situasi langsung dan situasi luas. Tesis situasi langsung adalah situasi pada suatu tuturan benar-benar diucapkan orang, sedangkan situasi luas adalah suatu tuturan menyangkut semua pengalaman pembicaraan atau penulisan yang mempengaruhinya untuk memakai tuturan yang diucapkannya atau ditulisnya.

Selain tiga tataran utama itu, ada dua tataran lain yang menghubungkan tataran-tataran utama. Yang menghubungkan substansi fonik dengan forma adalah fonologi dan yang menghubungkan substansi grafik dengan forma adalah grafologi. Sedangkan yang menghubungkan forma dengan situasi adalah konteks.

8.2.6. Leonard Bloomfield dan Struktural Amerika

Leonard Bloomfield (1877 – 1949) sangat terkenal karena bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933) dan selalu berkaitan dengan struktur Amerika. Namun nama strukturalisme lebih dikenal dengan nama aliran linguistik. Aliran ini berkembang pesat di Amerika karena beberapa faktor antara lain :

1) Pada masa itu para linguistik Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.

2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika yaitu filsafat strukturalisme.

3) Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya the linguistic society of America, yang menerbitkan majalah Language, wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran Bloomfieldian, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hierarkinya.

8.2.7. Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem.

Yang disebut tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal dan slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertemukan untuk mengisi slot tersebut.

Kalimat “Saya menulis surat dengan pensil” dianalisis secara tagmemik.

S KG P Kkt O KB K FD

Pel ak tuj al

Saya menulis surat dengan pensil

Keterangan :

S = Fungsi subjek pel = pelaku

P = Fungsi predikat ak = aktif

O = Fungsi objek tuj = tujuan

K = Fungsi keterangan al = alat

KG = Kata ganti

Kkt = Kata kerja transitif

KB = Kata benda

FD = Frase depan

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis; berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional yang mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistik struktural.

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut.

2. Tata bahasanya harus berbentuk sedemikian rupa tidak berdasarkan bahasa tertentu saja dan sejajar dengan teori linguistik.

Komponen rematik memberikan terpretasi semantik pada deretan unsur yang dihasilkan oleh sub kompeten dasar. Kata pensil dan kursi, maka kita lihat kata ayah dan ibu mempunyai ciri semantik /+makhluk/ sedangkan pensil dan kursi tidak memiliki ciri itu.

8.3.2. Semantik Generatif

Menurut semantik generatif, seudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala, antara predikat dan seperangkat argumen dalam suatu prosisi.

Menurut teori semantik generatif, argumen predikat adalah segala sesuatu yang dibicarakan. Sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatannya, sifat, keanggotaan. Dalam mengabstraksikan predikatnya, teori ini berusaha untuk menguraikan lebih jauh sampai diperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi, yang disebut predikat inti.

8.3.3. Tata Bahasa Kasus

Yang dimaksud dengan dalam teori ini, adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam teori semantik generatif. Hanya argumen dalam kasus ini diberi label khusus.

Maka sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk :

+ [ …… X, Y, Z]

Tanda ….. dipakai untuk menandai posisi verba dalam struktur semantis; sedangkan X, Y, Z adalah argumen yang berkaitan dengan verba/predikat itu yang biasanya diberi label kasus.

Misalnya: OPEN, + […… A, I, O]

A = Agent, pelaku

I = Instrumen, alat

O = Object, tujuan

Dari uraian di atas dapat kita lihat adanya persamaan antara semantik, generatif dan teori kasus.

8.3.4. Tata Bahasa Relasional

Sama halnya dengan tata bahasa transformasi tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaedah kesemestaan bahasa. Menurut tata bahasa rasional, setiap struktur melibatkan tiga macam maksud, yaitu :

a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.

b) Seperangkat tanda relasional (relational sign)

c) Seperangkat “Coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran manakah elemen itu menyandang relasi gramatikal.

Misal: Saya diberi roti oleh Rina

Jika dianalisis kalimat tersebut merupakan hasil dari dua macam transformasi yaitu transformasi datif dan pasif dan terlibat tiga konstruksi yaitu 1) konstruksi kalimat inti, b) konstruksi kalimat hasil transformasi datif, dan c) kalimat hasil transformasi pasif dari konstruksi datif.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda dalam bentuk kamus.

Tampaknya cara pendiskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti yang dilakukan para peneliti terdahulu masih berlanjutan terus pada tahun tujuh puluh dan delapan puluh. Informasi yang lengkap dan luas mengenai bahasa daerah itu, terutama bahasa daerah yang penuturannya banyak, adalah sangat penting dalam menjalankan administrasi dan roda pemerintahan kolonial.

8.4.2. Perkembangan waktulah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima, dan konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih, setelah buku Keraf itu, sejumlah buku Ramlan, juga menyajikan analisis bahasa secara struktural, menyebabkan kedudukan linguistik modern dalam pendidikan formal menjadi semakin kuat, mesti konsep linguistik tradisional masih banyak yang memperhatikan.

8.4.3. Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya linguistik, yang tentu saja dibarengi bermunculnya linguis Indonesia baik dari tamatan luar negeri atau dalam , maka semakin dirasakan perlunya suatu wadah untuk berdiskusi, bertukar pengalaman dan mempublikasikan hasil penelitian yang telah dilakukan. Majalah linguistik Indonesia dengan pengantar bahasa Inggris sering dikenal dengan nama NUSA yang dirintis oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar SJ dan dieditor oleh sejumlah linguis Indonesia, antara lain Amran Halim, Poenjono Dardjowidjojo, Ignatius Soeharno, dan Soepomo Poejosoedarmo. Isi majalah tersebut antara 1975 sampai 1989 dapat dilihat dalam Kaswanti Purwa (1990)

8.4.4 Penyelidikan bahasa daerah Indonesia dan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh orang luar negeri. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara, antara lain ada Uhlenbeck, Voorhove, Rolvink dan Grijins.

8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional Indonesia, bahasa persatuan dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercata nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, dan Soedarjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

One Response to “Wahyu Hidayat_1402408267_bab 8”

  1. Dinar dwie santoso Says:

    Dari: Dinar dwie santoso / 1402408092
    Untuk: Wahyu hidayat / 1402408267
    Pertanyaan : Bagaimana sebenarnya sejarah linguistik di Indonesia?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s