Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Siti Mu’awanah_1402408022_bab 5 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 12:13 pm

Disusun Oleh :

Nama : Siti Mu’awanah

NIM : 1402408022

Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

Dosen : Drs. Umar Samadhy, M.Pd.

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

1. MORFEM

Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.

1.1. Identifikasi Morfem

a) Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dengan morfem lain tidak muncul dalam pertuturan.

Contoh: (ter-), (ber-), (henti), (juang)

b) Morfem utuh dan morfem terbagi

Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk format yang dimiliki morfem tersebut, yaitu apakah merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena disusupi morfem yang lain.

Contoh morfem utuh: (meja), (kursi), (kecil)

Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri atas dua buah bagian yang terpisah, satu di awal dan satu di belakang. Contoh morfem terbagi : kata perbaikan terdiri atas satu morfem utuh yaitu baik dan satu morfem terbagi yaitu (per- / -an)

c) Morfem segmental dan suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Contoh: lihat, lah, sikat, ber

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental.

Contoh: tekanan, nada, durasi.

d) Morfem beralomorf zero

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun suprasegmental.

e) Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri.

Contoh: kuda, pergi, lari, merah

Sedangkan morfem tak bermakna leksikal adalah morfem yang tak bermakna apa-apa pada dirinya sendiri. morfem ini baru memiliki makna dalam gabungannya dengan bentuk lain dalam ujaran.

Contoh: (ber-), (me-), (ter-)

Kata

Merupakan kumpulan bunyi ujaran atau satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, mengandung arti, atau dalam bahasa tulis. Kata dinyatakan sebagai susunan huruf-huruf yang mempunyai arti yang jelas (huruf konsonan dan vokal)

1.2. Morfem Dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan.

Dilihat dari status dalam proses gramatika terdapat tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia:

1. Morfem dasar bebas yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran. Contoh: morfem meja, kursi, pergi, dan kuning.

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan

Yang termasuk dalam kalimat imperatif tidak perlu diberi imbuhan dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan.

3. Morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

Contoh: morfem juang, henti, gaul dan abai

2. KATA

1. Hakikat Kata

Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi.

2. Klasifikasi kata

Menurut tata bahasawan tradisional:

a. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan

b. Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan

c. Konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata atau bagian kaliman yang satu dengan bagian yang lain.

Sedangkan para kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menggolongkan kata.

Fungsi subyek diisi oleh kelas nomina, fungsi predika diisi oleh verba atau adjektifa, fungsi objek diisi oleh kelas nomina dan keterangan diisi leh adverbia.

3. Pembentukan kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata yang bersifat inflektif dan yang bersifat derivatif.

a. Inflektif

Dalam penggunaan bahasa-bahasa berinfleksi biasanya disesuaikan dengan afiks yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks, atau juga berupa modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu. Dalam bahasa-bahasa berfleksi biasanya juga ada penyesuaian bentuk-bentuk kata untuk menunjukkan pertalian sintaksis.

b. Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

3. PROSES MORFEMIS

1. Afiksasi

Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Beberapa unsur dalam proses ini:

a. Dasar atau bentuk dasar

b. Afiks

c. Makna gramatikal yang dihasilkan

Bentuk dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar yaitu bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi.

Afiks adalah sebuah bentuk biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata dibedakan atas:

1. Afiks intensif yaitu afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

2. Afiks derivatif yaitu kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

2. Reduplikasi

Yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat berupa atau bersifat paradigmatis yang tidak mengubah leksikal dan yang bersifat derivasional yang membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

3. Komposisi

Yaitu hasil dan proses penggolongan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat.

Produk sisanya proses komposisi dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-beda.

4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental ke dalam morfem yang berkerangka ketat.

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya.

Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain:

1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem atau gabungan leksem

Contoh: Km (kilometer), H (haji)

2. Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem

Contoh : bhs (bahasa)

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama. Misalnya: P4 (pedoman penghayatan pengamalan pancasila)

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem. Misalnya : As (asisten)

5. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari sebuah leksem

Misal: Fa (firma), Pa (perwira)

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dihafalkan sebagai kata. Contoh: wagub (wakil gubernur).

6. Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang secara tidak terbatas. Ada kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru tidak dapat dikerjakan proses yang produktif. Lain halnya proses derivasi yang dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

Perubahan fonem

1. Pemunculan fonem

2. Pelesapan fonem

3. Peluluhan fonem

4. Perubahan fonem

5. Pergeseran fonem

 

One Response to “Siti Mu’awanah_1402408022_bab 5”

  1. Lulut Ulfatin (1402408085) Says:

    Menurut saya resum anda sudah cukup bagus dan bahasanya juga mudah dipahami.Namun ada hal yang ingin saya tanyakan kepada anda,dalam resum anda dijelaskan bahwa pembentukan kata mempunyai 2 sifat,yaitu membentuk kata tang bersifat inflektif dan derivatif.Dan yang ingin saya tahu disini tolong jelaskan yang dimaksud bersifat inflektif dan derivatif serta beri contohnya. terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s