Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Nur_Zuafah-1402408281-Bab_4 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 10:45 am

Nur Zuafah

1402408281

Rombel 3

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

Silabel/suku kata merupakan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai/tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan belakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa itu disebut fonologi, fon: bunyi, dan logi: ilmu. Objek studi fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Fonemik mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

Fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-sebabnya.

ex paru dan baru contoh sasaran studi fonemik

4. 1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya 3 jenis fonetik yaitu fonetik artikulatonis, fonetik akustik, dan fonetik auditonis.

Ü Fonetik artikulatonis disebut juga fonetik organis/fonetik fisiologis mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

Ü Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis/fenomena alam.

Ü Fonetik auditonis mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4. 1. 1. Alat Ucap

Dalam fonetik artikutalatoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidak biasa disebut “bunyi gigi” atau “bunyi bibir” melainkan bunyi dental dan bunyi labial yakni istilah berupa bentuk ajektif dari bahasa Latinnya.

Bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas

Bunyi labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas

Bunyi laminopalatal yaitu gabungan antara daun lidah dengan langit-langit keras.

4. 1. 2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka.

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara ini, perlu dijelaskan adanya 4 macam posisi pita suara:

1. Pita suara terbuka lebar tidak ada bunyi bahasa (posisi bernafas secara normal).

2. Pita suara terbuka agak lebar bunyi tak bersuara (voiceless).

3. Pita suara terbuka sedikit terjadi bahasa suara (voice).

4. Pita suara tertutup rapat akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Sesudah melewati pita suara, tempat awal terjadinya bunyi bahasa, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut/rongga hidung, dimana bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan. Tempat bunyi bahasa ini terjadi/dihasilkan disebut tempat artikulasi. Proses terjadinya disebut proses artikulasi, dalam proses ini biasanya terlihat 2 macam artikulator.

* Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak/digerakkan. Contoh: bibir bawah, ujung lidah dan daun lidah.

* Artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak/yang didekati oleh artikulator aktif. Contoh: bibir atas, gigi atas dan langit-langit keras.

Contoh: kalau arus udara dihambat kedua bibir, dengan cara bibir bawah sebagai artikulator aktif, merapat pada bibir atas yang menjadi artikulator pasif maka akan terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi bilabial, seperti /b/, /p/, /w/ Tetapi kalau bibir bawah sebagai artikulator aktif, merapat pada gigi atas, yang menjadi artikulator pasifnya, maka akan terjadilah bunyi labiodental yakni bunyi /f/ dan /v/. Kalau ujung lidah, sebagai artikulator altif, merapat pada gigi atas, yang menjadi artikulator pasifnya, akan terjadi bunyi apikolental, yaitu bunyi /t/ dan /d/.

Keadaan , cara atau posisi bertemunya artikulator pasif disebut struktur.

Bunyi ganda lahir dalam proses artikulasi yang berangkaian, artikulasi pertama yang menghasilkan bunyi pertama, segera disusul oleh artikulasi kedua yang menghasilkan bunyi kedua. Artikulasi kedua ini sering disebut artikulasi sertaan dan bunyi yang dihasilkan juga disebut bunyi sertaan.

4. 1. 3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf/lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis dan sistem aksara tertentu (seperti aksara Latin dan sebagainya) untuk ejaan ortografis.

Dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang saja yakni yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya.

Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4. 1. 4. Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit agak lebar, diteruskan ke rongga mulut/rongga hidung dengan mendapat hambatan-hambatan di tempat artikulasi tertentu.

4. 1. 4. 1. Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi naam berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

Posisi lidah:

a. Secara vertikal

Vokal tinggi misalnya bunyi /i/ dan /u/

Vokal tengah misalnya bunyi /e/

Vokal rendah misalnya bunyi /a/

b. Secara horisontal

Vokal depan misalnya /i/ dan /e/, vokal pusat misalnya bunyi /a/ dan vokal belakang misalnya bunyi /u/ dan /o/.

Menurut bentuk mulut:

a. Vokal bundar

Karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal /o/ dan vokal /u/.

b. Vokal tak bundar

Karena bentuk mulut tidak membundar melainkan melebar misalnya vokal /i/ dan vokal /e/.

4. 1. 4. 2. Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Bunyi yang dihasilkan hanya sebuah bunyi. Contoh: kerbau dan harimau.

Apabila ada dua buah vokal berurutan, namun yang pertama terletak pada suku kata yang berlainan dari yang kedua, maka disitu tidak ada diftong, misalnya kata bau (ba–u) dan lain (la–in).

Diftong dibedakan atas diftong naik dan turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi kedua, sebaliknya diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4. 1. 4. 3. Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan 3 patokan/kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi.

Berdasarkan pita suara:

* Bunyi bersuara apabila pita suara hanya terbuka sedikit. Contoh: /b/, /d/, /g/, dan /c/.

* Bunyi tidak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Contoh: /s/, /k/, /p/, /t/.

Berdasarkan artikulasinya konsonan dibagi atas:

1) Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Contoh: /b/, /p/, /m/, /b/, dan /p/ adalah bunyi oral yang dikeluarkan melalui rongga mulut, sedangkan /m/ adalah bunyi nasal yakni bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.

2) Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental: /f/ dan /v/.

3) Laminoalveolar yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi, yang termasuk konsonan laminoalvelar adalah bunyi /t/ dan /d/.

4) Dorsovelar yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum/langit-langit lunak yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi /k/ dan /g/.

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan/hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, konsonan dapat dibedakan:

1. Hambat (letupan, plosif, stop). Artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat dibelakang tempat penutup itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan antara lain bunyi /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/.

2. Geseran/frikatif, artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh: /f/, /s/, dan /z/.

3. Paduan/frikatif. Artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara, lalu membentuk celah sempit, dengan artikulator pasif. Cara ini merupakan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk konsonan paduan antara lain /c/ dan /j/.

4. Sengauan atau nasal. Artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasal adalah bunyi /m/, /n/

5. Getaran atau trill. Artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif sehingga getaran itu terjadi berulang-ulang. Contoh: /r/.

6. Sampingan atau lateral. Artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulur lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contoh: /l/.

7. Hampiran atau aproksiman. Artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran, bunyi yang dihasilkan sering disebut semilokal, contoh: /w/ dan /y/.

4. 1. 5. Unsur Suprasegmental

4. 1. 5. 1. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti, dibarengi dengan tekanan keras.

4. 1. 5. 2. Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi tentu akan disertai dengan nada yang tinggi nada itu dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis.

4. 1. 5. 3. Jeda atau Persendian

Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena ditempat perhentian itulah terjadi persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain.

Sendi debedakan menjadi sendi dalam (inernal juncture), dan sendi luar atau open juncture. Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain, biasanya diberi tanda tambah (+). Misalnya = (am + bil). Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel.

4. 1. 6. Silabel

Silabel/suku kata adalah susunan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran/runtutan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya satu vokal dan satu konsonan/lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sononitas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi adalah bunyi vokal. Karena itulah, yang dapat disebut bunyi silabis/puncak silabis.

4. 2. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa pada umumnya tampa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata/tidak. Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat/berfungsi membedakan makna kata.

4. 2. 1. Identitas Fonem

Untuk membuktikan sebuah bunyi fonem atau bukan haruslah dicari pasangan minimalnya. Tetapi kadang-kadang pasangan minimal ini tidak mempunyai jumlah bunyi yang sama persis. Misalnya kata muda dan mudah h. fonem.

4. 2. 2. Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem, seperti bunyi /t/ dan /th/ untuk fonem /t/ bahasa Inggris di atas disebut alofon, identitas alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu. Alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer, mungkin bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau biasa juga disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Alofon adalah realisasi dari fonem, fonem bersifat abstrak karena fonem hanya abstraksi dari alofon/alofon-alofon itu. Dengan kata lain, yang konkret, atau nyata dalam bahasa adalh alofon itu, sebab alofon-alofon yang diucapkan.

4. 2. 3. Klasifikasi Fonem

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Jadi, pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional (makna). Dalam bahasa Indonesia unsur suprasegmental tampaknya tidak bersifat fonemis maupun morfemis, namun mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

4. 2. 4. Khazanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain. Menurut catatan para pakar, yang tersedikit jumlahnya adalah bahasa penduduk asli di Hawaii yaitu hanya 13 buah dan yang jumlah fonemnya terbanyak, yaitu 75 buah adalah bahasa di Kaukasus Utara.

4. 2. 5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

4. 2. 5. 1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya kata sabtu lazim diucapkan saptu. Kalau perubahan itu menyebabakan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fonemesi. Kalau perubahan itu tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahahan itu mungkin asimilasi fonetis/asimilasi alomorfemis.

Pada asimilasi biasanya dibedakan asimilasi progresif, asimilasi regresif dan asimilais reiprokal. Pada similasi progrsef bunyi yang diubah itu terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya, misalnya dalam bahasa Jerman bentuk mit der frau diucapkan /mit ter frau/.

Pada asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya. Contoh berubahnya bunyi /p/ menjadi /b/ pada kata belanda op de wag. Sedangkan pada asimilasi resiprokal perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi itu, sehingga menjadi fonem atau bunyi lain.

Kalau bunyi pada proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya mapun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. Contoh: kata cipta dan cinta berasal dari bahasa sansekerta citta.

4. 2. 5. 2. Netralisasi dan Arkifonem

Fonem mempunyai fungsi pembeda makna kata, misalnya bunyi /p/ dan /b/ adalah dua buah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia karena terbukti dari pasangan minimal seperti Paru Vs Baru. Oposisi antara bunyi /d/ dan /t/ adalah antara bersuara dan tak bersuara. Jadi adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja hard adalah hasil netralisasi. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

4. 2. 5. 3. Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut berasal dari bahasa Jerman, mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4. 2. 5. 4. Kontraksi

Pemendekan kata yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem/lebih. Ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4. 2. 5. 5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh: selain bentuk sapu, ada bentuk apus dan usap.

Proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Dalam bahasa Indonesia ada sampi di samping sapi, ada kampak di samping kapak.

4. 2. 5. 6. Fonem dan grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam pertuturan direalisasikan oleh alofon dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem itu, dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan/transkrip fonetik. Yang dilambangkan adalah fonemnya, bukan alofonnya.

 

2 Responses to “Nur_Zuafah-1402408281-Bab_4”

  1. Anis Silvia Says:

    Menurut saya resume anda sudah cukup lengkap,saya ingin bertanya kepada anda menurut anda apa yang dimaksud dengan distribusi komplementer?

  2. Silvia Dyah Puspita Sari Says:

    Kepada : Nur Zuafah /1402408281
    Dari : Silvia Dyah Puspita Sari / 1402408251
    Pertanyaan : Apa maksud dari penggunaan setiap huruf atau lambang dalam tulisan fonetik untuk melambangkan satu bunyi bahasa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s