Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ruwaida hikamah 1402408236 bab 5 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 6:49 pm


BAB 5.

TATANAN LINGUISTIK (2) MORFOLOGI

Morfem

Adalah bentuk yang sama, yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain.

Istilah morfem tidak dikenal dalam linguistik tradisional, karena morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morgem mempunyai makna secara filosofis.

Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.

Kalau bentuk tersebut bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.

Contoh 1: Kedua

Kelima

Ketiga

Bentuk ke pada daftar di atas mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas disebut sebagai morfem.

Contoh 2 : Ke pasar

Ke kampus

Ke dapur

Contoh ke pada daftar di atas mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan arah atau tujuan. Dengan demikian ke pada daftar di atas adalah sebuah morfem.

Bentuk ke pada kata kedua dan ke pasar tidak sama, maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama. Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda. Ciri sebuah morfem adalah kesamaan arti dan kesamaan bentuk.

Contoh: (1) Mereka mandi di kali

(2) Sepagi ini dia sudah dua kali makan

Kali pada kedua kalimat di atas tidak mempunyai makna yang sama, maka kedua “kali” itu bukanlah morfem yang sama.

Morf dan Alomorf

Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem.

Contoh : melihat mendengar menggali

merasa menduda menggoda

membawa menyanyi mengelas

membantu menyikat mengetik

Setiap morfem tentu mempunyai alomorf, karena alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem.

Morfem awalan me- dalam bahasa Indonesia mempunyai enam buah morfem, yaitu : me-, mem-, meny-, dan menge-, distribusinya :

me- : melihat ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /l/

merasa ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /r/

mem- : membaca ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/

membantu ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /p/

men- : mendengar ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /d/

menduda ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /t/

meny- : menyanyi ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /s/

menyikat ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /s/

meng- : menggali ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /g/

menggoda ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /k/

menge- : mengelas ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan e kasuku

mengetik ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan e kasuku

Klasifikasi Morfem

Morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasannya, keutuhannya, maknanya, dan sebagainya.

1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah, dan bagus

Kita dapat menggunakan morfem-morfem tersebut tanpa harus terlebih dahulu menggabungkannya dengan morfem lain.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris: Cats, books, tacks, dogs, cows

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, yaitu:

1. Bentuk Prakategorial

Bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk tersebut, meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

2. Kalimat imperalif

Adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif.

Kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-

Kalimat deklaratif pasif harus digunakan prefiks inflektif di- atau ter-

Kalimat imperaktif dan dalam kalimat partisif, harus digunakan prefiks inflektif ә.

3. Bentuk morfem unik

Bentuk-bentuk seperti renta (hanya muncul dalam tua renta)

Bentuk-bentuk seperti kerontang (hanya muncul dalam kering kerontang)

Bentuk-bentuk seperti bugar (hanya muncul dalam segar bugar)

Karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu maka disebut morfem unik. Tetapi dalam pengembangan istilah dewasa ini, beberapa morfem unik seperti bugar mulai dikembangkan menjadi kebugaran jasmani. Dengan demikian sifat keunikannya menjadi lenyap.

4. Bentuk preposisi dan konjungsi

Seperti ke, dari, pada, dan, kalau, atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.

5. Klitika

Merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya.

Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan. Kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan.

Contoh: klitika –lah ð Ayahlah yang akan datang

Dapat dipisah dari kata ayah, misalnya:

Ayahmulah yang akan datang

Menurut posisinya klitika dibedakan atas proklitika dan enklitika

Proklitika : klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti.

Contoh: ku bawa, kau ambil

Enklitika : klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati.

Contoh: -lah, -nya, dan –ku ð dialah, duduknya, dan nasibku

2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Semua morfem bebas yang dibicarakan pada bab ini adalah morfem utuh.

Conth: meja, kursi, kecil, laut, pensil

Begitu juga dengan sebagian morfem terikat, seperti ter-, ber-, henti dan juang

Morfem terbagi

Adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.

Contoh: kesatuan ð terdapat satu morfem utuh, yaitu “satu” dan satu morfem terbagi yaitu {ke- / -an}

Semua morfem akar untuk verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsonan yang dipisahkan oleh tiga buah vokal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula.

Catatan:

Pertama, semua afiks yang disebut konfiks seperti {ke- / -an}, {ber- / -an}, {per- / -an}, dan {pe- / -an} termasuk morfem terbagi.

Kedua, dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut intiks, yaitu afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar.

Contoh: afiks {-er- } pada kata gerigi

Infiks { -el- } pada kata pelatuk

Infiks { -em- } pada kata gemetar

Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem untuk {gigi} menjadi morfem terbagi {e- / -atuk}, dan mengubah morfem utuh {getar} menjadi morfem terbagi (g- / -etar).

3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morgem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}.

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur supra segmental. Seperti tekanan, nada, durasi dan sebagainya.

4. Morfem Beralomorf Zero

Adalah morfem yang selalu satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan” lambangnya berupa Ø.

Misal: bentuk sheep ð bentuk jamaknya adalah morfem {sheep} dan morfem {Ø}

5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal

Adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Misal: {kuda}, {pergi}, {lari}, dan {merah}

Morfem tak bermakna leksikal

Tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

Misal: morfem-morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}, dan {ter-}

Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (stem), dan Akar (root)

Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal dan akar adalah empat istilah yang biasa digunakan dalam kajian morfologi.

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks.

Contoh: {juang}, {kucing}, dan {sikat}

Dasar

Dasar

Morfem Terikat

Afiks

Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi.

Ÿ bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi

Ÿ bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi

Ÿ bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi

Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infeksi, atau proses pembubuhan afik inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiknya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggakan.

Kata

Para tata bahasawan tradisional mengartikan kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.

Klasifikasi kata

Adalah penggolongan kata, atau penjenisan kata.

Para tata bahasawan menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi.

Kriteria makna: digunakan untuk mengidentifikasi kelas :

Verba ð kata kerja

Nomina ð kata benda

Ajektiva ð kata sifat

Kriteria fungsi: digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina.

Klasifikasi kata itu perlu, sebab dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita identifikasikan dari ciri-cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau pendistribusian kata itu di dalam ujaran.

Pembentukan kata

Inflektif

Perubahan atau penyesuaian bentuk verba disebut konyugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

Proses Morfemis

1. Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

1. Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

2. Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

3. Konfiks : afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.

4. Interfiks : sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

5. Transfiks : afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

2. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.

3. Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru.

4. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi ð sering juga disebut deviasi zero, transmutasi, dan transposisi

Adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal ð proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

5. Pemendekan

Adalah proses penggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

6. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

Morfofonemik

Disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Ÿ Proses peluluhan fonem ð dapat dilihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat, dimana fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/ dari prefiks tersebut.

Ÿ Proses perubahan fonem ð dapat dilihat pada proses pengimbuhan prediks ber- pada kata ajar dimana fonem /r/ dan prefiks itu berubah menjadi fonem /l/.

Ÿ Proses pergeseran fonem ð adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s