Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Rista Lentin Yuniarsa_1402408322_bab 6 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 8:47 pm


BAB 6. TATARAN LINGUISTIK (3)

SINTAKSIS

Morfosintaksis yaitu gabungan dari morfologi dan sintaksis. Morfologi membicarakan struktur internal kata, sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain.

6.1. Struktur Sintaksis

Ÿ Fungsi sintaksis terdiri dari subjek, predikat, objek dan keterangan

Ÿ Kategori sintaksis terdiri dari nomina, verba, ajektiva dan numeralia

Ÿ Peran sintaksis terdiri dari pelaku, penderita/sasaran, dan penerima

Suatu struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek dan fungsi predikat. Sedangkan objek dan keterangan boleh tidak digunakan, apalagi mengingat kemunculan objek ditentukan oleh transitif atau tidaknya verba yang mengisi fungsi predikat dan fungsi keterangan hanya muncul bila diperlukan.

Menurut Chafe (1970) bahwa yang terpenting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat. Bagi Chafe predikat harus selalu verba atau ketegori lain yang diverbakan. Munculnya fungsi-fungsi lain sangat tergantung pada tipe atau jenis verba itu.

Ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu ada, yaitu verba yang secara semantik menyatakan kebiasaan atau verba itu mengenai orang pertama tunggal/orang banyak secara umum. Contoh: penjahit itu sedang menjahit.

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, dan intonasi.

Dalam bahasa Indonesia urutan kata sangat penting karena perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna.

Contoh: kontruksi “tiga jam” ≠ “jam tiga”

* Tiga jam menyatakan masa waktu 3 x 60 menit

* Jam tiga menyatakan saat waktu.

Dalam bahasa Latin urutan kata itu tidak penting. Artinya urutan kata itu dapat dipertukarkan tanpa mengubah makna gramatikal kalimat tersebut. Sebaliknya bentuk kata sangat penting karena di dalam bentuknya kata-kata itu sudah menyatakan fungsi, peran dan kategori sintaksisnya.

Contoh: Paulus Vidit Mariam

Paulus Mariam Vidit

Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi berupa nada naik dan tekanan.

Contoh: Kucing / makan tikus mati ket: / = batas S & P

Kucing makan tikus / mati // = batas klausa

Kucing / makan // tikus mati

Ÿ Alat sintaksis selanjutnya yaitu konektor. Ada 2 jenis konektor yaitu:

Konektor koordinatif ð konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama kedudukannya/sederajat.

Konjungsi: dan, atau, tetapi

Konektor subordinatif ð konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat.

Konjungsi: kalau, meskipun, karena

* Konektor merupakan sebuah atau gabungan morfem yang menghubungkan satu konstituen dengan konstituen lain, baik yang berada dalam satu kalimat maupun di luar kalimat.

6.2. Kata Sebagai Satuan Sintaktis

Dalam tatanan morfologi, satuan terbesar=kata, satuan terkecil=morfem Dalam tatanan sintaksis, satuan terkecil = kata, satuan yang lebih besar=frase.

Ÿ Jenis kata ada 2:

Kata penuh ð kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan. Yaitu kategori nomina, verba, ajektifa, adverbia, numeralia.

Kata tugas ð kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup dan di dalam pertuturan dia tidak dapat bersendiri. Yaitu: kategori preposisi dan konjungsi.

Kata-kata yang termasuk kata penuh mempunyai kebebasan yang mutlak, sehingga dapat mengisi fungsi-fungsi sintaksis. Sedangkan yang termasuk kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas, karena selalu terikat dengan preposisi, posposisi, dan konjungsi. Kecuali preposisi/konjungsi itu menjadi topik pembicaraan, maka akan tampak bebas.

Contoh: Adik membaca komik di kamar

Fungsi subjek f: predikat f:objek frase ekosentrik

Ÿ Preposisi di dengan kata kamar dalam frase di kamar tidak dapat dipisahkan dan merupakan anggota dari pengisi fungsi keterangan.

6.3. Frase

Frase ð satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

Pembentuk frase merupakan morfem bebas bukan morfem terikat.

Contoh: morfem bebas : belum makan, tanah tinggi

Morfem terikat: tata boga, interlokal

Frase ð konstruksi nonpredikatif ð hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek-predikat/predikat-objek.

Frase merupakan salah satu fungsi sintaksis maka frase tidak dapat dipindah sendirian harus digunakan secara keseluruhan.

Misalnya: frase kamar mandi tidak boleh dipisah kamar dan mandi.

Perbedaan frase dengan kata majemuk:

Frase ð tidak memiliki makna baru melainkan makna sinatik/gramatikal

Kata majemuk ð komposisi yang memiliki makna baru/memiliki 1 makna

Contoh: meja hijau meja saya

Pengadilan saya punya meja

Kata majemuk frase

Bedanya yaitu frase dapat disela dengan kata lain, sedangkan kata majemuk tidak.

Contoh: Mata guru ð matanya guru ð frase

Mata sapi ð telur goreng tnpa dihancurkan ð kata majemuk

6.3.2. Jenis Frase

6.3.2.1. Frase Eksosentrik

Frase eksosentrik ð frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

Contoh: frase di pasar (secara keseluruhan komponen ini dapat mengisi fungsi keterangan)

Frase eksosentrik dibedakan 2 yaitu:

Ÿ Frase eksosentrik yang direktif (frase preposisional)

Komponen pertamanya berupa preposisi (di, ke, dari) dan komponen keduanya berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.

Contoh: di pasar, dari kayu jati, demi keamanan.

Ÿ Frase eksosentrik yang non direktif

Komponen pertamanya berupa artikulus (si, sang, yang, para, kaum) dan komponen keduanya berupa kata/kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, atau verba.

Contoh: si miskin

Kaum cerdik pandai

6.3.2.2. Frase Endosentrik

Frase endosentrik ð frase yang salah satu unsurnya/komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

Artinya: salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

Contoh: Nenek sedang membaca Al Qur’an di kamar

Nenem membaca Al qur’an di kamar

Frase Endosentrik disebut juga frase modifikatif karena komponen keduanya yaitu komponen yang bukan inti mengubah/membatasi komponen intinya.

Contoh: kata sekali dalam frase makal sekali membatasi makna kata mahal yang masih umum akan tingkat kemahalannya menjadi tertentu.

Frase endosentrik disebut juga frase subordonatif karena salah satu komponennya yaitu inti frase berlaku sebagai komponen atasan dan komponen yang membatasi berlaku sebagai komponen bawahan.

Contoh: mahal sekali

komp.atasan komp.bawahan

Frase dilihat dari kategori intinya dibedakan:

Ÿ Frase nomina ð frase endosentrik yang intinya berupa nomina/poro nomina.

Contoh: bus sekolah, kecap manis.

Ÿ Frase verbal ð frase endosentrik yang intinya berupa verba.

Contoh: sedang membaca, sudah mandi.

Ÿ Frase ajektifa ð frase endosentrik yang intinya berupa ajektifa.

Contoh: sangat cantik, indah sekali.

Ÿ Frase numeralia ð frase endosentrik yang intinya berupa numeralia

Contoh: tiga belas, dua ratus.

6.3.2.3. Frase Koordinatif

Frase koordinatif ð frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen/lebih yang sama atau sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal (dan, atau, tetapi) maupun konjungsi terbagi (baik . . . baik, makin . . . makin, dan baik . . . maupun)

Contoh: sehat dan kuat, pembantu atau majikan.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh: hilir mudik, pulang pergi.

6.3.2.4. Frase Apositif

Frase apositif ð frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, sehingga urutan komponennya dapat dipertukarkan.

Contoh: frase di kamar tidur diperluar menjadi di kamar tidur adik

Frase seorang dokter diperluas menjadi bukan seorang dokter

Ÿ Perluasan frase tampak sangat produktif karena

Menyatakan konsep khusus/sangat khusus/sangat khusus sekali

biasanya diterangkan secara leksikal

Contoh: sebuah kereta api ekspres malam luar biasa

Ÿ Pengungkapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar, dan pembatas tidak dinyatakan dalam afiks dalam bahasa-bahasa fleksi melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.

Contoh: frase “tidak akan hadir” ada pengungkapan konsep ingkar (tidak) sekaligus konsep kala nanti (akan)

Ÿ Keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci terhadap suatu konsep, terutama konsep nomina. Bisanya digunakan konjungsi “yang”.

Contoh: Kakek saya meninggal seminggu yang lalu

– Kakek saya yang tinggal di Jakarta meninggal seminggu yang lalu

6.4. KLAUSA

6.4.1. Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa tuntunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase yang berfungsi predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek dan keterangan.

Ÿ Dalam kontruksi klausa harus ada subjek dan predikat.

Contoh: klausa : adik mandi

Ÿ Frase dan kata berpotensi menjadi kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final, tetapi hanya sebagai kalimat minor, bukan kalimat mayor, tetapi klausa berpotensi menjadi kalimat mayor.

Ÿ Selain subjek dan predikat yang harus ada, ada unsur lain yang tidak ada boleh tidak dalam klausa yaitu objek, pelengkap, keterangan.

Objek dibagi menjadi 2, jika predikatnya transitif:

~ Objek langsung ð objek yang merupakan sasaran dari tindakan yang dinyatakan predikat.

~ Objek tak langsung ð objek yang memperoleh manfaat dari tindakan itu.

Bedanya pelengkap dengan objek

Objek

Pelengkap

– Berada di belakang verba transitif

– Dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif

– Tidak berada di belakang verba

Tidak dapat

Kalau kata dan frase menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis, maka klausa menjadi pengisi kalimat.

6.4.2. Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya klausa dibedakan:

Ÿ Klausa bebas Ÿ Klausa terikat

– Unsur-unsurnya lengkap – Unsur-unsurnya tidak lengkap

– Berpotensi menjadi kalimat mayor – Tidak berpotensi jadi kal. mayor

Contoh: Contoh:

Nenekku masih cantik dan kakekku Tadi pagi; ketika kami belajar

gagah

Ÿ Klausa verbal ð klausa yang predikatnya berkategori verba sesuai dengan adanya tipe verba, dikenal adanya:

1) Klausa transitif ð klausa yang predikatnya berupa verba transitif

Contoh: Bibi menulis surat

2) Klausa intransitif ð klausa yang predikatnya berupa verba intransitif

Contoh: Adik menangis

3) Klausa refleksif ð klausa yang predikatnya berupa refleksif

Contoh: Kakak sedang berdandan, Adik sudah mandi

4) Klausa nominal ð klausa yang predikatnya berupa nomina atau frase nominal

Contoh: petani, satpam bank

Kakaknya petani di desa itu

Apabila contoh di atas disisipi “adalah/ialah” maka tidak termasuk klausa, tetapi verba kapula. Verba kapula “adalah dan ialah” dalam klausa atau kalimat yang unsur subjeknya/predikatnya cukup panjang berlaku sebagai pembatas atau pemisah antara subjek dan predikat, maka kata “adalah dan ialah” tersebut ada juga yang menyebutnya sebagai kata pemisah.

Ÿ Klausa ajektifal ð klausa yang predikatnya berkategori ajektifa baik berupa kata maupun frase.

Contoh: Ibu dosen itu cantik sekali

Ÿ Klausa adverbial ð klausa yang predikatnya berupa adverbia

Contoh: Bandelnya teramat sangat

Ÿ Klausa preposisional ð klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi

Contoh: gajinya lima juta sebulan, anaknya dua belas orang dan taksinya delapan buah.

Ÿ Klausa berpusat ð klausa yang subjeknya terikat di dalam predikatnya, meskipun di tempat lain ada nomina/frase nominal yang juga berlaku sebagai subjek.

Klausa berpusat terdapat dalam bahasa Arab dan bahasa Latin.

6.5. KALIMAT

6.5.1. Pengertian Kalimat

Kalimat yaitu satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.

Konstituen dasar bisa juga tidak berupa klausa, melainkan kata/frase. Kalimat yang konstituen dasar berupa klausa menjadi kalimat bebas. Kalimat yang konstituen dasar berupa kata/frase menjadi kalimat terikat.

Ÿ Intonasi final yang memberi ciri kalimat ada 3:

1) Intonasi deklaratif ð dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda titik

2) Intonasi inteogatif ð dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda tanya

3) Intonasi seru ð dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda seru

6.5.2. Jenis Kalimat

Berdasarkan beberapa dikotomi pembagian, kalimat dibedakan:

Ÿ Kalimat inti dan kalimat non inti

Kalimat inti (kalimat dasar) ð kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmatif.

Kalimat non inti = kalimat inti + proses tranformasi

Proses transformasi seperti transformasi pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, pengivestasian, pelepasan dan penambahan.

Contoh :

Nenek datang ð Nenekku yang cantik itu baru datang dari Perancis

Kal. Inti Kal. Non inti

Ÿ Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Perbedaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya klausa.

Kalimat tunggal ð klausanya hanya satu

Kalimat majemuk ð klausanya lebih dari satu

Kalimat majemuk dibedakan 3, yaitu:

1) Kalimat majemuk koordinatif (kalimat majemuk setara)

ð Kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara.

Konjungsi koodinatif = dan, atau, tetapi, lalu dan secara implisit (tanpa konjungsi)

Contoh: Nenek melirik, kakek tersenyum, dan adik tertawa-tawa

Apabila ada unsur klausa yang sama, maka unsur tersebut dirapatkan sehingga disebut kalimat majemuk rapatan.

2) Kalimat majemuk subordinatif (kalimat majemuk bertingkat)

ð Kalimat majemuk yang hubungan antar klausa-klausanya tidak setara.

Konjungsi subordinatif = kalau, ketika, meskipun, karena, dan secara implisit.

Contoh: Kalau nenek pergi, kakek pun akan pergi

Klausa bawahan Klausa atasan

(anak kalimat) (induk kalimat)

Proses terbentuknya kalimat majemuk subordinatif dapat dilihat dari 2 sudut:

(1) Hasil proses menggabungkan dua buah klausa atau lebih dimana klausa yang satu dianggap sebagai klausa atasan dan yang lain klausa bawahan.

(2) Hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya

Ali Syahbana menyatakan bahwa semua unsur kalimat dapat diperluas untuk dijadikan anak kalimat. malah bagian anak kalimat juga dapat diperluas lagi menjadi cucu kalimat.

Objek

ObjekContoh: Dia menjumpai si Ali

Anak kalimat

– Dia menjumpai orang yang pernah menolong Ahmad

Cucu kalimat

– Dia menjumpai orang yang pernah menolong anaknya yang kedua

3) Kalimat majemuk kompleks (kalimat majemuk campuran)

ð Campuran dari kalimat majemuk koordinatif dan kalimat majemuk subordinatif.

2

2

1

1 Contoh: kakek mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil selembar uang ribuan untuk membayar ongkos becak

1 : secara koordinatif 2 : secara subordinatif

* Kalimat mayor dan kalimat minor

Kalimat mayor ð klausanya lengkap, minimal memiliki S + P

Kalimat minor ð klausanya tidak lengkap, entah subjek saja/ predikat saja.

Contoh: Nenek berlari pagi Sedang makan

Kalimat mayor Kalimat minor

* Kalimat verbal dan kalimat non-verbal

Kalimat verbal ð kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba.

Kalimat non verba ð kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal : bisa nominal, ajektifal, adverbial/numeralia.

Berdasarkan banyaknya tipe verba, maka dibedakan:

* Kalimat transitif ð kalimat yang predikatnya berupa verba transitif (verba yang biasanya diikuti objek).

Monotransitif ð diikuti oleh sebuah objek

Bitransitif ð diikuti oleh dua buah objek kalau verbanya bitransitif.

Contoh: Dika menendang bola (monotransitif)

Dika membelikan Dita sebuah kamus bahasa Jepang (bitransitif)

Ada sejumlah verba transitif yang tidak perlu diikuti objek karena kebiasaan.

Contoh: Nenek belum makan

* Kalimat intransitif ð kalimat yang predikatnya berupa verba intransitif (verba yang tidak memiliki objek)

Contoh: Adik berlari ke kamar mandi

* Kalimat Aktif ð kalimat yang predikatnya kata kerja aktif

Biasanya ditandai dengan prefik me- atau memper-

Contoh: Ibu menjahit pakaian

* Kalimat Pasif ð kalimat yang predikatnya kata kerja pasif

Biasanya ditandai dengan prefik di- atau diper-

Contoh: pakaian dijahit ibu

* Kalimat dinamis ð kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.

Contoh: – Mahasiswa itu pulang

– Kami bercakap-cakap disana

* Kalimat statis ð kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau gerakan.

Contoh: – Anaknya sakit keras

– Dia tidur di kursi

Contoh kalimat non verbal ð Mereka bukan penduduk desa sini

Mereka ke pengadilan

6.5.2.5. Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat Bebas ð kalimat yang menjadi ujaran lengkap, tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya.

Kalimat terikat ð kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap.

Contoh: Saya baru dua hari di Yogyakarta Belum kemana-mana

KB KT

Belum punya kenalan

Biasanya bukti keterikatan sebuah kalimat yaitu adanya penanda anaforis berupa –nya (dia, mereka, dan beliau) dan konjungsi antar kalimat (makanya, oleh karena itu, jadi)

6.5.3. Intonasi Kalimat

Dalam bahasa Indonesia tampaknya intonasi (yang berupa tekanan, nada, atau tempo) tidak berlaku pada tataran fonologi dan morfologi. Melainkan hanya berlaku pada tataran sintaksis. Karena pada pembicaraan fonologi; tekanan, tempo dan nada dapat bersifat fonemis pada bahasa-bahasa tertentu karena berlaku sebagai fonem. Pada pembicaraan morfologi; tekanan, nada, dan tempo bersifat morfemis karena berlaku sebagai morfem.

Sebuah klausa yang dapat menjadi kalimat deklaratif atau kalimat interogatif hanya dengan mengubah intonasinya.

Ciri-ciri intonasi berupa:

Tekanan ð ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.

Tempo ð waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran

Nada ð unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.

Kenyaringan ini terjadi karena getaran selaput suara.

6.5.4. Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diateis

6.5.4.1. Modus

Modus yaitu pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara/sikap si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Ada beberapa macam modus:

1) Modus indikatif (modus deklaratif) ð modus yang menunjukkan sikap objektif atau netral.

2) Modus optatif ð modus yang menunjukkan harapan/keinginan, seperti : moga-moga, semoga, atau hendaknya.

3) Modus imperatif ð modus yang menyatakan perintah, larangan/ cegahan. Misalnya: Baca !, Bacalah, Bangun !

4) Modus inteogratif ð modus yang menyatakan pertanyaan

5) Modus obligatif ð modus yang menyatakan keharusan

Contoh: harus, seharusnya, semestinya.

6) Modus desideratif ð modus yang menyatakan keinginan atau kemauan.

Contoh: seandainya.

7) Modus kondisional ð modus yang menyatakan persyaratan

Contoh: asalkan

6.5.4.2. Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian/proses.

Ada beberapa macam aspek:

1) Aspek kontinuatif ð yang menyatakan perbuatan terus berlangsung

2) Aspek inseptif ð menyatakan peristiwa / kejadian baru mulai digunakan partikel ‘pun dan lah’

Contoh: Dia pun berjalanlah

3) Aspek progresif ð aspek yang menyatakan perbuatan sedang ber-langsung

Contoh : Dia sedang memotong rumput.

4) Aspek repetetatif ð yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang.

– Bisa dilakukan dengan menambah sufik –i

Contoh : Dia memukuli pencuri itu

5) Aspek perfektif ð yang menyatakan perbuatan sudah selesai

– Bisa digunakan unsur leksikal sudah, telah

Contoh : Adik sudah selesai mengerjakan PR

6) Aspek imperfektif ð yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar

Contoh : Ibu mengiris bawang itu

Adik memukul temannya.

7) Aspek sesatif ð yang menyatakan perbuatan berakhir.

6.5.4.3. Kala

Kala (tenses) adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kerjadian, tindakan/pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

Beberapa bahasa menandai kala itu secara morfemis, yaitu pernyataan kala ditandai dengan bentuk kata tertentu pada verbanya.

– Bahasa Indonesia tidak menandai kala secara morfemis, melainkan secara leksikal, kala sudah untuk kala lampauy, sedang untuk kala kini, dan akan untuk kala nanti.

Contoh: Nina sudah mengerjakan tugas

Nina sedang mengerjakan tugas

Nina akan mengerjakan tugas

Perbedaan kala dengan keterangan waktu yaitu:

Keterangan waktu Kala

Memberi keterangan terhadap seluruh kalimat – Terikat pada verb/predikatnya

Posisinya dapat dipindahkan ke awal / tempat – Posisinya tidak dapat dipindahkan ke awal/

lain. Tempat lain.

6.5.4.4. Modalitas

Modalitas yaitu keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

Misalnya: mungkin, barangkali, sebaiknya, seharusnya, tentu, pasti, boleh, mau, ingin, dan seyogyanya.

Ada beberapa jenis modalitas:

1) Modalitas intensional ð modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan, atau juga ajakan.

Contoh: Kakek ingin menunaikan ibadah umroh

2) Modalitas epistemik ð modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian, dan keharusan.

Contoh: Kalau hari tidak hujan, tamu-tamu pasti banyak yang datang

3) Modalitas deontik ð modalitas yang menyatakan keizinan/ keperkenanan.

Contoh: Akhirnya adik diperbolehkan mengikuti karya wisata.

4) Modalitas dinamik ð modalitas yang menyatakan kemampuan

Contoh: Akhirnya Dina bisa datang tepat waktu.

6.5.4.5. Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.

Fokus kalimat dapat dilakukan dengan cara:

1) Dengan memberi tekanan pada kalimat yang difokuskan.

Contoh: Adik mencuci piring

* Jika diberi tekanan pada kata adik, berarti yang melakukan adalah adik, bukan yang lain.

2) Dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan

Contoh: Adik dibelikan baju baru oleh ibu

* Jika ingin difokuskan pada pelaku, maka : oleh ibu adik dibelikan baju baru.

3) Dengan cara memakai partikel pun, yang, tentang, adalah pada bagian kalimat yang difokuskan.

Contoh: mengeja pun adik belum bisa

4) Dengan mengontraskan dua bagian kalimat

Contoh: Bukan dia yang menghabiskan roti itu, melainkan aku.

5) Dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden

Contoh: Roti adikku habis dimakan kakak sehingga ia menangis

6.5.4.6. Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.

Ada beberapa macam diatesis:

1) Diatesis aktif ð jika subjek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan

Contoh: Mereka merampas uang kami.

2) Diatesis pasif ð jika subjek menjadi sasaran perbuatan

Contoh: Uang kami dirampasnya.

3) Diatesis refleksif ð jika subjek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.

Contoh: Kakak sedang bersolek di kamar

4) Diatesis resiprokal ð jika subjek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan beralasan

Contoh: Mereka masih saling memukuli di belakang sekolah

5) Diatesis kausatif ð jika subjek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu

Contoh: Kakak mengkriting rambutnya di salon kemarin.

6.6. WACANA

Kalimat dianggap menjadi satuan terbesar di dalam pembicaraan ketatabahasaan, karena secara filosofis kalimatlah sebagai satuan bahasa, yang dianggap memiliki pikiran yang lengkap. Padahal pembentuk satuan bahasa yang lebih besar yaitu wacana. Buktinya banyak kita jumpai kalimat yang jika dipisahkan dari kalimat-kalimat yang ada di sekitarnya, kalimat itu menjadi satuan yang tidak mandiri.

6.6.1. Pengertian Wacana

Wacana ð satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi/terbesar.

Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina yang disebut kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur wacana tersebut sehingga terciptalah isi wacana yang apik dan benar.

Pengaitan antar kalimat dalam suatu wacana dapat dilakukan dengan menggunakan kata ganti, konjungsi, kata kunci.

6.6.2. Alat Wacana

Alat wacana gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat wacana kohesif:

1) Konjungsi ð hubungan antar kalimat akan menjadi lebih eksplisit dan jelas.

2) Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis.

3) Menggunakan elipsis ð penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat lain.

Selain dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koherens dapat dilakukan dengan cara:

1) Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana itu.

Contoh: Kemarin hujan deras sekali. Hari ini cerahnya bukan main.

2) Menggunakan hubungan generik-spesifik, atau sebaliknya

Contoh: Kuda itu jangan kau pacu terus menerus, binatang juga perlu istirahat.

3) Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat

Contoh: lahap benar makannya seperti orang yang sudah 1 minggu tidak makan.

4) Menggunakan hubungan sebab-akibat diantara isi kedua bagian kalimat atau isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana

Contoh: Dia malas, dan seringkali bolos sekolah. Wajarlah kalau tidak naik kelas.

5) Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana

Contoh: Semua anaknya disekolahkan agar kelak tidak seperti dirinya.

6) Menggunakan rujukan yang sama pada dua kalimat dalam satu wacana

Contoh: Kebakjaran sering melanda Jakarta. Kalau dia datang si jago merah itu tidak kenal waktu, siang atau pun malam.

6.6.3. Jenis Wacana

Berdasarkan sasarannya dibedakan:

Wacana lisan (bahasa lisan)

Wacana tertulis (bahasa tulis)

Dilihat dari penggunaan bahasa dibedakan:

Wacana prosa (bentuk uraian)

Wacana puisi (bentuk puitik)

Dilihat dari penyampaian isi, wacana prosa :

Wacana narasi ð bersifat menceritakan suatu topik/hal.

Wacana eksposisi ð bersifat memaparkan topik atau fakta.

Wacana argumentasi ð bersifat memberi argumen.alasan terhadap suatu hal.

Wacana persuasi ð bersifat mengajar, menganjurkan/melarang.

6.6.4. Subsatuan Wacana

Subsatuan wacana meliputi :

1. Bab

2. Sub bab

3. Paragraf

4. Sub paragraf

6.7. Catatan Mengenai Hierarki Satuan

Urutan hierarki adalah urutan normal teoritis

Faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan:

1. Pelompatan tingkat

2. Pelapisan tingkat

3. Penurunan tingkat

Bagan urutan hierarki satuan

Wacana

Kalimat

Klausa

Frase

Kata

Morfem

 

One Response to “Rista Lentin Yuniarsa_1402408322_bab 6”

  1. Shelvianita Mugi Dewanti1402408253 Says:

    Mengapa dalam bahasa Indonesia urutan kata tampak sangat penting?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s