Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Retnosari _1402408031_BAB 2 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 6:36 pm

Retnosari

1402408031

BAB 2.

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Dalam bab ini akan dibicarakan keilmiahan linguistik dengan segala persoalan yang berkaitan dengan label “ilmiah”, untuk bisa memahami cara kerja ilmu ini di dalam operasinya.

2.1. Keilmuan Linguistik

Pada dasarnya, setiap ilmu termasuk ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan sebagai berikut:

1. Tahap Spekulasi

Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Misalnya: anggapan bahwa bumi berbentuk datar.

2. Tahap Observasi dan Klasifikasi

Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Bahasa-bahasa di nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu dikelompokkan berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki bahasa-bahasa tersebut. Tahap seperti ini belum dapat dikatakan “ilmiah” sebab belum sampai pada penarikan suatu teori.

3. Tahap Adanya Perumusan Teori

Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah karena sudah mengalami ketiga tahap di atas. Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksankan penelitiannya. Bidang semantik kurang mendapat perhatian dalam linguistik, strukturalis karena maknanya tidak dapat diamati secara empiris. Kegiatan linguistik juga tidak boleh “dikotori” oleh pengakuan/pengetahuan si peneliti.

Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris, menganalisis dan mengklasifikasinya. Lalu ditarik suatu kesimpulan. Dalam ilmu logika/ilmu menalar, selain adanya penalaran secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus lalu ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif adalah sebaliknya.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dai bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut sebagai ilmu nomotetik. Pendekatan bahasa sebagai bahasa sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa yang dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:

Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer. Sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaring-jaring hubungan.

Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakaiannya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai suatu yang dinamis. Karena itu pula linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik (kurun waktu terbatas) dan secara diakronik (sepanjang kehidupan bahasa itu).

Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

2.2. Subdisiplin Linguistik

Subdisiplin linguistik, meliputi:

2.2.1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Kajian umum dan khusus dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa/juga hanya pada satu bahasan dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi umum/khusus, morfologi umum/khusus ada sintaksis umum/khusus.

2.2.2. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik.

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Studi linguistik sinkronik biasa disebut juga linguistik deskriptif karena berupaya mendeskripsikan sesuatu. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas. Kajian ini biasanya bersifat historis dan komparatif.

2.2.3. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah struktur internal bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro. (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu/struktur internal bahasa pada umumnya. Subdisiplin mikrolinguistik meliputi:

Fonologi ð menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa. Cara terjadinya dan fungsinya.

Morfologi ð menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya.

Sintaksis ð menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya.

Semantik ð menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual.

Leksikologi ð menyelidiki leksikon/kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek.

Sedangkan subsdisiplin makrolinguistik meliputi:

Sosiolinguistik ð mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

Antropolinguistik ð mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

Stilistika ð mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.

Filologi ð mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bahasa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis.

Filsafat bahasa ð mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teori linguistik.

Dialektologi ð mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

2.2.4. Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.

Linguistik teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa/bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.

2.2.5. Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistemik. (di Bab 8)

Luasnya cabang linguistik, maka tidak ada yang menguasai semua cabang linguistik. Namun pada dasarnya ilmu linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa/cabang-cabang yang termasuk linguistik mikro.

2.3. Analistik Linguistik

Analitik linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tatanan tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik.

2.3.1. Struktur, Sistem dan Distribusi

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat/konstituen kalimat secara linear. Sedangkan hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya disebut sistem. Jadi, fakta adanya bentuk kata kerja aktif dalam suatu bahasa menyangkut masalah sistem dalam bahasa tersebut. Fakta bahwa obyek selalu terletak di belakang predikat dalam bahasa Indonesia adalah struktur dalam bahasa Indonesia.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi menurut Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika dengan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

1.3.2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung/analisis unsur langsung/analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, contoh satuan kata, satuan frase, satuan klausa/satuan kalimat. teknik analisis bawahan langsung berguna untuk menghindari keambiguan suatu kalimat.

2.3.3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengjarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk/ditata dari unsur-unsur lain. Dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . . .” bukan “dibentuk dari . . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan.

Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun, dst.

2.4. Manfaat Linguistik

Kita tidak dapat memahami karya sastra dengan baik tanpa mempunyai pengetahuan dan hakikat dan struktur bahasa dengan baik. bagi guru, terutama bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting. Bagi guru bidang studi juga penting karena dia harus menjelaskan mata pelajaran bidang studinya dengan bahasa. Bagi penejemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontra stif linguistik.

Bagi penyusun kamus/leksiko grafer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya dengan menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskan, dsb. Pengetahuyan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran/buku teks. Sebagai negarawan/ pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik.

 

One Response to “Retnosari _1402408031_BAB 2”

  1. Erma Yunita Says:

    Dari : Erma Yunita / 1402408314
    Untuk : Retnosari / 1402408031
    Pertanyaan : Apakah
    perbedaan sikap yang spesifik antara preskriptif dan deskriptif
    di dalam linguistik?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s