Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pudyastuti_Kusuma_Wardhani-1402408019-Bab_8 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 8:24 pm

Pudyastuti Kusuma Wardhani

1402408019

Rombel 3

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan, yaitu:

1. Tahap pertama tahap spekulasi.

2. Tahap kedua tahap observasi dan klasifikasi.

3. Tahap ketiga perumusan teori.

Ü Tahap spekulasi

Pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris melainkan pada dongeng/rekaan belaka. Contoh: pernyataan Andreas Kemke, ahli fisiologi dari Swedia abad ke 17, menyatakan bahwa Nabi Adam dulu di Surga berbicara dalam bahasa Denmark, sedangkan Ular berbicara dalam bahasa Perancis. Hal itu tidak dapat dibuktikan katena tidak ada bukti empiris.

Ü Tahap klasifikasi dan observasi

Para ahli bahasa mengadakan pengamatan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki tetapi belum pada tahap merumuskan teori, maka dari itu tahap tersebut belum dikatakan bersifat ilmiah..

Ü Tahap perumusan teori

Dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan diklasifikasi, tetapi juga telah dibuatkan teori-teorinya.

LINGUISTIK TRADISIONAL

Pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan”, “bagaimana”, dll.

LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguistik pada waktu zaman Yunani yaitu:

1. Pertentangan antara fisis dan nomos

Para filsuf Yunani mempertanyakan, apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau konvensi (nomos), bersifat alami/fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usu, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Yang menganut paham ini adalah kaum naturalis. Kaum konvensional berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi (nomos) artinya makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

2. Pertentangan antara analogi dan anomali

Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur sehingga dapat menyusun tata bahasa. Misal: Bos Boys, Girl Girls, Book Books dan lain-lain.

Kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Misal: Child Children, bukan Childs. Dari keterangan di atas tampak bahwa kaum anomali sejalan dengan kaum naturalis dan kaum analogi sejalan dengan kaum konvensional.

KAUM SOPHIS

Mereka dikenal karena: Mereka melakukan kerja secara empiris, Melakukan kerja secara pasti, Mementingkan bidang retorika, Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna. Tokoh Sophis yaitu Protogoras membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa dan undangan. Tokoh lain Georgias.

PLATO

Ü Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialoag.

Ü Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.

ARISTOTELES

Dia adalah murid Plato. Menurut Aristoteles ada 3 macam kelas kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi. Aristoteles juga membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi 3 yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

KAUM STOIK

Ü Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

Ü Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.

Ü Mereka membedakan legein dan propheretal.

KAUM ALEXANDRIAN

Mereka ini mewarisi kita dengan sebuah buku tata bahasa yang disebut “Tata Bahasa Dionysius Thrax” sebagai hasil mereka dalam menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

VARRO DAN “DE LINGUA LATINA”

Ü Etimologi: cabang linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman dan perubahan makna kata. Perubahan bunyi misalnya dari akta dvellum menjadi belum yang artinya perang. Perubahan makna misalnya kata hostis yang semula berarti orang asing, kemudian menjadi musuh.

Ü Morfologi: cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya

Varro membagi kelas kata latin dalam 4 bagian, yaitu:

v Kata benda, kata kerja, partisipel, adverum.

Dalam bahasa Latin menurut Varro ada 6 buah yaitu:

1. Nominativus

2. Genetivus

3. Dativus

4. Akusativus

5. Vokativus

6. Ablativus

Varro juga membedakan adanya 2 macam deklinasi yaitu:

v Deklinasi naturalis: perubahan yang bersifat alamiah.

v Deklinasi voluntaris: perubahan yang bersifat selektif dan mana suka.

INSTITUTIONES GRAMMATICAE (TATA BAHASA PRISCIA)

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu yaitu:

v Fonologi dibicarakan huruf/tulisan yang disebut literae. Literae yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Nama huruf itu disebut Figurae.

Nilai bunyi disebut potestas. Bunyi dibedakan menjadi 4 macam:

1. vozartikulata, 2. Vox martikulata, 3. Vox litterata, 4. Vox illiterata.

v Morfologi dibicarakan mengenai dictio/kata.

Dictio yaitu bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai 1 keseluruhan. Kata dibedakan 8 jenis: 1. Nomen, 2. Verbum, 3. Participum, 4. Pronomen, 5. Adverbum, 6. Praepositio, 7. Interjectio, 8. Conjunctio.

v Sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

ZAMAN PERTENGAHAN

Membicarakan studi bahasa antara lain:

Ü Kaum Modistae

Membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.

Ü Tata Bahasa Spekulativa

Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia).

Ü Petrus Hispanus

Pernah menjadi Paus dengan gelar Paus Johannes XXI, bukunya berjudul Summulae Logicales.

ZAMAN RENAISANS

a. Bahasa Ibrani dan bahasa Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan.

b. Linguistik Arab berkembang pesat karena kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci agama Islam (Alquran).

c. Bahasa-bahasa Eropa

d. Bahasa-bahasa diluar Eropa

LUNGUISTIK STRUKTURALIS

1) Ferdinand de Saussure merupakan Bapak Linguistik modern. Bukunya berjudul “Course de Linguistique Generale“, buku tersebut membahas mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signifie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

2) Aliran Praha

Tokoh aliran Praha yaitu Vilem Mathesius, Aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem.

3) Aliran Glosematik

Tokohnya Louis Hjemslev. Analisis bahasa dimulai dengan wacana kemudian ujaran itu dianalisis atas konstituen-konstituen yang mempunyai hubungan paradigmatis dalam rangka forma, ungkapan dan isi.

4) Aliran Firthian

Terkenal dengan teorinya mengenai Fonologi prosodi yaitu suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada 3 macam pokok prosodi yaitu:

a) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal.

b) Prosodi yang terbentuk oleh sendi/jeda.

c) Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

5) Linguistik Sistematik

Ü Pokok-pokok pandangan linguistik sistematik yaitu:

v Pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarkatan bahasa,

v Kedua, SL memandang bahasa sebagai pelaksana

v Ketiga, SL lebih menguatamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya.

v Keempat, SL mengenal adanya gradasi/kontinum.

v Kelima, SL menggambarkan 3 tataran utama bahasa.

6) Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran linguistik:

1. Pertama: Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diberikan.

2. Kedua: Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika.

3. Ketiga: Adanya The Linguistic Society of America, yang menerbitkan majalah Language.

7) Aliran Tagtemik

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem yaitu korelasi antara fungsi gramatikal/slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

1) Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa itu harus memenuhi 2 syarat:

Ü Pertama: Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

Ü Kedua: Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa.

Tata bahasa dari setiap bahasa terdiri dari 3 komponen:

a) komponen sintaksis, b) komponen semantik, c) komponen fonologis.

2) Semantik Generatif

Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja.

3) Tata Bahasa Kasus

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen.

4) Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional yang melibatkan 3 macam maujud yaitu:

a. Seperangkat simpai (nodes)

b. Seperangkat tanda relasional

c. Tanda coordinates

TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa. Tujuannya untuk kepentingan pemerintah kolonial. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai fonologi, morfologi, sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal.

Gema konsep linguistik modern itu baru tiba di Indonesia akhir sekali tahun lima puluhan. Linguistik modern juga menyatakan bahwa bentuk silakan (tanpa h) dan bentuk silahkan (dengan h) adalah 2 bentuk yang sama-sama digunakan dalam bahasa Indonesia, tetapi mereka tetap berkeras bahwa silahkan adalah bentuk yang salah dan silakan yang benar.

Atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI).

Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

 

2 Responses to “Pudyastuti_Kusuma_Wardhani-1402408019-Bab_8”

  1. Ema Rahmawati Says:

    Dari : Ema Rahmawati / 1402408015
    Untuk : Pudyastuti Kusuma Wardhani / 1402408019

    Pertanyaan : Ferdinand de Saussure membedakan telaah bahasa secara sinkronik dan diakronik. Jelaskan !

  2. Ema Rahmawati Says:

    Dari : Ema Rahmawati / 1402408015
    Untuk : Pudyastuti Kusuma Wardhani / 1402408019
    Jawaban : tiga tataran utama bahasa :
    1. substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita bicara. lambangnya menulis.
    2. forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna.
    3. situasi, meliputi tesis, situasi langsung, dan situasi luas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s