Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

NoorMarianaUlfah_1402408286_bab7 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 8:14 pm

Noor Mariana Ulfah

1402408286

Bab 7

TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Bapak linguitik modern, Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa tanda linguistik (signe linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie maka sesungguhnay studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7. 1. Hakikat Makna

Makna adalah

· Pengertian/konsep yang dimiliki/terdapat pada sebuah tanda linguistik

· Pengertian/konsep yang dimiliki oleh setiap kata/leksem

· Pengertian/konsep yang dimiliki setiap morfem, baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks.

7. 2. Jenis Makna

1. Makna Leksikal: makna yang dimiliki/ada pada leksem meski tanpa konteks apapun/makna yang sebenarnya.

Contoh: kuda bermakna sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.

2. Makna gramatikal: makna yang terjadi melalui proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi/kalimatisasi.

Contoh: proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal mengenakan/memakai baju.

3. Makna kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh: kata kepala dalam kalimat Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. Kepala = bagian dari tubuh manusia.

4. Makna referensial: makna yang dimiliki oleh sebuah kata yang ada referensinya/acuannya.

Contoh: kuda, merah, gambar.

5. Makna non-referensial: makna yang dimiliki oleh sebuah kata yang tidak ada referensnya.

Contoh: dan, atau, karena.

6. Makna denotatif: makna asli/makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem.

Contoh: kata kurus bermakna keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal.

7. Makna konotatif: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang/kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

Contoh: kurus berkonotasi netral.

ramping berkonotasi positif

kerempeng berkonotasi negatif

8. Makna konseptual: makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks/asosiasi apapun.

Contoh: kata rumah bermakna bangunan tempat tinggal manusia.

9. Makna asosiatif: makna yang dimiliki oleh sebuah leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.

Contoh: melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci/kesucian.

10. Makna kata: makna yang dikandung oleh suatu kata.

11. Makna istilah: makna yang dikandung oleh suatu istilah.

12. Makna idiom dan peribahasa

Idiom: satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun gramatikal. Idiom dibagi 2 yaitu:

a) Idiom penuh, contoh: meja hijau = pengadilan.

b) Idiom sebagian, contoh: koran kuning = koran yang memuat berita sensasi.

Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

7. 3. Kelas Makna

Relasi makna: hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

· Sinonim: hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya.

Contoh: betul = benar

sudah = telah

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak pernah sama. ketidaksamaan itu terjadi karena:

1. Faktor waktu, contoh: hulubalang (klasik) = komandan

2. Faktor tempat atau wilayah, contoh: saya = beta

3. Faktor keformalan, contoh: uang = duit

4. Faktor sosial, contoh: saya = aku

5. Faltor bidang kegiatan, contoh: matahari = surya (sastra)

6. Faktor nuansa makna, contoh: melirik, menonton, meninjau, mengintip

· Antonim: hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan.

Contoh: baik >< buruk

mati >< hidup

Jenis-jenis antonim

1. Antonim yang bersifat mutlak, contoh: mati >< hidup

2. Antonim yang bersifat relatif, contoh: jauh >< dekat

3. Antonim yang bersifat relasional, contoh: membeli >< menjual

4. Antonim yang bersifat hierarkial, contoh: tamtama >< bintara

· Polisemi: sebuah kata/satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu.

Contoh: Kepalanya jatuh kena pecahan kaca (bagian tubuh manusia)

Kepala kantor itu bukan paman saya (ketua/pemimpin)

· Homonim: dua buah kata yang bentuk dan ejaannya sama tetapi maknanya berbeda.

Contoh: bisa = racun ular

bisa = sanggup

· Homofon: dua buah kata yang makna dan bentuknya berbeda tetapi ejaannya sama.

Contoh: bank = lembaga keuangan

bang =kakak laki-laki

· Homograf: dua buah kata yang makna dan ejaannya berbeda tetapi bentuknya sama.

Contoh: memerah = menjadi merah

memerah = melakukan perah

· Hiponim: kata khusus

· Hipernim: kata umum

Contoh: hipernim = burung

hiponim = merpati, perkutut

· Ambiguitas dan ketaksaan: gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.

Contoh: buku sejarah baru dapat diartikan:

(1) buku sejarah itu baru terbit

(2) buku itu memuat sejarah zaman baru

· Redundansi: berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

Contoh: (1) Nita mengenakan baju berwarna merah sama artinya dengan (2) Nita berbaju merah. Bentuk 1 disebut redundansi.

7. 4. Perubahan Makna

Perubahan makna dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

1) Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.

2) Perkembangan sosial budaya

3) Perkembangan pemakaian kata

4) Pertukaran tanggapan indra

5) Adanya asosiasi

Macam-macam perubahan makna:

1) Makna meluas: perubahan makna dari yang tadinya khusus kini maknanya menjadi umum.

Contoh: berlayar dulu bermakna ‘melakukan perjalanan dengan kapal/perahu yang digerakkan tenaga layar tetapi kini bermakna ’semua perjalanan di air’.

2) Makna menyempit: perubahan makna dari yang tadinya umum kini maknanya menjadi khusus.

Contoh: sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’ tetapi sekarang kini bermakna ‘lulusan perguruan tinggi’

3) Perubahan makna secara total: makna yang sekarang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya.

Contoh: pena pada mulanya bermakna ‘bulu angsa’ tetapi kini hanya bermakna ‘alat tulis bertinta’.

7. 5. Medan Makna dan Komponen Makna

· Medan Makna: seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan/realitas dalam alam semesta tertentu.

Misalnya: nama-nama warna, nama perabot rumah tangga yang masing-masing merupakan satu medan makna.

Berdasarkan sifat hubungan semantisnya pengelompokan kata atas medan makna dapat dibedakan:

1. Kelompok kolokasi

2. Kelompok set

· Komponen Makna

Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut) komponen makna yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna dapat dianalisis dibutiri/disebutkan satu per satu berdasarkan pengertian-pengertian yang dimilikinya.

Contoh:

Komponen makna

Ayah

Ibu

1. Manusia

+

+

2. Dewasa

+

+

3. Jantan

+

4. Kawin

+

+

5. Punya anak

+

+

Kegunaan analisis komponen makna:

a. Untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim

b. Untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal, afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia.

Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

Contoh:

Pada kalimat ‘segelas kambing minum setumpuk air’ dan kalimat ‘kambing itu membaca komik’. Kedua kalimat itu tidak berterima, bukanlah karena kesalahan gramatikal maupun informasi, melainkan karena kesalahan semantik. Kesalahan itu berupa tidak adanya persesuaian semantik di antara konstituen-konstituen yang membangun kalimat itu.

 

One Response to “NoorMarianaUlfah_1402408286_bab7”

  1. dewi anitasari Says:

    apa yang dimaksud dengan antonim yang bersifat mutlak, relatif, relasional dan hierarkial?tolong jelaskan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s