Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MUHAMMAD OKTO GUNANTO 1402408243 BAB V TATARAN LINGUISTIK = MORFOLOGI Oktober 24, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:35 pm


NAMA : MUHAMMAD OKTO GUNANTO

NIM : 1402408243

ROMBEL : 3

BAB V

TATARAN LINGUISTIK (2) :

MORFOLOGI

I. MORFEM

a. Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Apabila bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain dan mempunyai makna yang sama, maka bentuk tersebut adalah morfem.

Contoh: kedua “ke” disini dapat disegmentasikan sebagai satuan

ketiga tersendiri dan mempunyai makna yang sama

kelima (tingkat/derajat) maka “ke” disini disebut sebagai

ketujuh morfem.

Jadi, kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem. Dalam studi morfologi, morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya pada kurung kurawal.

Misal: masjid {masjid}

kedua ({ke} + {dua})

b. Morf dan Alomorf

Morf dan Alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama.

a. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya.

b. Alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya, atau dapat disebut juga bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama.

Contoh: melihat, membawa, mendengar, menyanyi, menggali, mengelas.

Pada contoh tersebut terdapat kesamaan makna walaupun bentuk agak berbeda dari bentuk me –, mem –, men –, meny –, meng –, menge –. Bentuk-bentuk ini disebut sebagai alomorf dan disebut morfem meN – (dibaca: me – nasal; N besar melambangkan nasal).

Partikel {Al} dalam bahasa Arab mempunyai dua bentuk alomorf:

Ø tetap berbentuk {al}: al – hilal, al – qur’an, an – insan.

Ø berubah/berasimilasi dengan fonem awal bentuk dasarnya: ar – rahman, an – nisa, at – taqwa.

c. Klasifikasi Morfem

Ø Morfem Bebas dan Morfem Terikat (Kebebasannya)

Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Misalnya: pulang, makan, rumah, dan bagus.

Morfem Terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam penuturan.

Contoh: semua afiks dalam bahasa Indonesia.

Ø Morfem Utuh dan Morfem Terbagi (Bentuk Formalnya)

Morfem Utuh adalah morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh.

Contoh: {meja}, {kursi}, {kecil}, {ter – }, {ber – }, {henti}.

Morfem Terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.

Contoh: kesatuan terdiri dari satu morfem utuh yaitu {satu} dan satu morfem terbagi yakni {ke – / – an}

Ø Morfem Segmental dan Suprasegmental (Jenis Fonem Pembentuknya)

Morfem Segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental atau semua morfem yang berwujud bunyi.

Contoh: {lihat}, {lah}, {sikat}, {ber}

Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsure-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.

Contoh: Bahasa Ngbaka dari Kongo Utara, verbenya diikuti kala (tense) berupa nada.

Kala kini = à, kala lampau = ā, kala nanti = ǎ, imperatif = á.

Ø Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental) melainkan berupa kekosongan. Lambangnya: ø.

Ø Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa harus berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri, baru bermakna dalam gabungannya dengan morfem lain.

d. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem) dan Akar (Root)

Ø Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengna morfem afiks, dan terdiri atas morfem nenas dan terikat.

Morfem

Afiks

Dasar

Afiks

Afiks

Ø Bentuk Dasar atau Dasar (Base) biasa digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi, bentuk dasar dapat berupa morfem tunggal atau gabungan.

Ø Pangkal (Stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Contoh: books pangkalnya adalah book.

Ø Akar (Root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

Contoh:

touch (akar yang tidak dapat dianalisis lagi)

able (sufiks derivasional)

touchable (akar yang dapat dianalisis lagi)

un – (prefiks derivasional)

untouchable (pangkal (stem))

– s (sufiks infleksional)

untouchables

II. KATA

a. Hakikat Kata

Menurut bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti. Menurut Bloomfield, kata adalah satuan bebas terkecil yang tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah bersifat final. Pada buku Linguistik Eropa, kata merupakan bentuk yang, kedalam mempunyai susunan fonologis, yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.

b. Klasifikasi Kata

Tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan criteria fungsi. Tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi. Kelompok linguis menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata.

c. Pembentukan Kata

Untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertukaran tertentu, maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu: bersifat infleksif dan derivatif.

III. PROSES MORFEMIS

a. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada dasae dalam proses pembentukan kata. Afiks dapat dibedakan menjadi: prefix, infiks, sufiks, konfiks, interfiks dan transfiks. Unsure yang terdapat pada afiksasi adalah dasar /bentuk dasar, afiks, dan makna gramatikal yang dihasilkan.

b. Reduplikasi

Reduplikasi adalahn proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.

c. Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.

Contoh: lalu lintas, akhimulkalam, bluebird.

d. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Ü Konfersi sering jiga disebut derivasi zero, transmutasi dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Misal: drink merupakan nomina pada kalimat: have a drink.

drink merupakan verba pada kalimat: if you’re thirsty, you must drink.

Ü Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengna penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan).

Contoh:

B. arab dengan kerangka k–t–b = tulis katab = dia laki-laki menulis

maktaba = toko buku

ka tib = penulis

Ü Suplesi merupakan modifikasi internal namun perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

Misal: bentuk kala lampau dari kata Inggris “go” yang menjadi “went”.

e. Pemendekan

Pemendekan adalah proses pemenggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Hasil proses pemendekan disebut kependekan.

Contoh: laboratorium lab.

f. Produktifitas Proses Morfemis

Yang dimaksud produktifitas dalam proses morfemis ini adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relative tak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis, karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya tidak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup berbeda dengan derivasi yang bersifat terbuka demana penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

Misal: gramatikal kegramatikalan.

Jadi bisa dikatakan proses derivasi adalah produktif sedangkan proses infleksi tidak produktif.

IV. MORFOFONEMIK

Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem, contoh: me – + baca = membaca (muncul konsonan sengau /m/).

2. Pelepasan fonem, contoh: sejarah + wan = sejarawan (fonem /h/ menjadi hilang).

3. Peluluhan fonem, contoh: me – + sikat = menyikat (fonem /s/ diluluhkan dengan bunyi nasal /ny/).

4. Perubahan fonem, contoh: ber – + ajar = belajar (fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/).

5. Pergeseran fonem yaitu pindahnya sebuah fonem dari silabel satu ke silabel yang lain, contoh: ja. wab + – an ja. wa. ban.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s