Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

KHILDA FAUZIYA;1402408102 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 4:27 pm

NAMA : KHILDA FAUZIYA

NIM : 1402408102

BAB III

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtunan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.

Silabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi bunyi lain di depannya., di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Adanya puncak kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vocal. Karena itu, ada yang mengatakan, untuk menentukan ada beberapa silabel pada sebuah kesatuan runtunan bunyi kita lihat saja ada beberapa bunyi vokal yan terdapat di dalamnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi obyek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4. 1 FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut proses terjadinya bunyi bahsa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu : fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris, disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat – alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi – bunyi itu diklasifikasikan.

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagi peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi – bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya.

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik altikultoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi – bunyi bahsa yang terjadi pad alat – alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidk biasa disebut “ bunyi gigi” atau “ bunyi bibir”, melainkan bunyi dental dan bunyi labial, yakni istilah bentuk ajektif dari bahsa latinnya.

Selanjutnya, sesuai dengan bunyi bahsa itu dihasilkan, maka harus kita gabungkan istilah dari dua nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas; labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas; dan laminopalatal yaitu gabungan antara dun lidah dengan langit – langit keras.

4. 1. 2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkalan tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka. Setelah melalui pita suara, yang merupakan jalan satu-satunya untuk bisa keluar, entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara yang dari paru-paru keluar tanpa mendapat hambatan apa-apa, selain barangkali bunyi napas. Hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat yang paling di dalam, yaitu pita suara, sampai tempat yang paling luar, yaitu bibir atas dan bawah.

Kalau posisi pita suara terbuka, maka tidak akan terjadi bunyi bahasa. Posisi ini adalah posisi untuk bernapas secara normal. Kalau pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (voiceless). Kalau pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara (voice). Kalau pita suara tertutup rapat, maka akan terjadilah bunyi hamzah atau global stop.

Dalam proses artikulasi ini, biasanya, terlibat dua macam artikulator, yaitu artikulator aktif dan artikulator pasif. Yang dimaksud dengan artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak atau digerakkan, misalnya, bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. Sedangkan yang dimaksud artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulator aktif, misalnya, bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras.

Keadaan, car, atau posisi bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur. Dalam hal ini ada beberapa striktur, ada yang strikulator aktif hanya menyentuh sedikit artikulator pasif itu, ada yang merapat, tetapi ada juga artikulator aktif itu sesudah menyentuh artikulator aktif, lalu dihempaskan kembali ke bawah. Jenis striktur akan melahirkan jenis bunyi yang berbeda.

4. 1. 3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang ditambah sejumlah tanada diakritik dan sejumlah modofikasi terhadap huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau huruf yang digunakan melambangkan satu bunyi bahasa. Atau, dibalik, setiap bunyi bahasa, sekecil apapun bedanya dengan bunyi yang lain, akan juga dilambangkan hanya dengan satu huruf atau lambang.

Kalau dalam tulisan fonetik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang supersegmental, dilambangkan secara akurat, artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaannya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonetik hanya perbedaaan bunyi yang distingif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya.Bunyi-bunyi yang mirip tetapi tidak membedakan makna kata tidak diperbedakan lambangnya. Selain tulisaan fonetik, ada tulisan lain, yaitu tulisan ortografi. Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam suatu masyarakat suatu bahasa.

4. 1. 4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-pertama dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya vokal dan konsonan adalah; arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa; sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4. 1. 4. 1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya bunyi [i] dan [u]; vokal tengah , misalnya, bunyi [e] dan [o]; dan vokal rendah, misalnya, bunyi [a]. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya, bunyi [i] dan [e], vokal pusat; misalnya, bunyi [o]; dan vokal belakang, misalnya, bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya, bunyi [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak membundar, melainkan melebar, pada waktu mengucapkan vokal tersebut, misalnya, vokal [i] dan vokal [e].

4. 1. 4. 2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut vokal diftong atau rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya. Namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam satu silabel.

Diftong serring dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga adanya diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua; sebaliknya disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

Diftong naik atau diftong turun vukan ditentukan berdasarkan posisi lidah, melainkan didasarkan atas kenyaringan (sonoritas) bunyi itu. Kalau sonoritasnya terletak di muka atau pda unsur yang pertama, maka dinamakan diftong turun; kalau sonoritasnya terletak pada unsur kedua, maka namanya diftong naik.

4. 1. 4. 3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdaasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Tempat artikulasi tidak lain daripada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi itu. Berdasrkan tempat artikulasinyakita mengenal antara lain, konsonan :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [p], dan [m].

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>labiodental, yakni konsonan yang terjadi pad gigi bawah dan bibir atas; gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; dalam hal ini, daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoveolar adalah bunyi [t] dan [d].

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>dorsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atu langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atu hambatan yang dildkukan terhadap arus udara itu, dapatlah kita bedakan adanya konsonan :

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>hambat (letupan, plosif, stop). Disini artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan ini, antara lain, bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Geseran atau frikatif. Di sini artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh yang termasuk konsonan geseraan adalah bunyi [f], [s], dan [t].

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Paduan atau frikatif. Di sini artilulator aktif menghambat sepenuhnyaa aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan membentuk artikulator pasif. Cara ini merupakaan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk konsonan paduan, antara lain, bunyi [c], dan [j].

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Sengauan atau nasal. Di sini artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasaal adalah bunyi [m],dan [n]

<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Getaran atu trill. Di sini artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contohnya adalah konsonan [r].

<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Sampingan atau lateral. Di sini artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut; lalu membiarkan udaraa keluar melalui samping lidah. Contohnya adalah [r].

<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Hampiran atau aproksiman, di sini artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonaan geseran.

4. 1. 5 Unsur Suprasegmental

Sudah disebutkan di muka bahwa arus ujaran merupakan suatu runtunan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.

4. 1. 5. 1 Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.

4. 1. 5. 2 Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah.

4. 1. 5. 3 Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena ada hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat pebyh dan dapt juga bersifat sementara.

Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, yang menjadi puncak selabel, terjadi karena adanya ruang resonansi yang berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain, di dlam kepala dan dada.

Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan ortografi.

4. 2. FONEMIK

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya, objek penelitian foneti adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4. 2. 1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari satuan bahasa, biasnya sebuah, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah bunyi fenom, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahsa itu.

4. 2. 2 Alofon

Sebuah fonem disebut juga alofon. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu, sebab seperti juga sudah dibicarakan di atas.

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita melihatnya dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersikap komplementer, mungkin juga bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau biasa disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan. Distribusi komplementer ini bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Dalam hal distribusi bebas ini ada oposisi bunyi yang jelas merupakan dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, tetapi dalam pasangan yang lain ternyata hanya merupakan varian bebas. Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersidat abstrak karena fonem ini hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu.

4. 2. 3 Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan fonem konsonan ini agak terbatas.

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional, alias dapat membedakan makna.

Kalau kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penamaan fonem pun sama dengan penamaan bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar, maka juga ada atau akan ada fonem vokal depan tinggibundar; kalau ada bunyi konsonan hambat bilabial bersuara, maka juga ada atau akan ada fonem konsonan hambat bilabial bersuara.

4. 2. 4 Khazanah Fonem

Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4. 2. 5 Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Dalam bahasa-bahasa dada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain.

4. 2. 5. 1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4. 2. 5. 2 Netralisasi dan Arkifonem

Sudah dibicarakan di muka bahwa fonem mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata.

4. 2. 5. 3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

4. 2. 5. 4 Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4. 2. 5. 5 Metatesis dan Epetetis

Proses metatesis buka mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut variasi. Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakn di atas hanya terjadi pada bahas-bahasa tertentu, yang tidak harus terjadi pad bahasa lain.

4. 2. 6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama.

Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon, yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s