Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Eviana rahmatika;1402408101 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 4:28 pm

Eviana

rahmatika_1402408101_bab 4_BI_linguistik

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

FONOLOGI

Fonologi adalah bidang linguistik yaitu bidang yang membicarakan,menganalisis dan mempelajari runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Fonologi dibagi menjadi dua:

4.1. Fonetik

yaitu mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Contoh fonetik:intan,angin,batik,/i/ pada kata tersebut tidak sama.

Sedangkan fonetik sendiri dibagi menjadi tiga:

· Fonetik artikulatoris yaitu fonetik organis atau fonetik fisiologis mempelajari mekanisme alat bicara manusia sehingga menghasilkan bahasa dan bagaimana bunyi diklasifikasikan.

· Fonetik akustik yaitu mempelajari bunyi bahasa sebagaimana fenomena alam untuk diselidiki getaran,amplitudo,intentitas.dan timbrenya.

· Fonetik auditoris yaitu mempelajari mekanisme penerimaan bunyi bahasa oleh telinga kita,

sedangkan paling berkenaan dengan linguistik adalah fonetik artikulatoris,fonetik akustik berhubungan dengan fisika dan fonetik auditoris berhubungan dengan kedokteran(neurologi)

penutur pendengar

(alat-alat bicara) getaran udara fonetik auditoris

Fonetik artikulatoris fonetik akustik kedokteran

Linguistik fisika

4.1.1. Alat ucap

Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dikenal dengan bunyi dental dan bunyi labial.Sedangkan bunyi dental danbunyi labial yakni istilah berupa bentuk ajektif dari bahasa latinnya.Anggota tubuh yang sering digunakan sebagai alat ucap yaitu:

· pangkal tenggorok(laringal)

· rongga kerongkongan (faringal)

· pangkal lidah(dorsal)

· tengah lidah(medial)

· daun lidah(laminal)

· ujung lidah (apikal)

· anak tekak (uvular)

· langit-langit (velar)

· langit-langit keras (palatal)

· gusi(alveolar)

· gigi (dental)

· bibir (labial)

untuk penamaan:contoh pada bagian ujung lidah dengan gigi atas namanya menjadi apikodental proses fonasi.

4.1.2. PROSES FONASI

Udara dari paru-paru pangkal tenggorok rongga mulut atau rongga hidung

ada empat macan posisi pita suara yaitu:

· Terbuka lebar (tidak terjadi bunyi bahasa dalam posisi bernafas).

· Terbuka agak lebar (bunyi tak bersuara).

· Terbuka sedikit (bersuara).

· Tertutup rapat (bunyi hamzah atau glotal stop).

Tempat terjadinya bunyi bahasa disebut tempat artikulasi

Artikulasi ada dua macam:

· Bunyi tunggal yaitu hasil proses artikulasi.

· Bunyi ganda yaitu dua buah bunyi lahir dalam dua prosesartilulasi yang berangkaian.pada bunyi ganda terdapat artikulasi kedua atau artikulasi sertaan yang disebut:

o Labialisasi yaitu membulatkan bentukm mulut.

o Patalisasi yaitu menaikkan bagian depan lidah.

o Velarisasi yaitu artikulasi susulan dengan menaikkan belakang lidah kearah langit-langit lunak.

o Faringalisasi yaitu menarik lidah kebelakang kearah faring.

sedangkan artikulator ada dua macam yaitu:

· Artikulator aktif yaitu alat ucap yang dapat digerakkan.

· Artikulator pasif yaitu alat ucap yang tidak dapat digerakkan.

Striktur adalah bertemunya artikulator aktif dengan artikulator pasif.

4.1.3. Tulisan fonetik

Tulisan ini dibuat untuk studi fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf aksara latin ditambah tanda diakritik dan modifikasi,

contoh:huruf vokal “e” pada kata kera dan sate berbeda.

4.1.4. Klasifikasi bunyi

Tergantung pada pita suara.

4.1.4.1 Klasifikasi vokal

Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

4.1.4.2 Diftong atau vokal rangkap

Artinya bagian awal dan akhirnya tidak sama dan menghasilkan satu bunyi.

4.1.4.3 Klasifikasi konsonan

Dibedakan menjadi tiga yaitu:

· berdasarkan posisi pita suara:

suara,

tak bersuara.

· berdasarkan tempat artikulasi:

bilabial,

labiodental,

laminoalveolar,

dorsovelar.

· berdasarkan cara artikulasi:

hambat,

geseran,

paduan,

sengauan,

getaran,

sampingan,

hampiran

4.1.5. Unsur suprasegmental terdiri dari:

· Tekanan atau stress (menyangkut keras lunaknya bunyi).

· Nada atau pitch (menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi)

· Jeda atau persendian (terjadi perhentian dan persambungan).

4.1.6. SILABEL

Silabel atau suku kata yaitu kesatuan-kesatuan runtutan bunyi.

Contoh :iapergimainsepakbola

iapergi mainsepakbola

ia pergi main sepak bola

Contoh: meninggalkan,kita lihat ada terdapat empat buah vokal,yaitu[e,i,a,a],maka dapat dikatakan ada empat buah silabel.

4.2. Fonemik

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.jika bunyi berbeda makna disebut fonem,jika tidak maka bukan fonem,contoh:baru dan paru berbeda pada p dan b sebab beda makna

4.2.1. Identifikasi fonem

Contoh:bahu berbeda dengan baku,karena masing-masing adalah fonem berlainan yaitu fonem k dan fonem h.Fonem dalam sebuah bahasa mempunyai beban fungsional yang tinggi tetapi ada pula yang rendah,yang memiliki beban fungsional yang tinggi artinya banyak ditemui pasangan minimal yang mengandung fonem tersebut,

contoh:lawan dan rawan (beban fungsional tinggi),

contoh:sakat dan sa?at (beban fungsional rendah).

4.2.2. Alofon

Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem

tentang distribusinya mungkin:

· Bersifat komplementer yaitu distribusinya saling melengkapi.

· Bersifat distributif bebas yaitu bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

4.2.3. Klasifikasi fonem

Fonem-fonem yang berupa bunyi,yang dapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental .Fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.

4.2.4. Khazanah fonem

Yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.Contoh:bahasa Indonesia mempunyai 6 buah fonem.

4.2.5. Perubahan fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungan.

4.2.5.1. Asimilasi dan disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa perubahan sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain akibat dari bunyi yang ada dilingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.Kalau perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem,maka perubahan itu disebut asimilasi fonemis.Kalau perubahan itu tidak menyebabkab berubahnya identitas sebuah fonem,maka perubahan itu bukan asimilasi fonemis,melainkan asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis.Biasanya dibedakan:

· Asimilasi progresif (yang diubah itu terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhinya).

· Asimilasi regresif (bunyi yang diubah itu terletak dimuka bunyi yang mempengaruhinya).

· Asimilasi respiroka (perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi itu sehingga menjadi bunyi yang lain).

4.2.5.2. Netralisasi dan arkifonem

Oposisi antara bunyi /d/ dan /t/ adalah antara bersuara dan tak bersuara.Pada posisi akhir oposisi dinetralkan menjadi tak bersuara itu adalah hasil netralisasi.Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3. Umlaut,ablaut,dan harmoni vokal

Umlaut berasal dari bahasa jerman yang artinya perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikut yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4.2.5.4. Kontraksi

Yaitu pemendekan satu segmen.Dalam pemendekan yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih,ada yang berupa kontraksi.

4.2.5.5. Metatesis dan epentesis

Mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata disebut metatesis.dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu,biasanya yang homogran dengan lingkungannya,disisipkan dalam sebuah kata.

4.2.6. Fonem dan grafem

Fonem yaitu bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

Grafem yaitu huruf yang digunakan dari aksara latin.

NAMA :EVIANA RAHMATIKA

NIM :1402408101

BAB:4

 

One Response to “Eviana rahmatika;1402408101”

  1. Nanang Sholikhin Says:

    kenapa kita harus menerapkan transkpipsi berbeda dalam kajian fenotik dan fenomenis?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s