Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

EPRI NURROHMAN 1402408091 BAB VI TATARAN LINGUISTIK = SINTAKSIS Oktober 24, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 7:18 pm

NAMA : EPRI NURROHMAN

NIM : 1402408091

ROMBEL : 3

BAB VI

TATARAN LINGUISTIK (3) :

SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik secara tradisional (tata bahasa / gramatikal). Sintaksis ini membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain / unsur-unsur lain sebagai suatu ujaran. Secara etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama kata-kata menjadi kelompok kata / kalimat. Dalam pembahasan sintaksis yang dibicarakan adalah :

  1. Struktur sintaksis (fungsi, kategori, dan peran sintaksis, serta alat-alat yang digunakan dalam membangun struktur itu).
  2. Satuan-satuan sintaksis ( kata, frase, klausa, kalimat dan wacana).
  3. Hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis (modus, aspek dsb).

6.1 Struktur Sintaksis

Struktur sintaksis membicarakan tentang fungsi, kategori dan peran sintaksis. Pertama, fungsi sintaksis meliputi subjek, predikat, objek dan keterangan. Kedua, kategori sintaksis meliputi nomina, verba, ajektiva dan numeralia. Sedangkan ketiga, peran sintaksis meliputi pelaku, penderita, dan penerima. Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (K).

Banyak pakar mengatakan struktur sintaksis minimal mempunyai fungsi subjek dan fungsi predikat. Bahkan, para ahli tradisional berpendapat bahwa fungsi subjek diisi dengan kategori nomina, fungsi predikat diisi oleh kategori verba, fungsi objek diisi oleh kategori nomina, dan fungsi keterangan diisi oleh kategori adverbia. Namun hal ini perlu dikaji ulang disini struktur sintaksis berkaitan dengan makna gramatikal yang dimiliki. Fungsi-fungsi sintaksis sangat tergantung pada tipe / jenis kategori yang mengisi predikat. Alat sintaksis keempat adalah konektor berupa morfem / gabungan morfem yang merupakan kelas tertutup.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis. Pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase, klausa, dan kalimat. Kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis. Ada 2 macam kata :

  1. Kata penuh merupakan kelas terbuka yang memiliki makna ( nomina, verba, ajektiva, adverbia dan numeralia).
  2. Kata tugas merupakan kelas tertutup yang tidak mempunyai makna ( preposisi dan konjungsi.

Disini kata penuh sajalah yang dapat mengisi fungsi-fungsi sintaksis.

6.3 Frase

Frase merupakan satuan gramatikal yang bersifat nonprediktif / gabungan kata

yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Frase tidak dapat dipin

dahkan “sendirian” dan berpotensi menjadi kalimat minor.

6.3.2 Jenis Frase

Ada beberapa jenis-jenis frase yaitu :

1. Frase Eksosentrik : frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Frase ini dibedakan atas frase yang direkif dan frase yang nondirektif.

2. Frase Endosentrik : frase yang salah satu unsurnya / komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu komponennya dapat menggatikan kedudukan keseluruhannya.

3. Frase Koordinatif : frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen / lebih yang sama dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif.

4. Frase Aposit : frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya sehingga dapat dipertukarkan.

6.3.3 Perluasan Frase

Salah satu ciri frase itu dapat diperluas, perluasan frase ini tampaknya

sangat produktif karena konsep-konsepnya khusus. Perluasan ini

dilakukan secara bertahap.

6.4 Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi

prediktif. Konstruksi itu ada komponenberupa kata / frase. Klausa ini berpotensi

menjadi kalimat tunggal dan mayor.

6.4.2 Jenis Klausa

Jenis klausa yang dibedakan menurut strukturnya dan kategori

segmental menjadi predikatnya. Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan:

1. Klausa bebas : klausa yang unsurnya lengkap ( subjek dan predikat)

2. Klausa terikat : memiliki struktur tidak lengkap

Berdasarkan unsur segmental dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial dan klausa preposisional.

6.5 Kalimat

Kalimat merupakan satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa sebagai

alat interaksi dan kelengkapan pesan / isi yang akan disampaikan. Sehingga

kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran lengkap.

6.5.2 Jenis Kalimat

Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria / sudut

pandang sehingga banyak sekali istilah untuk menamakan jenis-jenis

kalimat itu :

1. Kalimat Inti dan Kalimat Non Inti

2. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

3. Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

4. Kalimat Verbal dan Kalimat Non Verbal

5. Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

6.5.3 Intonasi Kalimat

Intonasi merupakan salah satu alat sintaksis yang penting, intonasi ini

dapat berwujud tekanan, nada dan tempo. Ketiga unsur suprasegmental itu

dapat membedakan makna kata karena berlaku sebagai fonem. Intonasi

merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dengan klausa.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus dan Diatesis

Keenam istilah ini saling berkaitan dan sering dikelirukan.

1. Modus : pengungkapan / penggambaran suasan psikologis menurut tafsiran si pembicara.

2. Aspek : cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan / proses.

3. Kala : infomasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan yang disebutkankan di dalam predikat.

4. Modalitas : keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.

5. Fokus : unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar pada bagian itu.

6. Diatesis : gambaran hubungan antara pelaku / peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.

6.6 Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap sehingga hierarki gramatikal

merupakan satuan gramatikal tertinggi / terbesar. Dalam suatu wacana harus ada

keserasian hubungan antara unsur-unsur dalam wacana.

6.6.2 Alat Wacana

Wacana disebut baik kalau wacana itu kohesif dan koheren. Alat-alat

gramatikal yang dapat digunakan membuat wacana yang kohesif:

1. Konjungsi ( alat untuk menghubungkan bagian kalimat )

2. Kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforsis

3. Elipsis ( penghilangan bagian kalimat yang sama )

Selain itu agar wacana kohesif dapt dibuat dengan bantuan berbagai

aspek semantik :

a. menggunakan hubungan pertentangan

b. menggunakan hubungan generik-spesifik

c. menggunakan hubungan perbandingan

d. menggunakan hubungan sebab-akibat

e. menggunakan hubungan tujuan di dalam isi wacana

f. menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua hubungan kalimat.

6.6.3 Jenis Wacana

Dalam pelbagai kepustakaan ada disebutkan pelbagai jenis wacana

sesuai dengan sudut pandang dari wacana itu dilihat.

6.6.4 Subsatuan Wacana

Wacana ini merupakan satuan “ide” dan “pesan” yang disampaikan

kepada pendengar / pembaca tanpa keraguan. Wacana itu dibangun oleh

sub-subsatuan wacana yang disebut bab, subbab, paragraf / subparagraf.

6.7 Catatan Mengenai Hierarki Satuan

Dalam pembicaraan tentang wacana kiranya urutan hierarki itu adalah

urutan normal teoritis. Tapi dalam praktiknya terjadi penyimpangan urutan. Jadi

jika dibuat urutan yang benar sebagai berikut:

wacana

kalimat

klausa

frase

kata

morfem

fonem

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s