Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Dita_Priska_Pravita_Sari-1402408072-BAB_3 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 7:08 pm

Dita Priska Pravita Sari

1402408072

Rombel 3

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK : BAHASA

1. Pengertian Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

2. Hakikat Bahasa

Ü Bahasa sebagai sistem

Bahasa sebagai sistem yaitu bahasa terdiri dari unsur-unsur/komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan.

Bahasa bersifat sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan.

Bahasa bersifat sistemik yaitu bahasa bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem atau sistem bawahan.

Sub-sub sistem tersebut adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik.

Tataran pragmatik yaitu kajian yang mempelajari penggunaan bahasa dengan pelbagai aspeknya, sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia.

Ü Bahasa sebagai lambang

Ilmu semiatika/semiologi yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa.

Tanda menandai sesuatu secara langsung dan alamiah.

Lambang menandai sesuatu secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung.

Tanda-tanda lain dalam objek semiotika adalah:

* Sinyal/Isyarat tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

* Gerak isyarat/geture tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan, tidak bersifat imperatif seperti sinyal.

* Gejala/sympton tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud, tapi alamiah menunjukkan/mengungkapkan sesuatu akan terjadi.

* Ikon tanda/gambar dari wujud yang diwakilinya.

* Indeks tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api.

Ciri kode sebagai tanda adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

Ü Bahasa adalah bunyi

Bahasa merupakan lambang yang wujudnya bunyi. Bunyi bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa yang primer adalah yang diucapkan dari alat ucap manusia. Bahasa sekuder adalah bahasa tulisan.

Ü Bahasa itu bermakna

Bahasa dikatakan mempunyai makna sebab mempunyai fungsi yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pikiran. Berdasarkan perbedaan tingkatannya, makna bahasa dibedakan menjadi:

* Makna leksikal: makna yang berkenaan morfem/kata.

* Makna gramatikal: makna yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat.

* Makna pragmatik: makna yang berkenaan dengan wacana.

Ü Bahasa itu arbitrer

Adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep/pengertian yang dimaksud oleh lambagn tersebut.

Ü Bahasa itu konvensional

Artinya semua anggota masyarakat bahasa ini mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

Ü Bahasa itu produktif

Maksudnya meski unsur bahasa itu terbatas tetapi dengan jumlah unsur yang terbatas dapat dibuat satuans bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa

Ü Bahasa itu unik

Artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau sistem-sistem lainnya.

Ü Bahasa itu universal

Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri universal bahasa: bahasa mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

Ü Bahasa itu dinamis

Artinya bahasa ikut berubah sesuai dengan kehidupan dalam masyarakan yang tidak tetap dan selalu berubah.

Ü Bahasa itu bervariasi

Bahasa menjadi bervariasi sebab latar belakang dan lingkungannya tidak sama. Variasi bahasa meliputi:

a. Idialek : variasi bahasa yang bersifat perseorangan.

b. Dialek : variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.

c. Ragam: variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu.

Ü Bahasa itu manusia

Artinya alat komunikasi manusia yang namanya bahasa tersebut hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

3. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

Ü Masyarakat bahasa

Masyarakat bahasa artinya sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

Ü Variasi dan status sosial bahasa

Bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa sangat beragam dan bahasa digunakan untuk keperluan yang beragam.

Diglosia: perbedaan variasi bahasa T dan bahasa R, masyarakat yang mengadakan perbedaan disebut masyarakat diglosis.

Ü Penggunaan bahasa

Dalam penggunaan bahasa tidak hanya mematuhi kaidah gramatikal, karena bahasa yang digunakan mungkin tidak diterima dalam masyarakat. Unsur yang diperhatikan dalam suatu komunikasi menggunakan bahasa menurut Hymes:

a. Setting and Scene: berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan,

b. Paticipants: orang-orang yang terlibat dalam percakapan,

c. Ends: maksud dan hasil percakapan

d. Act Sequences: hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan,

e. Key: menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan,

f. Instrumentalities: menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan,

g. Norms: menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan,

h. Genres: menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

Ü Kontak bahasa

Adalah anggota dari masyarakat dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain. Akibat adanya kontak bahasa:

a. Interferensi: terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah bahasa yang sedang digunakan.

b. Integrasi: unsur bahasa lain terbawa masuk, sudah dianggap, diperlukan dan dipakai sebagai bagian bahasa yang menerimanya.

c. Alih kode: beralihnya penggunaan suatu kode dalam kode yang lain.

d. Campur kode: 2 kode/lebih digunakan tanpa alasan, terjadi dalam situasi santai.

Ü Bahasa dan budaya

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir – Whorf) menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan/bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

4. Klasifikasi Bahasa

Menurut Greenberg klasifikasi mempunyai syarat yaitu non-arbitrer (tidak bolah semaunya, harus ada kriteria), ekshautik (tidak ada lagi sisanya) dan unik.

Jenis klasifikasi:

Ü Klasifikasi genetis/geneologis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa bahasa itu yaitu diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Bahasa-bahasa yang ada di dunia ini terbagi dalam sebelas rumpun besar, yaitu:

1. Rumpun Indo-Eropa

2. Rumpun Hamito-Semit

3. Rumpun Chari-Nil

4. Rumpun Dravida

5. Rumpun Austronesia (Melayu Polinesia)

6. Rumpun Kaukasus

7. Rumpun Finno-Ugris

8. Rumpun Paleo Asiatis (Hiperbolis)

9. Rumpun Ural-Altai

10. Rumpun Sino-Tibet

11. Rumpun Bahasa-Bahasa Indian.

Klasifikasi ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif yakni memecah dan menyebar menjadi banyak. Pada masa mendatang kemungkinan besar akan ada bahasa-bahasa yang mati ditinggal penuturnya dan beralih menggunakan bahasa lain yang lebih menguntungkan.

Ü Klasifikasi tipologis

Dilakukan berdasarkan kesamaan tipe/tipe-tipe yang terdapat dalam sejumlah bahasa. Hasil klasifikasi ini menjadi bersifat arbitrer karena tidak terikat oleh tipe tertentu, namun masih tetap ekshautik dan unik. Klasifikasi pada tataran morfologi pada abad XIX dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Klasifikasi pertama menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.

2. Kelompok kedua menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3. Kelompok ketiga menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.

Pada abad XX, Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954) mengklasifikasikan bahasa dengan menggunakan tiga parameter yaitu:

1. Konsep-konsep gramatikal.

2. Proses-proses gramatikal.

3. Tingkat penggabungan morfem dalam kata.

Ü Klasifikasi areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.

Ü Klasifikasi sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri atau kriteria yaitu:

1. Historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa/sejarah pemakaian bahasa itu.

2. Standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku.

3. Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktiv atau tidak.

4. Homogenesitas berkenaan dengan apakan leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

5. Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Bahasa tulis sebenarnya merupakan rekaman bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya untuk disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu berbeda. Bahasa tulis dibuat dengan pertimbangan dan pemikiran agar tidak terjadi kesalahan karena dalam bahasa tulis tidak ada intonasi, tekanan dan mimik.

* Piktograf gambar-gambar dengan bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud/konsep yang ingin disampaikan dan sebagai sistem tulisan.

* Ideograf piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep.

* Aksara silabis sistem yang menggambarkan suku kata.

Aksara Latin tiba di Indonesia sekitar abad XVI bersamaan dengan penyebaran agama Kristen oleh orang Eropa. Sebelum tulisan Romawi atau Latin tiba di Indonesia, berbagai bahasa di Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, bahasa Makasar, bahasa Lampung, bahasa Batak, dan bahasa Sasak.

 

One Response to “Dita_Priska_Pravita_Sari-1402408072-BAB_3”

  1. Siti Asrofah Says:

    Menurut pendapat saya resume Anda terlalu panjang dan berlebihan, lebih baik dipersingkat kembali.

    pertanyaan saya untuk Anda:
    “Apa perbedaan hakikat bahasa yang abriter dan produktif serta berikan contoh yang konkret?”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s