Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

ANI INDRIAWATI_ Oktober 24, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:46 pm

ANI INDRIAWATI

( 1402408121 )

BAB 4. TATARAN LINGUISTIK (1)

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, maka kita akan mendengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus; kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang terdengar tekanan keras atau lembut, terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa. Runtunan bunyi bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda.

(1) [Kedua orang itu meninggalkan ruang sidang meskipun rapat belum selesai]

Pada tahap pertama, runtutan bunyi itu dapat disegmentasikan berdasarkan adanya jeda atau hentian yang paling besar menjadi:

(1a) [Kedua orang itu meninggalkan ruang sidang]

(1b) [Meskipun rapat belum selesai]

Runtutan bunyi itu dapat disegmentasikan sampai tahap-tahap berikutnya sehingga sampai pada kesatuan-kesatuan runtunan bunyi yang disebut silabel atau suku kata, misal [meninggalkan], maka kita dapati silabel [me], [ning], [gal], dan [kan].

Silabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi, secara etimologi, fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu.

Satuan bunyi yang menjadi objek studi fonologi:

1) Fonetik

Cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperha-tikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

2) Fonemik

Cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

A. FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu:

1. Fonetik Artikulatoris/fonetik organis/fonetik fisiologis

Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi diklasifikasikan.

2. Fonetik Akustik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.

3. Fonetik Auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

A.1. Alat Ucap

Alat ucap manusia digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Sesuai bunyi bahasa dihasilkan maka gabungkan istilah dua nama alat ucap itu misal bunyi apikodental, gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas.

A.2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru ke pangkal tenggorokan yang terdapat pita suara berdasarkan dengan hambatan pada pita suara.

1. Pita suara terbuka lebar, tidak akan terjadi bunyi bahasa

2. Pita suara terbuka agak lebar, terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara.

3. Pita suara terbuka sedikit, terjadi bunyi bahasa disebut bunyi bersuara.

4. Pita suara tertutup rapat, terjadi bunyi hamzah atau global stop.

Tempat bunyi bahasa terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya proses artikulasi, alat-alat yang digunakan disebut artikulator.

Ada dua macam artikulator, yaitu:

a) Artikulator aktif

b) Artikulator pasif

Contoh artikulator aktif pada ujung lidah merapat pada gigi atas, akan terjadi bunyi apikodental yaitu bunyi /t/ dan /d/

Keadaan, cara, atau posisi bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur. Ada beberapa macam striktur, ada strikulator aktif.

A.3. Tulisan Fonetik

Ada beberapa macam sistem tulisan dan ejaan, tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis dan sistem aksara tertentu. Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa, selain itu setiap bunyi yang segmental maupun suprasegmental dilambangkan secara akurat. Sedangkan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif saja, yakni membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya.

A.4. Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

Ÿ Klasifikasi vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

Posisi lidah bersifat vertikal : – Vokal tinggi : [i] dan [u]

Vokal tengah: [e] dan [a]

Vokal rendah: [a]

Posisi lidah bersifat horizontal: – Vokal depan : [i] dan [e]

– Vokal pusat : (a)

– Vokal belakang: [u] dan [o]

Berdasarkan bentuk mulut : – Vokal bundar : [o] dan [u]

– Vokal tak bundar: [i] dan [e]

Ÿ Diftong atau Vokal Rangkap

Diftong atau vokal rangkap, terjadi karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Contoh diftong dalam bahasa Indonesia adalah [au] pada kerbau dan [ai] pada lantai. Berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya ada diftong naik dan diftong turun.

Diftong berdasarkan kenyaringan (sonoritas) bunyi. Jika sonoritasnya terletak di muka atau pada unsur yang pertama disebut diftong turun. Sedangkan jika sonoritasnya terletak pada unsur kedua namanya diftong naik.

Ÿ Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria.

1. Berdasarkan posisi pita suara, ada bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara. Bunyi bersuara antara lain, bunyi [b], [d], [g] dan [c]. Bunyi tak bersuara antara lain, bunyi [s], [k], [p], dan [t].

2. Berdasarkan tempat artikulasi kita mengenal

a) Bilabial : konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir. Bibir bawah merapat pada bibit atas. Contoh [p] dan [b] adalah bunyi oral, yang dikeluarkan melalui rongga mulut, bunyi [m] bunyi nasal, bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.

b) Labiodental: Konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas gigi bawah merapat pada bibir atas. Contoh bunyi [f] dan [v]

c) Laminoalveolar: Konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi. Contoh bunyi [t] dan [d]

d) Dorsovelar : Konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunah. Contoh bunyi [k] dan [g]

3. Berdasarkan cara artikulasinya, dibedakan adanya konsonan:

a) Hambat (letupan, plosif, stop). Contoh konsonan letupan antara lain bunyi [p], [b], [t], [d], [k] dan [g]

b) Geseran atau frikatif. Contoh bunyi [f], [s] dan [z]

c) Paduan atau frikatif. Merupakan gabungan antara hambatan dan frikatif. Contoh bunyi [c] dan [j]

d) Sengauan atau nasal. Contoh konsonan nasal, bunyi [m], [n] dan [h]

e) Getaran atau trill, getaran bunyi terjadi berulang-ulang. Contoh konsonan [r]

f) Sampingan atau literal. Contoh konsonan [i]

g) Hampiran atau aproksimah. Bunyi yang dihasilkan sering disebut semi vokal, yaitu bunyi [w] dan [y]

A.5. Unsur Suprasegmental

Ujaran merupakan suatu runtutan bunyi yang sambung bersambung terus menerus di selang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur suprasegmental dibedakan atas, seperti di bawah ini.

A.5.1. Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola, mungkin juga bersifat distingtif. Dalam bahasa Inggris bisa distingtif. Contoh kata blackboard, jika tekanan pada unsur black maka bermakna “papan tulis”, kalau pada unsur board “papan hitam”

A.5.2. Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis, tetapi ada juga yang tidak. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada, yaitu:

1. Nada naik atau meninggi / . . . /

2. Nada datar / . . . /

3. Nada turun / . . . /

4. Nada turun naik / . . . /

5. Nada naik turun / . . . /

Nada yang menyertai bunyi segmental di dalam kalimat disebut intonasi.

A.5.3. Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena adanya hentian, disebut persendian karena di tempat perhentian itu terjadi persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Sendi dibedakan atas sendi dalam atau internal juncture dan sendi luar atau open juncture. Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain, batas silabel dengan tanda tambah (+), contoh: /am + bil/, /lam + pu/

Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel, biasanya dibedakan:

1) Jeda antara kata dalam frase (/)

2) Jeda antarfrase dalam klausa (//)

3) Jeda antar kaliman dalam wacana (#)

Makna kalimat dapat berbeda dengan adanya jeda.

A.6. Silabel

Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas. Sonoritas terjadi karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung atau rongga-rongga lainnya di dalam kepala dan dada. Bunyi vokal disebut bunyi silabis karena ruang resonansinya paling banyak. contohnya kata [dan], [d] dan [n] adalan bunyi konsonan, [a] bunyi vokal sebagai bunyi silabis yang mempunyai ruang resonansi yang lebih besar. Namun konsonan juga bisa menjadi puncak silabis yaitu [y], [g], [a] dan [?]

Batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi dan ortografi. Misalnya kata Indonesia [makan], silabelnya [ma] dan [kan]; tetapi kata [makanan] silabelnya [ma], [ka] dan [nan]. Silabel kata demonstrasi menjadi [de + mons + tra + si] atau [de + mon + stra + si]. Bunyi [s] bisa menjadi onset pada silabel [stra] dan menjadi koda pada dua buah silabel yang berurutan disebut interlude.

Onset adalah bunyi pertama pada sebuah silabel. Koda adalah bunyi akhir pada sebuah silabel, seperti bunyi [n] pada silabel [man].

B. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Dalam fonemik kita meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, maka bunyi itu disebut fonem.

B.1. Identifikasi Fonem

Kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata yang mengandung bunyi, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama, untuk mengetahui sebuah fonem. Jika kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah fonem. Misal kata Indonesia [laba] dan [raba], mempunyai perbedaan pada bunyi yang pertama, yaitu [l] dan bunyi [r]. bunyi [l] dan bunyi [r] adalah dua buah fonem yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.

Untuk membuktikan sebuah bunyi fonem atau bukan haruslah dicari pasangan minimalnya. Misalnya, kata muda dan mudah merupakan pasangan minimal, karena pada kata pertama tidak ada bunyi [h] dan adanya bunyi [h] pada kata kedua. Jadi bunyi [h] adalah fonem.

Dalam bahasa Inggris kata /tap/ dan /stop/ ada fonem /t/ dan fonem /th/ minimal bukan merupakan fonem yang berbeda tapi fonem yang sama.

Fonem dari sebuah bahasa ada yang mempunyai beban fungsional yang tinggi dan rendah. Beban fungsional yang tinggi, artinya banyak ditemui pasangan minimal yang mengandung fonem tersebut. Misalnya pasangan minimal yang mengaposisikan fonem /k/ dan fonem /g/ seperti back: bag, beck: beg, bicker: bigger.

B.2. Alofon

Bunyi /t/ dan /th/ dalam bahasa Inggris bukanlah dua buah fonem yang berbeda, tapi dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama, yaitu fonem /t/. Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem seperti /t/ dan /th/ untuk fonem /t/ bahasa Inggris disebut alofon.

Contoh alofon adalah fonem [i] yang mempunyai empat buah alofon yaitu [i] dalam kata cita, [i] pada kata tarik, bunyi [i] pada ingkar, bunyi [i:] pada kata kali.

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Sedangkan distribusinya bisa bersifat komplementer dan juga bisa bebas. Distribusi komplementer, distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan meskipun dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu.

B.3. Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem hampir sama dengan cara klasifikasi bunyi. Fonem ada fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem-fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi bersifat fungsional, dapat membedakan makna. Dalam bahasa Batak Toba kata tutu bermakna “batu gilas”, sedangkan tutu berarti “betul”. Tekanan dalam bahasa Batak Toba bersifat fungsional atau fonemis. Ciri-ciri prosodi itu seperti tekanan, durasi dan nada. Dalam bahasa Mandarin kata /wei/ bila diberi nada datar berarti “kutu kayu”, kalau diberi nada naik berarti “bahaya”. Dalam bahasa Ticuna di Amazon kata “canamu” mempunyai empat makna

Ÿ ca na mu “Saya menganyamnya”

3 3 3

Ÿ ca na mu “Saya mengirimnya”

3 3 4

Ÿ ca na mu “Saya memohonnya”

3 3 5

Ÿ ca na mu “Saya menambahnya”

3 3 3-5

Unsur durasi atau pemanjangan bersifat fonemis. Contoh tilo “kapur” x ti: lo “ibu”

Tuo “muntah” x tu: o “disembunyikan”

Dalam bahasa Indonesia unsur suprasegmental tampaknya tidak bersifat fonemis maupun morfemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi. Contoh fonem vokal depan tinggi bundar.

B.4. Khasanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain. Ada kemungkinan karena perbedaan tafsiran, maka fonem suatu bahasa tidak sama banyaknya.

Dalam bahasa Indonesia ada yang menghitung hanya 24 fonem, yaitu 6 fonem vokal (a, i, u, e, ә dan o) dan 18 buah fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, h, ך, s, h, r, l, w, dan y. Tapi ada yang menghitung 28 buah dan ada yang 31 buah.

B.5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda karena tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya. Contoh fonem /o/ pada silabel tertutup berbunyi [›] kjalau berada pada silabel terbuka berbunyi [o]. perubahan fonem bisa bersifat fonetis maupun fonem berubah menjadi fonem lain.

B.5.1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Ÿ Sabtu ð [saptu], bunyi [b] berbuah menjadi [p] akibat pengaruh bunyi [t].

Perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem maka perubahan itu disebut asimilasi fonemis. Berubahnya bunyi [b] berubah bunyi [p] pada kata Sabtu merupakan asimilasi fonemis karena memnyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem. Kata Belanda “zakdoek” ucapannya [zag duk] bukan asimilasi fonemis, karena ke bunyi [g] hanya bersifat alofonis.

Asimilasi dibedakan menjadi:

Ÿ Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya.

Ÿ Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya.

Ÿ Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi. Contoh dalam bahasa Batak Toba kata “bereng hamu” menjadi diaucapkan [berek kamu]. Karena bunyi /n/ , /h/, dan /k/ merupakan fonem yang berbeda dalam bahasa Batak, sehingga termasuk asimilasi fonemis.

Disimilasi adalah berubahnya dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. Contoh dalam bahasa Indonesia yaitu kata cipta dan cinta yang berasal dari bahasa Sanskerta citta.

B.5.2. Netralisasi dan Arkifonem

Dalam bahasa Belanda kata “hard” dilafalkan [hart] dan ada kata yang dieja hart diucapkan [hart]. Hal ini terjadi karena dalam bahasa Belanda konsonan hambat bersuara seperti [d] tidak mungkin dan diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara [t]. adanya bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard merupakan hasil netralisasi. Dalam hal ini bukan masalah ejaan, sebab kata hard diberi akhiran –er menjadi harder bukan menjadi harter.

Arkifonem, merupakan peristilahan linguistik bagi suatu fonem pada suatu kata bisa berwujud lainnya yaitu seperti fonem [d] pada kata hard bisa berwujud [t] atau [d]

B.5.3. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya lebih tinggi. Contohnya bunyi [a] pada “handje” lebih tinggi kualitasnya dari bunyi [a] pada kata hand.

Ablaut adalah perubahan vokal yang ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman u/ menandai berbagai fungsi gramatikal. Contoh vokal [a] menjadi /ä/ untuk mengubah bentuk singularis menjadi bentuk pluralis.

Harmoni vokal adalah perubahan bunyi dengan keselarasan vokal yang terdapat dalam bahasa Turki.

B.5.4. Kontraksi

Kontraksi merupakan suatu penyingkatan atau memperpendek ujaran, sehingga dapat menghilangkan sebuah fonem atau lebih. Contoh “tidak tahu” menjadi “ndak tahu”

B.5.5. Metatesis dan Epentesis

Metatesis merupakan proses mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh jalur ada lajur.

Epentesis, proses menyisipkan fonem tertentu yang homorgan dengan lingkungan, ke dalam sebuah kata.

B.6. Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik.

Grafem adalah huruf yang digunakan dari aksara latin.

Contoh:

Fonem Alofon Grafem Contoh

/i/ [i] i i.ni, ni.la

[i] il.ham, ba.tik

 

One Response to “ANI INDRIAWATI_”

  1. Silvia Dyah Puspita Sari Says:

    Mengapa identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s