Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Suyoto_ 1402908216_bab VI Oktober 23, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 2:01 pm

Disusun oleh

S U Y O T O

NIM : 1402908216

Rombel : 5

BAB VI

TATARAN LINGUISTIK (3)

SINTAKSIS

A. Struktur Sintaksis

Secara umum struktur sintaksis terdiri dari Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan Keterangan (K). Misal:

Ari memukul Adi tadi siang.

Dalam kalimat tersebut, Ari memiliki kedudukan sebagai subyek, berkategori nomina, dan memiliki peran sebagai pelaku. Memukul memiliki kedudukan sebagai predikat, berkategori verba, dan memiliki peran aktif. Adi memiliki kedudukan sebagai objek, berkategori nomina, dan memiliki peran sasaran. Sedangkan tadi siang memiliki kedudukan sebagai keterangan, berkategori nomina, dan memiliki peran waktu.

Seecara singkat struktur sintaksis dapat digambarkan sebagai berikut:

Subjek

Predikat

Objek

Keterangan

Fungsi

Sintaksis

Kategori

Sintaksis

Peran

Sintaksis

Dalam Bahasa Indonesia, semua struktur di atas tidak harus semua muncul, tetapi yang harus selalu muncul adalah Subjek dan predikat, adapun objek dan keterangannya bias ada atau tidak tergantung verabnya.

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh alat sintaksis, yaitu urutan kata, bentuk kata, intonasi, dan konektor.

Ø urutan kata adalah posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis.

Ø Bentuk kata merupakam susunan kata-kata yang menyatakan fungsi, peran, dan kategori sintaksis.

Ø Intonasi dalam pembacaan sangat berpengaruh terhadap makna suatu struktur sintaksis.

Ø Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem secara kuantitas. Konektor bertugas menghubungkan kontituen satu dengan yang lain. Konektor dibagi dua, yaitu: 1. Konektor koordinatif yaitu konektor yang menghubungkan 2 kontituen yang sederajat, missal: dan, atau, tetapi. 2. konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah kontituen yang tidak sederajat, missal:kalau, meskipun, karena.

B. Kata Sebagai Satuan Sintaksis

Jika kita membicarakan kata sebagai satuan sintaksis terlebih dahulu kita harus membedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu:

Ø kata penuh (fullword) adalah kata yang secara leksikalmemiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, dan dapat berdiri sendiri sebagai satuan tuturan.yang termasuk kata penuh adalah: kata yang termasuk kategori nomina, verba, ajektiva, adverba, dan numeria.

Ø kata tugas (functionword) adalah kata yang secara leksikal tidak mengalami proses morfologi dan dalam pertuturan tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk adalah kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.

C. Frase

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan akta yang bersifat non predikatif, atau lazim disebut gabungan kata yang mengisi fungsi sintaksis.

Jenis-jenis frase:

Ø Frase Eksosentris aalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Jenis frase ini dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Frase Eksosentris Direktif (Preposisional)yaitu frase yang komponen pertama berbentuk preposisi dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata biasanya berkategori nomina.. 2. Frase Eksosentris Non direktif yaitu fraase yang komponen pertama berupa artikulas (sang, si) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina, adjektiv,dan verba.

Ø Frsa Endosentris adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Missal: sedang membaca.

Ø Frase Koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensi dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif. Misal: sehat dan kuat, makin terang makin baik.

Ø Frase Opositifa adalah frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya. Dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan. Misal: Pak Ali,guru saya, sangat baik bias di tukar Guru saya, Pak Ali, sangat baik.

Perluasan Frase

Perluasan frase dalam Bahasa Indonesia tampak sangat produktif, karena:

· Untuk menyatakan konsep khusus atau sangat khusus, bisanya diterangkan secara leksikal.

· Pengungkapan konsep tidak dinyatakan dengan afiks seperti dalam bahasa fleksi melainkan dinyatakan dalam bentuk leksiakl.

· Keperluan untuk memberi deskripsi secara rinci terhadap suatu konsep.

D. Klausa

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif. Klausa berpotensi menjadi sebuah kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib yaitu subjek dan predikat. Klausa berfungsi menjadi “pengisi” kalimat, baik kalimat tunggal maupun majemuk.

Jenis-jenis Klausa:

· berdasarkan strukturnya: 1. klausa bebas yaitu klausa yang mempunyai unsure lengkap yang berpotensi menjadi kalimat. 2. klausa terikat yaitu klausa yang mempunyai dtruktur tidak lengkap.

· Berdasarkan Kategori segmental:

Klausa bebas yaitu klausa yang predikatnya berkategori verba.

Klausa Nominal yaitu klausa yang predikatnya berupa nomina

Klausa Ajektiva yaitu klausa yang predikatnya berkategori ajektif.

Klausa Adverbal yaitu klausa yang predikatnya berkategori adverbial.

Klausa Preposisional yaitu klausa yang predikatnya berkategori preposisi.

E. Kalimat

Kalimat adalah suatu satuan yang langsung dapat digunakan dalam berbahasa.

a. Jenis-jenis kalimat:

· Kalimat Inti (dasar) dan kalimat Non imti

· Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

1. Kalimat Tunggal yaitu kalimat yang klausanya hanya satu.

2. Kalimat Majemuk yaitu kalimat yang klausanya lebih dari satu yang biasanya dihubungkan dengan konjungsi atau tanda hunbung.

· Kalimat Mayor dan Minor

Perbedaan kalimat mayor dan minor didasarkan atas lengkap tidaknya. Jika lengkap disebut mayor, jika tidak lengkap disebut minor.

· Kalimat Verbal dan Non verbal

1. Kalimat Verbal yaitu kalimat yang dibentuk oleh klausa verbal.

2. Kalimat Non verbal yaitu kalimat yang dibentuk oleh klausa nonverbal.

· Kalimat Bebas dan Terikat

1. Kalimat Bebas yaitu kalimat dalam suatu paragraph yang memiliki potensi menjadi ujaran lengkap, dapat dipahami tanpa adanya kalimat pendukung.

2. Kalimat terikat yaitu kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap harus diikuti kalimat pendukung.

b. Intonasi Kalimat

Dalam Bahasa Indonesia, Intonasi berupa tekanan, nada dan tempo.

1. Tekanan adalah cirri-ciri supresegmental yang menyertai bunyi ujaran.

2. Nada adalah unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan tingkat kenyaringan.

3. Tempo adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran.

Intonasi merupakan cirri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa.

c. Modus, Aspek, Kala, Modeliotas, Fokus, dan Deatesis

1. Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Macam-macam modus:

Ø Modus Deklaratif; modus yang menyatakan sikap obyektif.

Ø Modus Optatif; modus yang menunjukkan harapan, keinginan.

Ø Modus Imperatif; modus yang menyatakan perintah.

Ø Modus Interogatif; modus yang menyatakan pertanyaan.

Ø Modus Obligasi; modus yang menyatakan keharusan.

Ø Modus Desideratif; modus yang menyatakan kemauan

Ø Modus Konditional; modus yang menyatakan persyaratan

2. Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, atau proses. Macam-macam aspek:

Ø Aspek Kontinuatif; menyatakan perbuatan terus berlangsung.

Ø Aspek Inseptif;menyatakan kejadian barun mulai.

Ø Aspek Progresif; menyatakan perbuatan sedang berlangsung.

Ø Aspek Repetitif; menyatakan perbuatan terjadi berulang-ulang.

Ø Aspek Perfektif; menyatakan perbuatan sudah selesai.

Ø Aspek Imperfektif; menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.

Ø Aspek sesatif; menyatakan perbuatan berakhir.

3. Kala atau tense adalah informasi dalam kaliomat yang menyatakan waktu, terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

4. Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan atau juga sikap terhadap lawan bicara.

5. Fokus adalah unsurn yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar tertuju pada bagian itu.

6. Diatesis adlah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.. macam-macam diatesis:

Ø Diatesis aktif; jika subjek yang berbuat.

Ø Diatesis pasif; jika subjek menjadi sasaran perbuatan.

Ø Diatesis Reflektif; jika subjek berbuat terhadap dirinya sendiri.

Ø Diatesis Resiprokal; jika perbuatan subjek ganda yang melakukan tindakan berbalasan..

Ø Diatesis Kausatif; jika subjek menjadi penyebab.

F. WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Dalam wacana terdiri dari konsep, gagasan, pikiran, atau ideyang utuh yang dapat dipahami pembaca tanpa keraguan.

A. Alat Wacana

Alat-alat Gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain:

1. Konjungsi yaitu alat penghubung dua kalimat atau paragraph.

2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.

3. menggunakan Elipsis; penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat lain.

B. Jenis Wacana

Jenis Wacana: Wacana lisan dan wacana tulis.(dilihat dari sasaran), wacana prosa dan wacana puisi (dilihat dari pembagiannya), wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi, wacana argumentasi (dilihat dari penyampaian wacana prosa)

G. CATATAN MENGENAI HIRARKI SATUAN

Urutan Hirarki satuan linguistic:

Wacana

Kalimat

Klausa

Frase

Kata

Morfem

Fonem

Ket: jadi fonem akan membentuk morfem, morfem akan membentuk kata, selanjutnya sampai terbentuk wacana.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s