Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Sunarto_1402908214_bab IV Oktober 23, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 1:57 pm

Disusun oleh

Sunarto

NIM : 1402908214

Rombel : 5

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) FONOLOGI

Bidang linguistic yang mempelajari, menganalisa, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut Fonologi. Fonologi dibedakan menjadi 2, yaitu Fonetik dan Fonemik. Fonetik adalah mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi trsebut mempunyai fungsi sebagai pembela makna atau tidak. Sedangka foemya adalah kebalikan dari fonetik.

4.1 Fonetik

Ada 3 jenis fonetik yaitu artilulataris, akustik, dan auditaris. Fonetik artilulasi mempelajari alat bicara, fonetik alustik mempelajari bahasa dari fenomena alam, fonetik auditaris mempelajari bunyi bahasa dari jiwa kita.

4.1.1. Alat Ucap

Alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa antara lain: pangkal tenggorokan, rongga kerongkongan, pangkal lidah, tengah lidah, ujung lidah, daun lidah, anak tekak, langit-langit lunak, langit-langit keras, gusi, gigi, dan bibir.

4.1.2. Proses Fonasi

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara ini perlu dijelaskan adanya empat memposisi pita suara yaitu: a. pita suara terbuka lebar, b. pita suara terbuka agak lebar, c. pita suara terbuka sedikit, d. pita suara tertutup rapat.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan study fonetik sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin. Ada 5 huruf untuk melambangkan bunyi fokal, yaitu a, i, u, e, o.

4.1.4Klasifikasi bunyi.

Pada umumnya bunyi bahasa dibedaka atas vocal dan konsonan. Bagi vocal terjadi: bunyi vocal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit, sedangkan bunyi konsonan terjadi :setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka agak lebar.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vocal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Vocal tinggi missal I dan u, dan vocal rendah misalnya e dan o

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vocal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini ada pada bagian awal dan akhir tidak sama. Diftong ada dua yaitu naik dan turun.

4.1.4.3 Klasifiaksi Konsonan

Bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarka tiga patokan atau criteria yaitu:

pita suara, tempat artikulasi, dan cara arikulasi.

4.1.5. Unsur Supra segmental

Merupakan suatu runtutan bunyi yang sambung menyambung terus menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau agak singkat.

4.1.5.1 Tekana atau Stres

Tekana atau stress menyangkut masalah keras lunaknya bunyio sehingga amplitudonya melebar.

4.1.5.2 Nada

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi, bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran tinggi. Dan hal ini dibedakan menjadi 4 macam nada yaitu tanda dengan angka 4=nada paling tinggi, tanda dengan angka 3=nada tinggi, tanda dengan angka 2 = nada sedang, tanda dengan angka 1 = nada rendah.

4.1.5.3 Jeda atau Perselisihan

Jeda atau perselisihan berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

4.2 Fonemik

Adalah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Objek penelitian fonemik adalah fonem.

4.2.1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan kita harus mencari sebuah satuan bahasa. Biasanya sebuah kata contah : laba dan raba. Jadi untuk membuktikan sebuah bunyi fonem, bahan harus di cari pasangan minimalnya.

4.2.2 Alofon

Adalah sebuah fonem yang mempunyai kemiripan fonetis/kesamaan dalam pengucapannnya. Contoh: pada akta tokoh dan toko, lolos dan lulus.

4.2.3..Klasifikasi Fonem

Klasifikasi fonem sebearnya sama dengan cara klasifikasi bunyi yang telah dibicarakan pada 4.1.4 dan unsur supra segmental pada 4.1.5. Kalau pada 4.1.4 ada bunyi vocal dan konsonan.

4.2.4. Khasanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat pada satu bahasan. Jumlah fonem yang dimiliki suatu pokok bahasan berdeda jumlahnya dengan pokok bahasan yang lain.

4.2.4.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi mejadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya. Contoh kata sabtu dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan saptu, hal itu disebut Asimilasi Fonemis.

4.2.4.2. Netralisasi dan Arkifonem

Fonem mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata. Contoh kata sabtu dan saptu, lembab dan lembap. Disini ada fungsi pembeda batal secara tradisional. Dalam studi Bahasa Indonesia, kasus ini sering dijelaskan degan keterangan: yang benar adalah bentuk sabtu, berasal dari bahasa Arab, begitu pula yagn benar adalah bentuk lembap karena berasal dari bahasa melayu asli.

4.2.4.3. Umlaut, Ablaut, dan Harmoni vocal

Umlaut adalah perubahan vocal sedemikian rupa sehingga vocal menjadi lebih tinggi

Ablaut adalah perubahan vocal yang kita temukan untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Harmoni Vokal adalah keselarasan vocal.

4.2.4.4.Kontralisi

Kontralisi adalah menyingkat atau memperpendek ujarannya. Contoh: tidak menjadi ndak tau

4.2.4.5. Metafisis dan Epentesis

Adalah mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh: kata kampak dengan kapak, kata jumlah dengan jumblah.

4.2.5 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional untuk membentuk kata.

Grafem adalah untuk melambangkan 2 buah fonem yang berbeda. Yaitu fonem e dan fonem a.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s