Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Nurlaili_1402408334_bab 5 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 1:41 pm

Disusun oleh :

Nurlaili

NIM : 1402408334

Bab 5

Tataran Linguistik (2)

MORFOLOGI

*) Morfem adalah bentuk yang hadir secara berulang – ulang dengan bentuk lain dan mempunyai makna yang sama. Contoh : kedua, ketiga,….: ke pasar, ke alun – alun. Ciri atau identitas sebuah morfem adalah kesamaan arti dan kesamaan bentuk konsep maupun istilah morfem tidak di kenal dalam tata bahasa tradisional sebab n = morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

Sebuah bentuk di katakana morfem meskipun bentuknya tidak persis sama, asalkan perbedaannya dapat di jelaskan secara fonologis : misalnya, bentuk me berdistribusin pada bentuk dasar yang fonem awalna konsonan (l ) dan (r) ; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan (b) dan (p).

Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem (setiap morfem mempunyai alomorf). Contoh alomorf me-, mem-, men-, morfemnya di sebut morfem meN (me – nasal : N)

*) Klasifikasi Morfem

a) Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan (contoh kata pulang, makan), morfem terikat adalah morfem yang tanpa di gabung dulu dengan morfem yang lain tidak dapat muncul dalam pertuturan (contoh baca, juang). Klitika merupakan morfem yang agak sukar di tentukan statusnya, apakah terikat atau bebas (contoh klitika – lah, ayahmulah). Klitika di bedakan atas proklitika (yaitu klitika yang berposisi di muka kata yang di ikuti, seperti ku dan kau dalam konstruksi kubawa dan kuambil, dan enklitika yaitu klitika yang berposisi di belakang kata yang di lekati, seperti – lah pada konstruksi dialah.

b) Morfem utuhadalah morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh, contoh : meja, kursi. Morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Contoh : morfem {ke- / -an} pada kata kesatuan.

c) Morfem segmental adalah semua morfem yang berwujud bunyi, contoh : {lihat}, {lah}, morfem suprasegmental adalah morfem yang di bentuk oleh unsur – unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya dalam bahasa Nybaka di Kongo Utara, setiap verba selalu di sertai dengan menunjuk kala (tense) yang berupa nada aturannya, nada turun (\) untuk kala kini, nada diatur (-) untuk kala lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti, dan nada naik (/) untuk bentuk imperaktif, contoh a’ (menaruh).

d) Morfem beralomorf zero atau nol (o) yaitu morfem yang salah satu alomorf nya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “ kekosongan” . missal bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga, yang terdiri dari morfem {sheep} dan morfem {o}.

e) Morfem bermakna lesikal adalah morfem – morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain, contoh : kudu pergi, lari. Morfem tak bermakna lesika adalah sebaliknya. Contoh morfem – morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}dan {ber-}.

· Morfem dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks, contoh {juang}, {lari}. Morfem dasar dapat menjadi sebuahn bentuk dasar atau dasar dalam suatu proses morfologi, contoh : bentuk dasar dari berbicara adalah bicara. Pangkal (stem) di gunakan untuk menyeut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif, contoh : books, pangkalnya adalah book. Akar (root) di gunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebihn jauh lagi. Contoh : untouchables, pangkalnya adalah touch.

*) Kata menurut para tata bahasawan tradisional adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau deretan huruf yang diapit oleh dua buah dan mempunyai satu arti. Batasan kata dalam buku linguistik Eropa adalah bahwa kata mer bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.

Fungsi dari klasifikasi katayang dapat di identifikasikan dari cirri – cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau pendistribusian kata itu di dalam ujaran, sebabnya kata – kata yang berciri atau beridentifikasi yang sama saja yang dapat menduduki semua fungsi atau suatu distribusi dalam hal. Untuk membuat klasifikasi kata para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria malena (di gunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina dan adjektiva) dan kriteria fungsi (di gunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina, dan lain – lain). Para tata bahasawan strukturalis berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu stuktur atau konstruksi.

Untuk dapat di gunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa feksi dan aglutunasi harus di bentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi,proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata – kata yang bersifat inflektif dan derivatif. Perubahan / penyesuaian bentuk pada verba disebut deklinasi. Pembentukan kata secara inflektif, tidak membentuk kata baru atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya sedangkan pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

*) Proses Morfemis

* Aflikasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar, di lihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya di bedakan adanya prefiks (afiks yang di imbuhkan di muka bentuk dasar), infiks (afiks yang di imbuhkan di tengah bentuk dasar), konfiks (afiks yang berupa morfem terbagi, diawal dan akhir bentuk dasar), interfiks (infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur), transfiks (afiks yang berwujud vokal – vokal yang di imbuhkan pada keseluruh dasar).

* Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), maupun perubahan bunyi, paradigmatis / derivasigne

* Komposisi adalah hasil dalam proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Masalah dari proses kompoisisi antara lain : masalah kata majemuk, aneksi, dan frase. Para ahli tata bahasa tradisional seperti Sutan Takdir Alisjahbana, berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak menggabungkan makna unsur – unsurnya, kelompok linguis lain yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau di antara unsur – unsur pembentuknya tidak dapat di sisipkan apa – apa tanpa merusak komposisi itu, bisa juga suatu komposisi di sebut kata majemuk kalau unsur – unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.Dalam bahasa Inggris, kata majemuk dan bukan kata majemuk berbeda dalam hal adanya tekanan. Linguis kelompok lain, ada juga yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas unsur – unsurnya. Verhaar menyatakan suatu komposisi di sebut kata mejemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis (contoh matahari tidak bisa dikatakan matanya hari). Kridalaksana menyatakn kata majemuk haruslah tetap berstatus kata; kata majemuk harus di bedakan dari idiom (suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur – unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal), sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis, sedangkan idiom adalah konsep semantis.

* Konversi sering juga di sebut derivasi zero, transmutasi dan transp[osisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa peruvahan unsure segmental. Modifikasi internal / penambahan internal / perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur – unsur (biasanya berupa vokal) dalam morfem yang berkerangaka tetap (biasanya berupa konsonan) . Peruahan bersifat derivatif, karena makna identitas leksikalnya sudah berbeda. Ada sejenis modifikasi internal lain yang di sebut suplesi, dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri – ciri bentuk dasar tidak / hampir tidak tampak lagi (bentuk dasar berubah total)

* Pemendekan adalah proses penanggalan bagian – bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya (hasilnya di sebut kependekan). Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya di bedakan atas penggalan, singkatan dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertaam dari bentuk yang di pendekkan itu. Singkatan adalah hasil proses pemendekan. Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat di lafalkan sebagai kata.

* Produktivitas dalam proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama aflikasi, reduplikasi, dan komposisi di gunakan berulang – ulang yang secara relatif tak tebatas; artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya, tidak dapat di katakana proses yang produktif, Proses inflektif bersifat tertutup (tidak mempunyai bentuk lain dan tidak bisa di ada – adakan). Proses derivasi bersifat terbuka, artinya penutursuatu bahasa dapat membuat kata – kata baru dengan proses tersebut. Proses derivasi adalah produktif, sedangkan proses infleksi tidak produktif. Bentuk – bentuk yang menurut kaidah gramatikal di mungkinkan keberadaannya, tetapi ternyata tidak pernah ada, seperti mencantikkan, di sebut bentuk yang potensial, yang pada suatu saat kelak mungkin dapat muncul sedangkan bentuk – bentuk yang nyata ada, seperti bentuk menjelekkan di sebut bentuk – bentuk aktual.

*) Morfotonemik di sebut juga mofonemik, morfotonologi atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses merfotonemi ini dapat berwujud :

(1) pemunculan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca)

(2) pelepasan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan akhiran wan pada kata sejarah dimana fonem (h) pada kata sejarah menjadi hilang

(3) pelulihan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat dimana fonem (s) pada kata sikat itu diluluhkan dan di senyawakan dengan bunyi nasal (ny)

(4) perubahan fonem (dapat kita lihat pada proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata ajar di mana fonem (s) dari prefiks itu berubah menjadi fonem (l )

(5) pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain biasanya ke silabel berikutnya, contoh : pengimbuhan sufiks (an) pada kata jawab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s