Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

gutomo warihadi 1402408041 bab 6 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 1:29 pm

TATARAN LINGUISTIK 6: SINTAKSIS

Morfosintaksis yaitu gabungan dari morfologi dan sintaksis.

Morfologi membicarakan tentang struktur internal kata.

Sintaksis membicarakan tentang hubungan kata dengan kata lain.

6.1.STRUKTUR SINTAKSIS

Struktur sintaksis ada tiga yaitu fungsi sintaksis, kategori sintaksis, dan peran sintaksis.

Dalam fungsi sintaksis ada hal-hal penting yaitu subjek, predikat, dan objek.

Dalam kategori sintaksis ada istilah nomina, verba, adjektiva, dan numeralia.

Dalam peran sintaksis ada istilah pelaku, penderita, dan penerima.

Menurut Verhaar (1978), fungsi-fungsi S, P, O, dan K merupakan kotak kosong yang diisi kategori dan peranan tertentu.

Contohnya: Kalimat aktif: Nenek melirik kakek tadi pagi.

S P O K

pelaku sasaran

Kalimat pasif: Kakek dilirik nenek tadi pagi.

S P O K

sasaran pelaku

Agar menjadi kalimat berterima, maka fungsi S dan P harus berurutan dan tidak disisipi kata di antara keduanya.

Struktur sintaksis minimal mempunyai fungsi subjek dan predikat seperti pada verba intransitif yang tidak membutuhkan objek.

Contohnya: Kakek makan.

Verba transitif selalu membutuhkan objek.

Contohnya: Nenek membersihkan kamarnya.

Menurut Djoko Kentjono(1982), hadir tidaknya fungsi sintaksis tergantung konteksnya.

Contohnya: Kalimat seruan: Hebat!

Kalimat jawaban: Sudah!

Kalimat perintah: Baca!

Fungsi-fungsi sintaksis harus diisi kategori-kategori yang sesuai.

Fungsi subjek diisi kategori nomina, fungsi predikat diisi kategori verba, fungsi objek diisi kategori nomina, dan fungsi keterangan diisi kategori adverbia.

Contohnya: Dia guru.(salah) Dia adalah guru.(benar)

S O S P O

Kata “adalah” pada kalimat tersebut merupakan verba kopula,seperti to be pada bahasa Inggris.

Berenang menyehatkan tubuh.

S P O

Kata “berenang” menjadi berkategori nomina karena yang dimaksud adalah pekerjaan berenangnya.

Peran dalam struktur sintaksis tergantung pada makna gramatikalnya. Kata yang bermakna pelaku dan penerima tetap tidak berubah walaupun kata kerja yang aktif diganti menjadi pasif.

Pelaku berarti objek yang melakukan pekerjaan.

Penerima berarti objek yang dikenai pekerjaan.

Makna pelaku dan sasaran merupakan makna gramatikal.

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, dan intonasi.

Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna.

Contohnya: tiga jam – jam tiga.

Nenek melirik kakek. – Kakek melirik nenek.

Dalam kalimat aktif transitif mempunyai kendala gramatikal yaitu fungsi predikat dan objek tidak dapat diselipi kata keterangan.

Contohnya: Nenek melirik tadi pagi kakek.(salah)

Intonasi merupakan penekanan. Perbedaan intonasi juga menimbulkan perbedaan makna.

Intonasi ada tiga macam yaitu intonasi deklaratif untuk kalimat bermodus deklaratif atau berita dengan tanda titik, intonasi interogatif dengan tanda tanya, dan intonasi interjektif dengan tanda seru.

Intonasi juga dapat berupa nada naik atau tekanan.

Contohnya: Kucing / makan tikus mati.

Kucing makan tikus / mati.

Kalimat tersebut sudah berbeda makna karena tafsiran gramatikal yang berbeda yang disebut ambigu atau taksa.

Konektor bertugas menghubungkan konstituen satu dengan yang lain.

dilihat dari sifatnya, ada dua macam konektor.

Konektor koordinatif menghubungkan dua konstituen sederajat. Konjungsinya seperti dan, atau, dan tetapi.

Contohnya: Nenek dan kakek pergi ke sawah.

Konektor subordinatif menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat. Konjungsinya seperti kalau, meskipun, dan karena.

Contohnya: Kalau diundang, saya tentu akan datang.

6.2.KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis.

Kata berperanan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan bagian-bagian dari suatu sintaksis.

Ada dua macam kata yaitu kata penuh(fullword) dan kata tugas(functionword).

Kata penuh adalah kata yang secara leksikal dapat bermorfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat menjadi sebuah tuturan.

Contohnya: Kucing. Bermorfologi menjadi berkucing-kucingan.

Nenek!. Kata yang berdiri sendiri menjadi kalimat jawaban.

Kata tugas adalah kata-kata yang secara leksikal tidak dapat berdiri sendiri menjadi sebuah tuturan.Contohnya yaitu preposisi dan konjungsi. Misalnya kata dan dan meskipun.

Kata tugas dapat berdiri sendiri apabila berkategori nomina atau menjadi topik pembicaraan.

Contohnya: Pak Ahmad menerangkan cara penulisan awalan di.

6.3.FRASE

6.3.1.Pengertian Frase

Frase didefinsikan sebagai satua gramatikal yang berupa gabungan kata yang nonpredikatf atau bukan predikat.

Contohnya: tanah tinggi. Frase tersebut berfungsi sebagai objek.

Frase mengisi satu fungsi sintaksis sebagai satu kesatuan bukan per kata.

Kata majemuk bukanlah frase karena merupakan morfem dasar terikat,tidak dapat dipisahkan per kata dan tidak dapat bermorfologi atau diselipi kata.

Contohnya: meja hijau, telur mata sapi.

6.3.2.Jenis Frase

1.Frase Eksosentrik

Frase Eksosentrik adalah frase yang komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis sama dengan frase itu sendiri.

Contohnya: Dia berdagang di pasar.

Dia berdagang di.(salah)

Dia berdagang pasar.(salah)

Frase eksosentrik direktif komponen utamanya berupa preposisi. Seperti di, ke, dan dari.

Frase eksosentrik nondirektif komponen utamanya berupa artikulus. Seperti si dan sang.

2.Frase Endosentrik

Frase Endosentrik adalah frase yang salah satu komponennya mempunyai perilaku sintaksis sama dengan frase itu sendiri.

Contohnya: Nenek sedang membaca koran.

Nenek membaca koran.(benar)

Frase endosentrik disebut huga frase modifikatif karena komponen bawahan membatasi makna komponen utama.

Contohnya: seekor kucing. Kata seekor membatasi makna kata kucing.

Frase endosentrik juga disebut frase subordinatif karena terdiri dari komponen atasan atau utama dan komponen bawahan.

Dilihat dari kategori intinya, frase dibedakan menjadi frase nominal, frase verbal, frase adjektival, dan frase numeral.

Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya sederajat. Contohnya: sehat dan kuat.

Frase apositif adalah frase yang komponen pembentuknya saling merujuk. Contohnya: Pak Ahmad, guru saya. Guru saya Pak Ahmad.

6.3.3.Perluasan Frase

Maksudnya frase dapat diberi tambahan komponen baru sesuai pengertian yang akan ditampilkan.

Dari frase yang bersifat umum menjadi lebih khusus.

Contohnya: Di kamar. Menjadi: Di kamar tidur saya.

6.4.KLAUSA

6.4.1.Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis yang berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif atau berpredikat.

Klausa akan menjadi kalimat minor apabila diberi intonasi final seperti intonasi deklaratif, interogatif, dan interjektif.

Kehadiran objek timbul pada verba transitif.

Verba bitransitif menghadirkan dua objek yaitu objek langsung atau sasaran dan objek tak langsung yang memperoleh manfaat dari tindakannya.

Contohnya: Kakek membelikan nenek(langsung) sepatu baru(tak langsung).

Unsur pelengkap disebut juga komplemen yaitu bagian dari predikat verbal bukan transitif.

Unsur pelengkap tidak dapat menempati fungsi subjek walau klausanya dipasifkan.

Contohnya: Kakek ingin menjadi guru. Guru ingin dijadi kakek.(salah).

Keterangan adalah bagian dari klausa yang memberi informasi tambahan.

Klausa menjadi pengisi kalimat dalam sintaksis baik yang koordinatif(kalimat majemuk setara) maupun subordinatif(kalimat majemuk bertingkat).

6.4.2.Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat.

Klausa bebas adalah klausa yang berstruktur lengkap, sekurang-kurangnya subjek dan predikat, berpotensi menjadi kalimat utuh. Contohnya: Nenekku masih cantik.

Klausa terikat adalah klausa yang tidak berstruktur lengkap. Contohnya: Tadi pagi!(dalam kalimat jawaban).

Klausa terikat disebut juga klausa subordinatif atau klausa bawahan. Contohnya: Ketika kami sedang belajar. Klausa tersebut harus mempunyai klausa atasan. Kalimat tersebut ditandai dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya.

Berdasarkan unsur segmental predikatnya, klausa dibedakan atas:

1.Klausa verbal.Yaitu klausa yang predikatnya berkategori verba. Contohnya: Nenek mandi.

2.Klausa nominal. Yaitu klausa yang predikatnya berupa nomina. Contohnya: Nenek petani.

Apabila trdapat verba kopula, maka klausa nomina menjadi klausa verba. Contohnya: Nenek adalah petani.

3.Klausa adjektival adalah klausa yang predikatnya berkategori kata sifat atau adjektif. Contohnya: Ibu dosen cantik.

4.Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berkategori adverbia. Contohnya: Bandelnya teramat sangat.

5.Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berpreposisi. Contohnya: Ibu di kamar.

6.Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berkategori kata atau frase numeral. Contohnya: Gajinya lima juta sebulan.

6.5.KALIMAT

6.5.1.Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi, serta disertai intonasi final.

Yang mendasar pada kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final.

Konstituen dasar berua klausa dapat menjadi kalimat mayor atau bebas, dan yang berupa kata hanya menjadi kalamat terikat.

Intonasi final pada kalimat ada tiga yaitu intonasi deklaratif pada kalimat berita, intonasi interogatif pada kalimat tanya, dan intonasi seru pada kalimat seruan dan perintah.

6.5.2.Jenis Kalimat

6.5.2.1.Kalimat Inti dan Non Inti

Kalimat inti, biasa juga disebut kalimat dasar dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, netral, dan afirmatif.

Kalimat inti berstrruktur sebagai berikut: FN+FV, FN+FV+FN, FN+FV+FN+FN, FN+FN, FN+FA, FN+FNum, FN+FP.

FN=frase nominal,FV=frase verbal,FA=frase adjektival,FNum=frase numeral,FP=frase preposisi

Kalimat inti berubah menjadi kaliomat noninti apabila bertransformasi.

6.5.2.2.Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal terdiri dari satu klausa sedangkan kalimat majemuk terdiri dari lebih dari satu klausa.

Kalimat majemuk dibedakan menjadi tiga yaitu kalimat majemuk koordinatif atau kalimat majemuk setara, kalimat majemuk subordinatif atau kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk kompleks.

Kalimat majemuk koordinatif dihubungkan dengan konjungsi dan,atau, tetapi, dan lalu.

Kalimat majemuk subordinatif dihubungkan dengan konjungsi kalau, ketika, dan karena.

Dalam kalimat majemuk subordinatif, klausanya dibedakan menjadi klausa atasan dan bawahan.

Kalimat majemuk kompleks terdiri dari tiga klausa atau lebih, dihubungkan secara koordinatif atau subordinatif. Karena itu sering juga disebut kalimat majemuk campuran.

S

P

O

K(sebab)

Klausa I

Klausa II

Klausa III

Contohnya: Kakek mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil selembar uang ribuan untuk membayar ongkos becak.

6.5.2.3.Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Kalimat mayor mempunyai klausa lengkap, setidak-tidaknya mempunyai subjek dan predikat.

Kalimat minor, walaupun klausanya tidak lengkap tetapi dapat dipahami karena konteksnya diketahui pembaca.

Contohnya: Sedang makan!(kalimat jawaban)

6.5.2.4.Kalimat Verbal dan Kalimat Non Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal.

Kalimat verbal ada dua macam yaitu transitif dan intransitif.

Kalimat non verbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa nominal, adjektival, juga numeralia. Contohnya: Mereka rajin sekali.

Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Contohnya: Dia pergi begitu saja.

Kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau gerakan. Contohnya: Anaknya sakit keras.

6.5.2.4.Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang berpotensi menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai suatu paragraf. Biasa disebut juga kalimat utama.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap dan diperlukan adanya kalimat bebas agar dapat berdiri menjadi ujaran.

6.5.3.Intonasi

Dalam bahasa Indonesia, intonasi hanya berlaku pada tataran sintaksis. Dalam klausa yang sama, berunsur segmental sama, dapat berbeda maknanya jika intonasinya berbeda. Klausa tersebut dapat menjadi kalimat deklaratif atau interogatif tergantung dari intonasi yang ditambahkan.

Tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.

Tempo adalah maktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran.

Nada adalah unsure suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.

Contohnya:

Rumah sekarang mahal.

2 33n / 2 33n / 2 31t

Apa rumah sekarang mahal ?

2 33n / 2 33n / 2 31t #

Bacalah buku itu !

2 32t / 2 11t #

Keterangan : n = naik

t = turun

tanda = tekanan

6.5.4.Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1.Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Ada beberapa modus, antara lain:

Modus indikatif atau modus deklaratif yaitu modus yang menunjukkan sikap objektif atau netral.

Modus optatif yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan.

Modus imperatif yaitu modus yang menyatakan perintah atau larangan.

Modus interogatif yaitu modus yang menyatakan pertanyaan.

Modus obligatif yaitu modus yang menyatakan keharusan.

Modus desideratif yaitu modus yang menyatakan kemauan.

Modus kondisional yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

6.5.4.2.Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, dan proses.

Ada berbagai macam aspek, yaitu:

Aspek kontinuatif. Menyatakan perbuatan yang terus berlangsung.

Aspek inseptif. Menyatakan peristiwa yang baru dimulai.

Aspek progresif. Menyatakan peristiwa yang sedang berlangsung.

Aspek repetitif. Menyatakan peristiwa yang berulang-ulang.

Aspek perfektif. Menyatakan peristiwa sudah selesai.

Aspek imperfektif. Menyatakan peristiwa yang berlangsung sebentar.

Aspek sesatif. Menyatakan peristiwa berakhir.

6.5.4.3.Kala

Kala atau tenses adalah infomasi kalimat yang menyatakan waktu terjadinya kejadian.

Kala menyatakan waktu sekarang, lampau dan yang akan datang.

Bahasa Indonesia menyatakan kala secara leksikal antara lain sudah, sedang, dan akan.

Konsep kala sudah berbeda dengan konsep keterangan waktu.

Contohnya: Pak lurah itu sudah mati.

6.5.4.4.Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan keadaan, peristiwa, atau juga sikap terhadap lawan bicara.

Modalitas intensional yaitu modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan, atau ajakan.

Contohnya: Nenek ingin menunaikan ibadah haji.

Modalitas epistemik yaitu modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian, dan keharusan.

Contohnya: Kalau tidak hujan kakek pasti datang.

Modalitas ideontik yaitu modalitas yang menyatakan keizinan.

Contohnya: Anda boleh tinggal di sini.

Modalitas dinamik yaitu modalitas yang menyatakan kemampuan.

Contohnya: Dia bisa melakukan hal itu kalau diberi kesempatan.

6.5.4.5.Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat itu sehingga perhatian pembaca tertuju pada bagian itu.

Ada berbagai cara membuat fous pada kalimat.

Pertama. Memberi tekanan pada hal yang difokuskan.

Contohnya: Dia menangkap ayam saya. Kalau tekanan diberikan pada kata “dia”, maka perhatian akan tertuju pada dia bukan pada orang lain.

Kedua. Dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan.

Contohnya: Hal itu telah disampaikan kepada DPR oleh pemerintah.

Oleh pemerintah, hal itu telah disampaikan kepada DPR.

Ketiga. Dengan partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan.

Contohnya: Yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

Keempat. Dengan mengontraskan dua bagian kalimat.

Contohnya: Ini jendela, bukan pintu.

Kelima. Dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden.

Contohnya: Bu dosen linguistik itu pacarnya seorang konglomerat.

6.5.4.6.Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.

Ada beberapa macam diatesis, antara lain:

Diatesis aktif, yakni subjek melakukan perbuatan.

Contohnya: Mereka merampas uang kami.

Diatesis pasif, yakni subjek yang menjadi sasaran kegiatan.

Contohnya: Uang kami dirampasnya.

Diatesis reflektif, yakni subjek melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.

Contohnya: Nenek sedang berhias.

Diatesis resiprokal, yakni subjek terdiri dari dua pihak yang melakukan perbuatan saling berbalasan.

Contohnya: Mereka akan berdamai juga.

Diatesis kausatif, yakni subjek menjadi penyebab terjadinya sesuatu.

Contohnya: Kakek menghitamkan rambutnya.

6.6.WACANA

6.6.1.Pengertian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan tertinggi.

Dalam wacana terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembicara.

Persyaratan gramatikal akan terpenuhi jika ada unsur-unsur yang berubungan serasi atau kohesif dan tercipta koherensi.

Contohnya: Dika dan Nita pergi ke toko buku. Dia membeli kamus Bahasa Indonesia.

Kata ganti dia tidak kohesif karena yang dimaksud si dia belum diketahui, apakah Dika atau Nita.

Koheren berarti isi kalimat satu dengan kalimat lain menjurus kepada hal yang sama yang menjadi inti pada sebuah wacana.

Wacana yang baik mempunyai satu keutuhan isi.

6.6.2.Alat Wacana

Alat wacana ada beberapa, yaitu sebagai berikut:

Pertama, konjungsi, yakni alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat.

Kedua, kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.

Ketiga, elipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama dengan kalimat yang akan digabungkan dengan kalimat itu.

Aspek semantik yang membuat wacana menjadi kohesif dan koheren antara lain:

Pertama, dengan hubungan pertentangan antar klausa.

Kedua, dengan hubungan generik-spesifik atau spesifk-generik antar klausa.

Ketiga, dengan hubungan perbandingan antar klausa.

Keempat, dengan hubungan sebab akibat antar klausa.

Kelima, dengan hubungan tujuan di dalam isi wacana.

Keenam, dengan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau dua kalimat dalam wacana.

Contohnya: Becak sudah tidak ada lagi di Jakarta. Kendaraan roda tiga itu sering dituduh memacetkan lalu lintas.

6.6.3.Jenis Wacana

Dilihat dari sarananya wacana dibedakan menjadi wacana lisan dan wacana tulis.

Dilihat dari penyampaian isi, wacana dibedakan menjadi sebagai berikut:

Narasi. Narasi bersifat menceritakan suatu topic.

Eksposisi. Eksposisi bersifat memaparkan.

Persuasi. Persuasi bersifat mengajak atau melarang.

Argumentasi. Argumentasi bersifat memberi argument.

6.6.4.Subsatuan Wacana

Dalam wacana berupa karangan ilmiah, dapat dikatakan wacana dibangun oleh subsatuan yang disebut bab, subbab, paragraf, atau juga subparagraf.

Satuan ide atau pesan akan dapat dipahami pembaca tanpa mersa ada kekurangan informasi tergantung pada seberapa besar atau luasnya pesan atau ide yang disampaikan.

6.7. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Urutan hierarki satuan akan dapat dibuat urutanya dari subbab 6.6. seperti pada bagan berikut:

wacana

kalimat

klausa

frase

kata

morfem

fonem

Urutan hierarki merupakan urutan normal teoretis.

Ada beberapa kasus dalam penyimpangan urutan yaitu: pelompatan tingkat, pelapisan tingkat, dan penurunan tingkat.

Pelompatan tingkat terjadi pada sebuah satuan konstituen menjadi konstituen di atasnya sekurang-kurangnya dua tingkat di atasnya.

Contohnya: kata “nenek” menjadi sebuah kalimat seruan “Nenek!”

Kasus pelapisan tingkat terjadi apabila konstituen menjadi unsur konstituen pada konstruksi setingkatnya.

Contohnya: Kata dengar menjadi mendengarkan. Frase “mahasiswa tahun pertama” menjadi “seorang mahasiswa tahun pertama”.

Kasus penurunan tingkat terjadi apabila sebuah konstituen menjadi unsur konstituen bertingkatan lebih rendah.

Contohnya: Frase tidak adil menjadi ketidakadilan.

 

2 Responses to “gutomo warihadi 1402408041 bab 6”

  1. tri hrtanti_1402408060 Says:

    Rangkuman sudah bagus, tidak terlalu panjang dan cukup mudah dipahami. Namun kurang menarik untuk dibaca karena hampir semua ukuran fontnya sama dan tidak ada penebalan pada kata yang penting, misal judul.

  2. afriliafitriani Says:

    dari:afrilia fitriani(1402498150)
    bagaimanakah proses terjadinya kasus pelapisan tingkat dan penurunan tingkat.jelaskan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s