Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

FAZA SAIDAH-1402408247-bab 5 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 1:26 pm

NAMA : FAZA SAIDAH

NIM : 1402408247

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK(2): MORFOLOGI

A.Morfologi

1.Identifikasi Morfem

Untuk menentukan morfem atau bukan,maka harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain,maka bentuk tersebut adalah morfem.Misal,/kedua/ dapat kita bandingkan dengan bentuk: kedua,ketiga,kelima,…, ternyata ke pada daftar tersebut mempunyai makna yang sama yaitu menyatakan tingkat.Lain halnya ke pada bentuk-bentuk:kepasar,kekampunng,kedapur,…,ternyta ke tersebut juga mempunyai arti yang sama yaitu menyatakan tujuan.dalam Hal ini,karena makna bentuk ke pada kedua dan kepasartidak sama,maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama.Jadi,kesamaan arti dan persamaan bentuk merupakan cirri atau identitas sebuah morfem.

Dalam studi morfologi satuan bentuk yang sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.Misal,mesjid dilambangkan {mesjid},kata kedua dilambangkan {ke}+{dua}; books dilambangkan {book}+{s}.

2.Morf dan Alomorf

Alomorf adalah nama bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.Sedangkan morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya.Sebagai contoh, me- pada malihat,mam- pada membawa,men- pada mendengar,meny- pada menyikat,menng- pada menggali,dan menge- pada mengelas.Tersebut dalam linguistic disebut meN- (dibaca: me-Nasal).

3.Klasifikasi Morfem

a. Morfem bebas dan morfem tak bebas

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan, missal:pulang,makan,rumah. Morfem terikat adalah morfewm yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan,missal: kerontang(yang hanya muncul dalam kering kerontang), preposisi dan konjungsi seperti ke,dari,pada,dan,kalau,dan atau.

b. Morfem utuh dan morfem terbagi

Morfem utuh seperti {meja},{kursi},dan {laut}. Sedangkan morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua buah bagian terpisah.Umpamanya pada kata kesatuan terdapat satu morfem utuh,yakni b{satu} dan morfem terbagi yakni {ke-/-an}.

c. Morfem Segmentaal dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk fenom-fenom segmental, seperti {lihat},{lah},dan {ber}.Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsure-unsur suprasegmental, sepertio tekaanan,nada,adurasi,dsb. Misal: dalam bahasa Ngbaka di kongo utar. Aturannya (/) untuk kal ini,nada datar (-) untuk maasa lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti.

d.Morfem beralomorf zero

morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya 0) yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak terwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”. Misal: kata lampau hit berasal dari morfem {hit} dan {0}.

e.Morfem bermakna leksikal dan morfem tak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inhern talah memiliki makna pada diri sendiri,tanpa perlu diproses dulu dengan morfem lain. Morfem tak bermakna leksikal tak mempunyai makna apa-apa pada diri sendiri. Misal: morfem-morfem seperti {juang},{henti}, dan {gaul}, secara semaantik morfem-morfem itu mempunyai makna, tetapi secara gramatikal morfem-morfem tersebut tidak mempunyi kabebasan dan otonomi.

4.Morfem dasar,pangkal dan akar

morfem dasar biasa digunakan sebagai dikotomi dengan morfem aafiks,misal: {juang}dan {kucing}. Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi/proses pembubuhan afiks inflektif,missal: menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi,dan morfem adalah sebuah afiks inflektif. Akar (root)digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi, missal: untouchables. Un disebut prefiks derivasional, touch disebut akr yang tidak dapat dianalisis lagi(dasar), able disebut sufiks derivasiopnal, s disebut sufiks infleksional, touchable disebut dasar yang dapat dianalisis lagi,dan untouchable disebut pangkal (stem)/dasar.

B. Kata

1. Hakikat kata

kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasai dan mempunyai maknna. Batasannya:1)setiap kata mempunyai susunan fenom yang uruitannya tetap dan tidak dapat berubah. 2) setiap kata mempunyai kebebasan berubah tempat di dalam,atau tempatnya dapat diisi/diganti oleh kata lain. Misal: mengajar,diajar,dan terajar adalah 3 varian dari kata yang sama. Perbedaannya: mengajar untuk kalimat aktif traansitif, diajar untuk kalimat pasif berpelaku orang katiga, dan terajar untuk kalimat pasif yang menyatakan selesai. Dikatakan 3 kata yang berbeda karena kata-kata tersebut memilki identitas leksokal yang berbeda.

2.Klasifikasi Kata

Para tata bahasawan tradisional menggunakan criteria makna dan fungsi. Yang disebut verba adalah kata yang menyatakan tindakan, nomina adalah kata yang menyatakan benda atau dibendakaan, konjungsi adalah kata yang berfungsi menghubungkan kata dengan kat. Para tata bahasa strukturalis membuat klasufikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur/konstruksi. Yaaang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukah, verba adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak, adjektifa adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat.

3.Pembentukan Kata

a.Inflektif

perubahan/penyesuaian pada verba disebut konyugasi, dan perubahan/panyesuaian pada nomina dan adjektifa disebut deklinasi. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang berfleksi. Namun,Verhaar (1978) menyatkan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, dan terbaca adalah paradigma infleksional atau merupakan kata yang sama. Perbedaannya bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya. Denga demikian me-,di-, dan ter- adalah infleksional.

b.derivatif

pembentukan kata secara derivative membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tiodak sama dengan kata dasarnya. Misal: kata air yang berkelas nomina menjadi mengairi yang berkelas verba.

C.Proses Morfemis

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan sebuah kata dasar atu bentuk dasar. Jenisnya adalah:

a.prefiks adaklah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar, seperti me- pada kata menghibur

b.infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar, seperti –el- pada kata telunjuk.

c.sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar, seperti –an pada kata bagian

d.konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasr dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.

2.Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasr, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Di Indonesia ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan:

a.bentuk dasar reduplikasi yang berupa morfem dasar, seperti meja menjadi meja-meja.

b.bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya:

1.proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan, seperti bermeter-meter.

2.prosese reduplikasi terjadi lebih dahulu, baru disusul oleh proses afiksasi, seperti berlari-lari.

3.proses afiksasi terjadi lebih dahulu,baru diikuti proses reduplikasi, seperti kesatuan-kesatuan.

c.pada dasar yang berupa gabungan kata. Ada dua macam: reduplikasi penuh, misalnya ayam itik-ayam itik.; dan reduplikasi parsial, misalnya surat-surat kabar.

d.bersifat derivasional, seperti mereka-mereka dan kamu-kamu.

e.reduplikasi semantic adalah 2 buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan granatikal. Contoh: ilmu pengetahuan dan hancur luluh.

3.Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehinnga twerbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yng berbeda atau baru.Contoh: lalu lintas dan rumah sakit.

4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental. Misal kata cangkul dalam kalimat, “Ayah membeli cangkul” adalah sebuah nominal, tetapi dalam kalimat,”cangkul dulu baik – baik tanah itu “ adalah sebuah verba. Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsure ( biasanya berupa vocal ) kedalam morfe yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan). Misalnya mouse menjadi mice. Suplesi adalh sejenis modifikasi internal yang sangat ekstrem karena cirri – cirri bentuk dasar tidak atau hamper tidak tampak lagi, contoh go menjadi went.

5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian – bagian leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Pemendekan dibedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekan itu, missal lab dari laboratorium. Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain berupa :

  1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf – huruf awal dari gabungan leksem, misalnya H (haji).
  2. Pengekalan berupa huruf dari sebuah leksem, missal = bhs ( bahasa ).
  3. Pengekalan berupa huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk mengganti huruf yang sama, misalnya P3 (Partai Persatuan Pembangunan ).
  4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem, misalnya, Ny. ( nyonya ).
  5. Pengkalan huruf pertama dan huruf terakhir dari ebuah leksem, misalnya Ir. (Insiyur).

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Misalnya ABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ).

6. Produktifitas Proses Morfemis

Produktifitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang – ulang yang secara relative tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru drngan proses tersebut. Proses Inflektif tidak dapat dikatakan proses yang produktif karena tidak dapat membentuk kata baru. Jdi daftarnya adalh daftar tertutup. Misalnya, street hanya mempunyai dua alternal yaitu street dan jamaknya : streets. Lain halnya dengan derivasi. Proses derivasi bersifat terbuka. Artinya penutur bahasa dapat membuat kata – kata baru, bersifat produktif. Misalnya, kemenarikan akan segera mengerti kata itu karena mereka sudah tahu kata menarik dan tahu fungsi penominalan konfiks ke- / -an.

D. Morfofonemik

Morfofonemik adalh peristiwa berubahnya wujud morfemis dalan suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fenom dalam proses morfofnemik ini dapat berwujud :

  1. Pemunculan fenom, misalnya : me- dengan bentuk dasar baca; dimana muncul konsonan sengau / m /, me- + baca → membaca.
  2. Pelepasan fenom, misalnya : akhiran wan pada kata sejarah; dimana fenom / h / menjadi hilang, sejarah + wan → sejarawan.
  3. Peluluhan fenom, misalnya : me – pada kata sikat; dimana fenom / s / diluluhkan menjadi / ny /, me- + sikat → menyikat.
  4. Perubahan fenom, misalnya : ber- pada kata ajar; dimana fenom / r / berubah menjadi fenom / l /, ber- + ajar → belajar.
  5. Pergeseran fenom, misalnya : sufiks / i / pada kata lompat; dimana fenom / t / yan semula berada pada silabel / pat / pindah kesilabel berikutnya / ti /, lom.pat + -i→ lom.pa.ti

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s