Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Aminatun Wardhani_1402408161_BAB V Oktober 23, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 12:37 pm

Aminatun Wardhani

NIM : 1402408161

Bab V

Tataran Linguistik (2) :

Morfologi

Fonem adalah satuan bunyi terkecil dari arus ujaran. Diatas satuan fonem yang fungsional, ada satuan yang lebih tinggi yang tidak fungsional yang di sebut silabel. Diatas satuan silabel itu secara kualitas ada satuan lain yang fungsional yang di sebut morfem.

5.1 MORFEM

Morfem beru diperkenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad kedua puluh ini.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk – bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang – ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut di sebut morfem, cirri atau identitas sebuah morfem adalah kesamaan arti dengan kesamaan bentuk. Dalam studi morfologi, suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal, misal : kata kedua dilambangkan menjadi {ke} + {dua} atau [{ke} + {dua}].

5.1.2 Morf atau Alomorf

Bentuk – bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama disebut alomorf. Dengan perkataan lain, alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai alomorf. Bisa dikatakan juga morf atau alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya; sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Morfem – morfem dalam setiap bahasa dapat di klasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria.

5.1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Yang di maksud dengan morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa di gabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Berkenaan dengan morfem terikat, dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu di kemukakan, yaitu :

Pertama, bentuk – bentuk bukan afiks yang tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti afliksasi, reduplikasi, dan komposisi di seut bentuk prakategorial.

Kedua, bentuk – bentuk baru yang merupakan “pangkal” kata sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi juga termasuk bentuk prakategorial.

Ketiga, bentuk – bentuk yang hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu di sebut morfem unik.

Keempat, bentuk – bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.

Kelima, klitika merupakan morfem yang agak sukar di tentukan statusnya, apakah terikat atau bebas. Klitika adalah bentuk – bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mndapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melakat pada bentuk lain, tetapi dapat di pisahkan. Menurut posisinya, klitika iasanya di bedakan atas proklitika yang berposisi di muka kata yang di ikuti. Sedangkan enklitika adalah klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Semua morfem dasar bebas adalah termasuk morfem utuh, sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagianyang terpisah.

Sehubungan dengan morfem terbagi, untuk bahasa Indonesia ada catatan yang perlu di perhatikan :

Pertama, semua afiks yang di sebut konfiks adalah termasuk morfem terbagi.

Kedua, afiks yang di sebut infiks, yakni afiks yang di sisipkan di tengah morfem dasar mengubah morfem utuh menjadi morfem terbagi.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang di bentuk oleh fonem – fonem segmental (berwujud bunyi). Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang di bentuk oleh unsur – unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.

5.1.3.4 Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero atau nol (O) yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun unsur suprasegmental, melainkan berupa kekosongan.

5.1.3.5Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Yang di maksud dengan morfem bermakna leksikal adalah morfem – morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain. Sebaliknya morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa – apa pada dirinya sendiri. Morfem ini baru mempunyai makna dalam gabungannya dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Istilah – istilah tersebut biasa di gunakan dalam kajian morfologi. Istilah morfem dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar dalam suatu proses morfologi. Artinya, bisa di beri afiks tertentu dalam suatun proses aflikasi, bisa di ulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa di gabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi.

Istilah bentuk dasar biasanya di gunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi juga dapat berupa morfem gabungan.

Istilah pangkal (stem) di gunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Akar (root) di gunakan untuk menyebut yang tidak dapat di analisis lebih jauh lagi. Artinya, akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya (baiknya infleksional maupun vasional) di tinggalkan.

Ada 3 macam morfem dasar bahasa Indonesia di lihat dari status dan prosesnya dalam proses gramatika yang dapat terjadi pada morfem dasar. Pertama adalah morfemdasar bebas, yakni morfem dasar secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat di gunakan dalam ujaran. Kedua, morfem dasar yang kebebasannya di persoalkan. Yang termasuk ini adalah sejumlah morfem ber akar verba yang dalam kalimat imperaktif atau kalimat sisipan, tidak perlu di beri imbuhan; dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat di tinggalkan. Ketiga, morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

5.2 KATA

Kata adalah satuan lingual yang di bicarakan dalam tata bahasa tradisional.

5.2.1 Hakikat Kata

Berdasarkan arti dan ortografi, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang di apit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Menurut tata bahasawan tradisional, kata di klasifikasikan menggunakan kriteria makna dan fungsi. Kriteria makna untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan adjektiva sedangkan kriteria fungsi untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomia dan lain – lain. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan. Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau di bendakan. Konjungsi adalah kata yang bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Ada juga kelompok linguis yang menggunakann kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata. Secara umum, fungsi subjek di isi oleh kelas nomina; fungsi predikat di isi oleh verba atau adjektiva; fungsi objek di isi oleh kelas nomina; fungsi keterangan di isi oleh golongan adverbial.

5.2.3 Pembentukan Kata

Pembentukan kata ini mempunyai 2 sifat yaitu inflektif dan derivatif.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Aflikasi

Aflikasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Unsur – unsur yang terlibat di dalamnya adalah bentuk dasar, afiks, dan makna gramatikal yang di hasilkan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang di imbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Dilihat dari posisi melekatnya, afiks di bedakan menjadi prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan tranfiks. Prefiks adalah afiks yang di imbuhkan di muka bentuk dasar. Infiks adalah afiks yang di imbuhkan di tengah bentuk dasar. Sufiks adalah afiks yang di imbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Konfiks adalah afiks berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar. Interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur. Tranfiks adalah afiks yang berwujud vokal – vokal yang di imbuhkan pada keseluruhan dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian, maupun perubahan bunyi.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru. Ada juga yang menyatakan komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur – unsurnya.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi sering juga di sebut derivasi zero, transmutasi, dan transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi Internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur – unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian – bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Hasil pemendekan biasanya di bedakan menjadi penggalan singkatan, dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama yang di pendekkan itu, singkatan adalah hasil proses pemendekan, antara lain :

a) Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf – huruf awal dari gabungan laksem. Misal : R (radius)

b) Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem. Misal : hlm (halaman)

c) Pengekalan huruf pertama di kombinasi dengan menggunakan angka untuk pengganti huruf yang sam. Misal : P3 (partai persatuan pembangunan)

d) Pengekalan dua, tiga, dan empat huruf pertama dari sebuah leksem. Misal : Ny (nyonya)

e) Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem. Misal : Ir (perwira)

Akronim adalah hasil pemendekan yangberupa kata atau dapat di lafalkan sebagai huruf. Misal : inpres (instruktur presiden)

5.3.6 Produktifitas Proses Morfemis

Yang di maksud dengan produktifitas dalam proses morfemis ini adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama aflikasi, reduplikasi, dan komposisi, di gunakan berulang – ulang yang secara relatif tak terbatas; artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfonemik di sebut juga morfonemik, morfofonologi, dan morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud : 1) pemunculan fonem, 2) pelesapan fonem, 3)peluluhan fonem, 4) perubahan fonem, 5) pergeseran fonem

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s