Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

aan dwi a 1402408211 BAB 8 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 12:33 pm

NAMA : AAN DWI ALFRIYANTO

NIM : 1402408211

ROMBEL : 03

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

8.1 Linguistik Tradisional

Istilah tradisional linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan sistematik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur / ciriciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Misalnya tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan / kejadian. Sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “ dengan ….”.

8.1.1 Linguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis adalah :

1. Pertentangan antara fisis dan nomos.

2. Pertentangan antara analogi dan anomali.

Bahasa bersifat fisis atau alami yaitu bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, oleh karena itu tidak dapat ditolak Bahasa bersifat konvensi atau nomos yaitu makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa baru.

8.1.1.1 Kaum Sophis

Kaum ini muncul pada abad ke-5 S.M, mereka dikenal dalam studi bahasa antara lain :

1. Mereka melakukan kerja secara empiris.

2. Mereka melakukan kerja secara pasti dengan ukuran-ukuran tertentu.

3. Mereka sangat mementingkan bidang retorika.

4. Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

8.1.1.2 Plato ( 429 – 347 S.M )

Studi yang terkenal adalah :

1. Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog. Dia juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konfensional.

2. Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata.

3. Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onomata dan rhemata.

8.1.1.3 Aristoteles ( 384 – 322 S.M )

Aristoteles adalah salah satu murid plato. Studi bahasa yang terkenal

antara lain :

1. Dia menambah satu kelas kata lagi yaitu dengan syndesmoi. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis.

2. dia membedakan jenis kelamin kata ( gender ) menjadi tiga yaitu maskulin, feminine, dan neutrum.

8.1.1.4 Kaum Stoik ( ke-4 S.M )

Studi bahasa kaum stoic terkenal karena :

1. Mereka membedaka studi bahasa secara logika dan secara tata bahasa.

2. Mereka menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

3. Mereka membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa yaitu :

a. Tanda, symbol, sign / seniman.

b. Makna apa yang disebut semainomen atau lekton.

c. Hal-hal yang diluar ; bahasa yakni benda atau situasi

4. Merka membedakan legein yaitu bunyi yang merupakan bagian dari fonologi tetapi tidak bermakna dan propkeretat yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

5. Mereka membagi jenis kata menjadi 4 yaitu : kata benda, kata keja, syndesmoi, dan arthoron, yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.

6. Mereka membedakan adanya kata kerja komplet dan kata kerja tidak komplet, serta kata kerja aktif dan pasif.

8.1.1.5 Kaum Alexandrian

Kaum Alexandrian menganut paham analogi dengan sebuah buku yang disebut Tata bahasa Dionysius Thiax yang menjadi cikal bakal tata bahasa tradisional.

8.1.2 Zaman Romawi

Romawi mendapatkan pengalaman dalam bidang linguistik dari orang Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain Varro ( 116 – 27 S.M ) dngan karyanya De Lingua Latina dan priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8.1.2.1 Varro dan “ De Lingua Latina

De Lingua Latina terdiridari 25 jilid, dalam buku ini Varro masih juga memperdebatkan masalah analogi dan anomali. Etimologi adalah cabang Linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Kelemahan Varro dalam bidang etimologi adalah dia menganggap kata-kata latin dan Yunani yang berbentuk sama adalah pinjaman langsung.

Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya. Menurut Varro kata adalah bagian dari ucapan yang tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum.

Varro membagi kelas kata latin dalam 4 bagian :

1. Kata benda, termasuk kata sifat yakni kata yang disebut berinfleksi kasus.

2. Kata kerja, yakni kata yang membuat pernyataan yang berinfleksi “tense”.

3. Partisipei yakni kata yang menghubungkan ( dalam sintaksis kata benda dan kata kerja ) yang berinfleksi kasus dan “tense”.

4. Anverbium yakni kata yang mendukung anggota bawahan dari kata kerja yang tidak berinfleksi.

Tentang kasus bahasa latin menurut Varro :

1. Nominativus yaitu bentuk primer / pokok.

2. Genetivus yaitu bentuk yang menyatakan kepunyaan.

3. Dativus yaitu bentuk yang menyatakan menerima.

4. Akusativus yaitu bentuk yang menyatakan objek.

5. Vokativus yaitu bentuk sebagai sapaan atau panggilan.

6. Obiativus yaitu bentuk yang menyatakan asal.

Deklinasi yaitu perubahan bentuk kata berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah dan jenis. Varro membedakan adanya dua macam deklinasi yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris. Deklanasi naturalis adalah perubahan yang bersifat alamiah dengan

sendirinya dan sudah berpola. Sedangkan deklinasi voluntaris perubahannya terjadi secara morfologis bersifat selektif dan manasuka.

8.1.2.2 Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Dalam buku ini terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting karena :

1. Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

2. Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu antara lain adalah:

1. Fonologi dibicarakan tentang tulisan / huruf yang disebut Litterae. Litterae adalah bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan, nama dari huruf-huruf itu disebut figurae. Sedangkan nilai bunyi itu disebut potestas. Bunyi dibedakan atas empat macam yaitu :

1. Vox artikulata (bunyi yang digunakan untuk membedakan makna).

2. Vox martikulata (bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukan makna).

3. Vox litterae ( bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata).

4. Vox litterata (bunyi yang tidak dapat dituliskan).

2. Morfologi, membicarakan tentang diction / kata. Yang dimaksud dengan diction adalah bagian yang minimum dari sebuah ujaran yang harus diartikan dalam makna sebagai satu keseluruhan. Kata dibedakan atas 8 jenis yang disebut dengan partes orationis, antara

lain :

1. Nomen (termasuk kata benda dan kata sifat menurut klasifikasi sekarang).

2. Verbum (kata yang menyatakan perbuatan atau dikenai perbuatan).

3. Participium (kata yang selalu berderivasi dari verbum).

4. Pronomen (kata-kata yang menggantikan nomen).

5. Adverbium (kata-kata yang secara sintaksis dan sistematik merupakan atribut verbum).

6. Praepositio (kata-kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus).

7. Interjectio (kata-kata yang menyatakan perasaan sikap, atau pikiran).

8. Cojunction (kata-kata yang bertugas menghubungkan anggota-aggota kelas kata yanglain untuk menyatakan hubungan sesame).

3. Sintaksis, membicarakan hal yang disebut oratio yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukan kalimat itu selesai. Akhirnya dapat dikatakan buku Institutiones Grammaticae ini menjadi dasar tat bahasa latin dan filsafat zaman pertengahan.

8.1.3 Zaman Pertengahan

Tata bahasa spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin. Petrus Hispanus, beliau pernah menjadi paus yaitu tahun 1276 – 1277 dengan gelar Paus Johannes XXI. Bukunya berjudul Summulae Logicales, berperan dalm bidang linguistik antara lain :

1. Dia telah memasukan psikolog dalam analisis makna bahasa.

2. Dia telah membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum dan nomen adjectivum.

3. Dia juga telah membedakan partes orations atas categorematik dan syntategorematik. Categorematik adalah semua bentuk yang dapat menjadi subjek atau predikat. Sedangkan syntategorematik adalah semua bentuk tutur lainnya.

8.1.4 Zaman Renaisans

Dua hal pada renaisans yang menonjol yang perlu dicatat yaitu :

1. Selain menguasai bahasa latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

2. Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan malah juga perbandingan.

8.1.5 Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai bapak linguistik modern. Bila kita simpulkan pembicaraan mengenai linguistik tradisional diatas secara singkat dapat dikatakan, bahwa :

a. Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu deskripsi bahasa hanya bertumpu pada bahasa tulisan.

b. Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mangambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa latin.

c. Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptif, yakni benar atau salah.

d. Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsika dengan melibatkan logika.

e. Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

8.2 Linguistik Strukturalis

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu.

8.2.1 Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak linguistik modern berdasrkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Allbert Sechehay tahun 1915 (dua tahun setelah de saussure meninggal).

Pandangan yang dibuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

1. Telaah sinkronik dan diakronik.

2. Perbedaan Langue dan parole.

3. Perbedaan significant dan signifie.

4. Hubungan sintagmatig dan paradigmatic.

Telaah bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa /sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya. Yang dimaksud dengan la lague adalah keseluruhan system tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa sifatnya abstrak. Sedangkan yang dimaksud dengan la parole adalah pemakaian atau relisasi langue oleh masing-masing anggota m syarakat bahasa, sifatnya konkret karena parole tidak lain dari pada realit s fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang lain. Yang dimaksud dengan signifiant adalah bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita. Sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita. Sebagai signifian dan signifie itu biasanya mengacu pada suatu aturan atau referen yang berada di alam nyata sebagai sesuatu yang ditandai oleh signe linguistique itu. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan yang tersusun secara berurutan, bersifat linier. Hubungan sintagmatik ini terdapat baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem pada sebuah kata yang tidak dapat diubah tanpa merusak makna itu. Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. 8.2.2 Aliran Praha

Aliran praha terbentuk pada tahun 1926 atas prekarsa salah seorang tokohnya yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh yang lain adalah Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson dan Morris Halle. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri sedangkan, fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalamsuatu system.

Fonem dikelompokkan kedalam kelas-kelas sesuai dengan ciri-ciri pembeda dan hubungan oposisi yang ada.

8.2.3 Aliran Glosematik

Aliran glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev (1899 –

1965). Prosedur yang bersifat analitis dan semi aljabar menghasilkan satuan

dasar yang disebut glosem. Menurut Hjemslev, masing-masing segi mengandung forma dan substansi sehingga diperoleh :

1. forma expresi

2. substansi expresi

3. forma isi

4. substansi isi

8.2.4 Aliran Firtnian

Nama John R. Firth (1890 – 1960) guru besar pada universitas London

sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi prosodi

adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis Ada tiga macam

pokok prosodi yaitu :

1. Prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vocal.

2. Posodi yang terbentuk oleh senai atau jeda.

3. Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

8.2.5 Linguistik Sistemik

M.A.K. Halliday yaitu salah seorang murid firth yang mengembangkan teori firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Pokok-pokok pandangan (SL) adalah

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana.

3. SL lain mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya.

4. SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa.

Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna, forma terbagi

dua yaitu :

1. Leksis yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pola tempat butir-butir itu terletak.

2. Gramatikal yakni yang menyangkut kelas-kelas butir vahasa dan pola-pola tempat terletalnya butir bahasa tersebut.

8.2.6 Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Leonard Bloomfield (1877 – 1949) terkenal karena bukunya yang berjudul language (terbit pertama kali tahun 1933). Faktor yang menyebabkan aliran Amerika dapat berkembang antara lain :

1. Pada masa itu para linguis amerika menghadapi masalah yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperikan.

2. Sikam Bloomfield menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang di Amerika yaitu behaviorisme.

3. Adanya The Linguistics Society of America yang menerbitkan majalah Language, wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

8.2.7 Aliran Tagmemik

Aliran tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics. Aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti susunan). Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

Rumus = S : FN + P : FV + O : FN

Rumus tersebut dibaca : Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.

8.3 Linguistik Tranformasional dan Aliran-aliran Sesudahnya

Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus sesuai dengan fisafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku “Noam Chomsky” yang berjudul Syntactic Strukture pada tahun 1957, yang kemudian dikembangkan karena adanya kritik dan saran dari berbagai pihak didalam buku Chomsky yang kedua berjudul “Aspect of The Theory of Syntax pada tahun 1965. nama yang dikembangkan untuk model tata bahasa yang dikembangkan oleh Chomsky adalah “Transformational Generative Grammar” dalam tata bahsa Indonesia lazim disebut “ Tata bahasa transformasi / tata bahasa generatif. Syarat yang harus dipenuhi dalam tata bahasa :

1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

2. Tata bahasa itu harus berbentuk sedemikian rupa sehingga satuan / istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistic tertentu.

8.3.2 Sistematik Generatif

Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengankaidah transformasi saja.

Menurut teori semantik generatif argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan, sedangkan predikat yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan dan sebagainya.

8.3.3 Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case For Case” tahun 1968 Dalam karangan itu Fillmore membagi kalimat atas :

1. modalitas yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek dan adverbin.

2. proposisi yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat sedangkan nomina sama dengan argument dalam teori semantik generatif.

Makna sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk :

+ [– –X,Y,Z]

Tanda — dipakai untuk menandai posisi verba dalam struktur semantik,

sedangkan X,Y,Z adalah argumen yang berkaitan dengan verba atau predikat

itu yang biasanya diberi label kasus.

OPEN, + [– – – A, I,O]

A = agent, pelaku

I = instrument, alat

O = object, tujuan

Dari uraian diatas dapat kita lihat adanya persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba.

8.3.4 Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Menurut teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relasional network) yang melibatkan tiga macam maujud (entity) yaitu :

a. Seperangkat simpai (notes) yang menampiklan eleman-elemen di dalam suatu struktur.

b. Seperangkat tanda relasional (relational sign0 yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain.

c. Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukan pada tataran yang manakah elemen-elemen itu mengandung relasi gramatikal tertentu terhadap element yang lain.

Chomeur adalah konstituen yang tidak memiliki atau kehilangan fungsi gramatikalnya, sehingga dijuluki “konstituen yang menganggur”. Demikian secara singkat teori tata bahasa rasional mengenai sintaksis.

8.4 Tentang Lingustik Di Indonesia

Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Pada awalnya penelitian bahasa si Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintah colonial, dan untuk melancarkan jalannya pemerintahan colonial di Indonesia. Selain itu juga untuk penyebaran agama Nasrani. Apa yang telah dilakukan para peneliti Barat itu dapat kita lihat dalam sejumlah buku “Bibliographical series” terbitan Koninkliijk Instituut Voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV) Belanda, antara lain yang disusun oleh Teeuw (1961), Unnlenbeck (1964), Voorhove (1955) dan Cense (1958). Tampaknya cara pendeskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu masih berlanjut terus pada tahun tujuh puluh dan delapan puluhan, seperti yang dilakukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa). Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini baik didalam negeri maupun luar negeri. Secara nasional bahasa Indonesia telah mempunyai sebuah buku tata bahasa baku dan sebuah kamus besar yang disusun oleh para pakar yang handal.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat namanama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, dan Soedarjanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s