Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Windy Reviyanti Sukarta;1402408115 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 12:28 pm

Nama : Windy Reviyanti Sukarta

NIM : 1402408115

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Jadi fonologi adalah cabang dari linguistic yang menyelidiki ciri-ciri bahasa, cara terjadinya dan fungsinya dalam system kebahasaan secara keseluruhan. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibagi menjadi Fonetik dan Fonemik.

4.1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi 3 jenis yaitu Fonetik artikulatoris, Fonetik akustik, dan Fonetik auditoris. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris karena fonetik ini berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.

4.1.1. Alat Ucap

Sebenarnya alat ucap itu juga memiliki fungsi utama lain yang bersifat biologis. Namun, secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga untuk berbicara. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan alat ucap itu namun disesuaikan dengan nama latinnya.

4.1.2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahsa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara.Ketika pita suara terbuka, udara bias keluar. Setelah itu entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara keluar tanpa hambatan, maka kita tidak dapat mendengar bunyi apa-apa kecuali bunyi nafas. Sesudah melewati pita suara, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut atau rongga hidung, dimana bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan. Tempat bunyi bahasa ini terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan yang dibuat untuk studi fonetik biasanya berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin dengan menambahkan tanda diakritik dan modifikasi pada huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1. Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi (I dan u), vokal tengah (e dan o) dan vokal rendah (a). Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan (i dan e), vokal pusat (ә), dan vokal belakang (u dan o).

4.1.4.2. Diftong dan Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun.

4.1.4.3. Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan tak bersuara. Berdasarkan tempat artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1. Bilabial

2. Labiodental

3. Laminoalveolar

4. Dorsovelar

Berdasarkan cara artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1.Lambat (letupan, plosif, stop)

2.Geseran atau frikatif

3.Paduan atau frikatif

4.Sengaran atau nasal

5.Getaran atau trill

6.Sampingan atau lateral

7.Hampiran atau aproksiman

4.1.5. Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi tidak disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi atau unsur suprasegmental atau prosodi.

4.1.5.1. Tekanan atau Stes

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras dan sebaliknya.

4.1.5.2. Nada dan Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada, yaitu:

1. Nada naik atau meninggi, tandanya / . . . /

2. Nada datar, tandanya / . . . /

3. Nada turun atau merendah, tandanya / . . . /

4. Nada turun naik, tandanya / . . . /

5. Nada naik turun, tandanya / . . . /

4.1.5.3. Jeda atau Persendian

Jeda berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Biasanya dibedakan atas sendi dalam atau internal juncture dan sendi luar atau open juncture. Dibedakan menjadi jeda antar kata dalam frase (/), jeda antar frase dalam klausa (//), jeda antar kalimat (#).

4.1.6. Silabel

Silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi adalah bunyi vokal. Karena itulah disebut bunyi silabis atau puncak silabis.

4.2. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna.

4.2.1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, bisanya sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama dan mencari pasangan minimalnya. Kalau ternyata satuan bahasa tersebut berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem.

4.2.2. Alofon

Alofon adalah bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapan atau kalau kita lihat dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan.

4.2.3. Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi bunyi fonem sama dengan cara klasifikasi bunyi dan unsure suprasegmental, hanya dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonan. Ini agak terbatas sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional.

4.2.4. Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4.2.5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau ada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

4.2.5.1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Biasanya dibedakan adanya asimilasi profresif, asimilasi regresif, dan asimilasi resiprokal. Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4.2.5.2. Netralisasi dan Arkifonem

Misal dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja hard “keras” dan dilafalkan /hart/ dan hart “jantung” dan diucapkan /hart/. Jadi pelafalan kedua kata yang dieja berbeda itu adalah sama. Dalam bahasa Belanda, konsonan lambat bersuara seperti (d) itu adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara yakni (t). Jadi, adanya bunyi (t) pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi itu. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam pengistilahan linguistik disebut arkifonem. Dalam hal ini biasanya dilambangkan dengan huruf besar /D/

4.2.5.3. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut yaitu perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya tinggi. Ablaut adalah perubahan vokal yang kita ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4.2.5.4. Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang terdapat dalam satu kata. Bukan mengubah bentuk fonem menjadi bentuk fonem lain. Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgen dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

4.2.6. Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon yang bunyinya jelas tidak sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut system ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem adalah huruf yang digunakan dari aksara latin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s