Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

TYAS PRIMASARI (1402408265) BAB IV Oktober 22, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:58 pm

Nama : Tyas Primasari

NIM : 1402408265

BAB 4.

TATARAN LINGUISTIK (1)

FONOLOGI

Fonologi berasal dari kata fon : bunyi dan logi : ilmu. Fonologi dibagi menjadi dua yaitu :

Ÿ Fonetik yaitu studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperha-tikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna.

Ÿ Fonemik yaitu studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi-bunyi tersebut.

I. FONETIK

Menurut proses terjadinya bunyi fonetik dibedakan menjadi tiga :

1. Fonetik artikulatoris / fonetik organis / fonetik fisiologis : mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara menghasilkan bunyi bahasa dan bagaimana bunyi-bunyi diklasifikasikan.

2. Fonetik akustik : bunyi sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.

3. Fonetik auditoris : bagaimana peristiwa penerimaan bunyi oleh telinga.

Tempat bunyi terjadi disebut tempat artikulasi, prosesnya adalah proses artikulasi dan alat-alatnya disebut artikulator yang dibedakan menjadi dua, yaitu:

Ÿ Artikulator aktif : alat ucap yang bergerak, contoh bibir bawah.

Ÿ Artikulator pasif : alat ucap yang tidak dapat bergerak, contoh bibir atas.

Bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur.

# Tulisan fonetik

Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan 1 bunyi bahasa.

# Klasifikasi bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah pembentukan bunyi vokal, arus udara setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa. Sedang pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan. Bunyi konsonan bersuara jika pita suara terbuka sedikit dan tidak bersuara jika pita suara terbuka agak lebar, sedangkan bunyi vokal semuanya bersuara.

# Klasifikasi vokal

Penamaannya berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

# Diftong dan vokal rangkap

Disebut seperti ini karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awal dan akhir tak sama. Ketidaksamaan terletak pada tinggi rendah lidah, bagian lidah yang bergerak serta strikturnya. Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya yaitu diftong naik dan diftong turun.

# Klasifikasi konsonan

Bunyi konsonan biasanya dibedakan dalam 3 kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

# Unsur suprasegmental

Suprasegmental adalah bagian yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

a. Tekanan atau stres

b. Nada atau pitch

c. Jeda atau persendian

# Silabel

Salah satu dari satuan bunyi adalah silabel atau suku kata, yaitu satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Onset adalah bunyi pertama pada sebuah silabel.

II. FONEMIK

Ÿ Fonemik adalah pembeda makna kata

Ÿ Identitas fonem

Untuk mengetahui apakah bunyi itu fonem atau tidak harus dicari sebuah satuan bahasa dengan membandingkan kata lain yang mirip dengan satuan bunyi pertama, kalau berbeda makna maka termasuk fonem.

Ÿ Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem, seperti bunyi (t) dan (th). untuk fonem (t) bahasa inggris disebut alofon. Identitasnya hanya berlaku pada satu bahasa tertentu.

Ÿ Klasifikasi fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi, bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal konsonan agak terbatas karena hanya bunyi-bunyi yang membedakan makna saja yang disebut fonem.

Ÿ Khazanah fonem

Yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

Ÿ Perubahan fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang ada di sekitarnya. Kasus-kasus dalam perubahan fonem:

1) Asimilasi dan disimilasi

Asimilasi adalah berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu memiliki ciri-ciri dan bunyi yang sama dengan bunyi yang mempengaruhi.

Ÿ Asimilasi fonemis adalah perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem.

Ÿ Asimilasi alomorfemis adalah perubahan yang tidak menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem.

Asimilasi juga biasanya dibedakan menjadi :

a. Asimilasi progresif : bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif : bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal : perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

2) Netralisasi dan Arkifonem

Dalam bahasa Belanda kata yang dieja hard “keras” dan hart “jantung” pengucapannya sama yaitu [hart]. Konsonan hambat bersuara (d) dalam bahasa Belanda adalah tidak mungkin maka diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara [t]. Oposisi antara bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi. Dan fonem (d) pada kata hard yang bisa berwujud (t) atau (d) dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

3) Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya lebih tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki. Contoh “kuda” bentuk jamaknya antara lain “kuda-kuda”. Bunyi (a) pada bentuk tunggal menyebabkan bentuk jamaknya juga berbunyi (a).

4) Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penuturan menyingkat atau memperpendek ujaran, misalnya ungkapan tidak tahu menjadi ndak tahu. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri, misal shall not menjadi shan’t. dimana fonem (e) dari shall diubah menjadi /a/ dalam shan’t.

5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis bukan merubah fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh: selain bentuk sapu ada kata apus dan usap.

Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu biasanya yang homogran dengan lingkungannya disisipkan dalam sebuah kata. Contoh : dalam bahasa Indonesia ada kata sampi disamping kata sapi, ada kampak disamping kata kampak. Kata-kata ini ada bunyi [m] yang disisipkan di tengah kata.

Ÿ Fonem dan Gramer

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Yang dilambangkan adalah fonemnya, bukan alofonnya. Misal, alofon [o] dan [,] dari fonem /o/ bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf yang sama,

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s