Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

SAFRINA NUR AINI_1402408204_bab 7 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:32 pm

BAB 7

TATANAN LINGUISTIK SEMANTIK

Betapa pentingnya semantik dalam setudi linguistik, sehingga banyak perhatian diarahkan pada semantik

7.1. HAKIKAT MAKNA

Banyak pakar mengatakan bahwa kita baru dapat mennetukan makna sebuah kata apabila iyu sudah berada dalam konteks kalimatnya.

Misal

a. Adik jatuh dari sepeda

b. Dia jatuh cinta pada adikku

c. Sudah hampir pukul dua belas!

Apabila kalimat tersebut diatas diucapkan oleh seorang ibu asrama putri tergadap seorang pemuda yang masih betandang di Asrama itu, berarti pengusiran secara halus.

7.2. JENIS MAKNA

Telah kita ketahui bahwa bahasa itu digunakan diberbagai kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa menjadi bermacam – macam bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda.

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, Dan Kontekstual

Laksem kuda memiliki makna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai pensil,memilikimakna leksikal ‘sejenis alat tulis yang ternuat dari kayu dari contohdiatas dapat diketahui bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus.

Sedangkan untuk makna gramatikal baru ada kalau terjadi gramatikal.makna kontekstual dalah makna sebuah kata yang berada dalam satu konteks

Contoh :

a. Rambut dikepala nenek belum ada yang putih

b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu

7.2.2. Makna Referensial Dan Non-Ferensial

Kata-kata yang ada acuanya dalam dunia nyata adalah yang disebut bermakna referensial.

Contoh :

Kuda,kambing,daun,hijau. Sebaliknya kata-kata seperti dan,atau dan karena adalah kata-kata yang tidak bermakna reverens.

Kata-kata deiktek adalah kata-kata yang tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain.

7.2.3. Makna Denotatif Dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna yang sebenarnya, ini sama dengan makna lesikal.

Contoh :

Kata sapi bermakna denotative, sapi adalah sejenis binatang yang biasa diternakkan yang bisa dimanfaatkan daging dan susunya. Sebaliknya, makna konotatif adalah makna yang tidak sebenarnya.

Contoh :

Kata kerempeng bermakna konotasi negative, kerempeng adalah ukuran atau bentuk tubuh manusia. Orang akan merasa tidak anak kalau dikatakan tubuhnya “kerempeng”.

7.2.4. Makna Konseptual Dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah laksem yang terlepas dari konteks atau asosiasi apapun.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya, kata merah “berani”, kata melati berasosiasi dengan kesucian.

7.2.5 Makna Kata Dan Makna Istilah

Setiap kata memiliki makna, makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotative dan makna konseptual. Penggunaan makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya.

Misalnya saja kalimat dibawah ini:

a. Tangannya terluka kena pecahan kaca.

b. Lengannya luka kena pecahan kaca.

7.2.6. Makna Ideom Dan Pribahasa

Ideom adalah satuan ajaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur – unsurnya, baik secara leksikal maupun secar gramatikal.

Pribahasa, memiliki suatu arti yang masih dapat diketahui, karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahsanya.

7.3. RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa disini dapat berupa kata, frase maupun kalimat, dan relasi semantic itu menyatakan kesamaan makna, pertentangan makna, ketercakupan makna dan juga kelebihan makna, dalam relasi makna dibicarakan tentang sinonim, antonim, polisemi, homomini, hiponimi, ambiguity dan redundasi.

7.3.1. Sinonim

Sinonim adalah kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan ujaran lainnya, bersifat dua arah.

Tetapi dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan sama persis, factor – factor yang menyebabkan ketidaksamaan itu terjadi, antara lain :

ü Factor waktu

ü Faktor tempat atau wilayah

ü Factor keformalan

ü Factor social

ü Bidang kegiatan

ü Factor nuansa makna

7.3.2. Antonim

Antonym atau antonimi, adalah hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan atau kontras anatara yang satu dengan yang lain.

Pertama, antonimi yang bersifat mutlak, contoh kata diam berantonim mutlak dengan kata bergerak.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata yang mempunyai makna lebih dari satu, contohnya kata Kepala, kata kepala yang mempunyai makna bagian tubuh manusia. Misalnya, contoh dalam kalimat :

a. Kepalanya luka terbentur

b. Kepala Sekolah itu sedang sakit

c. Kepala Surat harus ditulis jelas

7.3.4. Homonimi

Dua buah kata yang bentuknya sama, tetapi makna berbeda. Contoh : kata “bisa” yang bermakna “dapat” dan kata “bisa” yang bermakna “racun ular”.

7.3.5 Hiponimi

Hubungan simantik anatara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.

7.3.6. Ambiguiti atau Ketaksaan

Gejala terjadinya kegandaan makna akibat ketafsiran gramatikal yang berbeda. Umumnya terjadi pad bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsure supra segmental tidak dapat digambarkan dengan akurat.

7.3.7. Redundasi

Istilah redundasi biasa diartikan sebagai berlebih – lebihan dalam penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Nina mengenakan baju berwarna merah. Tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Nina berbaju merah.

7.4. PERUBAHAN MAKNA

Perubahan makna terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh berbagai factor, antara lain :

a. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi

b. Perkembangan social budaya

c. Perkembangan pemakaian kata

d. Pertukaran tanggapan indra, rasa getir, asin, rasa pedas

e. Adanya asosiasi

7.5. MEDAN MAKNA dan KOMPONEN MAKNA

Medan makna adalah kata – kata yang berada dalam satu kelompok lazim.

7.5.1. Medan Makna

Yang dimaksud dengan medan makna adalah seperangkat unsure fleksikal yang makananya saling berhubungan. Karena mengembangkan bagian dari bidang kebudayaan dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama – nama, warna, perabot rumah tangga.

Berdasarkan sifat hubungan semantiknya dibedakan atas kelompok medan kolosikasi dan medan set.

7.5.2. Komponen Makna

Berdasarkan pengertian yang dimilikinya. Misalnya, kata “Ayah” memiliki komponen makna, manusia + dewasa + jantan + kawin dan + punya anak. Kata “Ibu” memiliki komponen makna, manusia + dewasa – jantan + kawin dan + punya anak.

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sitatik

Diterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantic. Contoh kalimat yang tampak perbedaan ketidak berterisamaan.

Ø Kambing yang pak Udin terlepas lagi.

Ø Segelas kambing minum setumpuk air.

Ø Kambing itu membaca komik.

Analisis persesuaian semantic dan sntaktik ini harus memperhitungkan komponen makna kata secara terperinci.

 

One Response to “SAFRINA NUR AINI_1402408204_bab 7”

  1. Noor Mariana Ulfah_1402408286 Says:

    Apa perbedaan antara sinonim dan polisemi?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s