Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Revi Artha Astuti; 1402408325 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 1:17 pm

Nama : Revi Artha Astuti

NIM : 1402408325

BAB 4 TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, maka akan kita dengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa. Runtutan bunyi bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat dalam runtutan bunyi itu, yang akan dibahas dalam suatu bidang linguistik yang disebut fonologi. Secara etimologi, terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi debedakan menjadi fonetik dan fonemik.

4.1 FONETIK

Adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Misalnya, pada bunyi [i] yang terdapat pada kata-kata [intan], [angin], dan [batik] dalah tidak sama. Dan inilah salah satu contoh objek atau sasaran studi fonetik. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu :

a. Fonetik artikulatoris, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Sehingga fonetik artikulatoris sering disebut fonetik organis atau fonetik fisiologis.

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya. Fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika.

c. Fonetik auditoris, mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi.

Dari ketiga jenis fonetik di atas, yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris, meskipun tidak menutup kemungkinan linguistik bekerja dalam bidang fonetik akustik ataupun auditoris.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris, alat ucap manusia digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa. Alat-alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

Paru-paru (lung)

Batang tenggorok (trachea / larynx) : laringal

Pangkal tenggorok (larynx)

Pita suara (vocal cord)

Krikoid (cricoid)

Tiroid (thyroid) : lekum

Aritenoid (arythenoid)

Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx) : faringal

Epiglottis (epiglottis)

Akar lidah (root of the tongue)

Pangkal lidah (dorsum) : dorsal

Tengah lidah (medium) : medial

Daun lidah (laminum) : laminal

Ujung lidah (apex) : apikal

Anak tekak (uvula) : uvular

Langit-langit lunak (velum) : velar

Langit-langit keras (palatum) : palatal

Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum) : alveolar

Gigi atas (upper teeth / dentum) : dental

Gigi bawah (lower teeth / dentum)

Bibir atas (upper lip / labium) : labial

Bibir bawah (lower lip / labium)

Mulut (mouth)

Rongga mulut (oral cavity)

Rongga hidung (nasal cavity)

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara.

Selanjutnya untuk memperoleh bunyi bahasa, bergantung pada ada atau tidaknya hambatan setelah udara terpompa. Hambatan yang pertama adalah pada pita suara itu sendiri. »Jika pita suara dalam posisi terbuka lebar, maka tidak ada hambatan apa-apa, artinya udara yang dipompa bisa terus keluar bebas, sehingga tidak ada bunyi yang dihasilkan, selain bunyi napas secara normal. »Jika pita suara terbuka dalam posisi agak lebar, maka akan terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara. Disebut bunyi tak bersuara karena tidak ada getaran apa-apa pada pita suara itu. »Jika pita suara dalam posisi terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara. Disebut bunyi bersuara karena terjadi getaran pada pita suara ketika arus udara melewatinya. »Jika pita suara dalam posis tertutup rapat, maka akan terjadilah bunyi hamzah atau glottal stop.

Sehingga dalam memperoleh bunyi bahasa, dalam prosesnya butuh hambatan atau gangguan terhadap arus udara yang dipompakan dari paru –paru, yang kemudian arus udara itu diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut / rongga hidung. Tempat bunyi bahasa dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya disebut proses artikulasi, dan alat-alat nya disebut alat artikulasi / artikulator.

Dalam proses artikulasi, ada dua macam artikulasi. ¹ Artikulasi aktif : alat ucap yang bergerak atau digerakan. Misalnya, bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. ² Artikulasi pasif : alat udap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulasi altif. Misalnya, bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras. Baik artikulasi aktif maupun pasif, adalah bunyi tunggal sebagi hasil satu proses artikulasi. Dalam prosesnya, setelah berlangsung artikulasi pertama, disusul artikulasi kedua. Yang sering disebut artikulasi sertaan dan bunyi yang dihasilkan adalah bunyi sertaan. Contohnya, dalam proses labialisasi, palatalisasi, velarisasi, dan faringalisasi.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistic dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis, dan system aksara tertentu (seperti aksara lain, dan sebagai nya) untuk ejaan ortografis.

* Dalam tulisan fonetik, setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang suprasegmental, dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunyi mempunyai lambing-lambangnya sendiri, menskipun perbedaannya hanya sedikit. * Dalam tulisan fonemik, hanya perbedaan bunyi yang distingtif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya. Bunyi-bunyi yang mirip tapi tidak membedakan makna kata tidak diperbedakan lambangnya. * Dalam tulisan ortografi, dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit, yang menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang dipompakan dari paru-paru. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

4.1.4.1 Bunyi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Menurut posisi lidah bisa bersifat : ¹ Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya : bunyi [i] dan [u], vokal tengah, misalnya : bunyi [e] dan [∂], dan vokal rendah, misalnya : bunyi [a]. ² Secara horosontal dibedakan adanya vokal depan,misalnya : bunyi [i] dan [e], vokal pusat, misalnya : bunyi [∂], dan vokal belakang, misalnya : bunyi [u] dan [o]. Menurut bentuk mulut dibedakan adanya : ¹ vokal bundar, bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu. Misalnya : vokal [o] dan vokal [u]. ² vokal tak bundar, bentuk mulut tak membundar, melainkan melebar pada waktu mengucapkan vokal tersebut. Misalnya : vokal [i] dan vokal [e].

Sehingga, kita bisa memberi nama akan vokal-vokal tersebut :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vokal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vokal pusat tengah tak bundar

[o] adalah vokal belakang tengah bundar

[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar.

4.1.4.2 Diftong Atau Vokal Rangkap

Disebut Diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsure-unsurnya, sehingga dibedakan adanya : ¹ Diftong naik, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari bunyi yang kedua. ² Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4.1.4.3 Bunyi Konsonan

Bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan :

  1. Posisi pita suara, yang terdiri atas : ¹ Bunyi bersuara dan ² Bunyi tidak bersuara.
  2. Tempat artikulasi, kita mengenal konsonan :

o Bilabial : konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir (bibir bawah merapat pada bibir atas). Contoh : bunyi [b], [p], dan [m].

o Labiodental : konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas (gigi bawah merapat pada bibir atas). Contoh : bunyi [f], dan [v].

o Laminoalveolar : konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi (daun lidah menempel pada gusi). Contoh : bunyi [t], dan [d].

o Dorsovelar : konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum / langit-langit lunak. Contoh : bunyi [k], dan [g].

  1. Cara artikulasi, kita bedakan adanya konsonan :

– Hambat (letupan, plosif, stop) : artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Contoh : bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].

– Geseran atau Frikatif : artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh : bunyi [f], [z], dan [s].

– Paduan atau Frikatif : artikulator aktid menghambat sepenuhnya aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Contoh : bunyi [c], dan [j].

– Sengauan atau Nasal : artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh : bunyi [m], [n], dan [ŋ].

– Getaran atau Trill : artikulator aktif melakukan kontak berurutan dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contoh : konsonan [r].

– Sampingan atau Lateral : artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, allu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contoh : konsonan [l].

– Hampiran atau Aproksiman : artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran. Contoh : bunyi [x], dan [y].

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Yaitu suatu arus ujaran yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur suprasegmental biasanya dibedakan pula atas :

4.1.5.1 Tekanan atau Stres

Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras, begitupun sebaliknya.

4.1.5.2 Nada atau Pitch

Berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segemental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi, begitupun sebaliknya.

4.1.5.3 Jeda atau Persendian

Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena adanya hentian itu, disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Biasanya dibedakan adanya : ¹ Sendi dalam (internal juncture) : menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain. Sendi dalam ini yang menajdi batas silabel, biasanya diberi tanda tambah (+). Misalnya : /am+bil/, /lam+pu/, dan /pe+lak+sa+na/. ² Sendi luar (open juncture) : menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel. Biasanya diberi tanda sebagai berikut :

a. Garis miring tunggal ( / ) untuk jeda antarkata dalam frase.

b. Garis miring ganda ( // ) untuk jeda antarfrase dalam klausa.

c. Garis silang ganda ( # ) untuk jeda antarkalimat dalam wacana.

Misalnya : # buku // sejarah / baru #

# buku / sejarah // baru #

4.1.6 Silabel

Yaitu satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran, yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Namun, dalam satuan ritmis tertentu, sebuah konsonan, baik yang bersuara maupun yang tidak, mempunyai kemungkinan juga untuk menjadi puncak silabis.

4.2 FONEMIK

Adalah cabang studi fonologi yang meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, amka bunyi tersebut disebut fonem, dan jika tidak membedakan makna adalah bukan fonem.

4.2.1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, harus mencari sebuah satuan bahasa / pasangan minimal nya. Yaitu sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut, kemudian dibandingkan dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Jika kedua satuan sahasa itu berbeda makna, maka bunyi tersebut adalah sebuah fonem. Tapi, ada juga pasangan minimal yang tidak mempunyai jumlah bunyi persis sama. Misalnya : kata muda dan mudah merupakan pasangan minimal. Tiadanya bunyi [h], menyebabkan perbedaan makna. Sehingga, bunyi [h] termasuk sebuah fonem. Contoh :

[l], [a], [b], [a]

[r], [a], [b], [a]

Perbedaannya hanya pada bunyi pertama, yaitu pada bunyi [l], dan [r]. Ternyata bisa membedakan makna. Maka bunyi [l], dan [r] adalah dua buah fonem yang berbeda dalam konteks kalimat tersebut.

4.2.2 Alofon

Yaitu bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem. Maka dapat dikatakan bahwa yang bersifat abstrak adalah fonem, akrena fonem hanyalah abstraksi dari alofon-alofon itu. Sehingga alofon adalah wujud konkret atau nyata yang ada dalam bunyi bahasa, karena alofon-alofon itulah yang diucapkan. Contoh : fonem [i] memiliki empat buah alofon, yaitu bunyi [i] pada kata cita, bunyi [I] pada kata tarik, bunyi [ī] pada kata ingkar, dan bunyi [i:] pada kata kali. Alofon-alofon dari sebuah fonem tersebut, banyak memiliki kesamaan dalam pengucapannya (kemiripan fonetis). Untuk itu, distribusinya pun dapat berupa komplementer atau juga bersifat bebas.

  • Distribusi komplementer : distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun dipertukarkan, juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Contoh : fonem /o/ yang berada pada silabel terbuka diucapkan [o] pada kata toko dan loyo, dan yang berada pada silabel tertutup diucapkan [Э] pada kata tokoh dan bodoh.
  • Distribusi bebas : distribusi yang alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Contoh : bunyi [o] dan [Э] merupakan alofon dari fonem /o/, pada kata obat dapat dilafalkan [obat] dan juga [Эbat], begitu juga kata orang dapat dilafalkan [orang] juga bisa [Эrang].

4.2.3 Klasifikasi Fonem

Terbagi atas fonem vokal dan fonem konsonan. Klasifikasi fonem ini agak terbatas, sebab ahnya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat dari hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental, sedangkan fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.Contoh : pada kata greenhouse, bila ditekankan pada unsur green maka akan berarti ‘rumah kaca;, dan jika ditekankan pada unsur house maka akan berarti ‘rumah hijau’. Jadi, tekanan dalam bahasa Inggris itu bersifat fonemis atau fungsional, yaitu dapat membedakn makna.

Jika kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penamaan fonem pun sama dengan penamaan bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar, maka akan ada pula fonem vokal depan tinggi bundar, dan seterusnya.

4.2.4 Khazanah Fonem

Yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu abhasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain., karena adanya perbedaan tafsiran menurut pakar satu dengan pakar yang lain.

Contohnya dalam bahasa Indonesia ada yang menghitung jumlah fonem hanya 24 buah, yaitu terdiri dari 6 buah fonem vokal (a, i, u, e, ∂, dan o), dan 18 buah fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, ŋ, s, h, r, l, w, dan y), ada juga yang menghitung jumlah fonem ada 28 buah yakni dengan menambahkan 4 buah fonem yang berasal dari abhasa asing, yaitu fonem f, z, ∫, dan x. Dan masih banyak lagi pendapat para pakar yang lain.

4.2.5 Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya. Dalam bahasa-bahasa tertentu ada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain. Berikut ini akan dibicarakan beberapa kasus perubahan fonem itu :

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

* Asimilasi merupakan peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang emmepengaruhinya. Contoh : pada kata Sabtu lazim diucapkan [saptu], terlihat bahwa bunyi [b] berubah menjadi [p] sebagai akibat pengaruh bunyi [t]. Yaitu bunyi [b] adalah bunyi hambat bersuara, sedangkan bunyi [t] adalah bunyi hambat tak bersuara. Sehingga bunyi [b] berubah menjadi bunyi [p] yang juga tidak bersuara. Dapat disimpulkan, bahwa bunyi [b] dan [p] adalah dua buah fonem yang berbeda yaitu fonem [b] dan fonem [p], maka perubahan tersebut merupakan asimilasi fonemis. Yaitu jika perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem. Dan jika perubahan itu tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka merupakan perobahan fonetis atau alomorfemis. * Disimilasi merupakan perubahan yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. Contoh : pada kata cipta dan cinta (berasal dari bahasa Sansekerta ‘citta’), dapat dilihat bahwa setelah melalui penyesuaian dalam versi bahasa indonesia, bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan menjadi bunyi [nt] pada kata cinta.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Dalam bahasa Belanda ada kata hard (keras) yang dilafalkan [hart], juga ada kata hurt (jantung) yang dilalafalkan [hart]. Padahal, kedua kata itu dieja dalam bentuk yang berbeda, tapi dalam pelafalannya sama. Hal ini karena, dalam bahasa Belanda, konsonan hambat bersuara seperti [d] itu tidak mungkin, sehingga diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara yakni [t]. Kemudian, pada posisi akhir, akan terjadi oposisi bunyi [d] bersuara yang dinetralkan menjadi bunyi tak bersuara [t]. Jadi, adanya bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi itu. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem. Contoh lain : pada kata jawab dilafalkan /jawap/ atau juga bisa /jawab/, tetapi jika diberi akhiran –an, maka bentuknya menjadi jawaban, sehingga di sini ada arkifonem yang ditulis /B/, yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /p/.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

* Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi. * Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Jadi: perbedaanAblaut dengan Umlaut adalah kalau Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedangkan Ablaut bukan akibat pengaruh bunyi berikutnya, dan bukan pula terbatas pada peninggian bunyi, melainkan bisa juga pada pemanjangan, pemendekan, atau penghilangan vokal. * Harmoni vokal adalah keselarasan vokal yang bisa berlangsung dari kiri ke kanan, atau dari silabel yang mendahului ke arah sialbel yang menyusul, ada juga yang bisa berlangsung dari kanan ke kiri. Contoh : dalam bahasa Jawa, ada perubahan vokal /o/ menjadi vokal /a/ dalam proses pengimbuhan akhiran –e atau akhiran –ne. Yaitu pada kata amba yang dilafalkan [o-mbo] ’lebar’ menjadi ambane yang dilafalkan [a-mbane] ’lebarnya, sega yang dialfalkan [se-go] ’nasi’ menjadi segane yang dilafalkan [s-gane] ’nasinya’.

4.2.5.4 Kontraksi

Umpamanya dalam bahasa Indonesia, ungkapan tidak tahu diucapkan menjadi ndak tahu, ungkapan itu tadi diucapkan menjadi tutadi. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen denagn pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis : mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu akat. Contoh : selain bentuk sapu, ada bentuk apus dan usap ; selain bentuk berantas ada bentuk banteras. Proses epentesis : biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Contoh : ada kata sampi di samping kata sapi, yaitu terdapat bunyi [m] yang disisipkan di tengah kata.

KESIMPULAN

Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan, harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama. Bila ternyata kedua kata itu memiliki makna yang berbeda, maka kedua kata itu adalah dua buah fonem yang berbeda. Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam pertuturan direalisasikan oleh alofon, atau alofon-alofon yang sesuai dengan lingkungan tempat hadirnya fonem tersebut.

Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem itu, dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik ini setiap alofon, termasuk unsur-unsur suprasegmentalnya, dapat digambarkan secara tepat, tidak meragukan. Dalam transkripsi fonemik, penggambaran bunyi-bunyi itu kurang akurat, sebab alofon-alofon yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang dialmbangkan adalah fonemnya, bukan alofonnya. Misalnya : alofon [k] dan [?] dari fonem /k/ bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf yang sama, yaitu huruf <k>.

Yang paling tidka akurat adalan transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

Iklan
 

One Response to “Revi Artha Astuti; 1402408325”

  1. Galih Nur Asih Says:

    Dari : Galih Nur Asih / 1402408223
    Untuk : Revi Artha Astuti / 1402408325
    Pertanyaan : Mengapa fonem itu dapat dikatakan bersifat abstrak?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s