Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

novita Jewanti Sabila_1402408293_BAB 6 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 7:28 pm

Nama : Novita Jewanti Sabila

Nim : 1402408293

TATARAN LINGUISTIK ( 2 ):

MORFOLOGI

5.1. MORFEM

5.1.1 Identifikasi Morfem

Sebuah satuan bentuk dinyatakan sebagai morfem apabila bentuk tersebut bias hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain. contoh 1: kedua , ketiga , kelima, keenam, kesepuluh bentuk ke pada daftar di atas mempunyai makna sama yaitu menyatakan tingkat atau derajat, sehingga dapat disebut sebagai morfem. Cotoh 2: menelantarkan, terlantar, lantaran

Bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya bentuk menelantarkan memang punya hubungan dengan telantar tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran. Suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.

Contoh: mesjid dilambangkan sebagai { mesjid }

Bentuk jamak bahasa Inggris books dilambangkan sebagi {book}+{s}. Untuk bentuk jamak feet mungkin bisa menjadi {feet}+{jamak} atau dapat juga mengambil bentuk kongret dari morf bentuk jamak itu {feet}+{-s}.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Perhatikan contoh berikut!

Melihat, merasa, membawa, membantu, mendengar, menduda, menyanyi, menyikat, menggali, menggoda, mengelas, mengetik.

Contoh diatas adalah sebuah morfem, sebab meskipun tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat dijelaskan secara fonoligis

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama disebut alomorf. Morf dan Alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya, sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya. Bentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- dalam buku Tata Bahasa Buku Indonesia dipilih alomorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya. Namun dalam study linguistic lebih umum disebut morfem meN- (dibaca:me- nasal; N besar melambangkan Nasal).

5.1.3 Klasifikasi Morfem

5.1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Contoh: pulang, makan, rumah dan bagus adalah termasuk morfem bebas. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam morfem Indonesia:

Pertama, bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk tersebut meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam peraturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti afeksasi, reduplikasi,dan komposisi. Bentuk-bentuk ini lazim disebut bentuk prakate gorial (Verhaar 1978). Kedua, bentuk-bentuk seperti baca, tulis dan tendang juga termasuk bentuk prakategorial, karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan pangkal kata, sehinggabaru bisa muncul dalam peraturan sesudah mengalami proses morfologi.

Menurut Verhaar kalimat imperative adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif. Dalam kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-, dalam kalimat deklaratif pasif harus digunakn prefiks inflektif di-, atau ter-; sedangkan dalam kalimat imperative, juga dalam kalimat partisif, harus digunakn prefiks inflektif θ. Ketiga bentuk-bentuk seperti renta (yang hanya muncul dalam tua renta), kerontang (yang hanya muncul dalam kering kerontang) juga termasuk morfem terikat, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk tersebut disebut juga morfem unik.

Keempat, bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan kalau dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.

Kelima, yang disebut klitika merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya; apakah terikat atau bebas. Kalimat Ayahlah yang akan datang dapat dipisah dari kata ayah, misalnya menjadi Ayahmulah yang akan dating.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Semua morfem dasar bebas yang dibicarakanpada 5.1.3.1 adalah morfem utuh. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada kata kesatuan terdapat satu morfem yang utuh yaitu {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}. Yang perlu diperhatikan untuk morfem Indonesia :

Pertama, semua afiks yang disebut konfuks seperit ke-an, ber-/-an, per-/-an, dan per-/-an adalah termasuk morfem terbagi. Namun ber-/-an bisa merupakan konfiks.Untuk menentukan apakah ber-/-an konfiks atau bukan maka harus diperhatikan makna gramatikal yang disandangnya .

Kedua, dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks, yakni afiks yang disisipkan ditengah morfem dasar. Misalnya, afiks {-er-} pada kata gerigi, infiks {-el-}pada kata pelatuk. Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem utuh {gigi} menjadi morfem terbagi {g-/-igi}, morfem utuh {patuk}menajdi morfem terbagi {p-/-atuk}.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem ayng dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat} ,{lah}, {sikat}, dan {ber} .Jadi semua morfem ayng berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya dalam bahasa Ngabaka diKongo Benua Afrika setiap verba selalu disertai dengan penunjuk kata {tense) yang berupa nada. Aturannya, nada turun (\) untuk kala ini, nada datar (-) untuk kala lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti, dan nada naik (/) untuk bentuk imperative. Contoh : kala kini kala lampau kala nanti imperative makna à ā ă á menaruh.

Kita lihat di samping morfem segmental {a} dengan arti menaruh ’menaruh’ ada empat morfem suprasegmental yang menyebabkan keempat morfem itu bermakna: {à} ’sedang menaruh’, {ā} ’sudah menar’, {ă}’akan menaruh’, dan{ā} ’taruhlah’. Dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak ada morfem suprasegmental ini.

5.1.3 4 Morfem Beralomorf Zero (ø)

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa kekosongan. Bentuk tunggal untuk book adalah book dan bentuk jamaknya adalah books; bentuk tunggal sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga. Karena bentuk jamak untuk books terdiri dari dua buah morfem, yaitu morfem {book} dan morfem {-s}, maka dipastikan bentuk jamak untuk sheep adalah morfem {ø}. Dengan demikian bias dikatakan bahwa {ø} merupakan salah satu alomorf dari morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris. Pada kasus foot menjadi feet dan child menjadi children ada perubahan bentuk, bukan adanya penamabahan atau tidak adanya penambahan.

5.1.3.5 Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lainnya. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, morfem-morfem seperti {kuda}, {Pergi}, dan {merah}adalah morfem bermakna leksika. Sebaliknya morfem bermakna tidak leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.Yang biasanya disebut dengan morfem tidak bermakna leksikal ini adalah morfem-morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}, dan{ter-}.

5.1.4 Morfem Dasar,Bentuk Dasar,Pangkal (Stem),dan Akar (Root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Jadi, bentuk-bentuk seperti {juang}, {kucing}, dan {sikat} adalah morfem dasar. Morfem dasar ini ada yang termasuk morfem terikat, seperti {juang}, {henti}, dan{abai}; tetapi ada juga yang termasuk morfem bebas seperti {beli}, {lari}, dan {kucing}, sedangkan morfem afiks seperti {ber-}, {ter-}, dan{-kan} jelas semuanya termasuk morfem terikat. Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar base dalamsuatu proses morfologi. Artinya bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa di ulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatau proses komposisi.

Istilah bentuk dasar atau base saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal , tetapi dapat juga berupa gabungan morfem. Istilah pangkal(stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif. Pada kata books pangkalnya adalah book, kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi dan morfem me- adalah sebuah afiks infkeltif. Akar(root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan. Contoh: Untouchables akarnya adalah touch.

5.2 KATA

5.2.1 Hakikat Kata

Para tata bahasawan structural, terutama penangut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan lingual; dan menggantinya dengan satuan yang

disebut morfem. Batasan kata yang dibuat Bloomfield sendiri yaitu kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form) tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah seperti batasan final. Munurut tata bahasa Generatif Transformasi, yang dicetuskan dan dikembangkan oleh Chomsky, meskipun menyatakan kata adalah dasar analisis kalimat, hanya menyajikan kata itu dengan symbol-simbol V (verba), N(nomina), A( ajektiva), dan sebagainya. Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh kelompok Bloomfield dan pengikutnya adalah karena dalam analisis bahasa, mereka melihat hierarki bahasa sebagai: fonem ,morfem, dan kalimat. Brerbeda dengan tata bahasa tradisional yang melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, kata, dan kalimat. Menurut Verhaar (1978) bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia, misalnya mengajar, diajar, kauajar, terajar, dan ajarlah bukanlah lima buah kata yang berbeda, melainka lima buah varian dari sebuah kata yang sama.

5.2.2 Klasifikasi Kata / Part Of Speech

Para tata bahsawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa; sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengiidentifikasikan preposisi, konjugnsi, adverbial, pronominal dan lainnya.Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan ; yang disebut nomina adalah kata yang benda atau yang dibendakan; dan ayng disebut konjungsi adalah kata yang bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lainnya. Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu truktur atau konstruksi. Misalnya, yang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi dibelakang kata bukan; atau dapat mengisi konstruksi bukan…..

Yang termasuk kata verba adalah kata ayng berdistribusi dibelakang kata tidak, atau dapat mengisi konstruksi tidak…..Ajektifa adalah kata-kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat, atau dapat mengisi konstruksi sangat…… Kriteria yang digunakan para tata bahasawan strukturalsi ini dewasa ini,untuk telah bahasa-bahasa Indonesia, banyak diikuti orang karena dianggap lebih baikdan lebih konsisten daripada kriteria yang digunakan tata bahasawan tradisional. Namun sebenarnya kriteria yang digunakan para tata bahasawan strukturalis ini juga banyak menimbulkan banyak masalah. Ada juga kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata. Secara umum, fungsi subjek diisi oleh kelas nomina ;fungsi predikat diisi oleh verba atau ajektifa ;fungsi objek oleh kelas nomina; dan fungsi keterangan oleh adverbial. Klasifikasi atau penggolongan kata itu memang perlu, sebab besar manfaatnya,

baik secara teoritis dalam studi semantic, maupun secara praktis dalam berlatih

keterampilan berbahasa. Dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita

identifikasikan dari ciri-cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau

pendistribusian kata itu didalam ujaran, sebab hanya kata-kata yang berciri atau yang

beridentifiaksi yang sama saja yang dapat menduduki suatu fungsi atau suatu distribusi di

dalam kalimat.

5.2.3 Pembentukan Kata

Untuk dapat digunakan didalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap

bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutinasi, harus dibentuk lebih dulu

menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi ,maupun

proses komposisi. Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk

kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivative.

5.2.3.1 Inflektif

Kata-kata dalam bahasa berfleksi seperti bahasa Arab, bahasa Latin, dan bahasa

Sansekerta, untuk dapat digunakan didalam kalimat harus disesuaikan dahulu bentuknya

dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Perubahan atau

penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada

nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah konjugasi

dan deklinasi dalam Bahasa Indonesia. Namun, banyak penulis barat, termasuk Verhaar

(1978), menyatakan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca, kau baca, dan

bacalah adalah paradigma infleksional.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas yang

identitas fleksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Contoh : dari kata air yang

berkelas nomina dibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba; dari kata makan yang

berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelas nomina. Perbedaan identitas

leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama seperi kata

makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar,

yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disekmentasikan lagi, misalnya meja, beli, makan,

dan sikat. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanya dua jenis afiks

yaitu afiks inflektif dan afiks derivative. Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan

dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang benmtuk dasar, baik secara

keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Dalam

linguistik Indonesia sudah lazim digunakan sejumlah istilah sehubungan dengan

reduplikasi dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda.

Istilah-istilah itu adalah (a) Dwilingga yakni pengulangan morfem dasar, seperti

meja-meja dan aki-aki; (b) Dwilingga salin swara, yakni pengulangan morfem dasar

dengan perubahan vocal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik dan mondar-mandir; (c)

Dwipurwa, yakni pengulangan silabel pertama, seperti lelaki, peparu, pepatah; (d)

Dwiwasana, yakni pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan; (e). Trilingga,

yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, seperti dag-dig-dug dan cas-cis-cus.

Proses Reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat

derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas fleksikal,

melainkan hanya memberi makna dramatikal. Misalnya meja-meja berarti banyak meja.

Yang bersifat derivasional membentuk kata baru atau kata yang identitas fleksikalnya

berbeda dengan bentuk dasarnya. Misalnya kata laba-laba dari dasar laba.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan dasar dengan morfem dasar,

baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang

memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Misalnya, lalu lintas, daya

juang, dan rumah sakit.

Dalam Bahasa Indonesia, proses komposisi ini sangat produktif. Hal ini dapat

dipahami, karena dalam perkembangannya Bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan

kosa kata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosa katanya atau istilahnya

dalam Bahasa Indonesia. Contoh, untuk konsep “sapi kecil” atau “sapi” yang belum

dewasa” disebut anak sapi”, yakni hasil penggabungan kata anak dan sapi.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi, sering juga disebut derifasi zero, transmutasi, dan trasposisi, adalah

proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur

segmental. Contoh, kata cangkul adalah nomina dalam kalimat “Ayah membeli cangkul

baru”; tetapi dalam kalimat “Cangkul dulu baik-baik tanah itu, baru ditanami” adalah

sebuah verba. Modifikasi Internal sering disebut juga penambahan internal atau

perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur

(yang biasanya berupa vocal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya

berupa konsonan).

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan

leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan

makna bentuk utuhnya. Hasil proses pemendekan ini disebut kependekan. Misalnya,

bentul lab (utuhnya laboratorium), hlm (utuhnya halaman), l (utuhnya liter), dan SD

(utuhnya Sekolah Dasar).

Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya dibedakan

atas penggalan, singkatan, dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa

pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan itu. Misalnya, lab

dari laboratorium. Singkatan adalah hasil proses pemendekan. Misalnya, DPR (Dewan

Perwakilan Rakyat), hlm (halaman). Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata

atau dapat dilafalkan sebagai kata. Misalnya wakuncar (waktu kunjung pacar) dan inpres

(instruksi presiden).

5.3.6 Produktivitas Proses Morfemis

Yang dimaksud produktivitas dalam proses morfologis ini adalah dapat tidaknya

proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan

berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah

bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif tidak dapat dikatakan sebagai proses

yang produktif, karena infletif bersifat tertutup. Lain halnya dengan derivasi. Proses

derivasi bersifat terbuka. Artinya, penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru

dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, atau

peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi,

reduplikasi, maupun komposisi. Misalnya dalam proses afiksasi bahasa Indonesia dengan

prefiks me- akan terlihat bahwa prefiks me- itu akan berubah menjadi mem-, men-,

meny-, menge-, atau tetap me-, menurut aturan-aturan fonologis tertentu. Perubahan

fonem dalam proses merfofonemik ini dapat berwujud: (1) pemunculan fonem, (2)

pelesapan fonem, (3) peluluhan, (4) perubahan fonem, dan (5) pergeseran fonem

Contoh:

Sejarah + wan sejarawan

Me- + sikat menyikat

Ber- + ajar belajar

Proses pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel

yang lainnya, biasanya ke silabel berikutnya.

Contoh:

ja. wab + -an ja. wa. ban

lom. pat + -i lom. pa. ti

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s