Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Maulida Nur Fitriana;1402408171 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 1:14 pm

Nama : Maulida Nur Fitriana

NIM : 1402408171

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK:BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata bahasa daam bahasa indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian sehingga seringkali membingungkan, misalnya

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Langue, berarti suatu bahasa tertentu

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Langage, berarti bahasa secara umum

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Parole, berati bahasa dalam wujudnya yang nyata yaitu yang berupa ujaran.

Sebagai ojek kajian linguistik, parole merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan eh para bahasawan dari suatu masyarakat bahaasa Sedangkan pendapat dari para ahli mengenai definisi dari bahasa itu sendiri yaitu “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama.”

Masalah yang berkenaan dengan pengertian bahasa adalah bilamana sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya, yang dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Dua buah tuturan bisa disebut dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua patkan yaitu

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Patokan linguistik yaitu dua buah tuturan dianggap sebagai dua buah bahasa yang berbeda, kalau anggota anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Patokan politis yaitu bila dua buah tuturan itu dianggap dua bahasa yang berbeda karena perbedaan bangsa

Meskipun begitu bahasa tidak pernah lepas dari manusia, artinya tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa.

3.2 HAKIKAT BAHASA

3.2.1 Bahasa Sebagai Sistem

Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Bahasa terdiri dari unsur- unsur atau komponen komponen yang secara teratur menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan Sebagai sebuah sistem bahasa memiliki sifat

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak secara acak.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Sistemis, artinya bahasa bukan merupakan sisitem tunggal tetapi juga terdiri dari subsistem.

3.2.2 Bahasa Sebagai Lambang

Kata ambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama Lambang dikaji dalam ilmu semiotika atau semiologi yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Tanda adalah sesuatu yang menandai atau mewakili ide, pikiran, perasaan dan tindakan secara langsung dan alamiah.

Berbeda dengan tanda, lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. Untuk memahami lambang tidak ada jalan lain selain mempelajarinya. Lambang sering disebut bersifat arbitrer artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

Untuk memperjelas maksud dari lambang, sebagai bahan perbandingan kita bicarakan tanda-tanda lain dalam semiotika, antara lain

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Sinyal atau isyarat yaitu tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar penerima sinyal melakukan sesuatu (bersifat imperatif)

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Gerak isyarat atau gesture yaitu tanda yang dilakukan dengan gerak anggota badan (tidak bersifat imperatif)

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Gejala atau symptom yaitu suatu tanda yang tidak desengaja yang dihasilkan tanpa maksud tetapi alamiah untuk menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Ikon yaitu tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili. Karena tiu ikon sering juga disebut gambar dari wujud yang diwakilinya.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Indeks yaitu tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain seperti asap yang menunjukkan adanya api

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Kode, ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal maupun gerak isyarat yang dapat mewakili perasaan, pikiran, ide, benda dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

3.2.3 Bahasa Adalah Bunyi

Yang dimaksud bunyi pada bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Jadi bunyi yang bukan dihasilkan alat ucapa manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Dalam linguistik yang disebut bahasa yang primer adaah yang diucapkan, sedang bahasa tuisan hanyaah bersifat sekunder

3.2.4 Bahasa itu Bermakna

Bahasa dapat dikatakan mempunyai makna apabila bahasa atau lambang-lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau pikiran. Setiap satuan bahasa memiliki makna, namun karena ada perbedaan tingkatnya maka terdapat beberapa jenis makna yaitu

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Makna Leksikal yaitu makna yang berkenaan dengan morfem dan kata

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Makna Gramatikal yaitu makna yang berkenaan dengan frase, klausa dan kalimat.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Makna Pragmatik yaitu makna yang berkenaan dengan wacana.

Karena bahasa itu bermakna maka segala ucapan yang tidak mempuinyai makna dapat disebut bukan bahasa. Sebab funsi bahasa adalah menyampaikan pesan, konsep, ide atau pikiran

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang- wenang berubah ubah, tidak tetap, manasuka. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh l;ambang tersebut. Akan tetapi kata-kata onomatope (kata yang berasal dari tiruan bunyi misalnya meong) tidak bersifat arbitrer karena paling tidak, ada “saran” bunyi yang menyatakan hubungan dengan konsep yang dilambangkannya.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya semua anggota masyarakat itu memetuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi, kekonvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai konsep yang dilambangkannya.

3.2.7 Bahasa itu Produiktif

Arti produktif adalah banyak hasilnya atau terus menerus menghasilkan. Maksud dfari bahasa itu produktif adalah meskipun unsur unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas. Keproduktifan bahasa indonesia dapat juga dilihat pada jumlah kalimat yang dapat dibuat. Akan tetapi, keproduktifan bahasa memang ada batasnya. Dalam hal ini dapat dibedakan dua macam keterbatasan yaitu

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>keterbatasan pada tingkat parole, adalah ketidak laziman bentuk-bentuk yang dihasilkan

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>keterbatasan pada tingakat langue, adalah keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku

3.2.8 Bahasa itu Unik

Unik artinya memiliki ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, pembentukan kata, pembentukan kalimat. Keunikan bahasa indonesia adalah bahwa tekanan kata bersifat sintaksis kalau pada kata tertentu pada kalimat kita berikan tekanan maka makna kata itu tetap. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.

3.2.9 Bahasa Itu Universal

Universal artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada didunia ini. Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan

3.2.10 Bahasa Itu Dinamis

Bahasa dikatakan dinamis karena keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia. Sedangkan dalam kehidupannya dalam kehidupannya dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah maka bahasa juga ikut berubah dan menjadi tidak tetap. Bahkan hampir setiap saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat perubahan budaya dan ilmu. Hal in mudah dipahami karena kata sebagai satuan bahasa terkecil adalah sarana atau wadah untuk menampung nsuatu konsep yang ada dalam masyarakat.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi

Anggota masyarakat suatu bahasa nya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya oleh karena itu bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar.

Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui yaitu

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau waktu. Contoh adanya bahasa jawa dialek banyumas.

Dialek ada tiga macam yaitu

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>diale regional atau areal atau geografi yaitu variasi bahasa berdasarkan tempat

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>dialek temporal atau kronolek yaitu variasi bahsa yang digunakan pada masa tertentu.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Dialek sosial atau sesiolek yaitu variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>ragam yaitu variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Misal ragam baku untuk kepeluan formal

<!–[if !supportLists]–>3.2.12 <!–[endif]–>Bahasa itu Manusiawi

Artinya alat komunikasi manusia yang bernama bahasa hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Walaupun binatang dapat berkomunikasi dengan sesama jenisnya namun alat komunikasinya tidaklah sama dengan alat komunikasi manusia yaitu bahasa. Dikarenakan sutuan-satuan komunikasi yangd imiliki binatang bersifat tetap dan binatang tidak dapat menyampaikan konsep baru dengan alat komunikasinya itu, selain yang secara alamiah telah dimiliki yang pada umumnya hanya berkisar pada seputar kebutuhan hidup dan biologisnya.

<!–[if !supportLists]–>3.3 <!–[endif]–>BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa menggunakan bahasa yang sama.” Maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan sempit. Masyarakat bahasa bisa melewati batas provinsi, batas negara bahkan batas benua.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa

Dalam masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya yaitu

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>variasi bahasa tinggi (T) , digunakan dalam situasi resmi, seperti pidato kenegaraan. Variasi T ini harus dipelajari melalui pendidikan formal sekolah

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>variasi bahasa rendah (R), digunakan dalam situasi tidak formal, seperti dirumah. Variasi R dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum

Adanya pembinaan variasi bahasa T dan bahasa R disebut dengan istilah diglosia.

3.3.3 Penggunaan Bahasa

Seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, suatu komunikasi dengan bahasa harus memperhatikan delapan unsur (SPEAKING)

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>setting and scene yaitu unsur berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>participants yaitu orang yang terlibat dalam percakapan

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>ends yaitu maksud dari percakapan

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>act sequences yaitu hal yang menunjukkan pada bentuk dan isi percakapan

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>key yaitu menunjukkan cara atau semangant dalam melaksanakan percakapan

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>instrumentalities yaitu menunjukkan pada jalur percakapan, apakah lisan atau bukan

<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>norms yaitu menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan

<!–[if !supportLists]–>8. <!–[endif]–>genres yaitu menunjuk pada ragam bahasa yang digunakan

3.3.4 Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, akan terjadilah kontak bahasa. Hal yang sangat menonjol sebagai akibat adanya kontak bahasa adalah terjadinya bilingualisme dan multilingualisme. Bilingual adalah orang yang menguasai dua bahasa sedangkan multilingual adalah yang menguasai lebih dari dua bahasa. Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual dapat etrjadi beberapa peristiwa yaitu

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>interferensi yaitu terbawa masuknya unsur bahasa lain kedalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa itu

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>integrasi yaitu unsur-unsur lain yang terbawa masuk sudah dianggap dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau yang memasukinya

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>alihkode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode kedalam kode yang lain karena suatu sebab

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>campur kode yaitu dua kode atau ebih digunakan bersama tanpa aasan dan biasanya terjadi daam situasi santai

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal yang disebut hipotesis Sapir-Whorf mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan atau dengan kata lain bahasa mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Akan tetapi yang banyak diikuti orang malah pendapat yang berkebalikan yaitu bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa. Karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini, maka ada pakar yang menyamakan hubungan keduanya sebagai bayi kembar siam, dua hal yang tak dapat dipisahkan.

<!–[if !supportLists]–>3.4 <!–[endif]–>KLASIFIKASI BAHASA

Bahasa –bahasa di dunia sangat banyak, dan para penuturnya juga terdiri dari bangsa, suku bangsa atau etnis yang berbeda-beda, maka dari itu orang mulai membuat klasifikasi terhadap bahasa tersebut. Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa dan hasilnya harus bersifat unik

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologi, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti. Yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Klasifikasi genetis ini sifatnya non arbitrer karena hanya menggunakan satu kriteria, yaitu garis keturunan atau dasar perkembangan yang sama. Selain itu, klasifikasi genetis ini juga menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif yakni memecah dan menyebar menjadi banyak

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa. Kalasifikasi ini bersifat arbitrer karena tidak tertikat pada tipe tertentu, melainkan bebas menggunakan tipe apa saja.

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satudengan bahasa yang satu atau yang lain dalam satu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbal balik dalam hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi ini juga bersifat nonekshaustik sebab masih banyak bhasa bahasa di dunia ini yang masih bersifat tertutup, klasifkasi inipun bersifat non unik sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk dalam kelompok lain.

3.4.4 Klasifikasi Sosio Linguistik

Klasifikasi ini diakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat pada bahasa itu, Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat kriteria yaitu

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Historisitas yaitu berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Standardisasi yaitu berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Vitalitas yaitu berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari hari secara aktif atau tidak

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Homogenesitas yaitu berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan

Hasil klasifikasi ini bisa menjadi ekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu

<!–[if !supportLists]–>3.5 <!–[endif]–>BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Meskipun dikatakan bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis sekunder tetapi peranan atau fungsi bahasa tulis didalam kehidupan modern sangat besar. Bahasa tulis itu bisa menembus ruang dan waktu padahal bahasa lisan begitu diucapkan segera hilang tak berbekas. Bahasa tulispun sebenarnya merupakan “rekaman” bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya. Bahasa tulis sudah dibuat dengan pertmbangan dan pemikiran sebab kalau tidak hati- hati , tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang terjadinya kesalahan sangat besar.

Berbicara mengenai asal mula tulisan hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan manusia itu menggunakan tulisan. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar piktogram yang terdapat di gua-gua di Altamira, Spanyol utara. Beberap waktu kemudian gambar- gambar piktogram itu benar-benar menjadi sistem tulisan yang disebut piktograf.

Dalam kehidupan manusia aksara tidak hanya dipakai untuk keperluan menulis dan membaca, tetapi juga telah berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi. Semua jenis aksara itu tidak ada yang bisa ‘merekam’ bahasa lisan secara sempurna. Banyak unsur bahasa lisan yang tidak dapat digambarkan oleh aksara itu dengan tepat dan akurat. Bahasa- bahasa di dunia dewasa ini lebih umum menggunakan aksara latin daripada aksara lain.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s