Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Indah Restu Utami_1402408316_Bab 5 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 8:18 pm

Nama : Indah Restu Utami

NIM : 1402408316

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

1. MORFEM

Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih

memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.

5.1.1. Identifikasi Morfem

untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalahmorfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan identitas sebuah morfem.

5.1.2Morf dan alomorf

Morf adalah nama untuk suatu bentuk yang belum diketahui statusnya

Alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi morfem

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat

muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dengan morfem lain

tidak muncul dalam pertuturan.

Contoh: (ter-), (ber-), (henti), (juang)

5.1.3.2 Morfem utuh dan morfem terbagi

Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk format

yang dimiliki morfem tersebut, yaitu apakah merupakan dua bagian yang

terpisah atau terbagi karena disusupi morfem yang lain.

Contoh morfem utuh: (meja), (kursi), (kecil)

morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri atas dua

buah bagian yang terpisah, satu di awal dan satu di belakang. Contoh

morfem terbagi : kata perbaikan terdiri atas satu morfem utuh yaitu baik

dan satu morfem terbagi yaitu (per- / -an)

5.1.3.3 Morfem segmental dan suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem

segmental.

Contoh: lihat, lah, sikat, ber

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh

unsur-unsur suprasegmental…

Contoh: tekanan, nada, durasi.

5.1.3.4Morfem beralomorf zero

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi

segmental maupun suprasegmental. ,melainkan berupa”kekosongan”

5.1.3.5 Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren

telah memiliki makna pada dirinya sendiri.

Contoh: kuda, pergi, lari, merah

Sedangkan morfem tak bermakna leksikal adalah morfem yang tak

bermakna apa-apa pada dirinya sendiri. morfem ini baru memiliki makna

dalam gabungannya dengan bentuk lain dalam ujaran.

Contoh: (ber-), (me-), (ter-)

5.1.4 Morfem Dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem

afiks. Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk

menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses

infleksi atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis

lebih jauh lagi. Akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya,

baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan.

Dilihat dari status dalam proses gramatika terdapat tiga macam morfem

dasar bahasa Indonesia:

1. Morfem dasar bebas yakni morfem dasar yang secara potensial dapat

langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran.

Contoh: morfem meja, kursi, pergi, dan kuning.

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan

Yang termasuk dalam kalimat imperatif tidak perlu diberi imbuhan dan

dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan.

3. Morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi

untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

Contoh: morfem juang, henti, gaul dan abai

5.2. KATA

5.2.1. Hakikat Kata

Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang

memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua

buah spasi.

5.2.2. Klasifikasi kata

Menurut tata bahasawan tradisional:

a. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan

b. Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan

c. Konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan

kata atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Sedangkan para kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi

sintaksis sebagai patokan untuk menggolongkan kata.

Fungsi subyek diisi oleh kelas nomina, fungsi predika diisi oleh verba atau

adjektifa, fungsi objek diisi oleh kelas nomina dan keterangan diisi leh

adverbia.

5.2.3. Pembentukan kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata

yang bersifat inflektif dan yang bersifat derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Dalam buku –buku tata bahasa ,infleksi biasanyapembahasan hanya berkisar pada konyugasi dan deklinasi.biasanya juga disesuaikan dengan

afiks yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks, atau juga berupa

modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.

Dalam bahasa-bahasa berfleksi biasanya juga ada penyesuaian bentukbentuk

kata untuk menunjukkan pertalian sintaksis.

5.3.2.1 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang

identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

5.3. PROSES MORFEMIS

5.3.1. Afiksasi

Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Beberapa unsur dalam proses ini:

a. Dasar atau bentuk dasar

b. Afiks

c. Makna gramatikal yang dihasilkan

Bentuk dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar yaitu bentuk

terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi.

Afiks adalah sebuah bentuk biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan

pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata dibedakan atas:

1. Afiks inflektif yaitu afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata

inflektif atau paradigma infleksional.

2. Afiks derivatif yaitu kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan

bentuk dasarnya.

5.3.2. Reduplikasi

Yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara

keseluruhan, sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat berupa atau bersifat paradigmatis yang tidak

mengubah leksikal dan yang bersifat derivasional yang membentuk kata baru

atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

5.3.3. Komposisi

Yaitu hasil dan proses penggolongan morfem dasar dengan morfem dasar

baik yang bebas maupun yang terikat.

Produk sisanya proses komposisi dalam bahasa Indonesia menimbulkan

berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis

dan makna yang berbeda-beda.

5.3.4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata

lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi

kata lain tanpa perubahan unsur segmental ke dalam morfem yang berkerangka

ketat.

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrem karena

ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5.3.5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem menjadi sebuah bentuk

singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya.

Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain:

1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem atau gabungan leksem

Contoh: Km (kilometer), H (haji)

2. Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem

Contoh : bhs (bahasa)

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk

pengganti huruf yang sama. Misalnya: P4 (pedoman penghayatan

pengamalan pancasila)

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem.

Misalnya : As (asisten)

5. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari sebuah leksem

Misal: Fa (firma), Pa (perwira)

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat

dihafalkan sebagai kata. Contoh: wagub (wakil gubernur).

5.3.6. Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi,

reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang secara tidak terbatas. Ada

kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru

tidak dapat dikerjakan proses yang produktif. Lain halnya proses derivasi yang

dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

yaitu peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis,baik afiksasi,reduplikasi maupun komposisi.prubahan fonem dalam proses morfofonemik dapat berwujud;

1. Pemunculan fonem

2. Pelesapan fonem

3. Peluluhan fonem

4. Perubahan fonem

5. Pergeseran fonem

NAMA ;INDAH RESTU UTAMI

NIM ;1402408316

ROMBEL ;5

 

One Response to “Indah Restu Utami_1402408316_Bab 5”

  1. titin indrawati-1402408194 Says:

    resume anda menurut saya lumayan baik .tolong jelaskan lebih rinci pengertian morf-alomorf beserta contohnya.
    Terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s