Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

hermawan setyo adjie,1402408164_BAB VIII Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:25 pm

Nama : Hermawan Setyo Aji

NIM : 1402408164

BAB VIII

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu dari tahap pertama disebut tahap spekulasi, merupakan pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada bukti empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka. Sebagai contoh pernyataan Andreas Kemke yang mengatakan bahwa Nadi Adam di surga berbicara dengan bahasa denmark.

Tahap kedua disebut tahap observasi dan klasifikasi, dimana pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori. Karena itu, perkerjaan mereka belum dapat dikatakan bersifat ilmiah. Contohnya pendapat suku Dayak Iban yang mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada satu bahasa, tetapi karena pengaruh mabuk cendawan, mereka berbicara dalam bebagai bahasa.

Penyelidikan bersifat ilmiah dilakukan pada tahap ketiga, dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan di klasifikasi, tetapi juga dibuatkan teori-teorinya.

8.1 Linguistik Tradisional

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural.

Adapun perbedaan dari tata bahasa tradisional dengan tata bahasa struktural, yaitu. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan sematik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau cirri-ciri formal dalam suatu bahasa tertentu.

Dalam merumuskan kata kerja tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang berdistributii dengan fase “dengan…”.

Terbentuknya tata bahasa tradisional sangat panjang mulai dari zaman Yunani hingga abad ke-19.

8.1.1 Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa pada zaman Yunani lebih kurang abad ke-5 S.M sampai kurang abad ke-2 M. jadi, kurang lebih sekitar 600 tahun. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis adalah :

a. Pertentantangan antara fisis (bersifat alamiah) dan nomos (bersifat konvensi).

b. Pertentangan antara anomali dan analogi.

Bersifat alamai fisis maksudnya bahasa mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri. Para pendukungnya disebut kaum naturalis. Sedangkan bahasa bersifat konvensi, artinya makna kata itu diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasan, yang mempunyai kemungkinan bisa berubah. Adalah kaum konvensional yang berpendapat demikian.

Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi, seperti Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa dengan teratur.

Dari keterangan diatas tampak bahwa kaum anomali sejalan dengan kaun naturalis, dan kaum analogi sejalan dengan kaum konvensional. Pertentangan kedua kelompok itu masih berlangsung sampai sekarang,

Berikut ini beberapa nama kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani.

8.1.1.1 Kaum Sophis

Kaum sophis munculpada abad ke-5 S.M. Mereka dikenal dalam studi bahasa,antara lain,

Ø Mereka melakukan kerja secara empiris,

Ø Secara pasti menggunakan ukuran-ukuran tertentu,

Ø Sangat mementingkan bidang retorika,

Ø Membedakan tipe-tpie kalimat berdasarkan isi dan makna.

Ada dua tokoh Sophis yaitu Protogoras yang menbagi kalimat menjadi :


· Kalimat narasi,

· Kalimat jawab,

· Kalimat laopran,

· Doa,


· Undangan.

dan Georgias, yang membicarakan tentang gaya bahasa.

8.1.1.2 Plato (429 – 329 S.M)

Dalam studi bahasa dikenal karena :

1. Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya “Dialog”. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensianal,

2. Menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata.

3. Membedakan kata dalam onomata dan rhemata.

8.1.1.3 Aristoteles (384 – 322 S.M)

Aristoteles membagi 3 macam kelas kata yaitu :

· Onoma : dapat berarti (1) nama, (2) nomina, (3) subjek

· Rhema : dapat berarti (1) ucapan, (2) verba, (3) predikat

· Syndesmoi : kurang lebih sama dengan kelas preposisi dan konjugasi

Kemudian membedakan gender kata menjadi 3, yaitu maskulin, feminim dan neutrum.

8.1.1.4 Kaum Stoik

Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 S.M. Mereka terkenal karena :

v Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa,

v Menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa,

v Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa, membedakan kegein dan propheretal, membagi kata menjadi 4 yaitu kata benda,

v Kata kerja, syndesmoi dan athoron, terakhir membedakan adanya kata kerja komplet dan tak komplet, serta kata kerja aktif dan pasif.

8.1.1.5 Kaum Alexandrian

Cikal bakal bahasa tradisional berasal dari buku Dionysius Thrax yang dianut oleh kaum Alexandria.. Buku ini lahir lebih kurang tahun 100 S.M. Buku ini diterjemahkan ke bahasa latin dengan judul Ars grammatical oleh Remmius Palaemon. Karena sifatnya yang mentradisi, sampai sekarang dikenal sebagai tata bahasa tradisional.

8.1.2 Linguistik Zaman Romawi

Zaman Romawi disebut lanjutan zaman Yunani. Dapat dikatakan orang Romawi mendapat pengalaman linguistik dari Yunani. Remmius Palaemon menerjemahkan tata bahasa Dionysius Thrax kedalam bahasa latin dengan judul Ars Grammatica pada awal abad pertama.

8.1.2.1 Varro dan “De Lingua Latina

Varro membagi buku De Lingua Latina kedalam 3 bidang, entimologi, morfologi dan sintaksis, penjelasannya yaitu :

  1. Entimologi, yaitu cabang linguistik yang menyeldiki asal usul kata beserta artinya.
  2. Morfologi, yaitu cabang linguistik yang mempelajari kata dan pengucapannya. Jadi ada bentuk regular dan yang tak regular,Varro membagi kelas latin dalam empat bagian yaitu :

    1. Kata benda, termasuk kata sifat,yakni kata berinfleksi kasus,
    2. Kata kerja, yakni kata yang memuat pertanyaan yang berinfleksi “tense”,
    3. Partisipel, kata yang meghubungkan, yang berinfleksi kasus dan “tense”,
    4. Adverbiun, yakni kata yang mendukung, tak berinfleksi.

8.1.2.2 Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Buku Institutiones Grammaticae dijadikan dasar tata bahasa Latin dan filsafat pertengahan. Buku ini diangap penting karena :

1. Merupakan buku Latin yang paling lengkap yang dituturkan penbicara aslinya,

2. Teori bahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan megenai buku ini adalah :

a. Fonologi, yang dibicarakan adalah tulisan atau huruf (litterace). Yang dimaksud adalah bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan.

b. Morfologi, yang dibicarakan mengenai dictio atau kata. Yang dimaksud adalah bagian minmum dari sebuah ujaran dan haru s diartikan terpisah.

c. Sintaksis, yang dibicarakan tata susunan kata yang selaras dan menunjukkan kalimat selesai(Oratio).

8.1.3 Zaman Pertengahan

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa dipakai sebagai bahasa gereja, bahasa diplomasi dan bahasa ilmu pengetahuan disebut Lingua Franca. Adalah Kaum Modisate, Tata Bahasa Spekulativa, dan Pertus hispanus yang patut di bicarakan dalam studi bahasa dari zaman pertengahan.

Kaum Modisate mereka masih membicarakan pertentangan antar fisis dengan nomos, analogi dengan anomaly.

Tata Bahasa Spekulativa ialah hasil inyegrasi deskripsi grammatical bahasa latin kedalam filsafat skolastik.

Petrus Hispanus. Perannya dalam bidang linguistik adalah :

a) Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa,

b) Membedakan signifikasi utama dan konsignifikasi,

c) Membedakan nomen menjadi 2, yaitu substantivum dan adjectivum,

d) Membedakan patres oratigones atas categorematik dan syntategorematik.

8.1.4 Zaman Reanisans

Zaman Reanisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad moderen karena menguasai bahasa latin serta sarjana-sarjananya menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

Bahasa Ibrani dan bahasa Arab dipelajari orang pada akhir abad pertengahan, keduanya diakui resmi oleh universitas di Paris pada abad 14 M. Bahasa Ibrani perlu dipelajari karena kedudukannya pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Sedang linguistik Arab berkembang karena sebagai bahasa kitab sucu Al Qur’an agama Islam. Pandapat banyak ulama Al Qur’an tidak boleh di terjemahkan tetapi boleh ditafsirkan. Ada 2 aliran yaitu Basra dan Kufah, yang namanya dimbil dari nama daerah kedudukan para linguis.

Bahasa-bahasa Eropa, sebenarnya sudah menarik perhatian sejak zaman Reanisan,disamping bahasa Yunani dan Latin, ada buku dengan bahasa Irlandia, Islandia dan Provecal. Yang menjadi perhatian justru bahasa Roman atau Neo-Latin.

Bahasa-bahasa di luar Eropa, mendapat perhatian dari para misionaris yang dikirim ke luar negrei, karena itulah muncul tulisan tentang bahasa India, Jepang, dan Indonesia.

8.1.5 Menjelang Lahirnya Linguistik Moderen

Masa antara lahirnya linguistik moderen dengan masa berakhirnya zaman reanisans ada satu tonggak yang dianggap pentingyaitu dinyatakannya adanya hubungan kekerabatan antara bahasa sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa- bahasa Jerman lainnya.

Dapat disimpulkan pembicaran linguistik tradisional adalah :

a) Tata bahasa tardisional tidak dikenal perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan,

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokandari bahasa lain, terutama Latin,

c) Kaidah bahasanya dibuat prespektif,

d) Persoalan bahasa sering dolibatkan dengan logika,

e) Penemuan atau kaidah terdahulu cenderung dipertahankan.

8.2 Linguistik Strukturalis

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Tidak seperti linguistik tradisional yang menerapkan pola tata bahasa Yunani dan Latin.

Pembicaraan Linguistik Strukturalis dapat dimulai dari Ferdinand de Saussura yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Struktur.

8.2.1 Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure (1851-1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik Moderen berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Berikut pandangannya secara singkat.

Telaah Sinkronik dan Diakronik, adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu.

La Language dan La Parole, yang dimaksud la language yaitu keseluruhan system tanda yang berfugsi sebagai alat komunikasi. Sedang la parole adalah pemakaian atau relisasi language oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya kongkret karena parole itu tidak lain daripada realita fisis dari orang yang satu dengan yang lain.

Significant dan signifĕ, significant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita, sedang signifiĕ adalah pengertian atau kesan yang ada dalam pikiran kita.

Hubungan Sintamatik dan Paradigmatik, yang dimaksud hubungan sintamatik yaitu hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bresifat linear. Hubungan paradigmatic adalah hubugan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturanyang bersangkutan.

8.2.2 Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926batas prakarsa Vilem Matheus (1882-1945). Dalam bidang fonologi, aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dengan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi itu sendiri, sedang fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut sebagai system.

Srtuktur bunyidijelaskan dengan memakai kontras dan oposisi. Ukuran untuk menentukan apakah bunyi ujaran itu beroposisi atau tidak bermakna adalah distingtif. Artinya, bunyi itu tidak fonemis.

Dalam aliran Praha, bidang fonologi dikenalkan dan dikembangkan istilah yang disebut morfonologi. Dalam bidang sintaksis, Vilem Matheus mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya, dan struktur formalnya, dan dari struktur informasinya yang terdapat dalam kaliamt yang bersangkutan.

8.2.3 Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev yang terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dariilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan termilogis sendiri.

Menurutnya teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, harus merupakan suatu system deduktif semata. Bahasa mengandung dua segi yaitu segi ekspresi dan segi isi. Masing-masing segi mengandung forma dan substansi.

8.2.4 Aliran Firthian

John R. Frith (1890-1960) guru besar Universitas London terkenal dengan teorinya mengenai fonologi prosodi atau aliran Frith, atau Aliran Frithian, atau Aliran London.

Fonologi prosodi terdiri dari satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan fonematis berupa unsur segmental, yaitu konsonan dan vocal, sedang satuan prosodi berupa cirri dan sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal.

8.2.5 Linguistik Sistemik

Tokoh dari aliran Linguistik Sistematik Yaitu M.A.K Halliday, seorang murid Frith yang mengembangkan teori Frith mengenai bahasa, khususnya berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Pokok pandangan linguistik sistematik adalah :

Pertama memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa,

Kedua memandang bahasa sebagai “pelaksana”, karena mengakui langue dan parole,

Keiga mengutamakan pemerian cirri bahasa tertentubeserta variasinya,kuramg tertarik pada kesemestaan bahasa,

Keempat mengenal adanya gradasi dan kontinum.

Kelima mengambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi, forma, situasi.

8.2.6 Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Leonard Bloomfield (1877-1949) terkenal dengan bukunya yang berjudul Language dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural Amerika. Aliran ini berkembang pesat di Amerika pada tahun tigapuluhan sampai akhir tahun lima puluhan. Yang menyebabkan aliran ini berkembang antara lain :

1. Pada masa itu para linguis Amerika menghadapi banyaknya bahasa India di amerika yang belum dperikan, mereka ingin memerikan dengan cara sinkronik,

2. Bloomfield menolak metalistik yang sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada saat itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme,

3. Antara linguis ada hubungan baik,karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language,

Satu hal yang menarik dan merupakan cirri aliran ini yaitu sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memerikan suatu bahasa.

Aliran yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering disebut aliran taksonomi, dan aliran Bloomfieldian atau post-Bloomfieldiman, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield.

8.2.7 Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis.

Yang dimaksud dengan Tagmem adalah kolerasi dengan sekelompok bentuk kata yang dapat saling ipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya dua unsur tagmem yaitu fungsi dan bentuk ditambah dengan peran dan kohesi yang membentuk jalinan erat.

8.3 Linguistik Transformasional dan Aliran-Aliran Sesudahnya

Orang merasa model struktural mempunyai banyak kelemahan, sehingga mencoba merevisi model struktural yang agak beda meski masih banyak persamaannya dengan model struktural semula. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional. Namun setelah dirasa linguistik transformasional banyak kekurangannya maka orang banyak yang membuat model lain.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Dalam bahasa Indonesia, tata bahasa transformasi disebut juga dengan tata bahasa generatif. Lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Stucture pada tahun 1957. kemudian dikembangkan dari kritik menjadi buku keduanya yaitu Aspect of Theory of Syntac.

Model tata bahasa yang dikembangkan adalah Transformational Generative Grammar. Menurutnya tata bahasa harus memenuhi dua syarat yaitu :

1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut,sebagai kalimat wajar,

2. Tata bahasa harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan yang digunakan tidak berdasar pada gejala bahasa saja, da semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

3. Jadi tata bahasa harus mampu mengambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya.

8.3.2 Semantik Generatif

Kelompok Lakoff terkenal dengansebutan Kaum Semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasan terhadap teori guru mereka Chomsky. Menurut sematik sudah seharusnya sematik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

8.3.3 Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus atau teoripertama kali diperkenlkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968.

Persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba. Yang dimaksud dengan kasus adalah hubungan antara verba dengan nomina.

8.3.4 Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap asumsi teori sintaksis yang dicangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini, David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Seperti tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional mencari kaidah kesemestaan bahasa.

8.4 Tentang Linguistik di Indonesia

Studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun studi linguistikdi Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1 Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh beberapa suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula, maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Sesuai dengan masanya, penelitian tentang linguistik juga berkembang.

8.4.2 Bahasa adalah bunyi dan bukan tulisanhingga kini masih cukup rawan, terbukti dengan masih banyaknya orang yang belum dapat membedakan konsep fonem dan huruf. Perkenalan dengan konsep linguistik moderen banyak menimbulkan pertentangan. Perkembangan waktu menyebabkan konsep linguistik moderen dapat diterima.

8.4.3 Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) dibentuk pada tanggal 15 November 1975 atas prakarsa sejumlah linguis senior dengan anggota para linguis yang bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. Jauh sebelum majalah Linguistik Indonesia sebenarnya sudah ada majalah liguistik yang mengunakan bahasa Inggris.

8.4.4 Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan orang diluar Indonesia. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara. Selain itu kajian linguistik Indonesia dapat ditemui di London, Amerika, Jerman Italia.

8.4.5 Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa Negara, maka bahasa Indonesia menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia tercatat nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, Soedarjanto yang banyak menghasilkan tulisan mengenai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

One Response to “hermawan setyo adjie,1402408164_BAB VIII”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s