Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Galuh Arumingtyas;1402408087 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 12:35 pm

Nama : Galuh Arumingtyas

NIM : 1402408087

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK : SINTAKSIS

Morfosintaksis merupakan gabungan dari morfologi dan sintaksis. Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Kedua bidang tataran itu memang berbeda, namun seringkali batas antar keduanya menjadi kabur karena pembicaraan bidang yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain.

Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah:

A. Struktur sintaksis:

1. Fungsi, kategori, peran.

2. Alat yang digunakan seperti:

a. Urutan kata

b. Bentuk kata

c. Intonasi

d. Konektor

B. Satuan sistaksis seperti;

1. Kata

2. Frase

3. Klausa

4. Kalimat

5. Wacana

C. Hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis seperti:

1. Modus

2. Aspek

A. Struktur sintaksis

1. Fungsi, katagori, peran.

* Fungsi sintaksis : subjek, predikat, objek, keterangan.

* Kategori sintaksis : nomina, verba, adjektiva, numeralia.

* Peran sintaksis : pelaku, penderita, penerima.

Contoh :

Kalimat aktif : Nenek melirik kakek tadi pagi.

Nenek

melirik

kakek

tadi pagi.

fungsi

S

P

O

K

kategori

nomina

verbal

nomina

peran

pelaku

aktif

sasaran

waktu

Kalimat pasif : Kakek dilirik nenek tadi pagi.

Kakek

dilirik

Nenek

tadi pagi.

fungsi

S

P

O

K

kategori

nomina

verbal

nomina

peran

sasaran

pasif

Pelaku

waktu

Struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek, fungsi predikat. Objek dan keterangan boleh tidak memiliki, apalagi mengingat kemunculan objek ditentukan oleh transitif. Menurut Chafe (1970) menyatakan bahwa yang paling penting dari struktur sintaksis adalah predikat. Predikat harus berupa verba atau kategori lain yang diverbakan. Munculnya fungsi-fungsi lain tergantung pada jenis atau tipe verba itu. Verba yang transitif akan memunculkan fungsi objek dan yang intransitive tidak memunculkan fungsi objek.

Contoh:

· Dia tinggal di Jakarta.

· Matahari terbit di sebelah timur.

Verba tinggal dan terbit adalah verba intransitive yang menyatakan lokasi, maka perlu fungsi keterangan yang berperan lokatif. Tanpa keterangan lokatif, maka kalimat tersebut tidak diterima.

· Rambut nenek belum memutih.

Verba memutih adalah verba intransitif. Jadi tidak memerlukan objek.

· Nenek membersihkan kamarnya.

Verba membersihkan adalah verba transitif. Jadi membutuhkan objek.

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu ada atau keberadaannya ditanggalkan. Verba transitif yang objeknya tidak perlu ada atau menyatakan kebiasaan.

Contoh:

· Sekretaris itu sedang mengetik. (surat)

· Dari pagi kakek belum makan. (nasi)

· Nenek mau minum. (air)

2. Alat-alat sintaksis

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, intonasi, bisa juga di tambah konektor yang berupa konjugasi. Peranan ketiga alat sintaksis (bentuk kata, intonasi, dan urutan kata) tampaknya tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.

a. Urutan kata

Dalam bahasa Indonesia urutan kata itu tampaknya sangat penting. Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna

Contoh:

Kontruksi tiga jam tidak sama dengan jam tiga. Tiga jam menyatakan masa waktu yang lamanya 3´60 menit. Sedangkan jam 3 menyatakan waktu.

Dalam bahasa latin yang memegang peranan penting dalan sintaksis bukanlah urutan kata melainkan bentuk kata. Meskipun letaknya dimana saja, tapi makna gramatikalnya tidak akan berubah dan tidak akan terjadi kesalah pahaman.

Contoh: Paul melihat Maria.

Paulus vidit Mariam.

Mariam vidit Paulus.

Vidit Mariam Paulus.

Mariam Paulus vidit.

b. Bentuk kata

Kata dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Latin memang tidak sama. Dalam bahasa Latin bentuk kata itu tampaknya berperan mutlak sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Hal ini terjadi karena dalam bahasa Latin urutan kata hampir tak mempunyai peran, sedangkan dalam bahasa Indonesia urutan kata mempunyai peran.

c. Intonasi

Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi nada naik dan tekanan.

Contoh: Kucing/makan tikus mati.

Kucing makan tikus/mati.

Kucing/makan//tikus/mati.

Kalau susunan kalimat-kalimat diatas diberi tekanan sebagai batas subjek dan predikat pada tempat yang berbeda, maka kalimat tersebut akan memiliki makna gramatikal yang berbeda.

d. Konektor

Konektor bertugas menghubungkan satu konstituen dengan yang lain, baik yang berada dalam kalimat maupun yang berada diluar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan adanya 2 konektor yaitu konektor koordinatif dan subordinatif.

· Konektor koordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang sama kedudukannya atau sederajat. Kojungsinya berupa dan, atau, dan tetapi.

· Konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan. Konjungsinya berupa kalau, meskipun, dan karena.

B. Satuan-satuan sintaksis

1. Kata

Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem). Tetapi dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya 2 macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas.

o Kata penuh adalah kata yang secara lesikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai satuan tuturan. Yang merupakan kata penuh adalah kata yang termasuk kategori nomina, verba, ajektiva, adverbial, dan numeralia.

Contoh: kucing, masjid

o Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan ia tidak dapat sendiri. Yang merupakan kata tugas adalah kata-kata yang berkategori preporsisi dan konjungsi.

Contoh: dan, meskipun

2. Frase

Frase lazim didenfinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam suatu kalimat.

Contoh:

o Belum makan dan tanah tinggi adalah frase.

o Tata boga dan interlokal bukan frase, karena boga dan inter adalah morfem terikat.

Ini berarti, hubungan antara kedua unsure yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-objek. Oleh karena itu, konstruksi seperti adik mandi dan menjual sepeda bukan frase, akan tetapi kamar mandi dan bukan sepeda adalah frase. Satu hal yang perlu diingat, karena frase itu mengisi salah satu fungsi sintaksis maka salah satu unsure frase itu tidak dapat dipindahkan “sendirian”. Jika ingin dipindahkan, maka harus dipindahkan secara keseluruhan sebagai satu kesatuan.

Contoh:

o Nenek membaca komik di kamar tidur.

o Tidur nenek membaca komik di kamar. (salah)

o Di kamar tidur nenek membaca komik.

Jenis frase:

a) Frase eksosentrik

Dibagi menjadi 2 yaitu frase eksosentris yang direktif dan frase eksosentris yang non direktif. Frase eksosentris yang direktif seperti di, ke, dari. Contoh: di pasar, ke sekolah, dari rumah. Frase eksosentris yang non direktif seperti si, sang, yang, para, dan kaum.

b) Frase endosentrik

Adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan kesseluruhannya. Artinya salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

Contoh :

o Harga buku itu mahal sekali.

Dapat diganti dengan:

o Harga buku itu mahal.

c) Frase koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secarapotensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif. Baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik….baik, makin….makin, dan baik….maupun….

Contoh: Makin terang makin baik, sehat atau sakit, majikan dan buruh

d) Frase apositif

Adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

Contoh:

o Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.

o Guru saya, pak ahmad, rajin sekali.

Salah satu cirri frase adalah bahwa frase dapat diperluas. Maksudnya dapat diberi tambahan komponen baru. Seperti kamar tidur dapat diperluas menjadi kamar tidur saya. Untuk memperluar frase dapat dinyatakan dari yang konsep khusus, sangat khusus, khusus sekali.

Contoh:

kereta

kereta api

kereta api ekspres

kereta api ekspres malam

3. Klausa

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi prediktif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat.

a. Klausa bebas

Yang dimaksud dengan klausa bebas adalah kalusa yang mempunyai unsure-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat, dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

b. Klausa terikat

Sedangkan klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Unsur yang mungkin ada hanya objek atau keterangan saja, dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor.

4. Kalimat

Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisis pikiran yang lengkap. Akan tetapi yang paling penting menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final. Konstituen dasar itu biasanya berupa klausa. Jadi, kalau pada sebuah klausa diberi intonasi final, maka terbentuklah kalimat. Intonasi final yang ada yang member cirri kalimat ada 3 buah, yaitu ;

o Intonasi deklaratif : Dalam bahasa tulis dilambangkan tanda titik.

o Intonasi interogatif : Dalam bahasa tulis dilambangkan tanda tanya.

o Intonasi seru : Dalam bahasa tulis dilambangkan tanda seru.

Jenis kalimat:

a. Kalimat inti dan kalimat non-inti

Kalimat inti biasa juga disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, netral, dan afirmatif.

Contoh:

Ø FN + FV : Nenek datang.

Ø FN + FV + FN : Nenek membaca komik.

Ø FN + FNum : Uangnya dua juta.

Kalimat inti dapat diubah menjadi non-inti dengan berbagai proses tranformasi, seperti tranformasi pemasifan, transformasi pengingkaran, transformasi penanyaan, transformasi pemerintahan, tranformasi penginversian, tranformasi penambahan, dan transformasi pelepasan.

Contoh:

Ø Nenek membaca komik.

Mengalami transformasi pasif menjadi:

Ø Komik dibaca nenek.

Kalimat inti + proses transformasi = kalimat non-inti

Contoh:

Ø Nenek si Udin tidak akan datang karena sedang sakit gigi.

Ø Apakah nenekmu yang datang ke sini tadi pagi?

Di dalam praktek berbahasa boleh dikatakan lebih banyak digunakan kalimat non-inti daripada kalimat ini, sebab informasi yang harus disampaikan melalui bahasa biasanya sangat luas.

b. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Kalimat tunggal hanya terdiri dari satu klausa.

Contoh:

Ø Nenekku masih cantik.

Ø Burung-burung itu bernyanyi sepanjang hari.

Ø Siapa nama dosen linguistic yang cantik itu?

Kalau klausa di dalam sebuah kalimat terdapat lebih dari satu, maka kalimat itu disebut kalimat majemuk. Menurut sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat dibedakan menjadi menjadi kalimat majemuk koordinatif (kalimat majemuk setara), kalimat majemuk subordinatif (kalimat majemuk bertingkat) dan klaimat majemuk kompleks.

o Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausa memiliki status yang sama, setara, atau sederajat. Konjungsinya dan, atau, tetapi, lalu.

Contoh:

Ø Nenek melirik, kakek tersenyum, dan adik tertawa.

Ø Dia membuka pintu, lalu mempersilahkan kita masu.

Ø Dia datang dan duduk disebalah saya.

o Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak setara. Konjungsinya kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Contoh:

Ø Kalau nenek pergi, kakek pun akan pergi.

Ø Nenek membaca komik ketika kakek tidak ada dirumah.

Ø Meskipun dilarang oleh kakek, nenek pergi juga ke salon.

o Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri dari tiga klausa atau lebih, dapat dihubungkan secara koordinatif atau subordinatif.jadi, kalimat majemuk ini merupakan campuran dari kalimat majemuk koordinatif dan kalimat majemuk subordinatif.

Contoh:

Ø Nenek membaca komik dirumah karena kakek tidak ada di rumah dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

c. Kalimat mayor dan kalimat minor

Pembedaan kalimat mayor dan minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu. Kalau klausanya lengkap, sekurang-kurangnya memiliki unsure subjek dan predikat, maka kalimat itu disebut kalimat mayor.

Contoh:

Ø Nenek berlari pagi.

Ø Kakenya petani kaya di sana.

Ø Bu dosen itu cantik sekali.

Kalimat minor adalah kalimat yang klausanya tidak lengkap. Walaupun tidak lengkap, kalimat tersebut dapat dipahami karena konteksnya diketahui oleh pendengar maupun pembaca.

Contoh:

Ø Sedang makan!

Ø Pergi!

Ø Halo!

d. Kalimat verbal dan kalimat non-verbal

o Kalimat verbal dapat dibedakan menjadi kalimat transitif, kalimat intransitive, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat dinamis, kalimat statis, kalimat reflektif, kalimat resiprokal, kalimat ekuatif.

v Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif, yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek.

Contoh: Dika menendang bola

v Kalimat intransitive adalah kalimat yang predikatnya verba intransitive, yaitu verba yang tidak memiliki objek.

Contoh: Kakek berlari ke kamar mandi.

v Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya kata kerja aktif.

Contoh: Kakek menulis surat.

v Kalimat pasif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba pasif.

Contoh: Surat ditulis oleh kakek.

v Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.

Contoh: Mahasiswa itu pulang.

Dia pergi begitu saja.

v Kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantic tidak menyatakan tindakan atau kegiatan.

Contoh: Anaknya sakit keras.

Kambing itu sudah mati.

o Kalimat non-verb adalah kalimat yang predikatnya bukan verba, bisa nomina atau frase nomina, bisa ajektiva atau frase ajektiva, bisa kelas numeral, dan juga berupa frase preposisional.

Contoh: Mereka bukan penduduk desa sini.

Mereka rajin sekali.

Penduduk Indonesia 185 juta jiwa.

Mereka ke pengadilan.

e. Kalimt bebas dan kalimat terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap.

Contoh:

Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun sangat sukar diperoleh(2). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung selangit(3). Makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah(4).

Kalimat (1) pada teks adalah kalimat bebas. Sedangkan kalimat (2),(3), dan (4) adalah kalimat terikat.

5. Wacana

Adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesa. Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsure-unsur yang ada dalam wacana tersebut. Bila wacana itu kohesif, akan tercipta kekoherensian, yaitu isi wacana yang apik dan benar.

Untuk membuat wacana yang kohesif dan koherens itu dapat digunakan berbagai alat wacana, baik yang berupa aspek gramatikal maupunyang berupa aspek semantic. Atau gabungan antara keduanya.

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain:

o Konjungsi adalah alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat, atau menghubungkan antar paragraf.

o Kata ganti dia, nya, mereka, ini, itu sebagai rujukan anaforis. Sehingga tidak terjadi penggulangan bagian kalimat.

o Menggunakan ellipsis yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat lain sehingga menjadi efektif.

Selain dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohensif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan aspek semantic. Caranya, antara lain dengan:

o Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat.

Contoh: Kemarin hujan turun lebat sekali. Hari ini cerahnya bukan main.

o Menggunakan hubungan generic-spesifik atau sebaliknya.

Contoh: Kuda itu jangan kau pacu terus. Binatang juga perlu istirahat.

o Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat.

Contoh: Lahap benar makannya. Seperti orang yang sudah satu minggu tidak makan.

o Menggunakan hubungan sebab-akibat.

Contoh: Dia malas, dan sering kali bolos sekolah. Wajaralah kalua tidak naik kelas

o Menggunakan hubungan tujuan.

Contoh: Semua anaknya disekolahkan. Agar kelak tidak seperti dirinya.

o Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat.

Contoh: Becak sudah tidak ada lagi di Jakarta. Kendaraan roda tiga itu sering dituduh mememacetkan lalu lintas.

C. Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

a. Modus adalah penggungkapan atau penggambaran suasana psikologi perbuatan menurut tafsiran si pembaca tentang apa yang diucapkannya.

b. Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses.

c. Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan didalam predikat.

d. Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa, atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

e. Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.

f. Diatesis adalah gambaran hubungan antar pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukaan dalam kalimat itu.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s