Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

galuh, 1402408158 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:21 pm

BAB 7

TATARAN LINGUISTIK : SEMANTIK

Semantik, dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau di semua tataran yang bangun-membangun ini, makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis.Penamaan tataran untuk semantik agak kurang tepat, sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur membangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun kehadirannya pada tiap tataran itu tidak sama.

Para linguis structuralis tidak begitu peduli dengan masalah makna ini, karena dianggap tidak termasuk ataun menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun itu.Hockett (1954). Missal, salah seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu system yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan.

Sistem bahasa terdiri ini terdiri dari 5 subsistem, yaitu subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik,subsistem semantik, dan subsistem fonetik.

Sejak Chomsky menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi liguistik, maka studi semantik sebagai bagian dari studi linguistik menjadi semarak. Semantik tidak lagi menjadi objek periferal, melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bigdang studi linguistik lainnya.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Menurut de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu komponen signifikan atau ”yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtunan bunyi dan komponen signifie atau ”yang diartikan”yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifikan). Umpamanya tanda linguistik berupa <meja>, terdiri dari komponen signifikan, yakni berupa runtunan fonem /m/, /e/, /j/, dan /a/; dan komponen signiefinya berupa konsep atau makna ’sejenis perabot kantor dan rumah tangga’. Tanda linguistik ini yang berupa runtunan fonem dan konsep yang dimiliki runtunan fonem itu mengacu pada sebuah referen yang berada diluar bahsa, yaitu ”sebuah meja”.

Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Misalnya, kata buaya dalam kalimat (4) berikut sudah terlepas dari konsep asal dan acuannya.

(4) Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya.

(5) Sudah hampir pukuk dua belas!

Apabila diucapkan oleh seorang ibu asrama putri terhadap seorang pemuda yang masih bertandang di asrama itu padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Lain maknanya apabila kalimat itu diucapkan oleh seorang guru agama ditujukan kepada para santri pada siang hari. Makna kalimat (5) itu yang diucapkan si ibu asrama tentu berarti ’pengusiran’ secara halus, sedangkan yang diuucapkan oleh guru agama itu berarti ’pemberitahuan bahwa sebentar lagi masuk waktu Zuhur.

7.2 JENIS MAKNA

Berbagai nama jenis makna telah dikemukakan orang dalam berbagai buku linguistik atau semantik. Kiranya jenis-jenis makna yang dibicarakn pada subbab berikut ini sudah cukup mewakili jenis-jenis makna yang pernah dibicarakan orang itu.

7.2.1 Makna Lesikal, Gramatikal, dan Kontekstual.

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Misalnya, leksem kuda memiliki makna lesikal ’sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita.

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses afiksasi prefiks ber-dengan dasar baju melahirkan makna gramatiukal ’mengenakan’ atau memakai baju’; dengan dasar kuda melahirkan makna gramatikal ’mengendarai kuda’.

Makna konstekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. Sebagai contoh :

(7a) Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.

(7b) Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

(7c) nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.

Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan disitu; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata petunjuk, seperti ini dan itu.

o ”Tadi saya lihat Pak Ahmad duduk di sini, sekarang dia ke mana?”

Tanya Pak Rasyid kepada para mahasiswa itu.

o ”Kami di sini memang bertindak tegas terhadap para penjahat itu.” kata Gubernur DKI kepada para wartawan dari luar negeri itu.

Jelas, kata di sini pada kalimat pertama acuannya adalah sebuah tempat duduk; tetapi pada kalimat kedua acuannya adalah satu wilayah DKI Jakarta Raya.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sebenarnya sama dengan makna lesikal. Umapamanya, kata babi bermakna denotatif ’sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya.

Kata kurus berkonotasi netral, artinya, tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi kata ramping, yang sebenarnya bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan. Sebaliknya kata kerempeng mempunyai konotasi negatif memiliki nilai rasa yang tidak mengenakkan.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata rumah memiliki makna konseptual ’bangunan tempat tinggal manusia’.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.

Jadi, kata melati yang bermakna konseptual ’sejenis bunga kecil-kecil berwarna putih dan berbau harum’ digunakan untuk menyatakan perlambang kesucian.

§ Makna stilistika berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan.

§ Makna efektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan.

§ Makna afektif lebih nyata trasa dalam bahasa lisan.

§ Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya cocok untuk berpasangan dengan kata tertentu lainnya.i, , yang tidak meragukan

7.2.5 Makna Kata dan Makna Istilah

Penggunaan makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks situasinya. Kita belum tahu makna kata jatuh sebelum kata itu berada di dalam konteksnya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan sebagai kata, maknanya lazim di anggap sama, seperti contoh berikut.

ü Tangannya luka kena pecahan kaca.

ü Lengannya luka kena pecahan kaca.

Jadi, kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah besinonim, atau bermakna sama.

Istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Umpamanya, kata tangan dan lengan yang menjadi contoh. Kedua kata itu dalam bidang kedokteran mempunyai makna berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan, sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu. Dalam bahasa umum kedua kata itu merupakan dua kata yang bersinonim, dan oleh karena itu sering dipertukarkan. Artinya, istilah itu tidak hanya digunakan di dalam bidang keilmuaan, tetapi juga telah digunakan secara umum.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ’yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya. Tetapi dalam bahasa indonesia bentuk menjual gigi tidaklah memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna ’tertawa keras-keras’. Jadi makna seperti yang dimiliki menjual gigi itulah yang disebut makna idiomatikal.

Ada dua macam idiom, yaitu yang disebut idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud dengan idiom penuh adalah yang semua unsur-unsur sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Bentuk-bentuk seperti membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau termsuk contoh idiom penuh.Sedangkan yang dimaksud idiom sebagian adalah idiom yang salah satunya unsurnya masih memiliki makna lesikal sendiri. Misal, buku putih yang bermakna ’ buku yang memuat keterangan resmi suatu kasus.

Peribahasa memiliki makna yang dapat dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ’asosiasi’ antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.contoh’ pribahasa Tong kosong berbunyi nyaring yang maknanya’ oarang yang banyak cakapnya biasanya tidak berilmu. Makna ini dapat ditarik dari asosiasi; tong yang berisi bila dipukul tidak mengeluarkan bunyi, tapi tong yang kosong akan menegeluarkan bunyi yang keras, nyaring.

7.3 RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahas yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

7.3.1 Sinonim

Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misal, antra kata betul dengan kata benar. Relasi sinonim ini bersifat dua arah. Kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B, maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan satuan ujaran A.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan sama. Karena faktor-faktor ;

¨ Pertama, faktor waktu. Contoh, kata kempa bersinonim dengan kata stempel, namun kata kempa juga hanya cocok untuk digunakan pada konteks klasik.

¨ Kedua, faktor tempat atau wilayah. Misal, kata saya dan beta adalah dua kata yang bersinonim. Namun, kata saya dapat digunakan di mana saja, sedangkan kata beta hanya cocok untuk wilayah indonesia bagian timur.

¨ Ketiga, faktor keformalan. Misal, kata uang dan duit adalah 2 kata yang bersinonim. Namun, kata uang digunakan dalam ragam formal dan informal. Duit hanya cocok untuk tak formal.

¨ Keempat, faktor sosial. Saya dan aku bersinonim. Kata saya dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya dapat digunakan untuk orang sebaya.

¨ Kelima, bidang kegiatan. Kata matahari dan surya, bersinonim.kata matahari digunakan dalam kegiatan apa saja, sedangkan kata surya hanya digunakan pada ragam khusus.

¨ Keenam, faktor nuansa makna.misal, kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dam mengintip, kata-kata bersinonim. Kata melihat memiliki makna umum, kata melirik memiliki makna melihat dengan sudut mata, kata menonton memiliki makna melihat untuk kesenangan, kata meninjau memiliki makna melihat dari jauh, dan kata mengintip memiliki makna melihat dari celah sempit.

7.3.2 Antonim

Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misal, buruk berantonim dengan baik.

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonim dibedakan atas beberapa jenis:

¨ Pertama, antonim yang bersifat mutlak. Umpama kata mati berantonim dengan kata hidup. Bersifat mutlak karena sesuatu yang masih hidup tentunys belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya tidak hidup lagi.

¨ Kedua, antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpama kata besar dan kecil berantonim secara relatif . karena batas antara satu dengan lainnya tidak dapat ditentukan dengan jelas.

¨ Ketiga, antonim yang bersifat relasional. Umpama antara kata membeli dan menjual, antara guru dan murid. Antonim jenis ini disebut relasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain. Contoh seorang laki-laki tidak bisa disebut sebagai suami kalau tidak punya istri. Andaikata istrinya meninggal, maka dia bukan suami lagi, melainkan kini sudah berganti nama menjadi duda.

¨ Keempat, antonim yang bersifat hierarkial. Umapama, kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial, juga antara kata gram dan kilogram. Demikianlah, kata tamtama dan bintara berada dalam satu garis kepangkatan militer, kata gram dan kilogram berada dalam satu garis jenjang ukuran timbangan.

7.3.3 Polisemi

Polisemi mempunyai makna lebih dari satu. Umpama, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna :

(21)Kepalanya luka kena pecahan kaca. ( bagian tubuh manusia)

(22) Kepala kantor itu bukan paman saya. ( ketua atau pimpinan )

(23)Kepala surat biasanya berisi nama dan alamant kantor. (sesuatu yang berada disebelah atas)

7.3.4 Homonimi

Homonimi adalah dua kata atau satu ujaran yang bentuknya sama, maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata yang berlainan. Contoh; antara kata bisa yang berarti ’racun ular’ dan kata bisa yang berarti sanggup.

Pada kasus homonim ada dua istilah yaitu;

a. homofoni : adanya kesamaan bunyi

contoh, kata bank ’lembaga keuangan’ dan bang (bentuk singkat dari abang)

b. homografi : mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Contoh, kata memerah yang berarti malakukan perah, dan kata memerah yang berarti menjadi merah.

Cara menetukan dua buah bentuk yang sama adalah homonim atau polisemi :

1. yang harus dipegang adalah bahwa homonim adalah dua bentuk ujaran atau lebih yang ’kebetulan’ bentuknya sama, dan maknanya berbeda. Polisemi adalah sebuah ujaran yang memiliki mkan lebih dari satu.

2. makna yang ada dalam polisemi, meskipun berbeda, tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantik, bahwa makna-makna itu masih mempunyai hubungan. Sebaliknya makna dalam dua bentuk homonim tidakmempunyai hubungan sama sekali.

7.3.5 Hiponimi

Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang mkananya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Relasi hiponim bersifat searah,bukan dua arah. Dengan kata lain kalau merpati adalah hiponim dari burung, maka burung adalah hipernim dari merpati.

7.3.6 Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misal, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Dipersoalkan orang bagaimana kita dapat membedakan ambiguti dan homoni, sebab konstruksi seperti buku sejarah baru seperti yang dibicarakan di atas sebagai contoh bentuk ambiguiti, sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna. Konsep bahwa hominim adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedang ambiguiti sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

7.3.7 Redunansi

Redunansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penguunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Contoh kalimat; Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundans, berlebih-lebihan.

7.4 Perubahan Makna

Dalam masa yang relatif singkat makna sebuah kataq akan tetap s’ama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah.

§ Pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.

Umpama, kata sastra pada mulanya bermakna ’tulisan, huruf, lalu berubah menjadi ’bacaan’; kemudian berubah lagi menjadi bermakna ’buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’,dst.

§ Kedua, perkembangan sosial budaya. Kata saudara, misalnya, pada mulanya ’seperut’ atau ’prang yang lahir dari kandungan yang sama’, tapi kini kata saudara digunakan juga untuk menyebut orang lain, sebagai kata sapaan,sederajat.

§ Ketiga, perkembangan pemakaian kata. Misal, kata menggarap dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna, mengerjakan, membuat.

§ Keempat, pertukaran tanggapan indra. Misal, rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.

§ Kelima, adanya asosiasi. Amplop sebenarnya adalah ’sampul surat’. Tetapi amplop juga bermakna ‘uang sogok’.

Perubahan makna kata ada beberapa macam yaitu perubahan yang meluas, menyempit, berubah total. perubahan yang meluas, artinya kalau tadinya sebuah kata bermakna ”A”, kemudian menjadi makna ’B’. umpamanya, kata baju awalnya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai kebahu \’. Tetapi dalam kalimat ‘Murid-murid memakai baju seragam’, ini berarti bukan hanya baju tetapi juga celana, sepatu, dasi, dan topi.

Perubahan yang menyempit, artinya kalau tadinya sebuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknannya menjadi khusus sangat khusus. Umpama kata sarjana mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’ tetapi kini hanya bermakna ‘ lulusan perguruan tinggi’ saja.

Perubahan makna secara total, artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Umpamanya kata ceramah dulu bermakna ”cerewet”, ’banyak cakap’ sekarang bermakna ’uraian mengenai suatu haldi muka orang banyak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata yang berada dalam satu medan makna atau satu makna leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna, atau juga analisis ciri-ciri leksikal.

7.5.1 Medan Makna

Medan makna atau medan leksikal adalah seperangkat unsur lesikal yang maknany saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu.Medan warna dalam bahasa indonesia mengenal nama merah, coklat, biru, hijau, kuning, abu-abu, putih, dan hitam. Untuk nuansa yang berbeda, bahasa indonesia memberi keterangan perbandingan seperti, merah darah, merah jambu, merah bata. Dalam studi makna seperti yang dilakukan Nida, kata-lkata biasanya dibagi atas 4 kelompok, yaitu kelompok bendaan (entiti), kelompok kejadian/ peristiwa (event), kelompok abstrak, dan kelompok relasi.

Berdasar sifat hubungan semantisnya kelompok leksem dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintakmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur lesikal itu. Contoh, cab, bawang, trasi, garam, merica, dan lada berada dalam satu kolokasi yaitu ’bumbu dapur’. Kolokasi menujukkan pada hubungan sintamik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set menunjukkan pada hubungan paradigmatik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bias disubstitusikan. Umpamanya, kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Sedangkan sejuk merupakansuhu di antara dingin dan hangat.

7.5.2 KOMPONEN MAKNA

Makna yang dimiliki setiap kata terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut dengan komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Umpama kata ayah memiliki komponen makna /+manusia,/+dewasa,/+jantan,/+kawin, dan /+punya anak dan kata ibu memiliki komponen makna/+manusia,/+dewasa,/-jantan,/+kawin, dan /+punya anak. (keterangan :tanda + memiliki komponen makna, – tidak memiliki komponen makna tersebut).

Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Umapama, prosesw afiksasi dengan prefiks me- pada nomina yang memiliki komponen makna /+alat?, mempunyai makna gramatikal’ melakukan tindakan dengan alat’ seperti menggergaji, memahat. Pada proses reduplikasi terjadi pada dasar verba yang memiliki komponen makna /+sesaat/ memberikan makna gramatikal ’berulang-ulang’ seperti pada memotong-motong, memukul-mukul. Sedangkan pada verba yang memiliki komponen makna /+bersaat/ memberi makna gramatikal ’dilakukan tanpa tujuan’, seperti mandi-mandi, duduk-duduk. Jadi, dalam proses reduplikasi terlihat verba yang memliki komponen makna /+sesaat/ mempunyai makna gramatikal berbeda dengan verba yang memiliki komponen makna /-sesaat/.

Dalam proses komposisi, tau proses penggabungan leksem dengan leksem, terlihat juga bahwa komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlihat dalam proses itu ’milik’ hanya bisa terjadiapabila konstituen kedua dari komposisi itu memiliki komponen makna /+manusia/ atau /+dianggap manusia, misalnya, sepeda Dika, rumah paman. Jika tidak memiliki komponen maka makna gramatikal ’milik’ tidak akan muncul.

7.5.3 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Analisis persesuaian semantic dan sintaktik tentu saja harus memperhitungkan komponen makna secara lebih terperinci. Misalnya kalimat :

1) Nenek makan dendeng

2) Kucing makan dendeng

Kalimat tersebut bisa diterima, meskipun subjek yang pertama berciri /+manusia/ dan yang kedua /-manusia/ karena verbanya yaitu makan, memiliki komponen /+makhluk hidup/, yang bisa berlaku untuk manusia dn binatang. Namun bagaimana dengan kalimat : kambing itu makan rumput, padahal jelas bahwa rumput bukan makanan. Disini tampak bahwa keterperincian analisis lebih diperlukan lagi, sebab ternyata rumput memang bukan makanan manusia, tetapi makanan kambing.

Selain diperlukan keterperincian, masalah metafora juga harus disingkirkan, sebab kalimat metaforis seperti kalimat Bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah. Kalimat ini adalah diterima.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s