Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

DHOMAS IKHTIARI WAHYU S_1402408198_bab 4 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:17 pm

DHOMAS IKHTIARI WAHYU S.

1402408198

4. Tataran Linguistik (1) :Fonologi

Bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu.

Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi :

-fonetik

-fonemik

* Fonetik : cabang study fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

* Fonemik : cabang study fonologi yang menyebabkan berbedanya makna

4.1 Fonetik

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik yaitu:

* fonetik artikolatoris,

* fonetik akustik,

* fonetik auditoris.

Ø Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bkerja dalam menghasilkan bunyi bahasa , serta bagaimana bunyi bunyi itu diklasifikasikan.

Ø Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekwensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dantimbrenya.

Ø Sedangkan fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat ucap

Nama-nama alat ucap atau alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

  1. paru – paru
  2. batang tnggorok
  3. pangkal tenggorok
  4. pita suara
  5. krikoid
  6. tiroid atau lekum
  7. aritenoid
  8. dinding rongga kerongkongan
  9. epiglottis
  10. akar lidah
  11. pangkal lidah
  12. tengah ldah
  13. daun lidah
  14. ujug lidah
  15. anak tekak
  16. langit-langit lunak
  17. langit-langit keras
  18. gusi, lengkung kaki gigi
  19. gigi atas
  20. gigi bawah
  21. bibir atas
  22. bibir bawah mulut
  23. rongga mulut
  24. rongga hidung

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Nama-nama tersebut adalah ;

  1. pangkal tenggorok – laringal
  2. rongga kerongkongan – faringal
  3. pangkal lidah – dorsal
  4. tengah lidah – medial
  5. daun lidah – laminal
  6. ujung lidah – apikal
  7. anak tekak – uvular
  8. langit-langit lunak – velar
  9. langit-langit keras – palatal
  10. gusi – alveolar
  11. gigi – dental
  12. bibir – labial

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemopaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Berkenaan dengan hamabatan pada pita suara ini perlu dijelaskan ada 4 macam posisi pita suara yaitu

  1. pita suara terbuka lebar
  2. pita suara terbuka agak lebar
  3. pita suara terbuka sedikit
  4. pita suara tertuup rapat-rapat

Jika pita suara terbuka lebar maka tidak akan terjadi bunyi bahasa. Jika pita suara terbuka agak lebar maka akan terjadi bunyi ahasayang disebut bunyi tak bersuara (voiceless). Kalau pita suara terbuka sedikit maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersara(voice). Jika pita suara tertutup rapat maka akan terjadilah bunyi hamzah atau glotal stop.

Jika pita suara terbuka lebar berarti tidak ada hambatan apa-apa, maka berarti juga tidak ada bunyi yang dhasilkan. Posisi terbuka agak lebar akan menghasilkan bunyi-bunyi tak bersuara apabila arus udara diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung. Posisi terbuka sedikit akan menghasilkan bunyi bersuara apabila arus udara diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung. Sedangkan posisi pita suara menutup sama sekali langsung menghasilkan bunyi hamzah atau bunyi glottal.

Tempat bunyi bahasa terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi. Proses terjadinya disebut proses artikulasi. Dan alat-alat yangdigunakan disebut artikulator. Dalam proses artikulasi ini biasanya terlibat dua macam articulator yaitu articulator aktif dan pasif.

Ø Articulator aktif ; alat ucap yang bergerak dan digerakkan.

Misalnya : bubur bawah, ujung lidah, dan daun lidah

Ø Articulator pasif : alat ucap yang tidak dapat bergerak atau yang didekati oleh articulator aktif.

Misalnya : bibier atas, gigi atas, langit-langit keras

Keadaan, cara atau posisi bertemunya articulator aktif dan artkulator pasif disebut striktur.

Dalam berbagai bahasa dijumpai bunyi ganda. Artinya ada dua bunyi yang lahir dalam dua proses artikulasi yang berangkaian.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, diantaranya:

Ø tulisan fonetik untuk ejaan fonetik

Ø tulisan fonemis untuk ejaan fonemis

Ø system aksara tertentu untuk ejaan ortografis

Dalam studi linguistic dikenal dengan adanya tulisan fonetik dari International Phonetic Alphabet (IPA).

Dalam tulisan fonetik setiap bunyi baik yang segmental maupun yang suprasegmental dilambangkan secara akurat. Artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik haya perbedaan bunyi yang distingtif saja yakni yang membedakan makna, yang dibedakan lambangnya.

4.1.4 Kalsifikasi bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas:

Ø vocal

Ø konsonan.

Bunyi vocal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Pita suara yang terbuka sedikit menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang dipompakan dari paru-paru. Arus udara itu keluar melalui rongga mulut tanpa hambatan bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar diteruskan dirongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan ditempa-tempat artikulasi tertentu.

4.1.4.1 Bunyi Vokal

Bunyi vocal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah biasa bersifat vertical dan horizontal.

Secara vertical dibedakan adanya :

Ø vocal tinggi, misalnya, bunyi {i} dan {u}.

Ø vocal tengah, misalnya, bunyi [e] .

Ø vocal rendah, misalnya , bunyi [a]

Secara horizontal dibedakan :

Ø Vokal depan. Misalnya, bunyi [I dan [e]

Ø Vokal pusat, misalnya bunyi [∂]

Ø Vocal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]

Menurut bentuk mulut dibedakan :

Ø Vocal bundar misalnya, vocal [o] dan [u]

Ø Vocal tak bundar misalnya, vocal [i] dan [e]

Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut itulah kemudian kita memberi nama akan vocal-vokal itu, misalnya :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vkal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vocal pusat tengah tak undar

[o] adalah vokal belakang tngah bundar

[a] adalah vocal pusat rendah tak bundar

4.1.4.2 diftong atau vocal rangkap

ü Disebut diftong atau vocal rangkap karena posisi lidah etika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

Contoh diftong daam bahasa Indonesia adalah [au] pada kerbau.

Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya sehingga dibedakan adanya:

1. diftong naik

2. diftong turun.

ü Diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisis bunyi yang kedua.

ü Diftong turun karena posisibuyi pertama lebih tiggi dari posisi yang kedua.

4.1.4.3 Klasifikasi konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan 3 patokan yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, cara artikulasi

Berdasarkan tempat artikulasi ;

1. bilabial yaitu konsoan yang terjadi pada kedua belah bibir atas. Contoh. Bunyi [b],[p],[m]. b] dan [p] adalah bunyi oral yaitu dikelarkan melalui rongga mulut, dan bunyi [m ] adalah bunyi nasal yatu bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.

2. labiodental yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas. Contoh, bunyi [f] dan [v]

3. aminoalveolar yakni konsonan yang terjadi pada daun lidah dn gusi. Contohya, bunyi [t] da [d]

4. dorsvelar yakni konsonan yang terjad pada pangkal lidah dan velum. Contohnya, bunyi [k] dan [g]

berdasarkan cara artikulasinya dibedakan atas :

1. hambat, contohnya, bunyi [p] [b] [t] [d] [k] [g]

2. geseran , contohnya bunyi [f] [s] [z]

3. paduan, contohya, bunyi [c] [j]

4. senggauan, contohnya, bunyi [m] [n] [ŋ]

5. getaran, contohnya, bunyi [r]

6. sampingan , contohnya, bunyi [l]

7. hampiran, contohnya, [w] [y]

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehigga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Dalam studi bunyi mengenai bunyi atau unsure suprasegmental itu biasanya dibedakan pula atas sebagai berikut

4.1.5.1 Tekanan atau stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Tekanan ini mungkin terjadi secara soradis, mungkin juga telah berpola,mungkin bersifat distingtif, dapat membedakan makna, mungkin tidak distingtif.

4.1.5.2 Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis. Dalam bahasa tonal biasanya dikenal dengan adanya lima macam nada, yaitu :

1.nada naik atau meninggi[ /]

2.nada datar [―]

3.nada turun [\]

4.nada turun naik [\/]

5.nada naik turun [/\]

nada yang menyertai bunyi segmental di dalam kalimat disebut intonasi. Dalam hal ini biasanya dibedakan menjadi 4 macam nada ;

1.nada yang paling tinggi [4]

2.nada tinggi [3]

3.nada sedang [2]

4.nada rendah [1]

4.1.5.3 Jeda atau persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar persambungan antara segmen yang satudengan yang lain.dibedakan:

1. Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel deengan silabel yang lain

2. Sendi luar menunjukkan batas yang lebih bsar dari segmen silabel.

4.1.6 silabel

ü Silabel adalah satuan ritms terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran

ü Onset adalah bunyi pertama pada sebua silabel, seperti bunyi [s] pada kata sampah.

ü Koda adalah bunyi akhir paa sebuah silabel seperti bunyi [n] pada kata paman.

4.2 Fonemik

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa yang mengandung bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak.

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni buyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4.2.1 Identitas Fonem

Bunyi bisa disebut fonem apabila satuan bahasanya memiliki beda makna. Fonem dari sebuah bahasa ada yang mempunyai beban fungsional tinggi dan rendah. Dikatakaan bebab fungsional tinggi apabila banya ditemui pasangan mnimal yang mengandung fonem tersebut.

4.2.2 alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon. Alofon- alofon dari seuah fonem memiliki kemirian fonetis. Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Tentang distribusinya mungkin bersifat komplementer mungkin juga bersifat bebas.

1. Distribusi komplementer adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan.

2. Distribusi bebas adalaah bahwa alofon-alofon itu boleh igunakan tanpaa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

4.2.3 Klasifikasi fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem sama dengan klasifikasi bunyi dan unsur suprasegmental. Fonem-fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadaap arus ujaran disebut fonem segmental.

Fonem yang berupa unsure suprasegmental dsebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.

4.2.4 Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4.2.5 Perubahan Fonem

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagaiakibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama. Contoh, sabtu dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan [saptu]

ü Asimilasi fonemis adalah perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem.

ü Asimilasi fonetis adalah perubahan yang tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem.

Asimilasi dibedakan menjadi 3 :

1. Asimilasi Progresif : bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhinya.

2. Asimilasi Regresif : Bunyi yang diubah itu terletak dimuka bunyi yang mempengaruhinya

3. Asimilasi Resiprokal : Perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

Disasimilasi adalah peristiwa perebahan yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

ü Contoh hasil netralisasi, adanya bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard.

ü Contoh hasil arkifonem, fonem [d] pada kata hard yang bias berwujud [t] dan [d]

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vocal

ü Umlaut adalah perubahan vocal sedemikian rupa sehingga vocal itu diubah menjadi vocal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vocal yang berikutnya yang tinggi.

ü Ablaut adalah perubahan vocal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

ü Harmoni vocal adalah perubahan bunyi.

4.2.5.4 Kontraksi

Kontraksi adalah suatu pemendekan yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

1. Metatesis merupakan proses mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

2. Epentesis adalah sebuah fonem tertentu disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa tewrkecil yang fungsional ataua dapat membedakan makna kata.

 

2 Responses to “DHOMAS IKHTIARI WAHYU S_1402408198_bab 4”

  1. eviana rahmatika 1402408101 Says:

    1. Apa yang dimaksud dengan metatesis dan epitesis?

  2. tyas primasari (1402408265) Says:

    kalo diperhatikan, alofon mempunyai arti lain, yaitu bersifat abstrak dan konkret . . jelaskan ! ! !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s