Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Anityas Dian Novita Sari_1402408307_BAB 4 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 8:03 pm

Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.


Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:706760694; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1384467640 1130770650 1268575870 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:126.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:234.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:270.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:270.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:306.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:306.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:342.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:342.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1615088620; mso-list-template-ids:-626852794;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:144.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:234.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1690108701; mso-list-template-ids:390240670;} @list l2:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:63.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:63.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:81.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:81.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:135.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:135.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1876769682; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1072318474 -1987540682 1464476396 54528318 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level3 {mso-level-tab-stop:153.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:153.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l3:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4 {mso-list-id:1932739564; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1018369316 -2088350990 -1963398126 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 {mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:144.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l5 {mso-list-id:2009169023; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1205610574 426016362 -1079352238 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level4 {mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level7 {mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.

Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:706760694; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1384467640 1130770650 1268575870 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:126.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:234.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:270.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:270.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:306.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:306.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:342.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:342.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1615088620; mso-list-template-ids:-626852794;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:144.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:234.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1690108701; mso-list-template-ids:390240670;} @list l2:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:63.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:63.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:81.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:81.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:135.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:135.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1876769682; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1072318474 -1987540682 1464476396 54528318 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level3 {mso-level-tab-stop:153.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:153.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l3:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4 {mso-list-id:1932739564; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1018369316 -2088350990 -1963398126 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 {mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:144.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l5 {mso-list-id:2009169023; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1205610574 426016362 -1079352238 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level4 {mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level7 {mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:706760694; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1384467640 1130770650 1268575870 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:126.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:234.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:270.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:270.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:306.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:306.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:342.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:342.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1615088620; mso-list-template-ids:-626852794;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:144.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:234.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1690108701; mso-list-template-ids:390240670;} @list l2:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:63.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:63.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:81.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:81.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:135.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:135.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1876769682; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1072318474 -1987540682 1464476396 54528318 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level3 {mso-level-tab-stop:153.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:153.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l3:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4 {mso-list-id:1932739564; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1018369316 -2088350990 -1963398126 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 {mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:144.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l5 {mso-list-id:2009169023; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1205610574 426016362 -1079352238 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level4 {mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level7 {mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:706760694; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1384467640 1130770650 1268575870 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:126.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:234.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:270.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:270.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:306.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:306.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:342.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:342.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1615088620; mso-list-template-ids:-626852794;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:144.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:198.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:234.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:234.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1690108701; mso-list-template-ids:390240670;} @list l2:level1 {mso-level-start-at:4; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:63.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:63.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:81.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:81.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:126.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:135.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:135.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1876769682; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1072318474 -1987540682 1464476396 54528318 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level3 {mso-level-tab-stop:153.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:153.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l3:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4 {mso-list-id:1932739564; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1018369316 -2088350990 -1963398126 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 {mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:144.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 {mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:216.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:252.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 {mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:288.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:324.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:360.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:360.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l5 {mso-list-id:2009169023; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1205610574 426016362 -1079352238 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level4 {mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l5:level7 {mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.

Nama : Anityas Dian Novita Sari

Nim : 1402408307

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK

1. FONOLOGI

Dalam runtutan bunyi bahasa terdengar suara menarik atau menurun. Runtutan bahasa ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang ada dalam bunyi itu. Tahap pertama runtutan bahas ini dapat disegmentasikan berdasarkan jeda yang paling besar. Hal tersebut berkelanjutan hingga pada tahap terakhir tinggal kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata. Silabel adalah satuan nyaring/sonoritas dengan ditandai bunyi vokal.

Fonologi dibedakan menjadi fonemik dan fonetik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda atau tidak. Sedang fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari fungsi bunyi sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

Fonetik di bagi menjadi 3 yakni:

a. Fonetik artikulatoris, berkenaan dengan mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris, mempelajari mekanisme penerimaan bunyi oleh telinga kita.

4.1.1 ALAT UCAP

Alat ucap manusia berfungsi menghasilkan bunyi. Alat ucap tersebut meliputi mulut beserta bagian-bagiannya, tenggorokan hingga paru-paru. Bunyi-bunyi pada alat ucap dibedakan menjadi 2: dental dan labial.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses terbentuknya bunyi berawal dari pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Posisi inilah yang mampu menyebabkan bunyi yang berbeda-beda. Ada empat posisi pita suara:

a. Pita suara terbuka lebar, maka tidak akan terjadi bunyi.

b. Pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadi bunyi tak bersuara

c. Pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadi bunyi bersuara

d. Pita suara tertutup rapat-rapat, maka akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Proses dimana bunyi dihasilkan disebut proses artikulasi. Artikulasi menghasilkan bunyi tunggal. Artikulasi sertaan adalah artikulasi yang menghasilkan bunyi ganda. Artikulasi sertaan meliputi: labialisasi, patalisasi, velarisasi, faringalisasi.

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin dan ditambah sejumlah tanda akritik dan modifikasi huruf lain. Dalam tulisan fonetik setiap huruf untuk melambangkan suatu bunyi bahasa. Tulisan fonetik dikenalkan olah IPA (International Phonetic Alphabet) pada tahun 1886. tulisan fonetik dilambangkan secara akurat, baik secara segmental maupun suprasegmental. Walaupun perbedaan bunyi hanya sedikit dalam tulisan fonetik. Berbeda dengan tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif, yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya. Sedang tulisan ortografis dibuat untuk umum dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Pada awalnya bunyi bahasa dibagi menjadi dua, yakni:

a. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit

b. Bunyi konsonan dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.

Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak. Karena ada pita suara yang terbuka sedikit dan ada yang terbuka lebar. Sedang bunyi vokal semuanya bersuara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan/diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut yakni posisi, vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedang posisi horizontal dibedakan menjadi vokal pusat, vokal belakang, vokal depan. Adapun berdasarkan bentuk mulut dibedakan menjadi bundar dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena lidah tidak sama dalam memproduksi bunyi, tergantung pada tinggi rendahnya lidah dan lidah yang bergerak. Diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena bunyi pertama lebih rendah daripada bunyi kedua dan sebaliknya untuk diftong turun.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan posisi:

a. Pita suar dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara

b. Tempat artikulasi dibedakan menjadi konsonan bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar.

c. Cara artikulasi dibedakan manjadi hambat, geseran/triktatif, paduan, sengauan, atau nasal, getaran atau trill, sampingan atau lateral dan hampiran.

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Arus ujaran merupakan runtutan bunyi yang bersambung-sambung diselingi jeda dan disertai dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental. Adapun unsur-unsur supra segmental adalah berikut:

a. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi sehingga mengakibatkan amplitudo melebar.

b. Nada atau Pitch

Bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi maka akan disertai dengan nada yang tinggi. Begitu sebaliknya dengan frekuensi rendah. Nada bersifat fonemis maupun morfofonemis. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada yakni:

1. Nada naik dilambangkan /..…./

2. Nada datar dilambangkan /……/

3. Nada turun dilambangkan /……/

4. Nada naik turun dilambangkan /…^../

5. Nada turun naik dilambangkan /…V../

c. Jeda

Jeda adalah hentian bunyi. Jeda ini dibedakan menjadi jeda penuh dan jeda sementara.

Sendi dalam adalah merupakan batas antar silabel dilambangkan dengan (+). Sedang sendi luar merupakan batas yang lebih luas dari segmen silabel. Sendi luar dibagi menjadi 3 yakni:

1. Jeda antar kata diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat diberi tanda ( # )

2. FONEMIK

Obyek penelitian fonemik adalah fonem. Yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna maka disebut fonem.

4.2.1 IDENTIFIKASI FONEM

Cara untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan dengan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang mirip. Apabila berbeda makan maka bunyi tersebut adalah fonem. Identitas fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu. Fonem dari suatu bahasa ada yang memiliki beban fungsional tinggi maupun rendah.

4.2.2 ALOFON

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem dalam bahasa inggris. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu tertentu. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya memiliki banyak kesamaan dalam pengucapan. Dalam pendistribusiannya ada yang bersifat komplementer dan ada juga yang bebas. Distribusi komplementer/saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak dapat ditukar karena apabila ditukar akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan tertentu. Fonem bersifat abstrak sedang alofon nyata karena alofon-alofon itu yang diucapkan dalam bahasa.

4.2.3 KLASIFIKASI FONEM

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonal. Fonem-fonem yang berupa bunyi dan merupakan segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sedang fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Dalam tingkat fonemik ciri-ciri seperti tekanan, durasi dan nada bersifat fungsional. Tekanan mempunyai fungsi fonemis. Sedang nada mampu membedakan makna. Dalam bahasa indonesia unsur-unsur suprasegmental tidak bersifat fonemis maupun morfofonemis, tapi intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Penamaan fonem sama dengan penamaan bunyi, karena kriteria yang digunakan sama.

4.2.4 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang ada dalam suatu bahasa. Jumlah dalam satu bahasa tidaklah sama dengan jumlah fonem bahasa lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tafsiran sehingga jumlahnya berbeda. Ada yang menyebutkan fonem bahasa indonesia 24, adapula yang 28 hal tersebut terjadi karena perbedaan tafsiran.

4.2.5 PERUBAHAN FONEM

Ucapan fonem dipengaruhi oleh lingkungan dan fonem-fonem lain yang ada disekitar. Perubahan fonem mampu mengubah identitas fonem lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah berubahnya sebuah bunyi karena bunyi lain, sehingga bunyi itu menyerupai bunyi yang mempengaruhinya. Jika perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, disebut asimilasi fonetis. Tapi jika perubahan itu tidak menyebabkan perubahan identitas mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis. Asimilasi alofonis dibagi menjadi tiga, yakni:

a. Asimilasi progresif, bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di depan bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal, perubahan terjadi pada kedua bunyi dan saling mempengaruhi, sehingga menjadi fonem baru.

Proses asimilasi menyebabkan dua bunyi berbeda menjadi sama baik seluruhnya atau sebagian. Dalam dismilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi adalah menyamakan posisi akhir oposisi gabungan menjadi salah satu bagian dari gabungan. Fonem yang mempunyai dua bunyi adalah istilah linguistik disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahas Jerman, yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal berubah menjadi lebih tinggi dari vokal sebelumnya. Ablaut adalah perubahan vokal untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedang ablaut tidak terbatas pada peninggian tapi juga pemanjangan, dan pemendekan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal terdapat pada bahasa Turki. Harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke silabel yang menyusul. Tapi ada harmoni vokal dari kanan ke kiri yakni dalam bahasa Jawa.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan kata seperti kata tidak tahu menjadi ndak tahu, pemendekan ini berupa hilangnya sebuah fonem disebut kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalan sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epintesis

Metatetis adalah mengubah urutan fonem yang ada dalam suatu kata. Bentuk metatesis dan bentuk asli yang terdapat dalam bahasa adalah suatu variasi. Epintesis sebuah fonem biasanya yang hormogan dengan lingkungannya disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 FONEM dan GRAFEM

Fonem adalah satuan bunyi bahas terkecil yang fungsional atau membedakan makna kata. Untuk menetapkan bunyi berstatus sebagai fonem harus dengan mencari pasangan minimal, berupa dua buah kata yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak yang ada dalam kenyataan direalisasikan oleh alofon. Alofon dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik alofon-alofon beserta unsur suprasegmental digambarkan secara tepat. Sedang dalam transkripsi fonemik penggambarannya kurang akurat. Yang paling akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem merupakan huruf yang digunakan dari aksara latin.

 

One Response to “Anityas Dian Novita Sari_1402408307_BAB 4”

  1. kristina murti anissa 1402408188 Says:

    Menurut saya resume anda sudah cukup baik,akan tetapi pada khasanah linguistik mohon untuk dapat anda jelaskan kepada saya.
    Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s