Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

YUNUS AZMI 1402408079 BAB 8 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:41 pm

Nama : Yunus Azmi

NIM : 1402408079

BAB VIII

SEJARAH ALIRAN LINGUISTIK

  1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional dari zaman per zaman, mulai zaman Yunani sampai masa menjelang munculnya linguistic modern di sekitar akhir abad ke-19.

  1. Liguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis waktu itu adalah pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

Para filsuf Yunani mempertanyakan, apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau bersifat konvensi (nomos). Bersifat alami maksudnya bahasa itu mempunyai asal – usul, sumber dalam prinsip – prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri.

Bahasa bersifat konvensi maksudnya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomaly menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur dan tidak teratur. Kaum analogi antara lain, Plato dan Aristoteles, berpendapar bahwa bahasa itu bersifat teratur, karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Sebaliknya, kelompok anomaly berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur.

Dari studi bahasa pada zaman Yunani ini kita mengenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahas ini.

  1. Kaum Sophis
  2. Plato (429 – 347 S.M.)
  3. Aristoteles ( 384 – 322 S.M. )
  4. Kaum Stoik
  5. Kaum Alexandrian

2. Zaman Romawi

Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal, antara lain, Varro ( 116 – 27 S.M. ) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

a. Varro dan De Lingua Latina

Dalam buku De Lingua Latina masih juga memperdbatkan masalah analogi dan anomaly seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku ini dibagi dalam bidang – bidang etimologi dan morfologi..

a) Etimologi, adalah cabang Linguistik yang menyelidiki asal – usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistic yang mempelajari kata dan pembentukannya.

Mengenai deklinasi, yaitu perubahan bentuk kata, Varro membedakan adanya 2 macam deklinasi, yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris.

a) Deklinasi naturalis, adalah perubahan yang bersifa alamiah, sebab perubahan itu dengan sendirinya dan sudah berpola.

b) Deklinasi voluntaris, adalah perubahan yang terjadi secara morfologis, bersifat selektif dan manasuka.

b. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Beberapa segi yang patut dibicarakan dalam buku ini antara lain :

a) Fonologi

b) Morfologi

c) Sintaksis

3. Zaman Pertengahan

Dari zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain

a) Kaum Modistae,masih membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

b) Tata Bahasa Spekulstiva, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skolastik.

c) Petrus Hispanus, bukunya berjudul Summulae Logicales.

4. Zaman Renaisans

Dianggap sebagai pembukaan abad pemikiran abad modern. Ada 2 hal yang perlu dicatat : (1) Selain menguasai bahasa Latin, sarjana – sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab. (2) Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa –bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan malah j8ga perbandingan.

5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Masa antara lahirnya Linguistik Modern dengan masa berakhirnya zaman renainsans ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. Mengenai Linguistik tradisional di atas, maka scara singkat dapat dikatakan, bahwa :

a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan.

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain.

c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptif, yakni benar atau salah.

d) Persoalan kebahasaan sering kali dideskripsikan dengan melibatkan logika.

e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

  1. LINGUISTIK STRUKTURALIS

1. Ferdinand de Saussure

Dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

a) Telaah sinkronik dan diakronik.

b) La Langue dan La Parole.

c) Signifiant dan Signifie.

d) Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik.

2. Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah sorang tokohnya, yaitu Vilem mathesius (1882-1945).Dalam bidang Fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Dalam bidang sintaksis, Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya dan juga dari stuktur informasinya yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan. Struktur informasi menyangkut unsure tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema.

3. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya, antara lain, Louis Hjemslef (1899-1965), yang meneruskan ajaran Ferdinand de Sausure. Menurut Hjemslev teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, artinya harus merupakan suatu system deduktif semata-mata. Teori itu harus dapat dipakai secara tersendiri untuk dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari premis-premisnya. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi.

4. Aliran Firthian

Nama John R. firth (1890-1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi Prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi:

a) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem,

b) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda,

c) Prosodiyang realisasi fonetinya melampaui satuan yang lebih besar daripada fonem – fonem suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai bahasa. Firth berpendapat bahwa bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

5. Linguistic Sistemik

Nama aliran linguistic sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K. Halliday.

Pokok-pokok pandangan sistemik linguistic adalah

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyrakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana

3. SL lebuh mengutamakan pemerian cirri-ciri bahasa tertentu beserta fariasi-fariasi

4. SL mengenal adanyagradasi atau kontinum.

5. SL, menggambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai berikut :

SUBSTANSI

FORMA

SITUASI

Substansi fonik

Substansi grafis

Fonologi

grafologi

Leksis

gramatika

konteks

Tesis

Situasi

Langsung

Situasi luas

6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Aliran ini berkembang pesat di Amerikapada tahun tiga puluhan dan lima puluhan. Faktor yang menyebabkan :

1. Pada masa itu linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.

2. Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim fisafat yang berkembang pada masa itu di amerika, yaitu filsafat behaviorisme.

3. Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik.

Aliran strukturalis yang dikembangkan bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi, dan aliran Bloomfieldian atau post-Bloomfieldian. Karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasi unsure-unsur bahasa berdasarkan hubungan hirarkinya.

7. Alirean Tagmemik

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem. Yang dimaksud dengan Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarakn untuk mengisi slot tersebut.

Satuan dasar sintaksis itu, yaitu tagmem, merupakan suatu system sel-empat-kisi, yang dapat digambarkan sebagai gbagan berikut :

Fungsi

Kategori

Peran

Kohesi

  1. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN–ALIRAN SESUDAHNYA

1. Tata Bahasa Transformasi

Dalam buku Noam Chomsky yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957, dan dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar, dalam bahasa Indonesia dsebut tata bahasa transformasi atau bahasa generatif. Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah – kaidah yang tepat dan jelas. Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata bahasa yaitu :

  1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
  2. tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistic tertentu.

Konsep language dan paroleh dari de sausure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (kompeten) dan perbuatan berbahasa (performance). Jadi objeknya adalah kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernag didengarnya atau dilihatnya. Kemampuan membuat kalimat – kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa

Dalam buku Tata Bahasa Transformasi lahur bersamaan dengan terbitnya buku Syntatic Structure tahun 1957. buku ini sering disebut “ Tata Bahasa Transformasi Klasik “.

Kemudian disusul aspect of the theory of syntax dalam buku ini Chomsky menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Tahun 1965 dikenal dengan standar teori, kemudian tahun 1972 diberi nama Extended Standard Theory, tahun 1975 diberi nama Revised Extended Standard Theory. Terakhir buku ini direvisi dengan nama Government and Binding Theory.

Dari kesimpulan tersebut terdiri dari 3 komponen :

  1. komponen sintetik
  2. komponen semantik
  3. komponen fologis

2. Semantik Generatif

Menurut semantic generatf, sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika. Struktur logika itu tergaqmbar sebagai berikut :

Proposisi

Predikat Argumen 1 Argumen 2

Menurut teori semantic generatif, argument adalah segala dssesuatu yang dibicarakan; sedangkan predikat itu semua yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat , keanggotaan, dan sebagainya.

3. Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore. Fillmore membagi kalimat atas :

1. Modalitas, yang berupa unsure negasi, kala, aspek, dan adverbia.

2. Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

Kalimat

modalitas proposisi

negasi

kala

aspek

adverbial verba kasus 1 kasus 2 kasus 3

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalh hubungan antara verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argument dalam teori semantic generatif.

4. Tata Bahasa Relasional

Sama halnya dengan tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Dalam hal ini tata bahasa relasional banyak menyerang tata bahasa transformasi, karena menganggap teori-teori tata bahasa transformasi tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa inggis.

  1. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan colonial. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pemerintah colonial sangat memerlukan informasi mengenai bahasa-bahasa yang ada di bumi Indonesia untuk melancarkan jalannya pemerintahan disamping untuk kepentingan lain seperti penyebaran agama nasrani.

Konsep-konsep linguistic modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinan de Saussure sudah bergema sejak awal abad ke-20. Kemudain disusul oleh berbagai teori dan aliran seperti strukturalisme bloomfield pada tahun 30-an dan teori generatif transformasi pada tahun 50-an. Namun gema konsep linguistik modern itu baru tiba di Indonesia pada akhir sekali tahun 50-an.

Pendidikan formal linguistic di falkutas sastra dan dilembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun 50-an masih terpaku pada konsep-konsep tatabahasa tradisional yang sangat bersifat normative.

Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguis Indonesia ( MLI ). Tiga tahun sekali MLI mengadakan musyawarah nasional, yang acaranya selain membicarakan masalah organisasi juga mengadakan seminar mengenai linguistik. Selain acara seminar yang bersifat nasional yang diselenggarakan oleh pengurus pusat, banyak pula acara seminar yang diselenggarakan oleh pengurus komisariat di daerah.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwa, Dardjowidjojo, dan Soedaryanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s