Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Winda Kurniasari_1402408120_BAB 7 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:27 pm

Nama : Winda Kurniasari

NIM : 1402408120

BAB 7

7 TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Semantik dengan objeknya, yakni makna berada di seluruh atau di semua tataran bangun membangun ini. Makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.

Oleh karena itu, penanaman tataran untuk semantik agar kurang tepat sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya itu tidak sama.

Subsistem gramatik, fonologi dan morfofemik bersifat sentral. Subsistem semantik dan fonetik bersifat periperal. Subsistem semantik bersifat periferal karena makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tidak dapat diamati secara empiris. Tetapi sejak Chomsky, Bapak linguistik transformasi menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik, semantik tidak lagi periferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya.

7.1. Hakikat Makna

Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu signifian “yang mengartikan” dan signifie “yang diartikan”

Jadi makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada tanda linguistik. Tanda linguistik bisa berupa kata atau leksem maupun morfem.

Banyak pakar juga menyebutkan bahwa makna sebuah kata dapat ditentukan apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya, wacananya dan situasinya. Karena bahasa itu bersifat arbitrer (tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut ð kuda kenapa tidak daku. Maka hubungan makna dan kata juga bersifat arbitrer.

7.2. Jenis Makna

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna sebenarnya makna yang sesuai dengan hasil observasi kita, maka apa adanya atau makna yang ada dalam kamus.

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses afikasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal “memakai baju”.

Makna kontekstual adalah makna sebuak leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh: Rambut di kepala nenek belum ada yang putih

Sebagai kepala sekolah dia sudah berwibawa

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

7.2.2. Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata disebut bermakna referensial kalau ada referensi-nya atau acuannya. Misal kuda, gambar, merah. Kata-kata yang tidak mempunyai referens, misal dan, atau, karena adalah kata-kata yang tidak bermakna referensial.

Berkenaan dengan acuan, kata-kata deiktik adalah kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini dan di situ.

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

Konetasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain, daerah satu dengan yang lain.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata atau leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci.

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaannya makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

Berbeda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal.

Contoh: membanting tulang dengan makna bekerja keras.

Ada dua macam idion, yaitu idion penuh dan idiom sebagian.

Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan.

Misal: membanting tulang, meja hijau.

Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikal sendiri.

Misal: daftar hitam, buku putih.

Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

7.3. Relasi Makna

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

Dalam pembicaraan tentang relasi makna biasanya dibicarakan masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, hiponimim ambiquiti dan redundansi.

7.3.1. Sinonim

Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Itu terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

Faktor waktu, misal hulubalang dengan komandan

Faktor tempat, misal saya dengan beta

Faktor keformalan, misal uang dengan duit

Faktor sosial, misal saya dengan aku

Faktor bidang kegiatan, misal matahari dengan surya

Faktor nuansa makna, misal melihat, melirik, menonton, meninjau,

dan mengintip.

7.3.2. Antonim

Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonimi itu dapat dibedakan beberapa jenis, antara lain:

1. Antonimi yang bersifat mutlak. Misalnya hidup dengan mati

2. Antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi. Misal besar dengan kecil

3. Antonimi yang bersifat relasional. Misal, suami dengan istri.

4. Antonimi yang bersifat hierarkial. Misal, gram dengan kilogram.

Ada satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu disebut antonimi majemuk.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata atau ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Dalam kasus polisemi, biasanya makna pertama adalah makna sebenarnya, yang lain adalah makna yang dikembangkan.

7.3.4. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda.

Misal, bisa “racun” dengan bisa “sanggup”

Pada homonimi adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaannya.

Misal, bisa “racun” dengan bisa “sanggup”

Bang “abang” dengan bank “lembaga keuangan”

Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografi-nya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Contoh kata teras /taras/ yang maknanya bagian serambi rumah.

Untuk membedakan homonimi atau polisemi adalah maknanya. Jika polisemi maknanya ada hubungannya satu sama lain. Homonimi maknanya tidak ada hubungan sama sekali.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misal kata merpati dengan kata burung. Maka kata merpati tercakup dalam makna kata burung. Makna kata merpati berhiponim dengan burung berhipernim dengan merpati.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Ambiquisi adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.

7.3.7 Redundansi

Redundansi biasanya diartikan berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misal, bola itu ditendang oleh Dika. Kata oleh inilah yang dianggap redundans karena bisa dibuat kalimat bola ditendang Dika.

7.4. Perubahan Makna

Secara sinkronis atau masa yang relatif singkat makna sebuah kata tidak akan berubah, tetapi secara diakronis atau masa yang relatif lama ada kemungkinan dapat berubah yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

1. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi

2. Perkembangan sosial budaya

3. Perkembangan pemakaian kata

4. Pertukaran tanggapan indra

5. Adanya asosiasi

Dalam pembicaraan mengenai perubahan makna ini biasanya dibicarakan juga usaha untuk “menghaluskan” atau “mengkasarkan” ungkapan.

Ungkapan untuk menghaluskan disebut eutemia. Dan usaha untuk mengkasarkan disfemia.

7.5. Medan Makna dan Komponen Makna

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim, dimana kata-kata yang berada dalam satu medan makna.

Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna.

7.5.1. Medan Makna

Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu.

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set.

7.5.2. Komponen Makna

Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpama kata ayah mempunyai komponen maka /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim.

Misal:

Komponen Makna

Ayah

Bapak

1. Manusia

2. Dewasa

3. Sapaan kepada orang tua laki-laki

4. Sapaan kepada orang yang dihormati

+

+

+

+

+

+

+

Catatan tambahan, analisis makna dengan mempertandakan ada (+) atau tidak adanya (-) komponen makna pada sebuah butir leksikal disebut analisis biner, analisis dua-dua.

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Ketidakberterimaan sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

Contoh:

1. Kambing yang Pak Udin terlepas lagi

Ketidakberterimaan kalimat tersebut adalah karena kesalahan gramatikal, yaitu adanya konjungsi yang antara kambing dan Pak Udin.

2. Segelas kambing minum setumpuk air

Ketidakberterimaan kalimat ini bukan karena kesalahan gramatikal, tetapi karena kesalahan persesuaian klasikal.

3. Kambing itu membaca komik

Kalimat ini tidak berterima karena tidak ada persesuaian semantik antara kata kambing sebagai pelaku dengan kata membaca sebagai perbuatan yang dilakukan kambing itu.

4. Penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta jiwa

Ketidakberterimaan kalimat ini adalah karena kesalahan informasi.

Kalimat (2) dan (3) tidak berterima karena kesalahan semantik, kesalahan itu berupa tidak adanya persesuaian semantik di antara konstituen-konstituen yang membangun kalimat itu.

Analisis persesuaian semantik dan sintaktik ini tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara terperinci.

Selain diperlukan keterperincian analisis, masalah, metafora, tampaknya juga perlu disingkirkan, sebab kalimat-kalimat metaforis seperti (5) adalah berterima 5 bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah.

Iklan
 

One Response to “Winda Kurniasari_1402408120_BAB 7”

  1. Ery Nurhidayati Says:

    1. Soal ambiguiti :
    Ibu Guru baru mengajar di kelas.
    Tulis makna gandanya !
    2. Kata-kata atau leksem-leksem yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. jelaskan yang dimaksud dengan medan kolokasi dan medan set, sertai contohnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s