Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Widya Herliliawati_1402408208_BAB VII Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:24 pm

Nama : Widya Herliliawati

NIM : 1402408208


BAB 7

TATARAN LINGUISTIK (4):

SEMANTIK

Status tataran semantikdengan tataran fonologi, morfologi,dan sintaksis adalah tidak sama, sebab secara hierarkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat; satuan kalimat dibangun oleh klausa; satuan klausa dibangun oleh frase; satuan frase dibangun oleh kata; satuan kata dibangun oleh morfem; satuan morfem dibangun oleh fonem; satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.

Para linguistik strukturalis mengabaikan masalah semantik karena dianggap tidak termasuk atau menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun. Semantik tidak lagi menjadi objek poriferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya. Menurut teori Bapak Linguistik modern, Ferdinand de Saussure, tanda linguistic (signe linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie, maka sesungguhnya studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya, sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahhwa makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistic. Kalau tanda linguistic itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem; kalau tanda linguistic itu disamakan dengan morfeem, maka berarti makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks.

Makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Kita dapat menentukan makna setelah dalam bentuk kalimat. Contohnya: Sudah hampir pukul dua belas!

Bila diucapkan oleh seorang ibu asrama putri kepada seorang pemuda maka bermaksud mengusir, sedangkan jika yang mengatakan adalah seorang karyawan kantor berarti menunjukkan waktu makan siang.

7.2 JENIS MAKNA

7.2.1 Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

a) Makna leksikal

Makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Contoh: Kuda

Berarrti ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

b) Makna gramatikal

Makna ini baru muncul setelah terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, kamposisi atau kalimatisasi.

Contoh: dengan dasar kuda menghasilkan arti ‘mengendarai kuda’.

Sintaksis kata-kata adik, menulis, dan surat menghasilkan makna gramatikal: adik bermakna ‘pelaku’, menulis bermakna ‘aktif’ dan surat bermakna ‘hasil’.

c) Makna kontekstual

Makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh:

Rambut di kepala nenek belum ada yang putus.

Nomor teleponnya ada pada kepala surat.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa terebut.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-Referensial

Kata atau leksem.disebut bermkna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, gambar bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Kata-kata dan, atau, karena itu sebaliknya.kata-kata deiktik, acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kemaujud yang lain.

Kata deiktik ini adalah yang termasuk pronomia, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan di situ; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata penunjuk, seperti ini dan itu.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Makna ini sejenis dengan makna leksikal. Umpamanya kata kurus, bermakna denotatif ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’.

Makna konotatif adalah makna lain yang ‘ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contohnya kata bini, tewas, bunting, dan lain sebagainya.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Menurut Leech, makna konseptual adalah makna yang dimiliki sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi, makna konseptual sesungguhnya sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian. Ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut dengan makna konotatif, makna stilistika, makna efektif,dan makna kolokatif. Makna stilistika berkenaan dengan perbedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Umpamanya kata membedakan penggunaan kata rumah, pondok, istana, vila, dan wisma yang semuanya memberi asosiasi yang berbeda terhadap penghuninya. Makna efektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Makna efektif lebih nyata terasa dalam bahas lisan. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata yang bersinonim sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu. Misalnya kata tampan yang bersinonoim dengan kata cantik dan indah hanya cocok berkolokasi dengan kata yang memiliki ciri ‘pria’.

7.2.5 MaknaKata dan Makna Istilah

Makna kata berawal dari makna leksikal, makna denotatif, dan makna konseptual, namun dalam penggunaannya menjadi jelas setelah sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya. Makna kata bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan, maknanya lazim dianggap sama.namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda setelah dimasukkan dalam sebuah kalimat. Istilah mempunyai makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan dan kegiatan tertentu. Umpamanya kata lengan dan tangan. Kedua kata tersebut dalam bidang kedokteran memilki makna berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai jari tangan; sedangkan lengan bagian dari pergelangan sampai kepaangkal bahu.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ‘diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contohnya bentuk membanting tulang bermakna bekerja keras. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya menjual gigi, meja hijau, dan membanting tulang. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

Peribahasa adalah idiom yang maknanya tidak dapat “diramalkan” secara leksikal maupun gramatikal namun maknanya masih bisa ditelusuri dari makna unsurnya karena adanya ‘asosiasi’ antar makna asli dengan makna sebagai peribahasa. Contohnya peribahasa seperti anjing dan kucing yang bermakna ‘dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’

7.3 RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa ini dapat berupa kata, frase, kalimat, dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan atau kelebihan makna.

7.3.1 Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna dan bersifat dua arah. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dengan frase duduk perut. Ketidaksamaan makna yang bersinonim disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

I. Faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang yang bersifat klasik dengan kata komandan yang tidak cocok untuk koteks klasik.

II. Factor tempat atau wilayah. Misalnya kata saya yang bisa digunakan di mana saja, sedngkan beta hanya cocok digunakan untuk wilayah Indonesia bagian timur.

III. Factor keformalan. Misalya kata uang yang dapat digunakan dalam rangka formal dan tidak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

IV. Faktor sosial. Umpamanya kata saya yang dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.

V. Factor bidang kegiatan. Misalnya, kata matahari yang biasa digunakan dalam kegiatan apa saja, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus terutama sastra.

VI. Factor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau yang masing-masing memiliki makna yang tidak sama.

7.3.2 Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua ujaran yang menyatakan kebalikan. Misalnya kata hidup berlawanan dengan kata mati. Dilihat dari sifat hubungannya, antonim dibagi menjadi:

i. Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya, kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati.

ii. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonim secara relatif.

iii. Antonim yang bersifat rasional. Umpamanya kata membeli dan menjual, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

iv. Antonim yang bersifat hierarkial. Umpamanya kata tamtama dan bintara berantonim berantonim secara hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang.

Antonim majemuk adalah satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu. Umpamanya dengan kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, tidur, tiarap, jongkok, dan bersila.

7.3.3 Polisemi

Polisemi adalah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia, sesuai dalam kalimat kepalanya luka kena pecahan kaca, (2) ketua atau pimpinan, seperti dalam kalimat kepala kantor itu bukan paman saya.

7.3.4 Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’.

Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan. Contoh yang ada hanyalah kata bank ‘lembaga ‘keuangan’ dengan kata bang yang bermakna ‘kakak laki-laki’. Homografi adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contohnya kata teras yang maknanya ‘inti’ dan kata teras yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.

Perbedaan polisemi dan homonimi adalah kalau polisemi merupakan bentuk ujaran yang maknanya lebih dari satu, sedangkan homonimi bentuk ujaran yang “kebetulan” bentuknya sama, namun maknanya berbeda.

7.3.5 Hiponimi

Hiponim adalah kata khusus sedangkan hipernim adalah kata umum. Contohnya kata burung merupakan hipernim, sedangkan hiponimnya adalah merpati, tekukur, perkutut, balam, dan kepodang.

7.3.6 Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

7.3.7 Redundansi

Redundansi adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan.

7.4 PERUBAHAN MAKNA

Perubahan makna dapat terjadi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Perkembangan bidang ilmu dan teknologi.

Misalnya kata berlayar dahulu mengandung makna ‘melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan tenaga layar’, tetapi untuk sekarang pun masih digunakan untuk menyebut perjalanan di air itu.

2. Perkembangan sosial budaya.

Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini kata sarjana itu hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.

3. Perkembangan pemakaian kata.

Umpamanya, kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini digunakan juga dalam bidang pendidikan dengan makna ;bidang studi, vak’.

4. Pertukaran tanggapan indra.

Misalnya, rasa pedas seharusnya ditanggapi dengan indra perasa lidah menjadi ditanggapi oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.

5. Adanya asosiasii.

Maksudnya adalah adanya hubungan antar sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop. Makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat supaya urusan cepat beres, beri saja amplop, amplop itu bermakna ‘uang sogok’.

Perubahan makna kata ada beberapa macam, yaitu:

ü Perubahan makna kata meluas. Umpamanya, kata baju pada mulanya hanya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’ seperti pada kata baju batik; namun baju juga dapat bermakna berbeda bila yang dimaksud baju seragam yang meliputi celana, sepatu, dasi, dan topi.

ü Perubahan makna kata menyempit. Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.

ü Perubahan makna secara total. Umpamanya, kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet, banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

7.5.1 Medan Makna

Medan makna atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta. Misalnya, nama-nama warna dan nama-nama alat-alat rumah tangga. Medan makna dibagi menjadi dua, yaitu:

v Medan Kolokasi

Menunjukkan hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata atau unsur leksikal itu. Misalnya, kata-kata cabe, bawang, terasi, garam, merica, dan lada berada dalm satu kolokasi, yaitu yang berkenaan dengan bumbu dapur.

v Medan Set

Menunjukkan hubungan paradigmatik karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bisa didistribusikan. Misalnya, kata remaja yang merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

7.5.2 Komponen Makna

Setiap makna atau butir leksikal mempunyai makna, dan setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen. Misalnya, kata ayah mempunyai komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

7.5.3 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Misalnya:

Nenek membaca komik

+nomina +verba +nomina

+manusia +manusia +bacaan

+bacaan

 

One Response to “Widya Herliliawati_1402408208_BAB VII”

  1. Shelvianita Mugi Dewanti 1402408253 Says:

    Jelaskan perbedaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s