Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

TRIANA PUSPITASARI_1402408245_bab 7 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 8:47 pm

TRIANA PUSPITASARI

ROMBEL 3

1402408245

TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Hockett (1954) seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Bahasa terdiri dari lima subsistem, yaitu subsistem gramatika, fonologi, morfofonemik, semantik, dan fonetik. Kedudukan kelima subsistem itu tidak sederajat. Subsistem gramatika, fonologi, dan morfofonemik bersifat sentral, sedangkan subsistem semantik dan fonetik bersifat preiferal.

Chomsky dalam buku keduanya (1965) menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik. Sejak saat itu semantik tidak lagi menjadi objek periferal, melainkan setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya.

A. HAKIKAT MAKNA

Menurut Ferdinand de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua komponen, signifikan atau ‘yang mengartikan’ yang wujudnya berupa rentetan bunyi, dan komponen signifie atau ‘yang diartikan’ yang wujudnya berupa pengertian atau konsep. Dengan demikian, makna adalah pengertian/konsep yang dimiliki/terdapat pada sebuah tanda linguistik. Memang ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada referen yang diacu oleh kata, tetapi tidak semua kata memiliki acuan konkret di dunia nyata. Dalam penggunaannya, makna kata sedingkali terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Oleh karena itu, banyak pakar mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila sudah berada dalam konteks kalimat, terlebih apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacana dan situasinya.

B. JENIS MAKNA

Makna bahasa jika dilihat dari berbagai segi menjadi bermacam-macam. Hal ini disebabkan bahasa itu digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat.

1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki/ada pada leksem tanpa konteks apapun. Dapat dikatakan makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, sesuai dengan hasil observasi indra apa adanya. Banyak orang menyatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus. Namun, kamus-kamus yang bukan dasar biasanya memuat makna bukan leksikal, misalnya makna kias dan makna-makna yang terbentuk secara metaforis.

Contoh: kata kuda bermakna ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

Makna gramatikal adalah makna yang terbentuk akibat adanya proses gramatikal proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi.

Contoh: ber- + baju melahirkan makna mengenakan/memakai baju.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem/kata yang berada dalam suatu konteks.

Contoh:

· Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.

· Sebagai kepala kantor dia harus menegur karyawan itu.

Kata kepala memiliki makna yang berbeda pada dua kalimat di atas.

2. Makna Referensial dan Non-Referensial

Sebuah kata dikatakan bermakna referensial kalau ada referensnya atau acuannya.

Contoh: kuda, merah, dan gambar dikatakan bermakna referensial karena memiliki acuan dalam dunia nyata.

Kata-kata deiktik dikatakan bermakna non-referensial karena tidak memiliki acuan yang tetap, melainkan dapat pindah ke acuan lainnya.

Contoh: kata pronomina, misalnya dia, saya, dan kamu.

kata yang menyatakan ruang, misalnya di sini, di sana, di situ.

kata yang menyatakan waktu, misalnya sekarang, besok, dan nanti.

kata penunjuk, misalnya ini dan itu.

3. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli/sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Dapat dikatakan makna ini sama dengan makna leksikal.

Contoh: kata kurus bermakna ‘ keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’.

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakannya.

Contoh: kurus, ramping, dan kerempeng secara denotatif bersinonim, tetapi secara konotatif berbeda, kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi positif, kerempeng berkonotasi negatif.

4. Makna Konseptual dan Asosiatif

Menurut Leech (1976) makna konseptual adalah kata yang terlepas dari konteks/asosiasi apapun. Makna ini dapat disejajarkan dengan makna leksikal, denotatif

5. Makna Kata dan Istilah

Setiap kata pada awalnya memiliki makna leksikal, denotatif, atau konseptual. Namun makna kata akan terasa lebih jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda dengan makna suatu istilah yang jelas, pasti dan tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Biasanya sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

Contoh: kata tangan yang dikatakan bersinonim dengan kata lengan, akan memiliki makna berbeda jika digunakan dalam bidang kedokteran. Tangan bermakna ‘bagian dari pergelangan sampai jari tangan’, sedangkan lengan bermakna ‘bagian dari pergelangan sampai pangkal bahu’.

6. Makna idiom dan peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun gramatikal.

Contoh: menjual gigi memiliki makna ‘tertawa keras-keras’.

a. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan.

Contoh: membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau.

b. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri.

Contoh: daftar hitam

Peribahasa adalah satuan ujaran yang maknanya masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

Contoh: seperti anjing dengan kucing yang bermakna ‘dua orang yang tidak pernah akur’.

C. RELASI MAKNA

Adalah hubungan secara semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa dapat berupa kata, frasa, maupun kalimat. Relasi semantik dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan, atau kelebihan makna.

1. Sinonimi

Adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya. Relasi sinonimi bersifat bersifat dua arah, dimana jika ujaran A bersinonim dengan ujaran B, maka berlaku pula dan sebaliknya. Digambarkan dengan bagan berikut.

benar

betul

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama karena adanya berbagai faktor, yaitu:

a. Faktor waktu

Contoh: kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan, tetapi hulubalang hanya cocok digunakan pada konteks yang bersifat klasik.

b. Faktor tempat atau wilayah

Contoh: kata saya dan beta bersinonim, tetapi kata beta hanya cocok jika digunakan di wilayah Indonesia bagian Timur.

c. Faktor keformalan

Contoh: kata uang dan duit bersinonim, tetapi kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

d. Faktor sosial

Contoh: kata saya dan aku, kata aku hanya dapat digunakan terhadap orang yang sebaya, akrab, atau kepada orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.

e. Faltor bidang kegiatan

Contoh: kata matahari dan kata surya, dimana kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus.

f. Faktor nuansa makna

Contoh: melirik, menonton, meninjau dan mengintip yang bersinonim, tetapi tidak dapat ditukarkan penggunaannya karena masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda.

2. Antonimi

Adalah hubungan semantikatau antonimi antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Sama seperti sinonimi, hubungan antara dua satuan ujaran yang berantonim bersifat dua arah. Dilihat dari sifat hubungannya, antonimi dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:

a. Antonim yang bersifat mutlak

Contoh: kata mati berantonim dengan hidup

b. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi karena batas yang tidak jelas

Contoh: kata besar berantonim dengan kecil, jauh dengan dekat.

c. Antonim yang bersifat rasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

Contoh: kata membeli berantonim dengan menjual, suami dengan istri.

d. Antonim yang bersifat hierarkial karena dua satuan ujaran yang berantonim berada dalam satu garis jenjang.

Contoh: kata gram dan kata kilogram

e. Antonimi yang bersifat majemuk yaitu kata yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu.

Contoh: kata diam berantonim dengan kata berbicara, bergerak, dan bekerja.

3. Polisemi

Adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu, dan masih berkaitan antara makna yang satu dengan makna yang lain.

Contoh: kata kepala dapat diartikan bagian tubuh manusia, ketua atau pimpinan, sesuatu yang berada di atas, sesuatu yang mempunyai bentuk bulat, sesuatu yang sangat penting.

4. Homonimi

Adalah dua buah kata atau ujaran yang memiliki bentuk tulisan dan cara baca yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Relasi dua buah ujaran yang homonim juga bersifat dua arah.

Contoh: bisa yang berarti ‘racun’ dan yang berarti ‘sanggup’.

Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) pada suatu ujaran tanpa memperhatikan ejaan sama ataukah tidak.

Contoh: kata bank yang berarti ‘lembaga keuangan’ dan bang yang berarti ‘kakak laki-laki’.

Homografi adalah adanya kesamaan ortografi atau ejaan, tetapi memiliki makna dan ucapan yang berbeda.

Contoh: memerah yang berarti ‘melakukan perah’ dan memerah yang berarti ‘menjadi merah’.

Perlu diperhatikan bahwa perbedaan antara homonimi dan polisemi adalah bahwa makna pada homonimi jelas berbeda dan tidak berhubungan, sedangkan makna polisemi masih memiliki hubungan secara etimologi dan semantik.

5. Hiponimi

Adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Relasi hiponimi bersifat searah, seperti tergambar dalam bagan berikut:

Burung

Merpati

Perkutut

Hiponim

Hipernim

Hiponim

Hipernim

Kohiponim

6. Ambiguiti atau Ketaksaan

Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda yang umumnya terjadi pada bahasa tulis karena unsru suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat.

Contoh: bentuk ujaran ‘anak dosen yang nakal’ memiliki dua kemungkinan makna, mungkin ‘anak itu yang nakal’ atau ‘dosen itu yang nakal’.

Ketaksaan juga dapat terjadi dalam bahasa lisan, meskipun intonasinya tepat. Biasanya hal ini terjadi karena ketidakcermatan dalam menyusun kalimat konstruksi beranaforis.

7. Redundansi

Diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

Contoh: kalimat ‘Nita mengenakan baju berwarna merah’ tidak akan bermakna beda jika dikatakan ‘Nita berbaju merah’.

D. PERUBAHAN MAKNA

Secara diakronis (dalam waktu yang relatif lama) lama ada kemungkinan makna kata akan berubah. Hal ini biasanya hanya terjadi pada sejumlah kata saja yang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

1) Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.

Contoh: kata sastra pada awalnya bermakna ‘tulisan huruf’ lalu berubah menjadi ‘bacaan’ , ‘buku yang baik isi dan bahasanya’, selanjutnya berubah menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginatif dan kreatif’.

2) Perkembangan sosial budaya

Contoh: kata saudara awalnya berarti ‘seperut’. Tetapi kini, kata saudara digunakan untuk menyebut orang lain, sebagai kata sapaan, yang sederajat baik usia maupun kedudukan sosialnya.

3) Perkembangan pemakaian kata

Contoh: kata membajak dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna ‘mencari keuntungan yang besar secara tidak benar’, misalnya membajak buku.

4) Pertukaran tanggapan indra

Contoh: rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditangkap oleh alat pendengar telinga. Seperti pada ujaran ‘kata-katanya sangat pedas’.

5) Adanya asosiasi

Yaitu hubungan antara sebuah ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut, sehingga menangkap makna yang sama.

Contoh: kata amplop makna sebenarnya adalah “sampul surat”. Tetapi dapat bermakna ‘uang sogok’ yang diberikan kepada pejabat.

Macam-macam perubahan makna kata:

1) Makna meluas: perubahan makna dari yang tadinya khusus kini maknanya menjadi umum.

Contoh: kata baju awalnya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’, sekarang bermakna ‘celana, pakaian, dan perlengkapannya’..

2) Makna menyempit: perubahan makna dari yang tadinya umum kini maknanya menjadi khusus.

Contoh: kata pendeta tadinya bermakna ‘orang yang berilmu’, sekarang ‘guru agama Kristen’.

3) Perubahan makna secara total: makna yang sekarang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya.

Contoh: kata pena awalnya bermakna ‘bulu angsa’, kini bermakna ‘alat tulis bertinta’.

4) Perubahan makna menghalus/eufinisme

Contoh: kata korupsi diganti dengan ungkapan ‘menyalahgunakan jabatan’.

5) Perubahan makna mengkasar dan menegaskan (disfemia).

Contoh: kata mengambil diganti menjadi mencaplok.

E. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim disebut kata-kata yang berada dalam satu medan makna. Usaha untuk menganalisis kata atas unsur-unsur maknanya disebut analisis komponen makna.

1. Medan Makna

Biasanya dikatakan sebagai medan leksikal, yaitu seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Kata-kata dalam satu medan makna berdasarkan sifat hubungan semantisnya dibedakan menjadi:

a. Medan kolokasi yaitu menunjuk pada hubungan sintagmantik.

Contoh: kata-kata cabe, bawang, terasi, garam, dan merica berada dalam kolokasi yang berkenaan dengan bumbu dapur.

b. Medan set yaitu menunjuk pada hubungan paradigmatik karena dapat saling didistribusikan. Setiap kata dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota lain dalam set itu.

Contoh: kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

2. Komponen Makna

Makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen yang membentuk keseluruhan makna kata itu yang disebut komponen makna.

Contoh: kata ayah memiliki komponen makna /+ manusia/, /+ dewasa/, /+ jantan/, /+ kawin/, dan /+ punya anak/.

Fungsi analisis komponen makna ini adalah untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk sinonim serta membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia.

Analisis makna dengan mempertentangkan ada (+) atau tidaknya (-) komponen makna disebut analisis biner atau analisis dua-dua, yang berasal dari studi fonologi oleh Roman Jakobson dan Morris Halle.

3. Kesesuaian Semantik dan Sintaksis

Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat ada pada predikat atau verba. Dalam teorinya, verbalah yang menentukan kehadiran konstituen lain dalam sebuah kalimat. Analisis kesesuaian semantik dan sintaksis tentu harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci. Selain itu, diperlukan pula keterperincian analisis masalah metafora.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s