Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

TITIS AZIZAH_140208143_BAB 5 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 8:44 pm

Nama : TITIS AIZAH

NIM : 1402408143

LINGUISTIK UMUM

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

I. MORFEM

Morfem adalah bentuk terkecil berulang dan mempunyai makna yang sama.

Bahasawan tradisional tidak mengenal konsep morfem karena morfem bukan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara panologis.

a. Identifikasi Morfem

Cara menentukan morfem :

1. Membandingkan bentuk tersebut dengan lain

2. Mengenal maknanya

Morfem dalam morfologi ditulis dengan mengapitnya dengan kurung kurawal.

Misalnya kata manusia ditulis {manusia}, kata ketiga ditulis {ke} + {tiga} atau ({ke} + {tiga}).

b. Alomorf dan Morf

Alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem yang sudah diketahui morfemnya.

Setiap morfem mempunyai alomorf.

Morf adalah nama untuk bentuk yang belum diketahui statusnya.

c. Klasifikasi Morfem

1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang dapat muncul dalam pertuturan tanpa morfem lain.

Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa morfem lain.

2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi.

Morfem utuh adalah morfem yang merupakan satu kesatuan utuh. Semua morfem dasar bebas termasuk morfem utuh.

Morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua bagian yang terpisah. Semua afiks dalam Bahasa Indonesia yang disebut konfiks dan infiks termasuk morfem terbagi.

3. Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental.

Morfem segmental adalah morfem dibentuk oleh forem-forem segmental. Semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi dan sebagainya.

4. Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud (“kekosongan” = Æ).

5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem tidak Bermakna Leksikal.

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang telah memiliki makna tanpa diproses dengan morfem lain, digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang otonom di dalam pertuturan.

Morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem yang tidak mempunyai makna tanpa digabungkan dengan morfem lain dalam proses morfologi.

6. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem) dan Akar (root).

Morfem

Dasar

Afiks

Bebas

Terikat

Morfem dasar digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Morfem dasar ada yang termasuk morfem terikat dan morfem bebas.

Bentuk dasar digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologi dapat berupa morfem tunggal dan gabungan morfem.

Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afik infleksi.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis atau sisa setelah afiksnya ditanggalkan.

II. KATA

Menurut para bahasawan tradisional, berdasar pada arti dan ortografi, kata adalah satuan bahasa atau deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi yang memiliki satu arti. Menurut bahasawan struktural aliran Bloomfield kata adalah satuan bebas terkecil ( a minimal free form ) sedangkan Bahasawan Generatif yaitu Chomsky menyajikan kata dengan simbol V (verbal), N (nomina), A (ajektiva) dan sebagainya, pada dasarnya analisis kalimat.

a. Klasifikasi Kata

Para bahawawan struktural mengklasifikasikan kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Misalnya nomina adalah kata yang berdistribusi di belakang kata bukan, verba adalah kata yang berdistribusi dibelakang kata tidak, ajektiva adalah kata yang berdistribusi di belakang kata sangat dan sebagainya.

b. Pembentukan Kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat yaitu :

1. Iinflektif

Dalam bahasa berfleksi yang digunakan untuk menyesuaikan bentuk berupa afiks (prefiks, infiks dan sufiks, atau modifikasi internal/perubahan yang terjadi dalam bentuk dasar itu ). Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba berkenaan dengan kata (tense), aspek, modus, diatesis, persona, jumlah dan jenis disebut konyugasi. Perubahan pada nomina dan ajektiva berkenaan dengan jumlah, jenis dan kasus disebut deklinasi.

Paradigma infleksional adalah bentuk kata yang berbeda tapi mempunyai identitas leksikal yang sama yang disesuaikan dengan kategori gramatikalnya. Contohnya amo, amamus, amos, amatis, dan amat.

Identitas leksikal adalah bentuk kata yang mempunyai makna tanpa diproses dengan bentuk lain.

2. Derivatif

Pembentukan kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan kata dasarnya, membentuk kata baru, kelasnya sama tapi maknanya berbeda.

III. PROSES MORFEMIS

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah bentuk dasar. Unsur yang terlibat adalah

a. Bentuk Dasar

Bentuk dasar adalah bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan berupa bentuk kompleks atau berupa frase.

b. Afiks

Afiks adalah bentuk yang diimbuhkan pada morfem dasar dalam proses pembentukan kata.

Berdasarkan posisi pada bentuk dasar afiks dibagi menjadi enam :

1. Prefiks

Adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar.

2. Infiks

Adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

3. Sufiks

Adalah afiks yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar.

4. Konfiks

Adalah afiks berupa morfem terbagi, berposisi di awal dan akhir bentuk dasar.

5. Interfiks

Adalah sejenis infiks yang muncul dalam proses penggabungan dua buah dasar.

6. Transfiks

Adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, parsial atau perubahan bunyi. Bersifat infleksional karena tidak mengubah identitas leksikal, bersifat derivasional membentuk kata baru.

3. Komposisi

Komposisi adalah penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik bebas maupun terikat, membentuk konstruksi yang mempunyai identitas leksikal berbeda.

4. Konversi, Modifikasi, Internal dan Supresi

Konversi disebut juga Dorivosi Zero, Transmutasi, Transposisi adalah pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internala adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur kedalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrim karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi, berubah total.

5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap.

Proses pemendekan dibagi menjadi tiga yaitu :

a. Penggalan

Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan.

b. Singkatan

Singkatan adalah hasil proses pemendekan berupa :

1. Pengekalan huruf awal dari leksem.

2. Pengekalan beberapa huruf demi sebuah leksem.

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasikan dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama.

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem.

5. Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem.

c. Akronim

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata.

6. Produktivitas Proses Morfemis

Produktivitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi digunakan berulang-ulang secara relatif tidak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses dorivasi bersifat terbuka dan produktif atau dapat membentuk kata-kata baru namun keproduktifan itu dibatasi oleh kaidah-kaidah tertentu seperti pembentukan kata dengan perfiks memper- terbatas pada dasar ajektival dan numeral, tidak dapat digunakan pada dasar verbal.

Bidang adalah tidak adanya sebuah kata yang seharusnya ada karena adanya bentuk lain. (Aronoff, 1976:43).

7. Morfofonemik

Morfofonemik adalah proses berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik berwujud :

1. Pemunculan Fonem

Contoh dalam pengimbuhan prefiks ”me” dengan bentuk dasar ”baca” menjadi ”membaca” terdapat konsonan sengau /m/.

2. Pelepasan Fonem

Contohnya pada pembentukan kata sejarawan dari

sejarah + wan sejarawan

3. Peluluhan Fonem

Contoh dalam pengimbuhan prefiks ”me” pada kata ”sikat” menjadi ”menyikat”. Dimana /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/.

4. Perubahan Fonem

Contoh pada pengimbuhan prefiks ”ber-” pada kata ”ajar” menjadi ”belajar”. Dimana fonem /r/ menjadi fonem /l/.

5. Pergeseran Fonem

Pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel satu ke silabel yang lain (berikutnya).

Contoh dalam proses pengimbuhan sufiks /an/ pada kata ”jawab” menjadi ”jawaban”, dimana fonem /b/ yang semula berada pada silabel /wab/ ke silabel /ban/.

Perhatikan !

Ja-wab + an ja wa ban

Lom pat + i lom pa ti

 

2 Responses to “TITIS AZIZAH_140208143_BAB 5”

  1. Khikmatul Azizah Says:

    Dari : Khikmatul Azizah (1402408030)
    untuk : Titis Azizah (1402408143)
    Pertanyaan :
    Apa yang dimaksud dengan dikotomi pada kalimat “Morfem dasar digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks ” ?

  2. saodah Says:

    Dari : Saodah/ 1402408127
    Untuk : Titis Aizah / 1402408143

    Mengapa dalam bahasa indonesia proses komposisi sangat produktif,jalaskan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s