Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Titin Indrawati _1402408194_TATARAN LINGUISTIK BAB 5 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:13 pm

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari arus ujaran disebut fonem. Sedangkan satuan yang lebih tinggi dari fonem disebut silabel. Namun silabel berbeda dengan fonem karena tidak bersifat fungsional. Di atas satuan silabel terdapat satuan yang fungsional disebut morfem (satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna)

5.1. MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke 20.

5.1.1. Identifikasi Morfem

Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. Bila bentuk tersebut dapat hadir secara beruang dan punya makna sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal. Misalnya kata ketiga menjadi: {ke} + {tiga}

5.1.2. Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk yang sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama)

Melihat ð Me Menyanyi ð Meny-

Membawa ð Mem- Menggoda ð Meng-

5.1.3. Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, maknanya dsb.

5.1.3.1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

5.1.3.2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh.

Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari 2 bagian yang terpisah.

Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi :

1) Semua afiks disebut konfiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan konfiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.

2) Ada afiks yang disebut infiks yaitu afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar.

5.1.3.3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, dan durasi.

5.1.3.4. Morfem Beralomorf Zero

Adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung dengan morgem yang lain dalam suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. Akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2. KATA

Dalam tata bahasa tradiusional, satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah kata.

5.2.1. Hakikat Kata

Tata bahasawan tradisional memberi arti bahwa kata deretan huruf yang diapit 2 spasi, memiliki 1 arti. Menurut tata bahasawan struktural (Bloomfield) kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu sudah bersifat final.

5.2.2. Klasifikasi Kata

Tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, ajektiva, sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina. Tata bahasawan struturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lain menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memang perlu dengan mengenal sebuah kata, kita dapat memprediksi penggunaan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3. Pembentukan Kata

Pembentukan kata bersifat inflektif dan derivatif.

5.2.3.1. Inflektif

Kata-kata dalam bahasa berfleksi mengalami penyesuaian bentuk dengan kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Penyesuaian tersebut berupa afiks, infiks dan sufiks. Penyesuaian pada verba disebut konjugasi. Penyesuaian pada nomina dan ajektiva disebut deklinasi.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma infleksional.

5.2.3.2. Derivatif

Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru/kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasar. Pembentukan kata secara derivatif/ derivasional membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi mknanya tidak sama.

5.3. PROSES MORFEMIS

5.3.1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/bentuk dasar.

Unsur-unsur dalam proses ini : (1) dasar/bentuk dasar, (2) afiks, (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Proses ini bisa bersifat inflektif dan derivatif tapi tidak berlaku untuk semua bahasa. Bentuk dasar/dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar (bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi) misalnya : meja, beli, dst. Berupa bentuk kompleks, seperti aturan pada kata beraturan. Dapat juga berupa frase, seperti ikut serta dalam keikutsertaan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.

Jenis afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a) Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif/paradigma infleksional.

b) Afiks derivatif adalah afiks yang digunakan dalam membentuk kata baru (kata leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya).

Berdasarkan posisi melekatnya pada bentuk dasar :

1) Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar

2) Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar

3) Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar

4) Konfiks : Afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar, sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus.

Struktur ð untuk menyebut gabungan afiks yang bukan konfiks

Kridalaksana (1989) yang menggunakan untuk “Afik Nasal” contoh: ngopi, nembak.

Interfiks adalah sejenis infiks/elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan 2 buah unsur.

Transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar ð bahasa-bahasa semit, dasar biasanya berupa konsonan.

Dalam kepustakaan linguistik ada istilah untuk bentuk-bentuk derivasi yang diturunkan dari kelas berbeda.

Misalnya : denominal : asal nominal

Verba : hasil proses afiksasi

5.3.2. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas leksikal tetapi hanya memberi makna gramatikal. Yang bersifat derivasional membentuk kata baru/kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

5.3.3. Komposisi

Adalah hasil dan proses pengabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda/yang baru.

Ÿ Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif karena dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya/istilahnya dalam bahasa Indonesia.

Ÿ Sutan Takdir Alisjahbana (1953) yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya.

Ÿ Kelompok linguis yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau diantara unsur-unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa-apa tanpa merusak komposisi itu. Bisa juga suatu komposisi disebut kata majemuk kalau unsur-unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.

Ÿ Linguis kelompok lain ada yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur-unsurnya.

Ÿ Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis.

Ÿ Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemuk harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis sedangkan idiom adalah konsep semantis.

5.3.4. Konversi, Modifikasi internal dan Suplesi

Ÿ Konversi, derivasi zero, transmutasi, dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Ÿ Modifikasi internal, penambahan internal, dan perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Ada sejenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi. Dalam suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi. Boleh dikatakan bentuk dasar itu berubah total.

5.3.5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

Pemendekan merupakan proses yang cukup produktif dan terdapat hampir pada semua bahasa. Produktifnya proses pemendekan ini karena keinginan untuk menghemat tempat (tulisan) dan tentu juga ucapan. Dalam bahasa Indonesia pemendekan ini menjadi sangat produktif adalah karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata untuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik/sangat pelik.

5.3.6. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Proses inflektif/paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya,tidak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup. Proses derivasi bersifat terbuka artinya penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut sehingga boleh dikatakan produktif.

Bloking adalah tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada (karena menurut kaidah dibenarkan) (Aronoff, 1976 : 43, Bauer, 1983 : 87). Fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya bentuk yang dianggap seharusnya ada. Dalam bahasa Indonesia yang ada tampaknya bukan bloking tapi “persaingan” antara kata derivatif dengan bentuk/konstruksi frase yang menyatakan bentuk dasar dengan maknanya.

5.4. Morfofonemik

Morfofonemik, morfonemik, morfofonologi/morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem 3. Peluluhan fonem 5. Pergeseran fonem

2. Pelepasan fonem 4. Perubahan fonem, dan

Proses pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

Masalah morfofonemik ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

Nama : Titin Indrawati

NIM : 1402408194