Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Tegar Arenanda M_1402408199_Bab 5 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 8:40 pm

Nama : Tegar Arenanda

NIM : 1402408199

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

5.1 MORFEM

Morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang masih mempunyai makna.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan bentuk termasuk morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk lain. Jika bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan betuk lain, maka bentuk tersebut termasuk morfem. Contoh : bentuk “ ke- “ pada kata kedua, ketiga, keempat, dst. Selain dengan menggunakan metode di atas, kita dapat juga menentukan bentuk suatu morfem dengan mengetahui makna kata tersebut.

Dalam studi morfologi, suatu satuan bentuk morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal.

5.1.2 Morf dan Almorof

Almorof adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Atau disebut juga almorof adalah suatu bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama. Selain itu bisa juga dikatakan morf dan almorof adalah dua buah nama yang berbeda untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya. Sedangkan almorof adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Morfem-morfem dalam suatu bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain : kebebasannya, keutuhannya, maknanya, dsb.

5.1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas merupakan morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Misalnya bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus. Sedangkan yang dimaksud morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh merupakan semua morfem dasar yang bebas misalnya {meja},{kursi},dsb. Termasuk juga dengan sebagian morfem terikat misalnya {ter-}, {ber-},dsb. Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi adalah berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut, apakah merupakan suatu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena disisipi morfem lain.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fenom-fenom segmental misalnya {lihat},{lah},dan {ber}. Jadi semua morfem yang berwujud bunnyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dsb.

5.1.3.4 Morfem Beralmorof Zero

Morfem beralmorof zero atau nol dilambangkan dengan ø, adalah morfem yang salah satu almorofnya tidak berwujud bunyi atau segmental maupun berupa prasodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “ kekosongan“. Misalnya bentuk jamak dari kata sheep, terdiri dari morfem {sheep} dan morfem {ø}.

5.1.3.5 Morfem Bermakna Leksial dan Morfem Tidak Bermakna Leksial.

Morfem bermakna leksial adalah morfem yang sudah memiliki makna sendiri, tanpa perlu diproses dulu dengan morfem lain. Misalnya morfem-morfem seperti {kuda},{makan},dan{lari}. Sedangkan morfem tidak bermakna leksial merupakan morfem yang baru mempunyai makna setelah digabungkan dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi. Misalnya morfem-morfem afiks seperti {ber-},{me-},{ter-},dsb.

5.1.3.6 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Suatu morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar melalui proses morfologi. Bentuk dasar (base) biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Misalnya kata berbicara, bentuk dasarnya adalah bicara, setelah mendapat tambahan morfem {ber-}. Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif. Sedangkan akar (root) digunakan untuk mnyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar adalah bentuk setelah semua afiksnya dihilangkan.

Dari subbab ini dapat kita ketahui adanya 3 macam morfem dasar yaitu :

1. Morfem dasar bebas

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan.

3. Morfem dasar terikat.

5.2 KATA

Dalam tata bahasa tradisional, istilah morfem dikenal sebagai kata. Jadi kata memiliki pengertian yang sama dengan morfem.

5.2.1 Hakikat Kata

Menurut tata bahasawan tradisional, kata merupakan satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Para tata bahasawan tradisional mengklasifikasikan kata menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa. Sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomia, dll.

Sedangkan para tata bahasawan strukturalis mengklasifikasikan kata berdasarkan distribusi kata tersebut dalam suatu struktur atau konstruksi.

5.2.3 Pembentukan Kata

Untuk dapat digunakan dalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap bentuk dasar harus dibentuk terlebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal. Suatu pembentukan kata ini mempunyai 2 sifat, yaitu pembentukan yang bersifat inflektif dan derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Pembentukan kata inflektif dapat dibagi menjadi 2 yaitu konyugasi, yauitu perubahan bentuk pada verba. Dan deklinase, yaitu perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif yaitu membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Misalnya dari bahasa inggris, dari kata sing yang berarti menyanyi terbentuk singer yang artinya penyanyi.

5.3 PROSES MORFEMIS

Proses morfemis antara lain adalah proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan sedikit tentang konversi dan modifikasi intern.

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Sedangkan afiks sendiri adalah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Namun proses ini tidak berlaku untuk semua bahasa.

Dilihat dari posisi melekatnya, afiks dibedakan menjadi prefiks (depan), infiks (tengah), sufiks (akhir), konfiks (depan dan belakang), transfiks (berwujud vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan kata dasar, dapat ditemukan dibahasa arab dan ibrani).

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, bagian, maupun dengan perubahan bunyi.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabugan morfem dasar dengan morfem dasar lain, baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksial yang berbeda, atau yang baru. Misalnya lalu intas, daya juang, rumah sakit, dsb.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi, sering juga disebut derivasi zero, transmutasi, dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Contoh kata cangkul adalah nomina dalam kalimat ayah membeli cangkul baru; sedangkan dalam kalimat Cangkul dulu tanah itu adalah sebuah verba.

Modifikasi internal, sering juga disebut penambahan internal atau perubahan internal merupakan proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan). Dalam modifikasi internal, dikenal juga istilah suplesi. Dalam proses suplesi, perubahannya sangat ekstren karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidal tampak lagi.

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian kata atau gabungan kata sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya. Misalnya hlm (utuhnya halaman), SD (utuhnya sekolah dasar).

5.3.6 Produktivitas Proses Morfemis

Yang dimaksud produktivitas proses morfemis adalah ada tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relati terbatas; artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologi, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Seperti tampak dari namanya, bidang kajian morfofonemik/morfofonologi merupakan gabungan dari bidang studi morfologi dengan morfonemik atau fonologi. Masalah morfofonemik ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

Nama : Tegar Arenanda M.

NIM : 1402408199

 

2 Responses to “Tegar Arenanda M_1402408199_Bab 5”

  1. Titis Aizah(1402408143) Says:

    Jelaskan apa yang dimaksud dengan:
    1. Morfem dasar bebas
    2. Morfem dasar yang kebebasanya dipersoalkan
    3. Morfem dasar terikat.

    Ditunggu jawabanya !
    Terima kasih

  2. ika wulandari Says:

    ringkasan anda sudah baik. Saya ingin brtanya pada anda, bagaimana proses pembentukan kata itu ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s