Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

SHELFI SEKAR AYU H_1402408028_BAB 5_ROMBEL 5 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:10 pm

Nama : Shelfy Sekar Ayu H

NIM : 1402408028

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari arus ujaran disebut fonem sedangkan satuan yang lebih tinggi dari fonem disebut silabel. Namun silabel berbeda dengan fonem karena tidak bersifat fungsional. Di atas satuan silabel terdapat satuan yang fungsional disebut morfem (satuan gramatikal yang memiliki makna).

5.1 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem. Sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke-20.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. Bila satuan bentuk tersebut dapat hadir secara berulang dan punya makna sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk yang merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal ({ }) kata kedua menjadi {ke} + {dua}.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Sedangkan Alomorf nama untuk bentuk bila sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama) .

Melihat → me-

Membawa → mem-

Menyanyi → meny-

Menggoda → meng-

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, maknanya dan sebagainya.

5.1.3.1 Morfem bebas dan Morfem terikat

Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Sedangkan yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Pertama bentuk-bentuk seperti : juang, henti, gaul, dan , baur termasuk morfem terikat. Sebab meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi. Bentuk lazim tersebut disebut prakategorial. Kedua, bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk tersebut merupakan pangkal kata, sehingga baru muncul dalam petuturan sesudah mengalami proses morfologi. Ketiga bentuk seperti : tua (tua renta), kerontang (kering kerontang), hanya dapat muncul dalam pasangan tertentu juga, termasuk morfem terikat. Keempat, bentuk seperti ke, daripada, dan kalau secara morfologis termasuk morfem bebas. Tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. Kelima disebut klitika. Klitka adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi tidak dipisahkan .

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian terpisah. Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi.

Pertama, semua afiks disebut koufiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan koufiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.

Kedua, ada afiks yang disebut sufiks yakni yang disisipkan di tengah morfem dasar

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi.

5.1.3.4 Morfem beralomorf zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5 Morfem bermakna Leksikal dan Morfem tidak bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikaladalah morfem yang secara inheren memilikimakna pada dirinya sendiritanpa perlu berproses dengan morfem lain. Sedangkan morfem yang tidak bermakna leksikal adalah tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal(stem), dan Akar(root)

Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi bisa diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung denganmorfem lain dalam suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. Agar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2 KATA

Dalam tata bahasa tradisional, satuan yang lingual yang selalu dibicarakan adalah kata.

5.2.1 Hakikat kata

Tata bahasawan tradisional memberi arti bahasa kata deretan huruf yang diapit 2 spasi memiliki 1 arti. Menurut tata bahasawan struktural (bloowfield) kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu bersifat final.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Tata bahasawa tradisional menggunakafikan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas Verba, nomina, ajektif sedangkan kriteria fugsi digunakan untuk mengidentifiaksi preposisi, konjunksi, adverbia, pronoumia . tata bahasawan struktruralis membuat klasaifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lalu menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memeng perlu , dengan mengenal sebuah kata , kita dapat memprediksi penggunakan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3 Pembentukan kata

Pembentukan kata nersifat Inflentif dan Derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Kata – kata dalam bahasa berfleksi mengalami penyesuaian bentuk dengan kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Penyesuaian tersebut berupa afiks,Infiks, dan sufiks. Penyesuaian pada verba disebut konjugasi . Penyesuaian pada uomsua dan asektifa disebut deklinasi.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma Infleksional.

5.2.3.2 Deriatif

Pembentukan kata secara deriatif membentuk kata baru , yang identitas lesikalnya tidak sama dengan kata dasarnya . Perbedaan identitas lesikal berkenaan dengan makna meskipun kelasnya sama , tetapi waktunya tidak sama.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada kata dasar.

Unsur –unsur dalam proses ini : 1. Bentuk dasar

2. Afiks

3. Makna gramatikal yang dihasilkan

Proses ini dapat bersifat infletif dan derifatif . Afiks aalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat , yang di imbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata .

Jenis Afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a. Afiks inflektif : Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata – kata inflektif .

b. Afiks Derivatif: Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata baru (kata leksikal tidak sama dengan bentuk dasarnya)

Afiks Berdasarkan melekatnya pada bentuk dasar :

a. Prefiks : Afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar .

b. Lufiks : afiks yang diinbuhkan ditengah bentuk dasar .

c. Sufiks : Afiks yang diimbukan pada posisi akhir bentuk dasar.

d. Koufiks : afiks yang berupa moffem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian kedua berposisi pada akhir bentuk daar sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus .

Sirkumfiks : untuk menyebutkan gabungan afiks yang bukan koufiks .

Luterfiks : sejenis sufiks / elemen penyambung yang muncul dalam proses pengganbungan dua buah unsur .

Tranfiks : afiks yang berwujud vokal – vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar (bahasa – bahasa semit, dasar biasanya berupa konsonan )

5.3.2 Reduplikasi

Adalah proses morfenis yang mengulang bentuk dasar , baik secara keseluruhan , secara sebagian (parsial) walaupun dengan perubahan bunyi .

Istilah sehubungan dengan reduplikasi :

a. Dwi Lingga : Pengulangan morfem dasar

b. Dwi Lingga Salin Suara : Pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lain.

c. Dwi Purwa : Pengulangan silabel Pertama

d. Dwi Sasana : Pengulangan pada akhir kata

e. Tri Lingga : Pengulangan morfem dasar sampai 2 kali

Proses reduplikasi dapat bersifat infleksional maupun derifasional. Reduplikasi infleksional tidak mengubah identitas flesikal tetapi memberi ,makna gramatikal . bersifat derifasional membentuk kata yang identitas lesikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya .

Catatan khusus mengenai reduplikasi :

1. Bentuk dasar Reduplikasi dalam bahasa indonesia dapat berupa morfem dasar .

2. Bentuk Reduplikasi yang disertai afiks bisa bersamaan / proses afiksasi dulu baru reduplikasi .

3. Pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin berupa reduplikasi penuh tetapi munkin berupa reduplikasi parsial .

4. Reduplikasi dalam bahasa indonesia bersifat paradikmatis, memberi makna jamak / kevariasian juga bersifat derivasional.

5. Adanya reduplikasi semantis : dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal .

6. bentuk reduplikasi atau bukan pada komponen yang berupa morfem beben dan terikat.

5.3.3 Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang maupun terikat sehingga membentuk sebuah kontruksi yang memiliki identitas lesikal yang berbeda.

Sutan takdir AlisJahbana (1953), berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan nakna unsur – unsurnya .

Kelompok linguis tata bahasa struktural menyatakan komposisi disebut kata majemuk, kalau diantara unsur – unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa – apa tanpa merusak komposisi itu.

Linguis kelompok lalu menyatakan komposisi adalah kata majemuk jika identitas lesikal komposisi itu sudah berubah dari identitas lesikal unsur – unsurnya.

Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua ubsurnya tidak bersifat sintaksius.

Kridalaksana(1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemuk harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sitaksius , sedangkan idiom adalah konsep semantis.

5.3.5 Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian – bagian leksen / gabungan leksen sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama denan makna bentuk utuhnya.

Kependekan adalah proses pemendekan , dibedakan menjadi 3 :

a. penggalan : Kependekan berupa pengekalan satu / dua suku pertama dari bentuk yang dipendekan itu.

b. Singkatan : hasil prosess pemendekan yang berupa:

Pengekalan huruf awal dari sebuah leksen / huruf – huruf awal dari gabungan leksem.

Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem .

Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama .

Pengekalan dua , tiga , atau empat huruf perrtama dari sebuah leksem .

c. Akronim : hasil pemendekan yang berupa kata / dapat dilafalkan sebagai kata . Wujudnya berupa pengekalan huruf – huruf pertama, berupa pengekalan suku – suku kata dari gabungan leksem / bisa juga secara tak beraturan .

5.3.6 Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu , terutama afiksasi , reduplikaai dan komposisi, digunakan berulang – ulang yang secara lrelatif tidak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Bloking adalah tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada (karena menurut kaiadah dibenarkan)(arronoff 1976 43.bauer 1983: 87 ) fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya bentuk yang dianggap seharusnya ada .

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik , morfonemik, morfofonologi / morfologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfenis dalan suatu proses morfologis, baik afiksasi , reduplikasi mauoun komposisi.

Perubahan fonem adalah proses morfofonemik ini dapat berwujud :

a. Pemunculan fonem

b. Pelepasan fonem

c. Peluluhan fonem

d. Perubahan fonem

e. Pergeseran fonem

Proses Pergeseran fonem adalah perubahan sebuah fonem dari silabel yang satu kesilabel yang lain biasanya kesilabel berikutnya.

Iklan
 

2 Responses to “SHELFI SEKAR AYU H_1402408028_BAB 5_ROMBEL 5”

  1. Faza Saidah Says:

    Menurut saya rangkuman yang anda buat sudah bagus tetapi sayangnya kurang disertai contoh – contoh.

  2. Faza Saidah Says:

    Menurut saya rangkuman yang anda buat sudah bagus tetapi sayangnya kurang disertai contoh – contoh.
    yang saya ingin tanyakan apa contoh dari Morfem Segmental dan Suprasegmental??
    Terima Kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s