Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

RINA UTAMI_1402408062_BAB 7 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:04 pm

Nama : Rina Utami

NIM : 1402408062

Rombel : 2

TATARAN LINGUISTIK (4) :

SEMANTIK

Secara hieralkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat,satuan kalimat dibangun oleh klausa,satuan klausa dibangun oleh frase,satuan frase dibangun oleh kata,satuan kata dibangun oleh morfem,satuan morfem dibangun oleh fonem dan akhirnya satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.berdasarkan hal tersebut,Semantik dengan objek yakni makna, berada diseluruh atau disemua tataran yang bangun membangun ini, makna berada didalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.

Hockett, tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu system yang komplek dari suatu kebiasaan–kebiasaan,yang terdiri dari lima subsistem yaitu gramatika,fonologi, morfofonik, semantic, fonetik. Gramatika, fonologi dan morfofonik bersifat sentral. Sedangkan subsistem,semantic,dan fonetik bersifat periferal,karena seperti pendapat kaun strukturalis umumnya, bahwa makna yang menjadi objek semantic adalah sangat jelas,tak dapat diamati secara empiris,sebagai subsistem gramatika(morfologi dan sintaksis).

1. HAKIKAT MAKNA

Menurut de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu komponen signifian atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtunan bunyi dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki atau signifian). Umpamanya tanda linguistikberupa (meja),terdiri dari komponen signifian berupa konsep atau makna sejenis perabot kantor atau rumah tangga. Ada juga teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. Hanya perlu dipahami tidak semua kata atau leksem mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Missal seperti agama, kebudayaan,dan keadilan tidak dapat ditampilkan referennya secara konkret.

2. JENIS MAKNA

Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem mesti tanpa kontek apapun. Masalnya, pinsil bermakna leksikal ‘sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang’. Makna leksikal adalah makna sebenarnya,sesuai dengan hasil observasi indra kita,atau makna apa adanya. Makna leksikal adalah makna dalam kamus.

Makna Gramatikal baru ada kalau terjada proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam pross afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal ‘mangenakan’ atau memakai baju,dengan dasar kuda melahirkan makna gramatikal ‘mengendarai kuda’. Sintaktisasi kata-kata adik,menendang dan bola menjada menjadi kalimat adik menendang bola melahirkan makna gramatikal;adik bermakna ‘pelaku’, menendang bermakna ‘aktif’dan bola bermakna ‘sasaran’.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu. Sebagai contoh kalimat “tiga kali empat” jika pertanyaan tersebut diberikan kepada siswa SD kelas tiga tentu akan dijawab “dua belas” kalau dijawab lain maka akan salah. Namun jika dilontarkan kepada tukang foto maka pertanyaan itu mungkin akan dijawab”dua ratus” atau mungkin juga “tiga ratus” sebab pertanyaan itu mengacu pada biaya pembuatan pasfoto yang berukuran tiga kali empat centimeter.

Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalu ada referensnya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda,merah, dan gambar adalah kata yang bermakna referensial karena ada acuan didunia nyata. Sebaliknya kata seperti dan,atau,dan karena adalah kata yang bermakna ferensial, karena kata itu tidak mempunyai referens.

Ada sejumlah kata yang disebut kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu wujud,melainkan dapat berubah dari wujud satu ke wujud yang lain.kata-kata deiktik seperti dia, saya, dan kamu;kata yang menyatakan ruang seperti di sini, di sana, dan di situ. Seperti contoh

1) “Tadi pagi saya bertemu dengan Pak Ahmad”,kata Ani kepada Ali

2) “O, ya?” sahut Ali.”Saya juga bertemu beliau tadi pagi.”

Jelas pada kalimat 1 kata saya mengacu pada Ani,sadang pada kalimat 2 mengacu pada Ali.

Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatife adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem.makna denotative sama dengan makna leksikal. Umpama kata kurus bermakna denotative “keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotative tadi yang berhubungandengan nilai rasadari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Umpama kata kurus berkonotasi netral,artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakan. Tetapi kata ramping yang sebenarnya bersinonim dengan kata kurus memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakan, sebaliknya kata kerempeng yang juga bersinonim dengan kata kurus dan ramping,mempunyai konotasi negatif,nilai rasa yang tidak mengenakan.

Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual”sejenis binatang berkaki empat yang bias di kendarai” jadi makna konsuptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotative dan makna referensial.

Makna Asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenan dengan adanya hubungankata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan.sesuatu yang ‘suci’ atau ‘kesucian’; dan kata buaya berasosiasi dngan ‘jahat’ atau juga ‘kejahatan’.

Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaan makna kata baru akan menjadi jelas kalau kata itu berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

Pada makna istilah mempunyai maknaynga pasti , yang jelas, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat.untuk itu, sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks,sedangkan kata tidak bebas konteks. Perlu diingat bahwa istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau bidang tertentu. Misalnya kata kuping dan telinga. Dalam bahasa umum kedua kata itu merupakan kata yang bersinonim.tetapi di bidang kedokteran mempunyai makna yang berbeda ;kuping adalah di bagian luar;sedangkan telinga adalah bagian dalam.

Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsure-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpama secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yangmenjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya. Tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi tidak memiliki makna seperti itu melainkan bermakna ‘tertawa keras-keras’.jadi dalam bentuk menjual gigi itulah yang disebut makna idiomatical.

Ada dua macam idiom, yaitu idiom penuh dan ideom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjada satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Bentuk seperti membanting tulang, meja hijau termasuk contoh idiom penuh. Idiom Sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’,daftar hitam ‘bermakna “daftar yang memuat nama-nma orang-prang yang dicurigai berbuat kejahatan”

Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsure-unsurnya karena adanya ‘asosiasi’ antara makna asli dengan makna sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa tong kosong nyaring bunyinya yang bermakna ‘orang yang banyak cakapnya biasanya tidak berilmu’, makna ini dapat ditarik asosiasi;tong yang terisi bila dipukul tidak mengeluarkan bunyi,tapi tong yang kosong akan mengeluarkan bunyi yang keras. Untuk mengenal idiom tidak ada jalan lain selain harus melihat di dalam kamus;khususnya kamus peribahasa dan kamus idiom.

3. RELASI MAKNA

relasi makna adalah hubungan semantikyang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

Sinonim

Sinonim atau sinomini adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan makna antarasatu satuan ujaran engan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar ;dan antara kalimat Dika menendang bola dengan Bola ditendang Dika.

Relasi sinonimi bersifat dua arah,maksudnya kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan ujaran B,maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan ujaran A. dua buah kata bersinonim maknanya tidak akan sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai factor, antara lain ;

Pertama, factor waktu. Umpama kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan . namun kata hulubalang memiliki pengertian klasik sedangkan kata komandan tidak memililki pengertian klasik.

Kedua, factor tempat atau wilayah. Misalny kata saya dan beta,kata saya bias digunakan dimana saja, sedangkan kata beta hanya cocok digunakan diwilayah Indonesia bagian timur.

Ketiga, factor keformalan. Misalnya kata uang dan duit,kata uang dapat digunakan dalam ragam formal dan tak formal,sedangkan duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

Keempat , factor social. Umpamanya, kata saya dan aku,kata saya dapat digunakan siapa saja dan kepada siapa saja; sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap orang yang sebaya,atau yang lebih muda.

Kelima , bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya. Kata matahari bias digunakan dalam kegiatan apa saja. Sedangkan kata surya hanya cocok pada ragam khusus,terutama sastra.

Keenam, factor nuansa makna. Umpamanya kata melihat,melirik,menonton,meninjau,dan mengintip merupakan kata bersinonim.namun antara satu dengan yang lain tidak bias dipertukarkan Karena memiliki nuansa makna yang berbeda.

Dari factor-faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan.

Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik. Menjual berantonim dengan membeli. Dilihat dari sifat hubungannya, maka antomini dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain;

Pertama, antonimi yang bersifat mutlak. Umpamanya kata hidup berantonim mutlak dengan kata mati. Karena sesuatu yang hidup tentunya belum mati,dan sesuatu yang mati tentunya sudah tidak hidup lagi.

Kedua, antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil, jauh dan dekat, berantonim secara relatif,karena batasantara satu dengan lainnyatidak dapat ditentukan secara jelas;batasnya tidak dapat bergerak menjadi lebih atau menjadi berkurang. Karena itu sesuatu yang tidak besar belum tentu kecil dan sesuatu yang tidak dekat belum tentu jauh.

Ketiga, bersifat relasional. Umpamanya antara kata membeli dan menjual, antara kata suami dan istri.disebut relasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

Keempat, bersifat hieralkial. Umpamanya, kata gram dan kilogram. Bersifat hieralkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjangatau hierarki. Klata gram dan kilogram berada dalam satu jenjang ukuran timbangan.

Polisemi

Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalu kata itu mempunyai kata lebih dari satu. Umpamanya kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia,(2) ketua atau pimpinan,(3) sesuatu yang berada di sebelah atas (kepala surat).

Dalam polisemi ini,makna pertama dalam kamus adalah makna sebenarnya,makna leksikalnya,makna denotatifnya,atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna yang dikembangkan.

Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya berbeda karena masing-masing merupakan bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’,antara kata bisa yang berarti ‘racun ‘ dan kata bisa yang berarti ‘sanggup’.

Pada kasus homonimi ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran,tanpa memperhatikan ejaannya,apakah ejaannya sama atau berbeda. Misalnya kata bias yang berarti ‘racun’ dan bias yang berarti ‘sanggup’.

Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya,tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Misalnya, memerah yang berarti ‘melakukan perah’ dan memerah yang berarti ‘menjadi merah’.

Perbedaan antara homonimi dan polisemi. Bahwa homonimi adalah dua buah bentuk ujaran atau lebih yang ‘kebetulan’ yang bentuknya sama dan maknanya berbeda. Sedangkan polisemi adalah sebuh bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Makna-makna yang ada dalam polisemi, meskipun berbeda tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantic, baha makna tersebut masih mempunyai hubungan. Contohnya, hubungan antara makna kepala dengan kepala surat dapat ditelusuri berasal dari makna leksikal kata kepala itu. Tetapi kita tidak bias melacak hubungan antara bisa ‘racun’ dengan bisa ‘sanggup’.

Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalammakna bentuk ujaran yang lain. Umpamanya, antara kata merpati dan burung. Makna merpati tercakup dalam makna kata burung. Kita dapat mengatakan bahwa merpati adalah burung,tetapi burung bukan hanya merpati. Relasi hiponimi bersifat searah,bukan dua arah.

Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Umpamanya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu memuat sejarah zaman baru.

Perbedaan ambiguiti dan homonim yaitu, homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan maknanya sama,sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

Perbedaan ambiguiti dengan polisemi,bahwa polisemibiasanya hanya pada tataran kata dan makna yang dimiliki lebih dari satu berasal dariciri atau komponen makna leksikal yang dimilikinya. Untuk itu maknanya masih mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Sedang ambiguity adalah satu bentuk ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu sebagai akibat perbedaan tafsiran gramatikal.

Redundasi

Redundasi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsure segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika. Jadi tanpa menggunakan preposisi oleh. Penggunaan preposisi oleh ini yang disebut terlalu berlebihan.

4.PERUBAHAN MAKNA

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif sama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ini hanya terjadi pada sebuah kata saja,yang disebabkan oleh berbagai factor, antara lain:

Pertama, perkembangan dalam ilmu dan teknologi. Umpamanya, kata sastra pada mulanya bermakna ‘tulisan, huruf’,lalu berubah menjadi makna ‘bacaan’,kemudian berubah menjadi makna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’ dan berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’. Perubahan tersebut karena perkembangan konsep tentang sastra didalam ilmu susastra.

Kedua, perkembangan social budaya. Misalnya, kata saudara, mulanya berarti ‘seperut’ atau ‘orang yang lahir dari kandungan yang sama’. Tetapi kini,kata saudara untuk menyebut orang lain, sebagai kata sapaan.

Ketiga, perkembangan pemakaian makna. Umpama dalam bidang pertanian kita temukan kosa kata seperti menggarap,menuai,pupuk,hama ,dan panen. Seperti kata menggarap pada bidang pertanian,digunakan pula dibidang lain dengan makna ‘menggunakan,membuat’ seperti menggarap skripsi,menggarap naskah drama.kata membajak dipertanian kini digunakan dalam bidang lain dengan makna ‘mencari keuntungan yang besar secara tidak benar’ seperi membajak buku,membajak lagu.

Keempat, pertukaran tanggapan indra. Misalnya, rasa getir,panas dan asin ditangkap oleh indra perasa yaitu lidah,gejala yang berkenaan dengan bunyi ditangkap oleh telinga. Namun dalam prkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukaran pemakaian alat indra,misalnya, rasa pedas seharusnya ditangkap oleh alat indraperasa lidah menjada tanggap alat pendengaran telinga,seperti ujaran kata-katanya sangat pedas,kata manis seharusnya ditangkap oleh indra perasa lidah namun ditangkap alat indra mata,separti dalam ujaran bentuknya sangat manis.

Kelima, adanya asosiasi. Asosiasi disini adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatuyang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu,sehingga bila disebut itumaka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu. Umpama,kata amplop,makna amplop sebenarnya ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat “ supaya urusan cepat beres, beri saja amplop”. Dalam kalimat tersebut amplop berarti uang sogok.

Perubahan makna kata ada beberapa macam yaitu perubahan yang meluas, menyempit, berubah total. Perubahan yang meluas, artinya kalau tadinya sebuah kata bermakna ‘A’, kemudian menjadi makna ‘B’. Umpamanya, kata baju awalnya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai kebahu’. Tetapi dalam kalimat “Murit-murit memakai baju seragam”,ini berarti bukan hanya baju tetapi juga celana, sepatu,dasi, dan topi.

Perubahan yang menyempit, artinya kalau tadinya sebuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknanya menjadi khusus atau sangat khusus. Umpama kata sarjana mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’ tetapi kini hanya bermakna ‘lulusan perguruan tinggi’ saja.

Perubahan makna secara total, artinya makna yang di miliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Umpamanya kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet,banyak cakap’sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu haldi muka orang banyak’.

5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsure makna yang dimiliki disebut,analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna atau analisis cirri-ciri leksikal.

Medan Makna

Medan makna (semantic domain,semantic field) atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitasdalm alam semasta tertentu. Misalnya, nama warna nama perabot rumah tangga, yang masing-masing merupaka satu medan warna.

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dibedaka atas kelompok madan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintakmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Contohnya, cab, bawang, trasi, garam, merica, dan lada berada dalam satu kolokasi yaitu ‘bumbu dapur’. Kolokasi menunjukan pada hubungan sintakmatik, karena sifatnya yang linear, maka kelompok set menunjukkan pada hubungan paradigmatic, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bias disubstitusikan. Umpamanya, kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kamak-kanak menjadi dewasa. Sedangkan sejuk merupakan suhu diantara dingin dan hangat.

Komponen Makna

Makna yang dimiliki setiap kata terdiri dari sejumlah komponen(yang disebut dengan komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Umpama kata ayah memiliki komponen makna /+manusia,/+dewasa,/+jantan, /+kawin, dan /+punya anak dan kata ibu memiliki komponen makna /+manusia, /+dewasa, /-jantan, /+kawin, dan /+punya anak. ( keterangan : tanda + memiliki komponen makna, – tidak memiliki komponen makna tersebut).

Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Umpama,proses afiksasi dengan prefiks me- pada nomina yang memiliki komponen makna /+alat/,mempunyai makna gramatikal ‘melakukan tinakan dengan alat’ seperti menggergaji,memahat. Pada proses reduplikasi, yang terjadi pada dasar verba yang memiliki komponen makna /+sesaat/ memberikan makna gramatikal ‘berulan-ulang’ seperti pada memotong-motong,memukul-mukul. Sedangkan pada verba yang memiliki komponen makna /+bersaat/ memberi makna gramatikal ‘dilakukan tanpa tujuan’,seperti mandi-mandi ,duduk-duduk. Jadi, dalam proses reduplikasi terlihat erba yang memiliki kmponen makna /+sesaat/ mempunyai makna gramatikal berbeda dengan verba yang memiliki komponen makna /-sesaat/.

Dalam proses komposisi, atau proses penggabungan leksem dengan leksem , terlihat juga bahwa komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses itu menentukan juga makna gramatikal yang dihasilkannya. Misalnya, makna gramatikal ‘milik’ hanya bisa terjadi apabila konstituen kedua dari komposisi itu memiliki komponen makna /+manusia/ atau /+dianggap manusia/, misalnya, sepeda Dika,rumah paman. Jika tidak memiliki komponen makna maka makna gramatikal ‘milik’ tidak akan muncul.

Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Analisis persesuaian semantic dan sintaktik tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci. Misalnya kalimat :

1) Nenek makan dendeng

2) Kucing makan dendeng

Kalimat tersebut bisa diterima,meskipun subjek yang pertama berciri /+manusia/ dan yang kedua /-manusia/ , karena verbanya yaitu makan,memiliki kompnen /+makhluk hidup/, yang bisa berlaku untuk manusia dan binatang. Namun bagaimana dengan kalimat : kambing itu makan rumput ,padahal jelas bahwa rumput bukan makanan. Disini tampak bahwa keterperincian analisis lebih diperlukan lagi,sebab ternyata rumput memang bukan makanan manusia..tetapi makanan bagi kambing.

Selain diperlukan keterperincian, masalah metafora juga harus disingkirkan,sebab kalimat metaforis seperti kalimat Bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah. Kalimat ini adalah berterima.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s