Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

RIANA ERNAWATI ,1402408134_BAB 6 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 8:28 pm

Nama : Riana Ernawati

Nim : 1402408134

Rombel : 04

Kelompok : 02

BAB VI

TATARAN LINGUISTIK (3) :

SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatikal. Morfologi membicarakan struktur internal kata, sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran.

6.1 STRUKTUR SINTAKSIS

Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K). Menurut Verhaar fungsi-fungsi itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.

Contoh : – Nenek melirik kakek tadi pagi.

Fungsi sintaksis tidak harus selalu berurutan S, P, O dan K misalnya :

– Keluarlah nenek dari kamarnya.

Yang tampaknya urutannya harus selalu tetap adalah fungsi P dan O

– Nenek melirik tadi pagi kakek.

Chafe (1970) yang menyatakan bahwa yang paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat. Verba intransitif tidak perlu munculnya sebuah objek. Verba transitif yang objeknya tidak perlu muncul atau dapat ditinggalkan ini adalah verba yang secara semantik menyatakan “kebiasaan” atau verba itu mengenai orang pertama tunggal atau orang banyak secara umum.

Peran-peran yang ada dalam setiap struktur sintaksis berkaitan dengan masalah makna gramatikal unsur-unsur leksikal yang mengisi fungsi-fungsi sintaksis sangat tergantung pada jenis tipe atau jenis kategori kata mengisi fungsi predikat dalam struktur sintaksis itu. Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata dan intonasi bisa juga ditambah dengan konektor yang biasanya berupa konjungsi.

Yang dimaksud dengan urutan kata letak atau posisi kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna. Umpamanya lagi makan dan makan lagi. lagi makan berarti ‘perbuatan makan sedang berlangsung’; makan lagi berarti ‘perbuatan makan itu berulang kembali’. Dalam bentuk bahasa Indonesia bentuk kata tampaknya

Frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya.

6.3.3 Perluasan Frase

Frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep yang akan ditampilkan. Perluasa frase ini tampaknya sangat produktif antara lain karena :

1. Untuk menyatakan konsep khusus perluasan ini dilakukan secara bertahap.

2. Pengungkapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas dinyatakan dengan unsur leksikal.

Faktor lain yang menyebabkan produktifnya perluasan frase adalah keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci terhadap suatu konsep.

6.4 KLAUSA

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya didalam konstruksi itu komponen berupa kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat, subjek, objek dan keterangan. Klausa berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal. Tempat klausa terletak didalam kalimat.

6.4.2 Jenis Klausa

Berdasarkan predikatnya dapat dibedakan menjadi :

1. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur lengkap sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat.

2. Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.

Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya yaitu:

1. Klausa verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori verba.

Dikenal berbagai tipe verba :

a. klausa transitif

b. klausa intransitif

c. klausa refleksif

d. klausa resiprokal

2. Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina atau frase nominal.

3. Klausa ajektifa adalah klausa yang predikatnya ajektifa, baik berupa kata maupun frase.

4. Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial. Misal klausa bandelnya teramat sangat.

5. Klausa Preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase preposisi.

6. Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numerial

6.5 KALIMAT

6.5.1 Pengertian Kalimat

Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final.

Intonasi final yang memberi ciri kalimat :

a. Intonasi deklaratif

dilambangkan dengan tanda titik.

b. Intonasi interogatif

dilambangkan dengan tanda tanya.

c. Intonasi seru

ditandai dengan tanda seru.

6.5.2 Jenis Kalimat

Jenis kalimat dibedakan berdasarkan berbagai criteria atau sudut pandang :

2.1 Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti

Kalimat inti, biasa juga disebut kalimat dasar.

2.2 Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal bila klausanya hanya satu.

Sedangkan kalimat majemuk bila terdapat lebih dari satu klausa.

2.3 Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Kalimat mayor bila klausanya lengkap, sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat.

Sedangkan kalimat minor bila klausanya tidak lengkap.

2.4 Kalimat Verbal dan Kalimat Non-Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal.

Sedangkan kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal.

Tipe verbal :

a. kalimat transitif

b. kalimat intransitif

c. kalimat dinamis

2.5 Kalimat Bebas dan Terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap.

6.5.3 Intonasi Kalimat

Intonasi dapat berwujud tekanan, nada dan tempo.

6.5.4 Modus, Aspek, kala, Modalitas, Fokus dan Diatetis

Keenam istilah tersebut bisa muncul dalam pembicaraan mengenai sintaksis.

4.1 Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara tentang apa yang diucapkan. Beberapa macam modus :

1. Modus indikatif atau modus deklaratif

2. Modus optatif

3. Modus imperatif

4. Modus interogatif

5. Modus obligatif

6. Modus desideratif

7. Modus kondisional

4.2 Aspek

Aspek adalah cara memandang pembentukan waktu secara internal didalam suatu situasi, keadaan, kejadian atau proses. berbagai macam aspek :

1. Aspek kontinuatif

2. Aspek inseptif

3. Aspek progresif

4. Aspek repetitif

5. Aspek perfektif

6. Aspek imperfektif

7. Aspek sesatif

4.3 Kala

Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan didalam predikat.

4.4 Modalitas

Modalitas adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan. Beberapa jenis modalitas :

1. Modalitas intensio

2. Modalitas epistemik

3. Modalitas deontik

4. Modalitas dinamik

4.5 Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian-bagian kalimat. Dalam bahasa Indonesia fokus dapat dilakukan dalam berbagai cara antara lain :

1. Dengan memberi tekanan pada bagian kalimat yang difokuskan

2. Dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan

3. Dengan memakai partikel pun, yang, tentang dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan

4. Dengan menggunakan konstruksi posesif anafasis berantesaden.

4.6 Diatetis

Diatesis adalah gambaran hubungan antar pelaku dalam kalimat dengan perbuatan dikemukakan. Ada beberapa macam diatesis yaitu :

1. Diatetis aktif

2. Diatetis pasif

3. Diatetis refleksif

4. Diatetis resiprokal

5. Diatetis klausatif

6.6 WACANA

6.6.1 Pengertian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap. Dalam wacana terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca atau pendengar tanpa keraguan.

6.6.2 Alat Wacana

Alat wacana yang digunakan agar menjadi kohesif :

1. Konjungsi alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat.

2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anafosis.

3. Menggunakan elips yaitu menghilangkan bagian kalimat yang sama

Aspek yang membuat sebuah wacana kohesif :

1. Menggunakan hubungan pertentangan.

2. Menggunakan hubungan generic-spesifik atau sebaliknya.

3. Manggunakan hubungan perbandingan.

4. Manggunakan hubungan sebab akibat

6.6.3 Jenis Wacana

Jenis wacana sesuai dengan sudut pandang :

a. wacana lisan

b. wacana prosa dan puisi

c. wacana narasi dan wacana eksposisi, persuasi, argumentasi

6.6.4 Subsatuan Wacana

Satuan “ide” atau “pesan” yang disampaikan dapat dipahami pendengar atau pembaca tanpa keraguan.

CATATAN MENGENAI HERARKI SATUAN

Satuan linguistik ditentukan dari satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar.

 

One Response to “RIANA ERNAWATI ,1402408134_BAB 6”

  1. Larrysa Devi Says:

    dari :Larrysa Devi
    Nim :1402408206

    Untuk : Riana Ernawati
    Nim :1402408134

    Mengapa pada verba transitif objek harus muncul,Sedangkan pada verba intransitif objek tidak perlu muncul??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s