Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Anis Silvia_1402408133_BAB 4 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 8:01 pm

Nama : Anis Silvia

NIM : 1402408133

BAB 4

TATANAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

Kalau kita nmendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang-kadang terdengar suara yang menarik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.

Silabel merupakan satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain didepannya, dibelakangnya, atau sekaligus di depan dan dibelakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membiasakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata dan yaitu bunyi dan lagi yaitu ilmu.

Bidang fonologi dibagi menjadi dua yaitu fonetik dan fonologi atau fonemik.

4.1 FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Fonetik dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Fonetik artikulatoris, disebut juga fonetik atau fonetik fisiolagis. Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

2. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomina alam.

3. Fonetik auditoris, mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu.

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadi bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses penampaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistik di kenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan, diantarnya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik tulisan foremis untuk ejaan fonemis, dan sistem aksara tertentu (seperti aksara latin dan sebagainya) untuk ejaan ortografis.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

4.1.4.1 Klarifikasi Vokal

Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi dan vokal rendah. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, vokal pusat , dan vokal belakang.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan tempat artikulasinya:

1. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas.

2. Labiodental, yaitu konsonan yanh terjadi pada gigi bawah dan bibir atas: gigi bawah merapat pada bibir atas.

3. Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi: dalam hal ini, daun lidah tidak menempel pada gusi.

4. Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak.

Berdasarkan cara artikulasinya:

1. Hambat (letupan, plosit, stop)

2. Geseran atau frikatif

3. Paduan atau frikatif

4. Sengauan atau nasal

5. Getaran atau trill

6. Sampingan atau lateral

7. Hampiran atau aproksiman

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental.

4.1.5.1 Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

4.1.5.2 Nada atau pitch

Nada berkenaan dengan tingi rendahnya suatu bunyi.

4.1.5.3 Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi arus ujar.

4.1.6 Silabel

Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran.

4.2 FONEMIK

Sudah disebutkan dimuka bahwa objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4.2.1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita mencari sebuah satuan bahasa.

4.2.2 Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon.

4.2.3 Klasifikasi Fonem

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental, sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nossegmental.

4.2.4 Khasanah Fonem

Khasanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

4.2.5 Perubahan Fonem

Dalam beberapa kasus lain, dalam bahasa-bahasa tertentu ada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkunganya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Adanya bunyi ( t ) pada posisi akhir kata dieja hard itu adalah hasil netralisasi. Fonem / d / pada kata hard yang bisa berwujut / t / atau / d / dalam peristilahan linguistik adalah arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai pengertian, perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Dalam bahasa Turki harmoni vokal itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul.

4.2.5.4 Kontraksi

Kontraksi adalah penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya.

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis adalah mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

4.2.6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

 

2 Responses to “Anis Silvia_1402408133_BAB 4”

  1. Silvia Dyah Puspita Sari Says:

    Apakah yang dimaksud dengan unsur suprasegmental dan bunyi suprasegmental/ Apa hubungan antar keduanya?

  2. nur zuafah Says:

    Terimakasih atas pertanyaan yang Anda berikan pada saya. Distribusu komplementer atau disebut juga dengan distribusi saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan , meskipun dipertukarkan juga tidak bisa menimbulkan perbedaan makna. distribusi komplementer bersifat tetap pada lingkungan tertentu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s