Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

alvi islami ni’mah 1402408088 bab 2 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:36 pm

Nama  :  alvi islami ni’mah
NIM    :   1402408088

2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu tentang bahasa; atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya; atau lebih tepat lagi seperti yang dikatakan Martinet (1987; 19), telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Tiga tahap yang terjadi dalam setiap disiplin ilmu, termasuk juga ilmu disiplin, agar kita bisa memahami bagaimana sifat – sifat atau ciri – ciri keilmiahan dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah

1. Tahap Spekulasi

Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti – bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur – prosedur tertentu.

Dalam studi bahasa dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia ini diturunkan dari Bahasa Ibrani. Akan tetapi, itu hanya spekulasi yang pads zaman sekarang sukar diterima.

2. Tahap Observasi dan Klasifikasi

Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun.

3. Tahap Perumusan Teori

Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah – masalah dasar dan mengajukan pertanyaan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin ilmu itu dirumuskan hipotesis atau hipotesis hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan pertanyyan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis hipotesis terhadap fakta – fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya, disiplin linguistik itu sekarang sudah bisa dikatakan merupakan Selain itu, ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pads , yakni data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara deduktif dan induktif yang dikerjakan secara beruntun.. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu baru ditarik suatu kesimpulan berdasarkan data empiris itu.

Dalam ilmu logika ada dua penalaran, deduktif dan induktif.

a. Induktif (khusus umum

Mula – mula dikumpulkan data – data khusus; lalu, dari data data khusus itu ditarik kesimpulan umum.

b. Deduktif (umum khusus

Kebalikan dari induktif. Suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung Pada kebenaran kesimpulan umum yang lazim disebut premis mayor.

Premis Mayor Semua mahasiswa lulusan SMA

Premis Minor Nita seorang mahasiswa (data khusus)

kesimpulan deduktif Nita adalah lulusan SMA

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah kaidah yang hakiki

dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik Bering juga disebut sebagai

Di muka sudah disebutkan bahwa linguistik mendekati bahasa. Pendekatan bahasa sebagai bahasa

ini, sejalan dengan ciri ciri hakiki bahasa, dfapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut

1. Pertama, karma bahasa adalah bunyi ajaran, maka linguistik melihat bahasa sebgai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tubs adalah sekunder.

2. Kedua, karma bahasa itu bersifat unik, maka linguistic tidak beruasaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

3. Ketiga, karma bahasa adalab suatu system, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsure yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsure yang sate dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsure yang saling berhubungan, atau sebagai sitem itu, disebut. Lawannya, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsure – unsure yang terlepas, yang berdiri sendiri sendiri.

4. Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu (dinamis). Karena itu, linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik.

Sinkronik, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dalam kurun waktu tertentu, Studi ini bersifat deskriptif karma, hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pads kurun waktu yang terbatas itu.

Diakronik, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi ini lazim disebut

5. Kelima, karma sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif bukan secara peskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang dan bukan apa yang menurut si peniliti seharusnya diungkapkan.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang cabang berkenaan dengan adnya hubungan disiplin itu dengan masalah – masalah lain. Pencababgan itu diadakan karma objek yang menjadi kajian disiplin ilmu. itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu.

Pengelompokan subdisiplin linguistik berdasarkan

a. objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu,

b, objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau sepanjang masa,

c. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan

berbagai faktor di luar bahasa,

d, tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori atau untuk tujuan terapan, e, teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistic umum dan linguistik khusus

Linguistik umum, linguistik yang berusaha mengkaji kaidah – kaidah bahasa secara umum.

Linguistik khusus, berusaha mengkaji kaidah kaidah bahasa yang berlaku pads bahasa tertentu, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa.

Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada tataran dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi umum atau khusus, morfologi umum atau khusus.

2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah babasa pads mesa tertentu atau bahasa pads
sepanjang mass dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik den linguistik diakronik

Linguistik sinkronik, mengkaji bahasa pads mesa yang terbatas. Misal, mengkaji Bahasa Indonesia pads tahun due puluhan, Bahasa Inggris pads zaman William Shakespeare. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut , karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara spa adanya pads mass tertentu.

Linguistik diakronik, mengkaji bahasa pads mesa yang tak terbatas. Kajian Iniguistik diakronik ini bersifat histories den komparatif. Sering disebut . Tujuan linguistik diakronik ini adalah untuk mengetahui sejarah struckural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan den perkembangannya.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu deism hubungannya dengan faktor – faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro den linguistik makro

Linguistik mikro, mengarahkan kajiannya pads struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa pads umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, make deism linguistic mikro terdapat subdisiplin

a. Fonologi : menyelidiki ciri – ciri bunyi bahasa, cars terjadinya, den fungsinya deism sistem ketatabahasaan secara keseluruhan.

b. Morfologi : menyelidiki struktur kata, bagian bagiannya, serfs cars pembentukannya.

c. Sintaksis : menyelidiki satuan – satuan kata den satuan – satuan lain di atas kata, hubungan seta dengan yang lainnya, serfs care penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Morfologi den sintaksis deism peristilahan tradisional biasanya berada deism seta bidang yaitu gramatika atau tats bahasa.

d. Semantik : menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun

kontekstual.

e. Leksikologi : menyelidiki leksikon atau kosa-kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Linguistik makro, yang menyelidiki bahasa deism kaitannya dengan faktor – faktor di luar bahasa. Subdisiplin linguistik makro

a. Sosiolinguistik subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa deism hubungan pemakaiannya di masyarakat, mambahas tentang pemakai den pemakaian bahasa, tempat pernakaian bahasa, tats tingkat bahasa, berbagai akibat adanya kontak due bush bahasa atau lebih, den ragam serfs waktu pemakaian ragam bahasa itu. Ilmu interdisipliner enters sosiologi den linguistik.

b. Psikolinguistik : subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku den akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Ilmu interdipliner enters psikologi den linguistik.

c. Antropolinguistik : subdisiplin linguistic yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya den pranata manusia. Ilmu interdisipliner enters antropologi den linguistik.

d. Stilistika subdisiplin linguistik yang rnempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk bentuk karya sastra. Ilmu disipliner linguistik den susastra.

e. Filologi subdisiplin linguisti yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, din se iarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan bahan tertulis. Bahan atau teks yang dikaji biasanya adlah naskah kuno atau naskah klasik yang dimiliki suatu bangsa. Ilmu disipliner enters linguistik, se iarah, den kebudavaan.

f. Filsafat bahasa subdisiplin linguistik yang mempelaiari kodrat hakiki den kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serfs dasar dasar konseptul den teoritis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistic din ilmu filsafat.

g. Dialektologi subdisiplin linguistik yang mempelajari Batas bates dialek den bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Ilmu interdisipliner enters linguistik den geografi.

2.2.4 Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata mate untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari hiss dibedakan adanya linguistik teoritis den linguistik terapan

Linguistik teoritis, mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa – bahasa, atau iuQa terhadap hubungan bahasa dengan faktor faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu (teori belaka ).

Linguistik terapan, mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah – masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat. Missal, pemyelidikan linguistik untuk kepentingan pengajaran bahasa, penyusunan buku ajar.

2.2.5 Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistic structural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, den linguistik sistemik

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu ilmu lain, dan pengaruh berbagai pranata masyarakat terhadap linguistik sepanjang masa.

2.3 ANALISTS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, vaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, den semantic.

2.3.1 Struktur. Sistem, dan Distribusi

Bapak linguistik modern, dalam bukunya Course de LinQuistiq_ue Generate membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat anatara satuan satuan bahasa, vaitu

1 Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat enters satuan bahasa di dalam kalimat yang

kpnkret

1 Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiatif ini baru tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat lain. Misalnya, dalam kalimat : Dia mengikut ibunya terdapat 15 buah fonem yang berkaitan dengan cara tertentu; ada 3 buah kata yang hubungannya tertentu pula; dan ada 3 fungsi sintaksis, yaitu subjek, predikat, den objek, yang mempunvai hubungan yang tertentu pula.

Hubungan hubungan yang teriadi di antara satuan satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian – bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis. menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis. den menurut susunan sintaksis.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Ditribusi, menurut Leonard Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnva. Dari keterangan tersebut dapat dibedakan menjadi 3 penggantian (substitusi) suatu konstituen, yaitu

o Subtitusi fonemis

Menyangkut penggantian fonem dengan fonem yang lain.

Misalnya, dalam pasangan minimal dari Vs lari, kuda Vs kura, den tambal Vs tambat.

o Subtitusi morfemis

Menyangkut masalah penggantian sebuah modem dengan modem yang lainnva.

Misalnya, mengikut Vs diikuti Vs terikut; daya juang Vs medan juang; den tuna karya Vs

Tuna wisma.

o Distribusi Sintaksis

Menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dens_ an klausa lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Sering disebut jugA analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur unsur atau konstituen konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan fase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdirir dari due bush konstituen yang langsung membangun satuan itu.

Meskipun teknik analisis bawahan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manffat dalam memahami satuan satuan bahasa, bermanfaat dalam menghindari keambiguan karma satuan satuan bahasa yang terikat pads konteks wacananya dapat dipahami dengan ‘analisis tersebut. Tanpa konteks wacana atau konteks paragraph tafsiran ganda memang bisa raja terjadi, tetapi dengan konteks wacan tafsiran ganda itu tidak mungkin terjadi. Misalnya pads kalimat : Istri lurah yang nakal. Setelah membacaa kalimat tersebut pasti akan muncul pertanyaan, yang nakal si lurch atau si istri?

233 Analisis Rangkaian Unsur den Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setai satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke­/-an. Jadi, dalam analisis rangkaian unsure ini setiap satuan “terdiri dari …” bukan “dibentuk dari …” sebagai hasil dari suatu proses.

Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan kata dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil proses konfiksasi ke /-an dengan loser dingin.

Dalam bahasa Indonesia ads sate persoalan sehubungan dengan analisis proses unsur ini. Misainya pads kata membangun din pembangunan.Membangun basil prefikasasi me- dengan bentuk dasar bangun. Make apakah bentuk pembanganan adalah basil proses konfiksasi pe- / -an dengan bentuk bentuk dasar bangun atau bukan, sebab makna pembangunan adalah ‘hal membangun’ atau ‘proses mambangun’. Jadi, secara semantis pembangunan adalah basil proses konfiksasi Iv-/ -an dengan dasar membangun. Atau setidaknya hares dikatakan bentuk pembangunan berasal dari verbs membangun, bukan dari verbs bangun.

Membangun => prefiksasi me- + bangun

Pembangunan => konfiksasi pe- /-an + membangun

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, den sebagainya.

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang loss mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan den melaksanakan tugasnya.

Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya – karya sastra dengan lebih baik, sebab bahasa, yang menjadi objek penelitian linguistik itu, merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Bagi guru, terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting. Mereka yang menguasai pengetahuan linguistik akan daoat dengan lmudah menyampaikan mats pelajarannya.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik din konstratif memilih terjemahan.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan lingistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.untuk big menyusun sebuah kamus dia hares mulai dengan menentukan fonem fonem bahasa yang akan dikamuskan, menentukan ejaan atau grafem fonem fonem tersebut memahami seluk beluk bentuk den pembentukan kata, struktur Erase, struktur kalimat, makna leksikal, makna gramatikal, makna konstektual, dan makna idiomatical, serta latar belakang social bahasa tersebut.

Bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks linguistik akan memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

Bagi para negarawan atau politikus yang harUs memperiuangkan ideologi dAn konsep konse kenegaraan atau Pemerintahan. secara lisan dia harUs menguasai bahasa dengan baik. Selanjutnya, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguistic dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak social yang terjadi dalam masyarakat akibat dari vperbedaan dan pertentangan bahasa. Di beberapa Negara yang multilingual, seperti India dan Belgia, pernah terjadi bentrokan fisik akibat masalah pertentangan bahasa.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s