Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

AJI BELLA FAJAR_1402408318_BAB 3 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 7:57 pm

NAMA : AJIE BELLA FAJAR

NIM : 1402408318

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK

Linguistik adalah kegiatan yang mempunyai objek

3.1 Pengertian bahasa

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia mempunyai makna lebih dari satu sehingga sering kali membingungkan.

Sebagai objek linguistik, parole merupakan objek yang konkret karena, parole berujud ujaran nyata. Langue merupakan objek yang abstrak karena berwujud sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan, language merupakan objek yang paling abstrak karena berujud sistem bahasa secara universal. Linguistik mengkaji langsung parole karena parole bersifat konkret. Kajian terhadap parole untuk mendapatkan kaidah-kaidah suatu langue ini akan didapat kaidah-kaidah language.

Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politik. Secara linguistik, dua buah tuturan dianggap dua bahasa berbeda jika anggota-anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti, secara politis dua tuturan bisa dikatakan dua bahasa yang berbeda jika dua bahasa itu sudah berbeda kebangsaan saja, walaupun asal bahasanya sama. Sebagai contoh bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tapi karena rumitnya menentukan suatu parole bahasa, belum ada angka yang pasti berapa banyak jumlah bahasa di dunia ini. Sama halnya dengan banyaknya jumlah bahasa di NKRI.

3.2 Hakikat bahasa

1. bahasa itu adalah sebuah sistem.

2. bahasa itu berujud lambang

3. bahasa itu berupa bunyi

4. bahasa itu bersifat arbitner

5. bahasa itu bermakna

6. bahasa itu bersifat konfensional

7. bahasa itu bersifat unik

8. bahasa itu bersifat universal

9. bahasa itu bersifat produktf

10. bahasa itu bervariasi

11. bahasa itu bersifat dinamis.

12. bahasa itu berfungsi sebagai interaksi sosial

13. bahasa itu merupakan indikator penuturnya.

Sedikit penyebabnya sebagai berikut :

1) Bahasa sebagai sistem

Sistem berarti cara atau aturan, dalam kaitan keilmuan sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan yang lain berhubungan secara fungsional sama halnya dengan sepeda motor, sepeda motor tak akan berfungsi jika komponen yang satu dengan yang lain disusun secara ngawur, sama halnya dengan bahasa.

Sebagai sebuah sistem juga bersifat sistematis dan sistemis, sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, sedangakan sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal tetapi terdiri juga dari sub sistem atau sistem bawahan antara lain sub sistem fenologi, morfologi, sintaksis, dan sub sistem semantik.

Sub sitem-sub sitem bahasa, terutama sub sistem fenologi, morfologi dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya sub sistem yang satu terletak di bawah sub sistem yang lain, lalu sub sistem yang lain ini pula dibawah sub sistem lainnya lagi. Ketiga sub sistem itu (fenologi, morfologi, dan sintaksis) terkait dengan sub sistem semantik. Sedangkan sub sistem leksikan yang juga diliputi sub sistem semantik, berada diluar ketiga sub sistem struktural itu.

Jenjang sub sistem ini dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Jika diurutkan dari tataran yang terrendah sampai tataran yang tertinggi dalam hal ini yang menyangkut tiga sub sistem struktural diatas adalah tataran fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Tataran morfem dan kata masuk dalam kajian morfologi, tataran frase, klausa, kalimat dan wacana masuk dalam kajian sintoksis. Selain dikaji dalam morfologi kata juga dikaji dalam sintaksis. Dalam morfologi kata menjadi satuan terbesar, dan sintaksis menjadi satuan terkecil.

Kajian linguistik itu dibagi dalam beberapa tataran, yaitu tataran fordugi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik dan leksikan.

2) Bahasa sebagai lambang

Lambang sering dipadankan dengan simbol dengan pengertian yang sama. Simbol dikaji dalam ilmu semiologi.

Bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi-bahasa bukan dalam wujud yang lain seperti yang akan dibicarakan dalam pasal berikut.

3) Bahasa adalah bunyi

Dari dua point tadi dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Jadi sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Bunyi yang dimaksudkan disini bukanlah sembarangan bunyi melainkan bunyi bahasa. Bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam sonetik diamati sebagai “fen” dan didalam fonemik sebagai “fonem”

Dalam linguistik bahasa yang diucapkan disebut bahasa primer, sedangkan bahasa yang ditulis merupakan bahasa yang bersifat sekunder.

Bahwa hakikat bahasa adalah bunyi, atau bahasa lisan, dapat kita saksikan sampai kini banyak sekali bahasa di dunia ini, termasuk di Indonesia, yang hanya punya bahasa lisan, tidak punya bahasa tulisan, karena bahasa-bahasa tersebut tidak atau belum mengenal sistem aksara.

4) Bahasa itu bermakna

Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu didalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berujud morfan kata, frase, klause, kalimat dan wacana. Semua satuan itu memiliki makna. Namun, karena ada tingkatannya, maka jenis maknanyapun tidak sama. Makna yang berkenan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal, yang berkenan dengan frase, klauasa dan kalimat disebut makna gramatikal; dan yang berkenan dengan wacana disebut makna pragmantik, atau makna konteks.

Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa. Jadi bentuk-bentuk setidaknya dalam bahasa Indonesia, bukan bentuk bahasa.

Jadi, sekali lagi bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna dalam bahasan apapun, bukanlah bahasa, sebab fungsi bahasa adalah menyampaikan pesan, konsep, ide, atau pemikiran.

5) Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bila diartikan sewenang-wenang., berubah-ubah tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hugungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Terkadang ada juga yang pelambang bahasa itu ada hubungannya dengan konsep yang dilambangkannya. Misalnya binatang tokek, di Jawa binatang itu dinamakan tokek karena sering berbunyi tokek-tokek. Hal semacam itu dinamakan onamatope (kata yang berasal dari tiruan bunyi).

Namun jika diteliti lebih lanjut kasus onamatope inipun tidak sama persis sama antara satu bahasa dengan lainnya.

6) Bahasa itu Konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer tapi lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvesi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbitrean bahwa terletak pada hubungan antara lambang-lambang bunyi konsep yang dilambangkannya maka ke konvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. Jika seseorang tidak patuh terhadap konvensi bahasa itu maka akibatnya komunikasi akan terhambat.

7) Bahasa itu produktif

Bahasa itu produktif artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keproduktifan bahasa memang ada batasnya, dalam hal ini dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat perole adalah bentuk-bentuk ketidaklaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

8) Bahasa itu unik

Bahasa dikatakan bersifat unik artinya setiap bahasa mempunyai arti khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi. Sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, dan lain-lain.

9) Bahasa itu universal

Bahasa bersifat universal artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini tentunya walaupun unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain.

10) Bahasa itu dinamis

Manusia tak bisa lepas dari bahasa, karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya didalam masyarakat pergaulan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis, karena itulah bahasa disbut dinamis.

Perubahan bahasa terjadi disemua tataran baik vonolog, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikan.

11) Bahasa itu bervariasi

Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui yaitu idiolek, dialek, dan idrolek adalah ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan sekelompok masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk termin tertentu.

3.3 Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

Yang dimaksud dengan faktor-faktor di luar bahasa itu tidak lain daripada segala hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia didalam masyarakat. Sebab ada kegiatan yang tidak berhubungan dengan bahasa. Oleh karena itu hal-hal yang menjadi objek kajian linguistik makro itu sangatlah luas dan beragam. Mulai dari kegiatan yang betul-betul merupakan kegiatan berbahasa seperti penerjemahan, penyusunan kamus, pendidikan bahasa, sampai yang hanya berkaitan dengan bahasa seperti pengobatan dan pembangunan.

3.3.1 Masyarakat bahasa

Yang dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

3.3.2 Variasi dan status sosial budaya

Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membagi variasi bahasa menjadi dua yakni :

– Variasi bahasa Tinggi (T) : yakni bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, dan dipelajari dalam sekolah.

– Variasi bahasa rendah (R): bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi, dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum.

3.3.3 Penggunaan bahasa

Berbagai macam dialek yang ada kadang menimbulkan kesulitan berkomunikasi, lalu bagaimanakah penggunaan didalam masyarakat dengan baik? Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :

1) Setting & scene à unsur yang berkenan dengan tempat & terjadinya percakapan.

2) Participants à yaitu orang yang terlibat dalam percakapan

3) Ends à yaitu maksud dan hasil percakapan.

4) Act Sequerces à yaitu hal yang menunjuk bentuk dan percakapan.

5) Key à yaitu yang menunjuk pada acara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.

6) Instrumentalis à yait yang menunjuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan.

7) Norms à yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

8) Genres à yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasan yang digunakan.

3.3.4 Kontak bahasan

Dalam masyarakat terbuka pasti terjadi kontak budaya. Bahasa dari masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa dari masyarakat pendukung. Hal yang paling menonjol dari peristiwa ini adalah munculnya bilingualisme, multilingualisme, dan sebagainya seperti interfensi, integrasi, alih kode, dan compur kode. Dalam masyarakat multilingual yang moabilitas geraknya tinggi, maka anggota-anggota masyarakatnya akan cenderung untuk menggunakan dua bahasa atau lebih. Orang yang menguasai satu bahasa disebut monolingual, unilingual, atau monoglot; yang menguasai lebih dari dua bahasa disebut multilingual, flurilingual, atau poligloat.

Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual sebagai akibat adanya kontak bahasa dapat terjadi integrasi, intervensi, alih kode, dan campur kode. Keempat masalah ini gejalanya sama yaitu adanya unsur bahasa lain dalam bahasa yang digunakan, namun konsep masalahnya tidak sama, berikut penjelasannya:

§ Interfensi : terbawa masuknya unsur bahasa lain kedalam bahasa yang digunakan sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan.

§ Integrasi : pengertiannya hampir sama dengan interferensi, namun dalam integrasi bahasa yang telah masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau yang memasukinya. Proses ini memerlukan waktu yang cukup lama.

§ Alih kode : beralihnya penggunaan suatu kode (antar bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) kedalam kode yang lain (bahasa atau ragam bahasa lain).

§ Campur kode : pengertiannya hampir sama dengan peristiwa interferensi, bedanya dalam interferensi biasanya pembicara melakukannya karena tidak tahu, sedangkan campur kode si pembicara melakukan-nya dengan sadar.

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Satu lagi yang menjadi obyek kajian linguistik makaro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Edward Sophir dan Benjamin L.H mengeluarkan hipoatesis yang menyatakan bahwa mempengaruhi kebudayaan, 1 atau lebih, atau dengan lebih jelasnya lagi, bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh sifat-sifat bahasanya. Hipotesis tadi kurang banyak diikuti orang, tapi yang paling banyak diikuti malahan kabalikannya, yakni budayalah yang mempengaruhi bahasa.

Kenyataan juga membuktikan, masyarakat yang kegiatannya terbatas, seperti suku-suku bangsa yang terpencil, hanya mempunyai kausa kata yang terbatas jumlahnya. Hal yang sama juga berlaku untuk sebaliknya.

Karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini, maka ada pakar yang menyamakan hubungan keduanya itu sebagai hubungan bayi kembar siam, dua hal yang tak dapat dipisahkan.

3.4 Klasifikasi Bahasa

Bahasa yang ada di dunia ini selain ada kesamaannya ada juga perbedaannya. Maka orang-orang mulai membuat klasifikasi tentang bahasa-bahasa yang ada di dunia ini. Klasifikasi dilakukan dengan cara yang ada pada setiap bahasa. Bahasa-bahasa di dunia sangatlah banyak dan penuturnya terdiri dari bangsa, suku, etnis yang berbeda-beda pula, oleh karena itu kriteria apakah yang digunakan dalam membuat klasifikasi ini? Ada banyak ciri yang bisa digunakan sehingga hasil klasifikasi juga dapat bermacam-macam. Menurut Greenberg suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbiter, ekshaustik, dan unik. Nonarbiter artinya tidak semaunya, hanya harus ada satu kriteria, dan hasilnya akan ekhaustik artinya setelah klasifikasi dilakukan tidak akan ada lagi sisanya. Selain itu hasil klasifikasi harus bersifat unik.

Ternyata tiga persyaratan Greenberg itu tidak dapat dilaksanakan, sebab banyak sekali ciri-ciri bahasa yang dapat digunakan untuk membuat klasifikasi ini. Begitupun pendekatan untuk membuat klasifikasi tidak hanya satu, tetapi banyak. Yang terpenting dan bisa disebutkan disini adalah:

1. Pendekatan genetic

2. Pendekatan tipologis

3. Pendekatan areal

4. Pendekatan sosioliguistik

Berikut ini dibicarakan mengenai empat hal tersebut

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa ibu. Artinya suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto (bahasa tua) akan pecah menurunkan dua bahasa atau lebih.

Sejauh ini hasil klasifikasi yang telah dilakukan dan banyak diterima orang secara umum adalah bahasa-bahasa yang ada di dunia ini terbagi atas sebelas rumpun besar lalu setiap rumpun terbagi lagi menjadi subrumpun-subrumpun. Kesebelas rumpun tersebut ialah:

1. Rumpun Indo Eropa yakni bahasa-bahasa German, Indo-Iran, Armania, Baltik, Slavik, Roman, Keltik, dan Ganlis.

2. Rumpun Hamito-Semit atau Afro Asiatik, yakni bahasa-bahasa Koptis, Berher, Kushid, Chad yang termasuk dalam subrumpun Hamit, dan bahasa Arab, Etiopik, dan Ibrani yang termasuk subrumpun Semit.

3. Rumpun Chen-Nil, yakni bahasa-bahasa Swahili, Bantuk dan Khoisan.

4. Rumpun Dravida, yaitu bahasa-bahasa Telugu, Tamil, Kanari dan Malagalam.

5. Rumpun Austronesia, yaitu bahasa-bahasa Indonesia, Melayu, Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia.

6. Rumpun Kaukasus

7. Rumpun Finno-Ugris

8. Rumpun Paleo Asiatir bahasa yang terdapat di Siberia Timur

9. Rumpun Ural-Altari → bahasa-bahasa Mongol, Manchu, Tumgu, Turki, Korea, dan Jepang.

10. Rumpun Sino Tibet, yakni bangsa-bangsa Yenisei, Ostyak, Tiheto, Burma dan Cina.

11. Rumpun bahasa-bahasa Indian, yaitu bahasa-bahasa Skimo, Alent, Na Dene, Algakin, Wakshan, Holan, Sioux, Penutio, Aztek-Taroan, dan sebagainya.

Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis ini didasarkan pada kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa, unsur ini dapat mengenai bunyi, morfem, kata, frase, kalimat dan sebagainya.

Klasifikasi pada tataran morfologi dapat dibagi tiga kelompok yaitu:

1). Kelompok I : yang menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasinya.

2). Kelompok II : yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3). Kelompok III : yang menggunakan bentuk sintaksi sebagai dasar klasifikasi.

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868-1954) yang dilakukan berdasarkan adanya hubugan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Yang terpenting yaitu adanya data pinjam-meminjam yang meliputi pinjaman bentuk apa saja dan arti apa saja.

3.4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang didasarkan pada hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri atau kriteria yaitu:

1. Historis : sejarah pemakaian/perkembangan suatu bahasa.

2. Standardisasi : statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku atau dalam pemakaiannya yaitu formal/tidak formal.

3. Vitalitas : apakah merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara aktif atau tidak.

4. Homogenitas : berkenaan dengan leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Dalam linguistik bahasa tulis adalah bahasa sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu kedalam pita rekam akan tetapi bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar.

Para ahli memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar-gambar itu berbentuk sederhana yang secara tidak langsung menyampaikan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar-gambar seperti itu disebut piktogram dan sebagai sistem tulisan disebut pictograf.

Dalam kehidupan manusia aksara ternyata tidak hanya dipakai untuk keperluan menulis saja, tetapi telah berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi atau bisa diartikan sebagai seni menulis indah.

Jenis-jenis aksara antara lain:

1) Aksara piktografis

2) Aksara ideografis

3) Aksara syabis

4) Aksara fonemis

Iklan
 

One Response to “AJI BELLA FAJAR_1402408318_BAB 3”

  1. Ratna Kusumawati Says:

    Dari : Ratna Kusumawati (Nim : 1402408224)
    Untuk : Aji Bella Fajar (Nim: 1402408318)
    Pertanyaan :
    Anda menyebutkan aksara terdiri dari 4 jenis,yaitu aksara piktografis, aksara ideografis, aksara sylabis, dan aksara fonemis. Apa maksud dari keempat aksara tersebut? Berikan juga contohnya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s